Tuan Muda Tampan

Tuan Muda Tampan
Episode 22 : Bertemu kakak


__ADS_3

Hari ini badanku sangat lelah gara - gara aku mengikuti pelelangan sampai jam 3 pagi, dan itu membuatku malas untuk bangun terlalu pagi. Tapi entah aku merasa aku berada di rumahku dulu, aku sedang bermain dengan kakak laki - lakiku di taman, kami bermain dan berlari bersamadan disisi lain terdapat ayah dan ibuku yang sedang melihat kami. Tiba - tiba datang orang - orang tidak dikenal langsung menusuk orang tuaku dan kakakku langsung dibawa oleh orang - orang itu, aku berlari dan aku menangis dan tanpa sadar aku berteriak


"Tidaaaak" teriakku dan aku langsung terbangun, tapi aku kaget ternyata Hasasi sedangĀ  memeluk tubuhku


"Mmmm ... kamu udah bangun?" ucap Hasasi


"Ka ... kamu ngapain di kasurku?" ucapku kaget


"Kasurmu? ... ini kasurku" ucap Hasasi sambil menunjuk kasur yang ada di belakangku


"Kenapa aku tidur di kasurmu?" tanyaku kaget


"Semalam ... kamu tidur sambil berjalan ... "


"Kenapa kamu gak membangunkan aku?" gumamku


"Aku udah berulangkali membangunkanmu tapi kamu malah memelukku sampai aku tidak bisa bergerak" gumam Hasasi sambil mengupil


"Oh ... iya kah?... hehe" ucapku dengan cengengesan


"Kamu kenapa teriak?"


"Eng... enggak apa - apa"


"Sekarang kamu kenapa menangis?" tanya Hasasi saat aku mengeluarkan air mata


"Ee ... tidak apa - apa kok" ucapku sambil mengusap air mataku


"Jangan menutupi sesuatu ... katakan saja"


"A...aku rindu keluargaku" ucapku sedih


"Kemana keluargamu?"


"Mereka sudah ... meninggal" ucapku lirih


"Kok bisa?"


"Karena dibunuh oleh perkumpulan ... mu" ucapku lirih


"Serius???" ucap Hasasi kaget


"Kamu tau dari siapa?" tanya Hasasi


"Dari Kwan Liang" ucapku dan Hasasi hanya terdiam


"Kamu ingat margaku apa?" Tanyaku


"Shin?"


"Bukan..."


"Shui?"


"Bukanlah..."


"Kamu ingat Kwan Liang selalu memanggil namaku beserta marganya..."


"Tidak ... apa margamu"


"Hmmm ... margaku Shinju"


"Shi...shinju?"


"Iya... marga terkuat, terkaya, dan marga yang ditakuti kelompok pembunuh manapun..."


"Jadi... ka... kamu anak dari Tony Shinju yang katanya berhasil kabur itu?" Tanya Hasasi kaget


"Iya ... setelah kejadian itu, aku berkelana sendirian tanpa arah dan tujuan, hingga suatu hari ayah dari Kwan Liang menemukanku dan merawatku hingga aku dewasa dan hidup bersama - sama Kwan Liang bertahun - tahun hingga akhirnya kami ... jatuh cinta" jelasku sambil menatap jendela kamar


"Mmmm ... aku tidak menyangka kamu anak dari Tony Shinju"


"Iya kamu benar..."


"Kalau kamu tau kenapa kamu tidak langsung membunuhku?"


"Sebenarnya aku sudah tau kalian membunuh keluargaku, tapi aku diam saja karena aku berhutang budi kepadamu karena kamu menyelamatkanku di atas jembatan itu dan mengubah hidupku..."


"Ma...maafkan aku, sebenarnya..." ucap Hasasi lirih


"Kenapa kamu membunuh keluargaku?" Tanyaku dingin


"Dengarkan aku..."


"Jawab pertanyaanku" teriakku dingin


"Ke...kenapa kamu jadi lebih dingin ke aku?"

__ADS_1


"Jawab!" bentakku


"E... sebenarnya kami disuruh oleh ... ayah dari Sari Lie"


"Apa...?


"Kamu jangan mengada - ada"


"Aku serius... kalau kamu tidak percaya aku panggilkan Dennis"


"Baiklah... panggil sekarang" bentakku dan Hasasi segera menelepon Dennis, tidak lama kemudian Dennis datang


Took ... took


"Masuklah" teriak Hasasi, dan Dennis pun masuk ke kamar


"Ke... kenapa kamu lesu kayak gitu?" Tanya Dennis saat melihat Hasasi lesu


"Coba kamu tanyakan kedia" ucap Hasasi sambil menunjuk aku


"Ada apa Fifiyan?"


