Tentara Tampanku

Tentara Tampanku
S2 - Serius


__ADS_3

Saat ini Nial berada di depan kos Maudy dan menunggu Maudy karena tadi kata Dena, Maudy keluar untuk membeli makanan lebih tepatnya makan diluar dan saat Nial tanya ke tempat mana, Dena tidak tau dimana Maudy membeli makanan sehingga Nial memilih menunggu Maudy.


Nial berada di atas motor sport nya, 'Kemana sih Maudy lama banget?' tanya Nial dalam hati.


Nial sendiri sudah menunggu Maudy cukup lama kurang lebih 1 jam-an dan selama itu Maudy belum juga pulang.


Beberapa saat kemudian, Nial melihat Maudy yang berjalan menuju kos dan Nial memutuskan untuk turun dari motornya lalu menghampiri Maudy.


"Kak Nial," panggil Maudy dengan terkejut.


"Kenapa kaget?" tanya Nial, dengan nafa tidak suka.


"Kenapa kak Nial di sini?" tanya Maudy.


"Gak boleh?" tanya Nial.


"Bukannya gitu, tapi Maudy kaget aja karena kak Nial ada di sini," ucap Maudy.


"Ya, aku di sini juga karena kamu," ucap Nial.


"Karena aku? kok karena aku?" tanya Maudy.


"Iya, karena kamu. Kenapa kamu gak balas pesanku terus kamu juga gak angkat teleponku?" tanya Nial.


"I-itu karena Maudy lagi sibuk kak," ucap Maudy.


"Sesibuk apa sampai kamu gak bisa pegang handphone?" tanya Nial dan berhasil membuat Maudy diam.


"Kamu sengaja menghindar bukan, kenapa kamu menghindar?" tanya Nial.


"Gak kak, Maudy gak menghindari kak Nial," ucap Maudy.


"Kamu pikir aku percaya gak Maudy," ucap Nial.


"Maaf kak," ucap Maudy dan menundukkan kepalanya.


"Percuma kamu minta maaf, sekarang ayo ikut aku," ucap Nial dan menarik tangan Maudy hingga mereka sampai di samping motor sport Nial.


"Kemana kak?" tanya Maudy.


"Kamu gak perlu tau kita mau kemana, sekarang kamu naik," ucap Nial setelah ia naik ke motor sport nya.


Maudy pun menatap bingung Nial, "Naik," ucap Nial dibalik helm full face nya.


Maudy pun naik ke motor sport Nial dengan berpegangan pada pundak Nial.


Setelah naik Maudy pun menatap punggung Nial, ia bingung harus berpegangan dimana, "Pegangan," ucap Nial.


Maudy pun mengarahkan tangannya pada jaket yang dikenakan Nial dan berpegangan pada jaket tersebut.


Nial mulai mengendarai motornya dan pergi dari kos Maudy, selama perjalanan Nial dan Maudy hanya diam tanpa ada perbincangan hingga tiba-tiba segerombolan remaja laki-laki yang mengendarai motornya secara ugal-ugalan dan tiba-tiba dengan kencang segerombolan remaja tersebut menyalip Nial dan membuat Maudy terkejut dan langsung memeluk Nial dari belakang.

__ADS_1


Hingga di rasa segerombolan remaja tersebut sudah pergi Maudy tetap memeluk Nial, Maudy tidak tau jika saat ini posisinya sangat dekat bahkan bisa dibilang mereka berdua berpelukan.


Nial sendiri cukup terkejut dengan tindakan Maudy, tapi ia hanya diam. Pikirannya saat ini benar-benar berantakan hanya memikirkan apa yang ia rasakan saat bersama Maudy.


'Bunda bener, ini bukan rasa kasihan, tapi ini adalah rasa suka,' ucap Nial dalam hati.


Selama perjalanan Nial tersenyum saat merasakan pelukan Maudy hingga tiba-tiba pelukan tersebut terlepas dan membuat Nial mendatarkan wajahnya.


"Maaf kak, tadi Maudy gak sengaja," ucap Maudy.


"Hem," jawab Nial.


Beberapa saat kemudian, mereka berdua sampai di tempat tujuan Nial. Nial menghentikan motonya dan Maudy pun turun dari motor tersebut lalu disusul Nial yang juga turun dari motornya.


"Ayo," ajak Nial dan menarik lembut tangan Maudy lalu Nial pun memilih kursi yang ada di dekat danau.


