
Kaki Rea mulai membaik bahkan Rea saat ini sudah bisa berjalan, seperti sekarang Rea berada di desa tempat para warga yang duku mengungsi. Ya, saat ini semua warga kembali ke rumahnya masing-masing karena semua ruang dan fasilitas desa sudah di perbaiki dan untuk tempat pengungsian juga mulai di lepaskan fasilitasnya. Selain itu juga, besok adalah hari dimana semua pada relawan akan Kemabli ke kata dan juga rumah sakit masing-masing, karena besok adalah hari ini adalah hari terakhir sebab itu para relawan berpamitan dengan para warga yang ada di sana. Hal itu dilakukan karena tidak mungkin para warga datang ke kamp militer yang cukup jauh dari desanya bukan sebab itu akhirnya para relawan lah yang ke desa.
"Dokter Rea jangan lupakan Icha ya," ucap Icha, anak kecil yang pernah ia rawat.
"Iya, sayang. Dokter Rea gak Balla lupain Icha kok, kalau gitu kita foto bareng ya nanti hair dokter Rea pajang fotonya di kamar," ajak dokter Rea dan diangguki Icha.
Rea pun mengambil beberapa foto dengan Icha hingga saat akan kembali berfoto dengan Icha tiba-tiba ia melihat seseorang di belakangnya dan Icha, "Kapten Alan!" pekik Icha.
"Sayang," panggil Alan dan memeluk Icha serta tak lupa Alan pun menggendongnya.
Rea sendiri yang tadinya menatap ponsel pun mendongak dan menatap Alan, "Kenapa?" tanya Rea.
"Kenapa apanya?" tanya Alan.
"Kenapa tadi manggil aku?" tanya Rea.
"Siapa yang manggil gak ada yang manggil kamu kok?" tanya Alan.
"Hah, terus tadi kenapa manggil sayang gitu kalau kamu gak manggil aku?" tanya Rea.
Alan yang mendengarnya pun tersenyum ke arah Rea dan jongkok untuk menyamakan posisinya dengan Rea, "Sayang," panggil Alan, dengan suara yang lebih lembut dari tadi.
"Itu baru panggilan buat kamu, tapi untuk panggil sayang tadi itu buat Icha," ucap Alan.
Re merasa malu sekali saat ini, bagaimana bisa ia sangat percaya diri sekali bahwa Alan memanggilnya padahal panggilan itu untuk Icha. Rea tidak bisa menatap wajah Alan yang tengah tersenyum memandangi wajahnya dan dnegans dekat Rea pun mengalihkan pandangannya ke segala arah untuk mengurangi rasa malunya.
"Gemes banget sih kalau pipinya merah kayak gini," ucap Alan.
Rea semakin salah tingkah karena Alan yang terus menggodanya dan dengan cepat Rea membawa tangannya ke pipi untuk menutupi pipi merahnya. Alan sendiri hanya terkekeh melihat sikap istrinya itu, "Mau foto kan ayo kita foto bertiga," ucap Alan.
Mereka pun akhirnya foto bertiga dengan Alan yang membawa ponsel tersebut, setelah itu akan pun menyuruh Icha untuk pergi ke teman-temannya dan diangguki Icha. Sedangkan, Alan memanggil Alvin dan beberapa saat kemudian Alvin pun datang.
"Kenapa dah?" tanah Alvin.
"Fotoin gue sama dokter Rea," ucap Alan dan memberikan ponsel tersebut ke Alvin. Setelah memberikan ponsel tersebut Alan pun menghampiri Rea dan mendekat ke arah Rea.
Rea terkejut itu pasti, tapi saat ini yang lebih Rea rasakan adalah takut karena tatapan kedua sahabatnya seolah ingin membunuhnya. Bahkan Rea kembali terkejut saat alan menggenggam tangannya dan Rea pun berfoto dengan Alan dan pura-pura melupakan kedua sahabatnya itu.
__ADS_1
Setelah kegiatan fotonya dan juga pamit pada seluruh warga, Rea dan para relawan lainnya kembali ke kamp untuk membersihkan barang-barang mereka tentunya. Sepertinya saya ini Rea sudah berada di kamp bersama dengan Qilla, Nina dan Fafi.
"Sekarang lo jawab pertanyaan, apa hubungan lo sama kapten Alan?" tanya Qilla.
"I-itu, gue gak ada hubungan apa-apa, eh gak deh nanti lah pokoknya gue kasih tahu semuanya ke kalian, tapi gak sekarang udah ah jangan bahas itu gue beras agak tenang tahu gak," ucap Rea.