"Kamu tau kenapa kamu disuruh datang kemari?" Tanyaku dingin dengan tatapan mata yamg tajam


"A... aku melakukan kesalahan apa?" Tanya Dennis kaget


"Siapa yang membunuh keluarga Shinju?"


"Ke...kenapa kamu tanyakan itu padaku?"


"Karena dia marganya Shinju" ucap Hasasi lesu


"A.. apa?... jadi kamu anak Tony yang berhasil kabur?" tanya Dennis kaget dan Hasasi mengangguk pelan


"Jawab... siapa yang membunuh keluargaku?" teriakku


"Ka...kami, ta... tapi kami ha...hanya suruhan." ucap Denis terbata - bata


"Siapa yang menyuruhmu?"


"Keluarga Lie... tapi..."


"Kenapa mereka ingin membunuh keluargaku?"


"Dengarkan penjelasanku dulu..."


"Kenapa?... jawab!" bentakku


Aku tidak menyangka sahabatku yang aku jadikan keluargaku dan merebut pacarku itu adalah dalang dari pembunuhan keluargaku. Pantas saja Sari Lie ingin sekali membunuhku, yang tahu margaku sebelum mengenal Hasasi hanya Kwan Liang dan Sari Lie.


Baaammm


Aku memukul jendela kamarku dengan keras. Aku sangat marah dan dendam dengan keluarga Lie, tega - teganya mereka membunuh keluargaku karena jabatan semata.


"Dengarkan penjelasan kami ..." ucap Hasasi sambil memelukku tapi aku langsung melepaskan tubuhku dari tubuhnya


"Aku ingin sendiri... jangan ganggu aku" ucapku dan pergi keluar kamar


Baaammm


Aku mendorong pintu kamar dengan kuat dan berlari pergi meninggalkan hotel itu, aku berlari jauh dan sangat jauh dari hotel itu sampai akhirnya aku menemukan pantai yang sangat indah, pantai ini mengingatkan aku akan orang tuaku saat aku kecil selalu diajak ke pantai


Aku emosi, aku marah, aku sedih. Aku tidak menyangka, aku bersahabatan dan tinggal dengan para pembunuh keluargaku. Kenapa aku bisa memiliki rasa cinta kepada orang yang telah tega membunuh keluargaku sendiri. Aku menangis dan terus menangis, kenapa aku hidup seperti ini.


"Ayah ... Ibu ... Fifiyan rindu kalian"


Tiba - tiba ada seseorang yang menepuk bahuku dengan lembut


"Hai nona manis... kenapa kamu sendirian disini" ucap pemuda itu


"Ka ... kamu siapa?" tanyaku kaget


"Aku Steven Stun... kakak tiri Hasasi Stun" ucap Steven sambil tersenyum


"Pergilah ... Jangan bilang kamu ingin menjemputku ... Aku tau kamu juga sama dengan Hasasi" gumamku


"Tidak manis ... Hasasi ya Hasasi ... aku ya aku ... jangan samakan aku dengan Hasasi" ucapnya ramah


"Kenapa kamu disini?"


"Aku tidak sengaja melihatmu berlari dari kamar hotel dan karena takut kamu kenapa - napa akupun membuntutimu" ucapnya sambil bermain pasir pantai


"Oh ..."


"Kenapa kamu sendiri disini ... sedang ada masalah dengan Hasasi?"


"Ya ... masalah besar"

__ADS_1


"Apa itu?" Tanyanya penasaran


"Udah ah jangan kepo"


"Ceritakan, mana tau aku bisa membantu"


"Perkumpulan Hasasi dulu pernah membantai keluargaku..." ucapku lirih


"Apa margamu?"


"Shinju"


"Oh ... sebenarnya... bukan Hasasi yang melakukannya..."


"Apa? ... tapi tadi dia bilang kalau mereka... Terus siapa kalau bukan mereka?"


"Bukan mereka tapi keluarga Liang..."


"Loh ... kok beda cerita sih?" Protesku


"Dengarkan aku dulu... pasti kamu tidak mendengarkan penjelasan Hasasi kan ... jadi dengarkan penjelasanku"


"Baiklah..."


