Tuan Muda Tampan

Tuan Muda Tampan
Episode 102 : Hasasi Dan Perasaannya


__ADS_3

Aku dan Alex saling bergandengan tangan saat turun dari mobil, aku tidak percaya diri untuk hadir di acara mewah Hasasi, acara yang sangat mewah terselenggara di sini


"Mmm Alex... masih pagi kok udah banyak orang yang datang?" ucapku penasaran


"Acaranya seharian full dan besok acara untuk pernikahannya"


"Be... besok?" tanyaku kaget


"Iya itu yang dikatakan Hasasi... memangnya kenapa?" tanya Alex


"Hmmm ... mewah ya pestanya" ucapku mengalihkan perhatian Alex


"Ya namannya juga pesta petinggi dunia gimana gak mewah... kamu iri ya??


"Enggak kok"


"Tenang saja istriku, pernikahan kita bakal lebih mewah dari ini" ucap Alex tersenyum sambil mencolek hidungku


"Buat apa mewah - mewah ... sederhana saja"


"Tidak apa - apa sayang... tenang saja pernikahan itu kan hal yang sakral jadi harus indah jika di kenang"


"Hmmm baiklah" ucapku mengalah


"Kenapa wajahmu terlihat aneh begitu?" tanya Alex menatap wajahku


"Tidak ada apa - apa ... cuma ... gak PD aja"


"Gak PD karena apa?" tanya Alex penasaran


"Ya aku orang biasa... ini pernikahan petinggu dunia... ya malu aja"


"Tenang saja... kamu jangan malu, kan ada aku" ucap Alex menggenggam tanganku erat


Aku hanya tertunduk malu, takut kalau Hasasi melihatku datang ke pesta bahagiannya. Aku ingin lari tapi masa aku lari karena hal ini. Apapun yang terjadi aku harus kuat, jangan nangis apapun yang terjadi gak boleh menangis.


"Kamu mau menangis?"


"Enggak..."


"Kamu kuat gak kalau gak kita pulang gak apa - apa"


"Enggak ... aku kuat kok" ucapku tersenyum


"Baiklah... Ayo kita masuk" ucap Alex menggandengku memasuki sebuah taman


Taman yang indah dengan hiasan tanaman menjalar yang berwarna hijau dan bunga yang berwarna warni membuat suasana alam sangat terasa di taman ini. Selain itu ada juga foto yang tergantung di atas langit - langit pintu masuk, foto - foto prawedding Hasasi dan Amelia yang sangat romantis dimana Hasasi memakai jas hitam kesayangannya dan Amelia memakai gaun warna biru seperti gaun kesukaanku. Di bagian bawah juga terdapat foto prawedding mereka berdua yang berukuran besar di sisi kiri dan kanan.


"Indah ya konsep pernikahan mereka" gumamku


"Ya begitulah"


"Hmm"


"Kenapa sayang?"


"Tidak ada ... ayo masuk ke dalam" tanganku langsung menarik tangan Alex untuk memasuki ruangan utamanya.


Tidak lama berjalan, kami berdua telah memasuki ruangan utama untuk mengadakan pesta. Ruangan yang tidak asing bagiku, ruangan rumah Hasasi yang ada di Eropa yang sudah di dekorasi mewah dan sekarang di tambah dekorasi lebih mewah lagi.


Desain warna emas dan perak yang berikilau jika terkena cahaya lampu gantung yang besar di tengah ruangan menjadikan kesan mewah di setiap dekorasinya. Lapisan emas yang melapisi piring, gelas, sendok, pisau, garpu dan lapisan perak yang melapisi meja dan kursi yang tertata di tengah ruangan membuat kesan mewah.


Aku memandangi sekitar tidak di temukan tanda - tanda keahdiran Hasasi, dimana dia... apakah dia sedang sibuk mengurus pestanya ini atau dia sedang mengurus tamu - tamu VVIP nya tersebut


"Sayang... kamu mencari siapa?" tanya Alex di sebelahku


"Aku melihat orang - orang dan juga dekorasinya... sangat indah dan mewah" gumamku


"Ini masih biasa" gumam Alex


"Ini mewah tau!!"


"Iya ... tapi kurang mewah"


"Emang seberapa mewah dekorasi kalau menurutmu?" tanyaku


"Ya... gimana ya, sulit diungkapkan ... nanti kalau nikah kamu akan tau sendiri"


"Hmmm baiklah"


"Acara hari ini apa sih Alex" tanyaku

__ADS_1


"Hari ini... acaranya jamuan dan penginapan" jawab Alex santai


"Loh penginapan?... maksudnya?"


