Tuan Muda Tampan

Tuan Muda Tampan
Episode 177 : Dimarahi Hansol


__ADS_3

Setelah merendamkan tubuhku lumayan lama, aku langsung bergegas menuju ruang ganti untuk berganti baju santai. Setelah selesai berganti pakaian, aku keluar dan duduk di sofa kamar sambil memainkan handphoneku


"Baiklah, itu rencana kita kalau rencana awal gagal. Bagaimana?" gumam Hasasi meneguk wine yang ada di tangannya


"Bolehlah, tapi kalau rencanamu ini gagal dan dia terluka itu tanggung jawabmu" gumam Hansol


"Ya kalau sampai terluka habisi siapapun tanpa tersisa satupun"


"Baik Tuan, Tuan tenang saja. Rencana kita akan berjalan lancar" gumam Leo santai


"Nah itu yang sangat aku tunggu - tunggu, tanganku terasa gatal ingin membunuh seseorang" gumam Hansol bersemangat


"Tenang saja kamu akan mendapatkannya nanti"


"Baguslah aku tidak sabar menantikan itu"


"Okey, lakukan posisi yang telah kita tentukan sekarang. Kalian mengerti"


"Ya aku tahu" gumam Hansol santai dan terkejut melihatku ada di pojokan sofa kamar


"Ka... Kamu kenapa disini!" protes Hansol kepadaku


"Aku? Aku habis mandi dan lagi asik nge game kok"


"Kamu mendengarkan pembicaraan kita ya?"


"Enggak, kedengaran aja enggak" gumamku


"Masa kamu gak kedengeran jarak sini dengan situ gak jauh"


"Aku baru saja duduk, dan tidak mendengarkan pembicaraan kalian sama sekali"


"Aku tidak berbohong Tuan Hansol... Aku benar - benar jujur mengatakannya" gumamku takut


"Halah. Kalian wanita tidak bisa dipercaya!!" protes Hansol memegang sebuah gelas dan melemparkannya kearahku tapi berhasil di tangkap Hasasi


"Apa yang kamu lakukan? Ingin membunuh istriku!!" protes Hasasi menangkap gelas itu sebelum mengenai kepalaku


"Kamu tahu sendirikan aku tidak suka kalau ada yang mendengarkan pembicaraan tanpa permisi!" protes Hansol


"Aku tidak mendengarnya sama sekali sumpah demi Tuhan" gumamku kesal


"Aku tidak percaya!!"


"Tidak percaya ya sudah" desahku kesal


"Udahlah Hansol, masalah Fifiyan aku yang atasinya. Kamu dan Leo bersiap saja" gumam Hasasi meletakkan gelas itu di atas meja disebelahnya


"Kau selalu membela dia mulu Hasasi!!"


"Udah aku saja yang mengatasinya, kalau memang Fifiyan salah aku yang akan menghukumnya sendiri"


"Tahu gitu dari awal aku membunuhnya" gumam Hansol kesal


"Tenang tuan Hansol, dia mungkin tidak sengaja" ucap Leo menenangkannya


"Sengaja ataupun tidak itu sama saja buatku!!" protes Hansol kesal


"Kalau kamu terus saja begitu aku tidak segan - segan denganmu Hansol!!" ucap Hasasi dingin


"Kalian berdua jangan berantem seperti itu, liat Fifiyan ketakutan tahu"


"Bodo amat mau dia takut atau tidak"


"Udah aku bilang kan kalian persiapkan saja biar Fifiyan yang aku atasi, apa kamu tidak mendengarnya!!!"


"Haaah terserah kamu lah Hasasi" gerutu Hansol kesal dan keluar dari kamar

__ADS_1


"Saya juga mohon pamit tuan, saya akan mempersiapkan dengan sebaik - baiknya" gumam Leo dan keluar dari kamar. Setelah Hansol dan Leo keluar dari kamar, Hasasi menatapku yang sedang asik memainkan game yang ada di handphoneku


"Kamu juga tidak percaya denganku?" gumamku mematikan gameku dan menatap Hasasi


"Aku percaya denganmu Fifiyan"


"Kenapa kamu percaya denganku?"


"Karena aku dari awal sudah tahu kapan kamu keluar ruang ganti dan duduk di sofa ini tapi aku pura - pura tidak memperhatikanmu, tapi sebenarnya aku memperhatikanmu tanpa sepengetahuan mereka" gumam Hasasi duduk di sampingku


"Begitukah?" desahku memandang Hasasi yang duduk disampingku


"Ya sayang, aku selalu melihat dan mengawasi setiap kegiatanmu"


"Kenapa kamu lakukan itu?"


"Ya kan kamu istriku jadi wajar saja aku terus melihat dan mengawasi setiap kegiatanmu"


"Hmmm tapi kan kita belum nikah resmi tahu!"


"Ya aku tahu, nanti kalau sudah waktunya ya" gumam Hasasi menyandarkan kepalaku di bahunya sambil mengelus rambutku dengan lembut


"Iya Hasasi"


"Tadi pasti kamu mendengarkan perkataan kami yang terakhir kan?"