"Dahulu setelah pertumpahan darah itu, keluarga Liang tau kalau ada dua anaknya ketua Shinju yang tidak ditemukan mayatnya, karena takut perbuatannya terbongkar oleh kepolisian internasional akhirnya mereka bekerja sama dengan keluarga Stun, suatu ketika keluarga Liang menantang keluarga Stun taruhan tapi keluarga Stun kalah taruhan sehingga ayah Kwan Liang dan ayah Hasasi Stun memiliki sebuah perjanjian yaitu keluarga Stun harus bersedia mengaku salah atas pembunuhan keluarga Shinju dan bilang bahwa keluarga Lie lah yang menyuruhnya, makanya sampai saat ini ayah Sari Lie masih di penjara karena kasus itu terbongkar dan juga anak dari keluarga Stun yaitu Hasasi Stun menjadi budak dari Kwan Liang selama sekolah, karena muak makanya Hasasi membuat perkumpulannya saat ini dan jadi seperti itu dingin kepada siapapun" jelas Steven


"Kan keluarga Lie dan keluarga Liang bersekutu sekarang, kenapa keluarga Liang ingin menjatuhkan keluarga Lie?"


"Karena jabatan pastinya"


"Mmm... tadi kamu bilang dua anak?... bukannya cuma satu anak yaitu aku?" tanyaku penasaran


"Kamu ingat... kamu punya kakak gak?"


"Punya... "


"Siapa namanya?"


"Steven Shinju ... tapi dia meninggal karena pembunuhan itu"


"Apa kau yakin?" ucap Steven dengan salah satu bibirnya diangkatnya sedikit ke atas


"Ya... dulu saat banyak musuh datang ke rumah, aku dan kakak yang bersembunyi di ruang rahasia, terus kakak pergi keluar membantu ayah... dan tidak lama kemudian bibi Cia menemukanku dan menyuruhku pergi... namun aku tidak mau dan ingin menunggu kakakku dan orang tuaku. Setelah itu musuh menemukan kami dan menangkap bibi Cia dan ingin menangkapku tapi mereka belum sampai menangkapku aku terpeleset dan jatuh ke danau... " jelasku


"Hmmm ... dengarkan aku baik - baik ... aku adalah kakakmu Steven Shinju" bisik Steven di telingaku


"Kau bohong..." teriakku tidak percaya


"Aku serius gak bohong, kamu ingat tanda lahir apa yang ada di badan kakakmu?"


"Dua tahi lalat yang agak besar di lengannya.." ucapku dan Steven langsung membuka jasnya


"Ini tanda lahirku" ucap Steven sambil menggulung lengan kemejanya


"I... ini" ucapku kaget


"Benarkan ... adikku" ucap Steven tersenyum


"Kakak ... kamu masih hidup?" ucapku bahagia sambil memeluk Steven


"Iya lah... aku mencarimu kemana - mana tau" gumam Steven


"Iya kan aku tidak punya siapa - siapa dan berkelana tanpa arah kak" ucapku sedih


"Udah jangan sedih... kan ada kakak"


"Kakak jangan pergi lagi ya" ucapku di pelukan Steven


"Aku tidak kemana - mana kok... ya udah ayo ke hotel, pasti Hasasi mencarimu" ucap Steven dan menarikku


"Enggak mau kak, aku maunya tinggal sama kakak" ucapku mengelak


"Hei dengar adikku sayang, kakak selama ini tinggal satu rumah denganmu dan kakak selalu mengawasimu"


"Eeh ... serius?"


"Iya..."


"Kok aku gak pernah ketemu kakak"


"Nanti akan Hasasi sendiri yang menjelaskannya"


"Oh ya kak... kenapa kakak ada di keluarga Stun?"


"Nanti kita ceritakan di hotel... sekarang kita ke hotel dulu, kalau ketemu keluarga Liang kita akan dibunuh mereka" ucap Steven sambil menarikku menuju ke hotel


"Kenapa?"

__ADS_1


"Nanti aku ceritakan" ucap Stevem dan tetap menarikku menuju ke hotel itu.


Sebenarnya aku senang sekali bisa bertemu kakak yang berpisah selama bertahun - tahun lamanya. Dan juga aku baru tahu selama ini kakak mengawasiku, jujur aku sangat senang. Tapi kenapa ayah Kwan Liang mau membesarkanku sampai saat ini padahal mereka yang membunuh keluargaku.


__ADS_2