"Maksudnya tuh kita tamu VVIP dapat penginapan disini jadi kita nginep disini"


"Oh begitu ya .... hmmm"


"Kalau kamu keberatan.. kita nginep di hotel aja"


"Tidak perlu... kita menghargai tuan rumah"


"Hmmm baiklah...


"Mau ke kamar penginapannya dulu?"


"Bolehlah"


"Ya udah ayo..." ucap Alex menarik tanganku


"Kamu tau gitu tempatnya?" tanyaku


"Tau... Hasasi sudah ngasih aku akses kamar juga" ucap Alex berjalan di depanku


Selama menyusuri jalan menuju kamar aku tidak begitu asing dengan jalan yang kami lalui, sepertinya kamar ini merupakan kamarku dulu saat Hasasi mengajakku ke rumahnya yang di Eropa ini. Tidak lama kami berjalan kami berdua sampai disebuah kamar yang ternyata dulu kamar ini pernah aku pakai.


"Silahkan masuk cantik" ucap Alex saat pintu kamar sudah terbuka


"Indah sekali" gumamku


"Nah udah tau kan kamarnya, mau istirahat dulu atau langsung turun?"


"Mmm kalau istirahat dulu boleh gak?" ucapku memohon


"Baiklah... "


"Jamuan jam berapa?" tanyaku


"Nanti sore jamuannya?"


"Ya udah akuistirahat dulu aja ... capek"


"Ya udah... aku keluar bentar ya... nanti pas jamuan aku jemput kamu" ucap Alex keluar kamar dan langsung menutup pintu kamar


Aku membuka tempat itu dan disana terdapat secarik kertas dan kotak perhiasan serta sebuah foto di dalamnya. Aku membaca secarik kertas tersebut dengan serius


Untukmu Fifiyan


Aku tidak tahu apakah kamu akan menemukan kertas ini atau tidak, yang jelas ini adalah bukti tulus setiaku padamu. Aku telah bersalah menutupi sebuah kebenaran darimu. Sebenarnya kamu di nikahkan bisnis oleh Ayahmu dengan Alex, dan aku menyembunyikan itu semua padamu. Maafkan aku... aku lakukan ini karena aku mulai tertarik padamu, aku tidak mau kehilanganmu, aku takut kamu tidak berada disisiku. Walaupun aku nanti menikah dengan wanita lain jangan tinggalkan aku apapun yang terjadi Fifiyan. Aku terpaksa dan aku janji akan menemukan solusi agar kita berdua terbebas dari pernikahan bisnis ini agar kita bisa menikah. Aku berjanji padamu... Fifiyan


Oh ya... kalau kamu menemukan kotak perhiasan itu ambil dan simpan baik - baik jika kamu kangen padaku kamu bisa memandang benda itu dan membayangkan hal - hal yang indah yang pernah kita lakuin


Hasasi


"Hasasi kenapa kamu lakuin semua ini" gumamku sedih


Aku membuka kotak perhiasan itu dan ternyata cincin couple yang sangat indah san cincin yang pernah aku inginkan saat aku dan Hasasi melewati sebuah toko saat jalan - jalan sore di Paris. dan aku melihat sebuah foto dan ternyata foto kami berdua saat kami berada di bawah menara eiffel


"Hasasi..." gumamku lirih.


Sedih emang, sakit emang, tapi bagaimanapun semua udah terjadi. Jadi apapun yang telah terjadi ya terjadilah, aku juga tidak bisa mengubahnya.


Aku langsung menyimpan barang dari Hasasi ke dalam tas selempang kecilku. Ya bagaimanapun juga aku menghargai pemberian Hasasi kepadaku.


Aku termenung sepanjang hari, emang hatiku mulai menerima kenyataan pahit ini tapi aku belum bisa merelakan Hasasi sepenuhnya. Apalagi kenangan indah dengan Hasasi begitu tetap teringat di dalam ingatanku. Aku mencoba untuk melupakan tapi malah teringat kembali dan hal ini sangat menyiksaku.


Toookk... toookk ...tookk


Suara ketukan pintu yang lembut dari luar kamar yang membuatku teebangun dari lamunan panjangku. Pintu langsung terbuka lebar dan terlihat Alex yang sedang masuk ke dalam ruangan kamar


"Kamu tidak tidur?" tanya Alex berjalan ke arahku


"Tidak..."


"Katanya kamu mau istirahat"


"Iya tapi gak tidur cuma melemaskan badanku saja"


"Oalah begitu .... ayo turun... jamuannya sudah dimulai" ucap Alex


"Hmmm baiklah" ucapku bergegas bangun dari dudukku dan berjalan keluar kamar dengan Alex. Saat kami kembali ke ruangan utama terlihat sedikit yang datang ke jamuan makan malam kali ini.

