
Hari ini Nial sangat tampan dengan setelan jas berwarna putih, "Jangan gugup," ucap ayah Alan.
"Gak bisa Yah," ucap Nial.
Ya, hari ini adalah hari dimana ia dan Maudy akan menikah, akhirnya setelah beberapa bulan berlalu Nial dan Maudy akan menjadi pasangan suami istri bahkan tidak sampai 4 bukan mereka menyiapkan segalanya hingga tibalah hari ini.
"Sebentar lagi ijab, kamu tenang diri kamu dulu," ucap ayah Alan.
"Iya yah," ucap Nial.
Acara pernikahan Nial dan Maudy di adakan di salah satu hotel di dekat rumah Maudy karena memang itu permintaan pak Ruslan yang ingin diadakan pernikahan di daerah tersebut, Nial dan keluarganya pun setuju karena yang terpenting acara pernikahannya lancar tanpa ada kendala apapun.
Meskipun begitu, pernikahan ini diadakan dengan sederhana dan mengundang beberapa kerabat saja.
"Bapak," panggil Maudy.
"Putri bapak bakal jadi istri orang ya, setelah ini tanggungjawab bapak akan berpindah ke sersan Nial, Maudy nurut ya sama sersan Nial," ucap pak Ruslan.
"Iya pak," ucap Maudy dan mulai berkaca-kaca.
"Jangan nangis, putri bapak udah cantik ini nanti kalau nangis makeup nya luntur loh," ucap pak Ruslan.
"Bapak dapat uang darimana sampe bisa nyewa gedung ini?" tanya Maudy.
"Ada orang baik yang mau meminjamkan uang ke bapak, makanya bapak bisa menyewa gedung ini, dulu kan kamu pernah bilang kalau kamu nikah pengen di gedung ini," ucap pak Ruslan.
"Tapi, Maudy gak maksa kok pak, kalaupun Maudy nikahnya di rumah juga gapapa," ucap Maudy.
"Gapapa, bapak juga pengen putri bapak yang cantik ini menikah di gedung yang bagus seperti yang kamu pengen dari kecil," ucap pak Ruslan.
'Lagipula bapak juga gak mau kamu malu karena gak ngadain pesta apalagi keluarga sersan Nial adalah salah satu keluarga terpandang,' ucap pak Ruslan dalam hati.
Maudy pun memeluk pak Ruslan, banyak yang bilang jika pak Ruslan hanya menyayangi Caca, tapi meskipun begitu pak Ruslan juga sangat menyayangi Maudy hanya saja cara menyayangi mereka yang berbeda.
"Bapak keluar dulu ya, kamu di sini nanti ada yang jemput kamu," ucap pak Ruslan dan diangguki Maudy.
Disisi lain Nial saat ini benar-benar gugup apalagi saat ini ia sudah berhadapan dengan pak Ruslan, "Saya cuma ingin menyampaikan pada sersan Nial untuk menjaga putri bapak, bapak tau Maudy belum bahagia dengan bapak. Tapi, bapak yakin sersan Nial dapat membahagiakan Maudy bahkan lebih baik dari bapak," ucap pak Ruslan.
"Saya akan berusaha untuk membahagiakan Maudy selamanya pak," ucap Nial.
Beberapa saat kemudian, ijab kabul pun dimulai dan Nial dengan lancar mengucapkannya hingga akhirnya ia sah menjadi suami Maudy.
Daisy dan Caca menghampiri Maudy di dalam ruangan yang di sediakan khusus untuk pasangan pengantin.
"Ayo kak," ucap Daisy dan menarik lembut Maudy.
"Jangan malu-maluin ya kak," ucap Caca.
"Apa sih lo bocah kok ngomong kayak gitu, yang ada malah lo tau yang malu-maluin," ucap Daisy.
"Udah ya jangan berantem di sini," ucap Maudy.
Akhirnya mereka pun keluar dari ruangan tersebut dan menghampiri Nial, setelah itu Daisy dan Caca mendudukan Maudy di samping Nial.
"Kamu sangat cantik," bisik Nial dan Maudy hanya menunduk.
Setelah proses akad dan yang lainnya saat ini adalah puncak dari acara pernikahan Nial dan Maudy yaitu pesta pernikahan mereka berdua.
Hari sudah malam dan tamu undangan pun semakin banyak yang berdatangan, memang pesta hanya diadakan di sini karena keluarga besar Nial memutuskan untuk tidak mengadakan pesta.
Itupun usulan dari Nial sehingga untuk pesta kali ini mereka yang membayar, tapi tetap di bagi dua dengan keluarga Maudy karena itu permintaan dari pak Ruslan dan mau tidak mau keluarga besar Nial pun setuju.
"Capek?" tanya Nial, yang melihat Maudy mengusap lembut kakinya.
"Gak kok kak," ucap Maudy.
__ADS_1
"Istirahat aja ya lagipula tamu undangannya juga udah mulai berkurang, aku izin dulu," ucap Nial.