Hari ini Nial mengajak Maudy ke taman yang ada danaunya dan kebetulan taman ini juga tidak terlalu jauh dari kos Maudy.


Kenapa kak Nial ingin ketemu sama Maudy?" tanya Maudy.


"Aku bukan orang yang romantis dan aku gak suka basa basi, tapi aku juga bukan orang yang peka," ucap Nial.


"Maksud kak Nial?" tanya Maudy.


"Kalau aku serius sama kamu gimana? kamu mau?" tanya Nial.


Maudy hanya diam dengan raut wajah yang menunjukkan jika ia terkejut mendengar perkataan Nial, Maudy tentunya mengerti dengan apa yang dimaksud Nial, tapi bagi Maudy semua itu terlalu mendadak sehingga Maudy tidak bisa berpikir dengan tenang.


"Maaf kak Nial, Maudy gak mau ngasih harapan apapun sama kak Nial jadi Maudy menolak ajakan serius dari kak Nial," ucap Maudy.


"Kenapa?" tanya Nial.


"Maudy rasa kak Nial bisa mendapatkan yang lebih baik daripada Maudy kak, Maudy juga yakin banyak dari kalangan yang sama seperti kak Nial kok yang pastinya suka sama kak Nial," ucap Maudy.


"Kalau aku sukanya kamu gimana?" tanya Nial.


"Kak Nial gak boleh suka sama Maudy," ucap Maudy.


"Apa kamu bilang kayak gini karena kamu ngerasa gak pantas karena latar belakang keluarga?" tanya Nial dan tepat sasaran.


Memang inilah alasan utama Maudy menolak ajakan menikah dari Nial, tapi Maudy tentunya berbohong dan tidak mengatakan yang sebenarnya.


"Bukan itu kak, Maudy cuma berharap kak Nial mendapatkan yang lebih baik aja," ucap Maudy.


"Bagaimana ada yang lebih baik itu jika aku menemukan yang terbaik di kamu," ucap Nial.


Maudy benar-benar tidak bisa berkata apa-apa lagi, ia hanya diam mendengarnya.


"Aku serius, kalau memang kamu setuju aku akan langsung menemui pak Ruslan," ucap Nial.


"Jangan kak!" teriak Maudy tanpa sadar.

__ADS_1


"Kenapa?" tanya Nial.


"Ehm, i-itu...," Maudy bingung harus menjawab apa.


"Apa kamu takut kalau pak Ruslan tidak setuju denganku, kalau begitu aku akan ke pak Ruslan sendiri dan jika pak Ruslan setuju maka aku akan bawa keluargaku menemui pak Ruslan bagaimana?" tanya Nial.


"Tapi, Maudy yakin bapak gak akan setuju," ucap Maudy.


"Kita belum coba, kita gak akan pernah tau bapak setuju atau gak kalau kita gak coba Maudy," ucap Nial.


"Kapan kak Nial akan menemui bapak?" tanya Maudy.


Nial pun tersenyum mendengar pertanyaan Maudy, itu artinya Maudy sudah menerimanya bukan.


"Secepatnya," ucap Nial.


"Kalau kak Nial ingin ke bapak, kak Nial kabari Maudy biar Maudy ikut," ucap Maudy.


"Apa tidak masalah Jiak aku sendiri yang bertemu pak Ruslan," ucap Nial.


"Kenapa kak Nial sendiri yang ketemu bapak?" tanya Maudy.


"Ya biar enak aja gitu," ucap Nial.


"Kalau ada Maudy gak enak ya kak," ucap Maudy.


"Bukan gitu, tapi biar leluasa hitam Maudy. Kalau ada kamu takutnya aku setengah-setengah mengatakan apa yang aku inginkan," ucap Nial.


"Yaudah, kalau gitu Maudy gak ikut," ucap Maudy.


"Iya, tapi kamu juga jangan kasih tau pak Ruslan," ucap Nial.


"Kenapa?" tanya Maudy.


"Biar kejutan aja," ucap Nial dan diangguki Maudy.


"Udah malem ayo pulang," ajak Nial.


"Iya kak," ucap Maudy.


"Sebelum pulang kamu gak pengen beli apa-apa gitu?" tanya Nial.


"Gak deh kak, kita langsung pulang aja," ucap Maudy.


Akhirnya mereka pun kembali ke kos karena memang Maudy besok juga masih mengajar, jadi mereka tidak ingin pulang larut malam.


.


.


.

__ADS_1


Tbc.


__ADS_2