__ADS_1


"Alex... kok dikit yang dateng?" tanyaku


"Iya... kalau jamuan yang datang hanya orang - orang tamu undangan aja"


"Ohh... begitu ... tapi juga termasuk banyak sih" gumamku


"Kamu mau makan apa?" tanya Alex padaku


"Mmm terserah kamu aja... aku ngikut kamu"


"Baiklah tunggu disini ya" ucap Alex lembut dan meninggalkanku sendirian di tengah - tengah banyak orang


Aku tidak tau mau berbuat apa, aku tidak kenal dengan mereka semua. Bahkan orang - orang yang pernah ku temui juga tidak terlihat batang hidungnya, mungkin karena banyaknya orang jadinya tidak terlihat mereka ada dimana


Saat aku berdiri sendirian di tengah keramaian. Aku terkejut dengan seseorang yang menabrakku dari belakang


"Aduuhh ..." rintihku menahan keseimbangan


"Maaf.." ucap cuek dan dingin seseorang yang menabrakku


"Iya tidak apa - apa" gumamku menunduk malu


"Fifiyan..." gumam seseorang di depanku karena dia memanggil namaku akupun menoleh dan menatap wajahnya


"Ha... Hasasi!!" ucapku kaget


"Fifiyan ... Kamu kah itu? ..."


"Maafkan aku..." gumam Hasasi lirih


"Maaf untuk apa?"


"Banyak yang ingin aku katakan padamu... "


"Masalah apa...?"


"Banyak ... Aku ingin mengobrol denganmu sebentar saja


"Kalau mau nanti malam disaat semua terlelap tidur saja" ucapku lirih dan Hasasi mengerti


"Oh ya kenapa kamu ada disini?" tanya Hasasi


"Ceritanya panjang... Oh ya... selamat ya kamu sudah menikah" ucapku dengan tersenyum


"Tidak Fifiyan... Aku ingin menikah denganmu sungguh"


"Tapi Hasasi, kamu sudah di nikahkan oleh orang tuamu. Jadi kamu harus bahagia ya"


"Tidak... aku tidak bahagia Fifiyan, aku lebih bahagia denganmu... ini sungguh - sungguh berasal dari hatiku"


"Maaf Hasasi, takdir kita tidak bisa bersama... mungkin ini yang terbaik buat kita" ucapku dan berbalik menjauhi Hasasi namun Hasasi memegang tanganku


"Fifiyan, jangan pergi"


"Maaf Hasasi..."


"Jangan tinggalkan aku Fifiyan .. aku mencintaimu" gumam Hasasi sedih


Tanpa berkata apapun ada seseorang yang menarikku dan berusaha menjauhiku dari Hasasi


"Hasasi.. kamu segera menikah kenapa kamu mengganggu dia" ucap Alex dengan marah


"Apa urusanmu?"


"Ini juga urusanku... karena dia calon istriku... dan kamu juga udah punya calon istri juga. Apalagi kamu tahu juga kan dari dulu Fifiyan adalah calon istriku jadi jangan harap kamu merebut istriku lagi" teriak Alex dengan marah dan menarikku menjauhi Hasasi


"Hasasi ... maaf ... semoga kamu bahagia" gumamku sedih dan mengikuti langkah Alex menjauhi Hasasi


Entah kenapa Hasasi hanya diam tanpa melakukan perlawanan kepada Alex. Apakah yang selama ini Alex katakan padaku itu benar atau karena Hasasi tidak mau merusak acaranya sendiri, walaupun Hasasi sudah menjelaskan di suratnya tapi aku masih belum percay seratus persen.


Aku melihat wajah Alex juga sangat amat marah terlihat jelas dan langkah kaki yang berat membuatku tidak nyaman melihatnya.


"Alex kenapa kamu berjalan seperti itu?" tanyaku


"Lagi emosi saja"


"Udah jangan marah - marah... kita makan dulu aja gimana" tawarku menenangkan Alex


"Tapi.."


"Udah jangan dipikirkan... kita makan ya" ucapku membawa Alex ke meja yang penuh dengan makanan

__ADS_1


Aku mengambilkan Alex beberapa makanan dan kami berdua duduk di salah satu kursi dan langsung makan bersama. Aku tidak menyangka Alex akan semarah itu, padahal wanita banyak diluar sana kenapa dia lebih memilih aku yang hanya calon istri dari pernikahan bisnis saja.


__ADS_2