
Aku menatap Hasasi yang sedang mengobrol serius dengan tuan Park Leo, tidak tahu kenapa Hasasi wajahnya sangat menawan saat di amati dari jauh pantas saja dia disukai oleh para wanita
"Fifiyan..." gumam Hansol yang sedang asik menulis
"Fifiyan.." teriak Hansol yang mengagetkanku
"Apa!!" teriakku tidak sadar
"Apa yang membuatmu jatuh cinta dengan Hasasi?" gumam Hansol menatapku
"Jatuh cinta ya? aku tidak jatuh cinta dengan Hasasi"
"Lalu? kalau tidak jaruh cinta apa?"
"Aku hanya jatuh hati dengan dia"
"Kenapa bisa jatuh hati?"
"Alasannya?... aku tidak tahu"
"Kok bisa kamu tidak tahu?"
"Ya akupun tidak tahu, aku hanya merasa jatuh hati dengan Hasasi saja dan itu mengalir bertahun - tahun lamanya"
"Apa yang membuatmu jatuh hati dengan Hasasi?"
"Perhatiannya dan sikap melindungiku yang membuatku jatuh hati kepadanya" gumamku menatap Hasasi
"Oh ya? Padahal dia tidak akan mau melindungi wanita"
"Serius?"
"Ya seriusan, dulu dengan Cindy Wu atau Sari Lie dia lebih baik sendiri dari pada harus melindungi dan mempertahankan mereka"
"Kenapa bisa begitu?"
"Alasannya karena dia tidak percaya wanita, tapi aku terkejut Hasasi bisa memberimu perhatian dan perlindungan seperti itu"
"Mmm aku juga kaget tuan Hansol bilang dia tidak pernah melakukan itu kepada wanita lain" gumamku
"Ya mungkin pemikirannya berubah saat denganmu"
"Mmm ya mungkin aja" desahku
"Oh ya menurutmu bagaimana sih wanita itu?"
"Bagaimana apanya?" tanyaku bingung
"Ya wanita itu seperti apa? menyebalkan atau tidak?" tanya Hansol
"Menurutmu?"
"Menurutku sih... menyebalkan dan menyusahkan"
"Kenapa kamu berpikir seperti itu?" protesku
"Karena memang wanita itu menyebalkan dan menyusahkan apa - apa harus di turutin, kemanapun harus di temenin, terus selalu minta lebih lagi kayak itu orang" gumam Hansol melirik wanita cantik bergaun merah
"Emang dia siapa? mantan pacar tuan Hansol?"
"Mantan pacar? heeeh gak berharap dia jadi pasanganku"
"Emang ada apa tuan Hansol seperti membenci dia banget?"
"Panjang ceritanya, dan dia yang membuatku dan Hasasi gak percaya wanita"
"Emang apa yang membuat tuan Hansol sangat membenci orang itu?"
"Panjang ceritanya dan aku kesal kalau membahasnya" gumam Hansol kesal
"Ya kan gak semua wanita seperti yang tuan Hansol perkirakan" gumamku meminum wine di gelas Hasasi
"Hei anak kecil gak boleh minum wine!!" protes Hansol merebut gelas Hasasi
"Wuuueeelkkk gak enak rasanya" gumamku menjulur lidahku
"Ada apa?" gumam Hasasi membawa segelas minuman tanpa pikir panjang aku langsung merebut minuman itu dan meminum minuman itu
__ADS_1
"Tuh dia minum winemu" gumam Hansol meletakkan kembali gelas Hasasi
"Haaah ... sumpah gak enak" protesku kesal
"Makanya mau minum itu liat - liat" gumam Hasasi lembut sambil mengelus rambutku
"Aku haus lah Hasasi aku kira minumanmu enak ternyata enggak" gumamku
"Hmmm ya pasti gak enak lah, udah minum ini dulu" gumam Hasasi menyerahkan minuman lainnya kepadaku dan aku langsung meminumnya
"Tuh tanya Hasasi kenapa aku benci sama orang itu" gumam Hansol menatapku
"Tanya apa? siapa?" gumam Hasasi bingung
"Tuh si wanita menyebalkan" gumam Hansol kesal
"Wanita cantik bergaun merah itu Hasasi"
"Oh itu, apa yang ingin kamu tanyakan?"