Belum sempat Maudy menjawab, tapi Nial sudah pergi dan menuju keluarga keduanya. Hingga beberapa saat kemudian, Nial kembali dan menuntun Maudy pergi dari tempat tersebut.
"Kita istirahat di sini ya," ucap Nial.
"Kenapa gak di rumah aja kak?" tanya Maudy.
"Kenapa harus di rumah kan udah di hotel juga," ucap Nial.
'Pasti kak Nial gak mau deh di rumah karena rumahku jelek beda sama rumahnya kak Nial,' ucap Maudy dalam hati.
Tiba-tiba Maudy terkejut saat merasakan keningnya terkena sentilan Nial, "Aw sakit kak," rintih Maudy dan mengusap keningnya.
"Makanya jangan mikir yang gak-gak, kita tidur di hotel karena yang pertama karena satu tempat sama pesta pernikahan kita terus yang kedua karena udah malam dan butuh beberapa menit buat ke rumah lagipula nanti di rumah sepi karena semuanya kan di sini dan yang terakhir karena hotel yang lantai 4 sudah di booking jadi harus di tempati. Sekarang waktunya tidur dan jangan mikir aneh-aneh ya, aku gak masalah kalaupun harus tinggal di rumah kamu karena itu juga rumahku sekarang," ucap Nial.
"Hehehehe, iya kak," ucap Maudy.
"Udah sekarang kamu mandi terus tidur, aku mau keluar sebentar ya ada urusan sebentar," ucap Nial.
"Iya kak," ucap Maudy.
Nial pun segera keluar dari kamar hotel tersebut dan menuju pak Ruslan, "Pak," panggil Nial.
"Eh, ada apa sersan Nial?" tanya pak Ruslan.
"Panggil Nial aja pak lagian kan sekarang Nial udah jadi menantunya bapak," ucap Nial.
"Iya, ada apa Nial?" tanya pak Ruslan.
"Bisa bicara sebentar sama bapak," ucap Nial.
"Bisa, kita bicara di balkon kamar bapak saja," ucap pak Ruslan.
Saat ini Nial dan pak Ruslan berada di balkon kamar hotel yang ditempati pak Ruslan dan Bu Aini. Ya, Bu Aini ikut hari ini tapi hanya sebentar karena setelah pernikahan Nial dan Maudy, ia langsung istirahat di kamar hotel dan dirawat oleh suster yang ditugaskan untuk menjaga Bu Aini.
Saat ini Bu Aini sudah terlelap sehingga pembicaraan Nial dan pak Ruslan tidak kan terdengar oleh Bu Aini.
"Ada apa Nial?" tanya pak Ruslan.
"Maaf sebelumnya, tapi boleh saya tau kenapa pak Ruslan meminta syarat uang 100 juta untuk Nial menikahi Maudy?" tanya Nial.
"Sepertinya kau sudah tidak sabar dengan jawaban bapak," ucap pak Ruslan dan diangguki Nial.
Bukannya menjawab pertanyaan Nial, pak Ruslan justru masuk ke dalam kamar dan setelah itu ia keluar membawa kartu yang Nial berikan waktu itu.
"Ini," ucap pak Ruslan memberikannya tersebut pada Nial.
"Kenapa bapak mengembalikan kartu ini?" tanya Nial.
"Bapak sudah menggunakan kartu tersebut dan sisanya bapak kembalikan lagi padamu," ucap pak Ruslan.
"Maksud bapak apa?" tanya Nial.
"Bapak tidak membutuhkan itu lagi," ucap pak Ruslan dan membuat Nial semakin bingung.
"Bapak gunakan uang ini untuk apa?" tanya Nial.
"Bapak gunakan uang itu untuk pernikahan kalian dan bapak juga menggunakannya untuk biaya pengobatan ibunya Maudy, tapi masih ada sisa dan bapak rasa bapak harus mengembalikannya," ucap pak Ruslan.
"Kenapa bapak harus kembalikan, bapak bisa gunakan lagi uang yang ada di sini," ucap Nial.
"Bapak rasa tidak perlu," ucap pak Ruslan.
"Jadi, ini alasan bapak mau membayar setengah baya pernikahan Nial dan Maudy," ucap Nial.
__ADS_1
"Iya, bapak ingin melihat putri bapak bahagia di hari pernikahannya, bapak takut Maudy malu jika tidak ada pesta pernikahan apalagi keluargamu adalah salah satu keluarga terpandang. Bapak takut jika nanti Maudy di hina karena tidak mampu mengadakan pesta mewah, tapi nanti kalau bapak punya uang, bapak akan ganti biaya pernikahan kalian dan juga biaya pengobatan ibunya Maudy," ucap pak Ruslan.
"Astaga pak, kalau bapak bilang pasti Nial akan membiayai semuanya kok mulai dari pernikahan Nial dan Maudy sama pengobatan ibu dan bapak tidak perlu menggantinya ya," ucap Nial.
