Tuan Muda Tampan

Tuan Muda Tampan
Episode 6 : Memulai Yang Baru


__ADS_3

Hari berganti hari, minggu berganti minggu, dan bulan berganti bulan. Aku berusaha keras menguruskan badanku yang gendut ini, setelah pertemuan dengan Hasasi hari itu aku mendapatkan kesempatan untuk melakukan operasi plastik unuk meniruskan pipi, memancungkan hidungku, membuat mataku agak sedikit besar sehingga terkesan cantik seperti bidadari yang turun khayangan, tetapi aku juga harus bisa menguruskan badanku agar bisa sesuatu dengan wajahku yang sekarang. Selama menguruskan badan aku hanya diperbolehkan makan – makanan yang sehat, olahraga teratur, mempelajari ilmu beladiri, dan setiap hari aku dipaksa untuk latihan – latihan dan latihan. Pada suatu hari aku capek dengan latihan – latihan dan olahraga yang aku lakukan dan pagi itu aku bermalas - malasan di kasurku yang empuk.


“Morning nona. Anda tidak olahraga dan latihan beladiri hari ini?” sapa Emilia


“Oh... Morning too Emilia, enggak ah lagi males mending aku tiduran”


“Ayo siap – siap nona, tuan pelatih sudah menunggu anda di ruang latian nona”


“Besok aja Emilia, males beneran ini... Apa lagi Hasasi kan lagi di Eropa kan tidak dirumah” Jawabku


“Iya benar, tapi lihatlah” kata Emilia lalu menunjuk kamera tersembunyi di sudut ruangan


“Se...Sejak kapan disini ada kamera tersembunyi?” tanyaku kaget


“Di seluruh rumah ini terdapat kamera tersembunyi nona” jawab Emilia


“Terus yang mengawasi siapa?” tanyaku lagi


“Tuan muda Hasasi Stun langsung nona” jawab Emilia


Emilia lalu menghadap ke kamera tersembunyi tersebut dan membungkukkan sediri badannya kedepan lalu berkata kepada kamera tersembunyi tersebut


“Tuan, Nona Fifiyan hari ini lagi malas latihan dan memilih untuk tidur”


Dan tiba – tiba muncul layar seperti layar televisi dan speaker disebelah kamera tersebunyi tersebut. Dan tiba – tiba muncul wajah Hasasi di layar tersebut


“Kenapa kamu males latihan?”  tanya Hasasi dengan nada agak marah


“Lama – lama capek tau... Sehari ini aja aku ingin istirahat” kataku sedikit memohon


“Tidak ada kata istirahat, kamu harus latihan dan olahraga terus sampai kamu kurus”


“Sekali ini saja” aku pun memohon ke Hasasi sampai membungkukkan badanku agar Hasasi mau mengabulkan permohonanku


“Tidak” Jawabnya tegas

__ADS_1


“Hmmm Baik... Baik... aku siap – siap dulu tuan muda galak” jawabku ketus dan layar dan speaker tersebut hilang dari hadapanku


“Baik semangat latihan nona” kata Emilia tiba – tiba dan dia berlalu keluar dari kamarku.


Ayolah Cuma sehari ini aja kok pelit banget sih ini orang gumamku dalam hati. Setelah siap – siap aku pun berjalan turun menuju ruang latihan. Dengan bermalas – malasan, aku berjalan menuju ruangan latihan yang jaraknya tidak terlalu jauh dari rumah Hasasi. Ruangan tersebut sangat luas ada fasilitas fitness yang lengkap ditambah adanya kolam renang untuk olahraga berenang. Sampai di ruangan tersebut aku melihat ada sesosok laki – laki tinggi, berdada bidang, perut yang kotak – kotak seperti roti sobek, kulitnya putih bersih, dan dengan rambut agak panjang berwarna dark brown berdiri didekat jendela sambil memandang keluar jendela.


“Hai... Siapa kamu?” tanyaku, dan dia menoleh kepadaku


“Aku pelatihmu hari ini” jawabnya singkat


“Oh salam kenal aku Fifiyan” akupun mengajak berjabat tangan


“Aku Daniel Shin, aku keponakan dari Hasasi” jawabnya dengan senyum manis di bibirnya dan membalas jabat tanganku itu.


“Oke kita berlatih apa hari ini?” tanyaku


“Kita berlatih angkat beban” jawabnya


“Aku kan wanita mana mungkin kuat?” protesku


Aku pun mencobanya dengan susah payah, kali pertama, kedua, ketiga bahkan keempat aku gagal mengangkat sepasang barbel yang berbeban 2 kg tersebut. Dan hal itu yang membuatku kesal.


“Aaauuhh... Ini berat banget loh, aku wanita mana bisa kuat” teriakku


“Bisa... Bisa, terus angkat pokok semangat kurus” dia terus menyemangati, padahal semangatnya itu bikin aku kesal.


Selama 8 jam aku berlatih dengan pelatih yang menyebalkan ini. Dia memaksaku terus mengangkat beban berat yang akan bertambah bila aku berhasil melakukannya, dan itu membuat tanganku merasakan kaku dan kram yang sangat menyakitkan. Setelah berjam – jam berlatih dengannya akhirnya selesai juga aku berlatih hari ini.


“Oke... Latihan hari ini selesai... Kita lanjutkan besok” Kata Daniel dan berlalu keluar dari ruangan ini.


“Oke... aku juga mau mandi dan beristirahat” Jawabku dan aku juga kembali ke kamar untuk mandi dan beristirahat. Tapi sebelum beristirahat aku ingin mengobrol dengan Hasasi itu.


“Hei Hasasi... Aku ingin berbicara denganmu” Teriakku dari atas kasur, dan tiba – tiba layar dan speaker keluar dari atas


“Apa yang ingin kamu katakan?” tanya Hasasi

__ADS_1


“Banyak” jawabku jutek


“Kamu rindu denganku?” tanyanya lagi


“Ihh..Mana ada”


“Terus mau tanya apa?”


“Kenapa pelatihku bertambah, dan pelatih kali ini lebih menyebalkan darimu” jawabku


“Menyebalkan bagaimana?” tanyanya


“Masa aku harus angkat beban bebannya berat lagi, aku kan wanita mana kuat” jawabku ketus


“Ya... Emang dia ahli dalam binaraga angkat beban. Makanya dia melatihmu khusus angkat beban” jawabnya santai


“Iya deh iya terserah kamu” jawabku ketus sambil memegang HP


“Ehh... Kamu beneran enggak kangen aku?” tanyanya lagi


“Kangen apaan... Aku enggak kangen kamu” jawabku ketus


“Oh ya?... Kenapa kamu terus memandang fotoku?” tanya dia


“Enggak siapa yang mandang fotomu... PD banget”


“Beneran?... Aku bisa melihat loh, kamu memandang fotoku di HP mu”


“Ka... Kamu mata – matain aku?” teriakku dengan wajah hampir berwarna merah muda karena malu


“Hahaha... Ya sudah aku mau rapat lagi... Bye Baby” kata dia dan dia pun menghilang dari layar.


“A... Apa dia manggil aku Baby” teriakku


Dan itu untuk pertama kalinya Hasasi memanggilku kata sayang. Dulu Kwan Liang saja tidak pernah memanggilku dengan sebutan itu. Ya sudahlah aku mau tidur juga, apalagi besok tetap latihan angkat beban dan latihan itu lebih menyiksaku.

__ADS_1


__ADS_2