"Ya aku hanya mendengar Hansol bilang ingin membunuh orang, emang dia ingin membunuh siapa?" tanyaku polos


"Tidak tahu, dia emang gemar untuk membunuh orang tapi dia tidak pernah berhasil untuk membunuhku"


"Emang Hansol pernah membunuhmu?"


"Pernah, dulu saat kami bertengkar"


"Kenapa dia tidak berhasil membunuhmu?"


"Mentang - mentang ditakuti semua orang ya" gumamku kesal


"Ya walaupun begitu ada satu orang yang membuatku takut loh"


"Kamu masih punya ketakutan sama satu orang?"


"Oh ya? Siapa orangnya?"


"Wanita cantik disebelahku ini orang yang aku takutkan" gumam Hasasi mencubit hidungku


"Aku?" ucapku kaget sambil mengusap - usap hidungku


"Ya aku cuma takut kepada kamu saja"


"Emang apa yang kamu takutkan dariku Hasasi? Apa yang kamu takutkan dariku?"


"Aku takut kehilangan cintamu dan kehilangan kamu" gumam Hasasi menatapku serius


"Takut kehilanganku?"


"Ya Fifiyan, I really love you"


"Aku juga mencintaimu Hasasi. Tapi percaya padaku hal itu tidak akan terjadi Hasasi"


"Benarkah?"


"Ya, aku tidak akan meninggalkanmu Hasasi" gumamku bersandar di bahu Hasasi


"Aku senang mendengarnya Fifiyan, walaupun kamu selalu ada di sampingku tapi perasaan takut terus menghantuiku"


"Aku juga sering seperti itu kok Hasasi, tapi kamu tenang saja ya"

__ADS_1


"Iya sayang, aku mandi dulu ya sayang" gumam Hasasi bergegas menuju ke kamar mandi"


"Iya Hasasi" gumamku menatap Hasasi yang sedang menutup pintu kamar mandi


"Huuuhh hampir aja mati hari ini" desahku takut, aku masih ingat bagaimana Hansol marah banget ke aku sampai berani melempar gelas kaca di arahku


"Kalau tadi Hasasi tidak segera menangkap gelas itu pasti udah kena kepalaku ini" gumamku berjalan ke arah meja rias


"Padahal kan emang aku bener - bener gak mendengarkan pembicaraan mereka, kenapa malah marahi aku tidak jelas seperti itu!" gumamku kesal sambil terus menyisir rambutku


"Kamu kenapa marah - marah sendiri?" gumam Hasasi keluar dari kamar mandi hanya memakai celana pendek


"Tidak kenapa - napa kok"


"Kamu masih jengkel dengan kelakuan Hansol?"


"Ya bisa dibilang begitu"


"Hansol emang seperti itu, kalau ada sesuatu yang tidak sesuai dengan keinginannya dia akan marah - marah sendiri. Makanya aku tadi segera menangkap gelas itu kalau tidak bisa bahaya. Apalagi Hansol kalau sudah marah dia melempar barang ke arah sasaran dan kekuatannya tidak tanggung - tanggung loh, nih lihat tanganku aja masih merah" gumam Hasasi menunjukkan telapak tangannya yang bewarna merah


"Sakit kah Hasasi? Maaf ya Hasasi"


"Tidak perlu minta maaf, kamu tidak salah apapun kok. Emang Hansol emosinya seperti itu."


"Tapi kok beda banget seperti Hansol yang dulu sih hasasi"


"Hansol yang dulu ya? Kalau Hansol yang dulu itu bukan Hansol yang sesungguhnya"


"Maksudnya?"


"Ya karena kamu wanitaku jadi dia berusaha selembut dan semanis mungkin"


"Kenapa seperti itu?"


"Karena aku yang menyuruhnya"


"Lah kamu yang menyuruhnya?"


"Ya lah, karena aku tahu kamu pasti akan takut dan kesal melihat Hansol aslinya"


"Mmm nanti jangan - jangan kamu juga sama Hasasi?"


"Mmm kalau aku ya. Ya mungkin lebih parah dari Hansol"


"Haduh lebih parah lagi" deshaku


"Udah jangan dipikirkan. Kita keluar mau tidak?"


"Keluar kemana? Mau ke laut?"


"Bukan ke laut maksudku kita jalan - jalan mengelilingi kapal mau?"


"Mmm boleh deh, aku udah siap kok"


"Bentar ya aku mau memakai pakaian dulu"


"Jangan pakai jas, pakai pakaian biasa aja"


"Ya aku tahu" gumam Hasasi membuka lemari pakaian dan berganti dibalik pintu lemari yang besar dan panjang itu


"Udah belum Hasasi lama banget"


"Iya sebentar, masih lamaan kamu lah kalau mandi dan ganti baju"


"Ya namanya juga cewek pasti melakukan ini lah melakukan itu lah"


"Ya aku tahu kok, aku udah siap. Ayo kita berangkat" gumam Hasasi menggandeng tanganku dengan lembut

__ADS_1


"Baiklah" gumamku mengikuti langkah Hasasi dan kami berdua berjalan bersama keluar kamar


__ADS_2