"Bapak gak tau apa yang bapak lakukan ini benar atau tidak, tapi setidaknya saat di tanya tadi Maudy tidak malu karena biaya pernikahan kalian di tanggung kedua keluarga dan bukan hanya keluargamu saja," ucap pak Ruslan dan Nial mengangguk paham dengan maksud pak Ruslan.
"Ini, untuk bapak," ucap Nial dan mengembalikan kartu tersebut pada pak Ruslan.
"Tidak perlu, bapak sudah menggunakannya," ucap pak Ruslan.
"Ini bapak pegang dan setiap bulan Nial akan mengirimkan uang di kartu ini, Nial sekarang juga anak bapak dan Nial akan membiayai semuanya kalau ada apa-apa bapak jangan sungkan ya menghubungi Nial," ucap Nial.
"Terima kasih, tapi bapak bisa kok bekerja," ucap pak Ruslan.
"Ini untuk bapak, ibu dan Caca. Bapak masih boleh kok bekerja, takut jangan sering-sering ya kalau capek istirahat aja di rumah," ucap Nial.
"Makasih Nial, bapak gak tau harus bilang apa lagi," ucap pak Ruslan.
"Sama-sama pak, sekarang Nial kan juga Naka bapak jadi sudah kewajiban Nial untuk membiayainya semua kebutuhan keluarga Maudy," ucap Nial.
"Kamu memang baik dan tulus sama Maudy," ucap pak Ruslan dan diangguki Nial.
"Nial ke kamar dulu ya pak takutnya Maudy curiga jika Nial lama-lama," ucap Nial.
"Iya," ucap pak Ruslan.
Nial pun keluar dari kamar hotel pak Ruslan dengan perasaan lega karena mengetahui alasan dibalik uang 100 juta tersebut.
Nial sangat memahami apa yang di maksud pak Ruslan, pada intinya pak Ruslan takut Maudy malu karena tidak mengadakan pesta pernikahan yang mewah sebab itu pak Ruslan meminta syarat uang 100 juta untuk biaya pernikahan dan jujur saja Nial sendiri tidak pernah mempermasalahkannya.
Nial masuk ke dalam kamar dan melihat sang istri yang sudah terlelap, Nial pun mendekati Maudy dan mengecup kening Maudy.
"Bodoh ya aku dulu malah ngehindar dari kamu, tapi sekarang aku justru gak pengen jauh dari kamu," gumam Nial dan menatap lekat wajah cantik istrinya.
Saat menatap Maudy tiba-tiba saja ia terangsang dan tanpa terasa Nial mendekat ke arah Maudy lalu mengecup lembut bibir Maudy. Nial sudah tidak peduli jika nantinya Maudy bangun, yang terpenting saat ini adalah nafsunya harus segera terpuaskan.
Maudy sendiri merasa terganggu dan kesulitan bernapas lalu ia pun membuka matanya, betapa terkejutnya ia saat melihat wajah tampan sang suami yang berada tepat di hadapannya.
Saat Maudy akan menjauhkan wajahnya, Nial langsung menarik pinggang Maudy hingga saat ini tubuh mereka benar-benar menempel bahkan Nial pun semakin memperdalam ciumannya.
Maudy sudah mulai kehabisan napas dan langsung menepuk dada bidang Nial, Nial yang paham pun langsung melepaskan ciuman panas tersebut dan menyatukan dahi mereka berdua.
"I love you," bisik Nial tepat di telinga Maudy dan setelah itu mengecup lembut telinga sang istri.
"Eunghh," desah Maudy.
Nial yang mendengarnya pun semakin gila dan sudah tidak dapat nenahannya, "Boleh ya?" tanya Nial dan menatap Maudy.
Maudy menatap Nial dengan tatapan ragu, tapi ia tak tega apalagi saat melihat kabur gairah di mata Nial mau tidak mau Maudy pun menganggukkan kepalanya pelan.
Maudy meyakinkan dirinya jika apa yang ia lakukan adalah benar karena bagaimanapun juga Nial adalah suami sekarang dan ini adalah hak Nial dan juga kewajiban Maudy untuk menyerahkannya.
Setelah mendapat persetujuan dari Maudy, Nial pun langsung melancarkan aksinya hingga akhirnya malam pertama mereka pun berjalan lancar dan kamar tersebut menjadi saksi bagaimana keduanya mengarungi kenikmatan dunia yang tak pernah mereka rasakan sebelumnya.
Di dalam kamar tersebut hanya suara ******* satu sama lain yang terdengar hingga beberapa saat kemudian, mereka berdua pun selesai dengan pergumulan panjang itu, Maudy pun terlelap dalam pelukan sang suami.
Nial menyelimuti tubuh polos mereka berdua dan tak lupa ia juga mengecup seluruh inci wajah Maudy dan selang beberapa saat kemudian ia pun mengikuti Maudy ke alam mimpi.
.
.
.
Tbc.
__ADS_1