"Habisnya lo gak bilang apa-apa ke kita sih," ucap Qilla.
"Gue bakal bilang kok, tapi nanti," ucap Rea.
"Gue tunggu loh ya," ucap Qilla.
"Iya iya, bawel banget sih lo," ucap Rea.
Untuk masalah Fafi, Rea memang sengaja menghindar jika hanya berdua dengan Fafi karena ia takut jika Fafi akan meminta bantuannya. Pernah sekali Rea hanya berdua dengan Fafi dan Fafi mengatakan jika ia ingin dekat dengan Alan melalui Rea, tapi Rea pura-pura tidur dan ia mendengar semuanya permintaan Fafi yang terbilang konyol bagi Rea. Bagaimana bisa Rea membantu Fafi padahal pria yang ingin di dekati Fafi adalah suaminya sendiri. Fafi sempat berusahalah membangunkan Rea saat itu, tapi Rea tetap pura-pura tidur hingga ia tertidur sungguhan dan setelah itu re berusaha untuk menghindari Fafi agar tidak berdua dengannya.
"Gak nyangka ya kita udah lama banget di sini," ucap Nina.
"Gue baru kok, kayaknya cuma seminggu deh," ucap Rea.
"Kan lo emang batu, sama kayak Fafi, tapi lo udah dua kali ke sini kalau Fafi baru sekali," ucap Qilla.
"Gimana apanya dok?" tanya Fafi.
"Gimana sama tempatnya gak? terus betah gak di sini?" tanya Fafi.
"Tempatnya bagus saya suka dok, apalagi orangnya juga ramah-ramah," ucap Fafi.
'Ini dia gak lagi ngomongin kapten Alan kan,' ucap Rea, dalam hati.
"Kapan-kapan deh kita ke sini but liburan," ucap Nina.
"Liburan ke sini, lo aja kali gue gak mau. Ya, kali liburan di daerah perbatasan, gue lebih milih liburan di Perancis, Italia, Jerman atau Belanda," ucap Qilla.
"Tapi, daerah perbatasan emang bagus loh dok, kalau saya sih mau aja liburan ke daerah perbatasan," ucap Fafi dengan semangat.
'Ini pasti karena di daerah perbatasan ada kapten Alan,' ucap Rea, dalam hati.
__ADS_1
"Kalau gitu kapan-kapan kita liburan ke sini lagi," ucap Nina dan dengan antusiasnya diangguki oleh Fafi.
"Udah selesai," ucap Rea dan mengangkat kopernya.
"Cepet banget lo," ucap Qilla.
"Ya iyalah, isi koper gue nah gak banyak terus juga gak perlu sampe harus maksa buat masukin semuanya," ucap Rea.
"Re, temenin gue ke kamar mandi tok, lo udah selesai kan," ajak Nina.
"Kenapa lo? mau bab?" tanya Rea.
"Iya, nih yok udah gak kuat," ucap Nina.
"Karena gue orangnya baik hati dan tidak sombong, jadi gue mau buat temenin lo," ucap Rea.
Nina pun segera menarik Rea dan merek berlari menuju kamar mandi. Rea memilih menunggu Nina di luar kamar mandi karena takutnya jika di dalam Rea akan pingsan, saat tengah menatap ke sekelilingnya tiba-tiba ia melihat Alvin yang menghampirinya, "Dokter Rea," sapa Alvin.
"I-iya sersan Alvin, ada apa ya?" tanya Rea.
"Tidak ada apa-apa sih, saya cuma pengen ngobrol aja sama dokter Rea," ucap Alvin dan diangguki Rea.
Rea percaya Alvin tidak akan macam-macam dengannya karena Alvin salah satu orang kepercayaan Alan bukan, "Oh iya, dokter Rea kenapa kok di sini sendirian?" tanya Alvin.
"Ih itu, saya sedang bersama teman saya kok, tapi dia masih di dalam kamar mandi," ucap Rea dan diangguki Alvin.
"Dokter Rea cantik ya," ucap Alvin, secara tiba-tiba dan membuat Rea menatapnya.
"Dokter Rea udah punya pasangan belum?" tanya Alvin.
"Saya sudah punya pasangan kok, kalau begitu saya permisi sersan Alvin," ucap Rea, saat melihat Nina yang sudah keluar dari kamar mandi. Nina yang tidak menyadari keberadaan Alvin pun hanya pasrah saya Rea menarik tangannya.
"Ternyata dokter Rea menganggap lo sebagai suami, Lan," gumam Alvin dan tersenyum.
.
.
__ADS_1
.
Tbc.