"Kenapa Tuan Hansol sangat benci dengan dia?" tanyaku polos
"Oh dulu aku dan Hansol sama - sama suka wanita itu suatu hari kami berdua ada urusan yang harus di urus dan harus mengajak wanita itu, ya niatnya tuh dia disuruh nyari info kayak kamu tadi tapi ternyata malah bersekongkol dengan musuh dan membuat kami berdua hampir merenggut nyawa. Jadi ya semenjak itu aku san Hansol tidak percaya wanita" jelas Hasasi
"Aah begitu ceritanya, hmmm tapi kan aku beda" gumamku
"Ya aku tahu kamu beda sayang makanya aku percaya sama kamu" gumam Hasasi tersenyum
"Kalau Hasasi tidak percaya padamu mungkin sudah aku buang kamu ke laut" gumam Hansol dengan tatapan tajam
"Iihh kasar" gumamku bersembunyi di badan Hasasi
"Tenang aja gak bakalan ada yang berani sayang" ucap Hasasi menenangkanku
"Hmmm kepala mafia terbesarpun pasti gak akan berani berhadapan dengan Hasasi" gumam Hansol menutup bukunya
"Emang kenapa bisa kayak gitu?" gumamku
"Ya gimana gak takut kalau..."
"Huusstt udah gak usah dijelaskan" protes Hasasi dan Hansol langsung diam
"Lebih baik kamu tidak perlu tahu sayang"
"Kenapa?"
"Gak ada alasannya... intinya kamu tidak perlu tahu"
"Hmmm iya sayang" desahku mengalah
"Kalian tidak istirahat" gumam Hansol berdiri di depan kami
"Bentar lagi, kamu mau istirahat?"
"Ya, besok kita berangkat ke kapal pesiar jadi ya harus istirahat dulu memulihkan energi" gumam Hansol meregangkan tubuhnya
"Oke, istirahatlah dulu" gumam Hasasi dan Hansol pergi meninggalkan kami berdua
"Malam ini Paris sangat indah ya Hasasi" gumamku memandang pemandangan paris yang indah dengan kerlipnya lampu kota
"Ya memang kota tercantik kok paris ini"
"Hmmmm" desahku menikmati pemandangan kota
"Oh ya, apa yang kamu bicarakan dengan Hansol tadi?"
"Tentang hal banyak"
"Apa aja?"
"Ya pokoknya banyak deh, nanti kalau aku ceritain kamu marah"
"Tidak aku tidak akan marah"
"Gak mau ah, aku gak mau kamu marah Hasasi" gumamku menatap mata Hasasi
"Hmmm baiklah sayang, aku tahu kok pasti masa laluku yang buat aku kayak gini kan?"
__ADS_1
"Kenapa kamu tahu?"
"Ya aku tahulah, kamu menatapku dari tadipun aku tahu" gumam Hasasi meminum winenya
"Kenapa kamu bisa tahu?"
"Karena ... rahasia"
"Hmm kamu selalu aja rahasia Hasasi" desahku
"Kamu gak nanyain sekalian kenapa aku dijuluki raja kegelapan sama orang - orang?"
"Nah kenapa kamu dijuluki seperti itu?, tadi Hansol jawabnya gak detail banget"
"Suatu saat kamu akan tahu sendiri Fifiyan" gumam Hasasi santai
"Ya tahu sendiri gimana kalau kamu tidak menunjukkannya kepadaku!!" protesku
"Aku akan menunjukkannya kepadamu kalau terjadi sesuatu hal yang mengancam jiwamu dan keselamatanmu tapi kalau kamu masih aman dan terlindungi dariku aku tidak akan menunjukkannya kepadamu"
"Hmmm, kamu membuatku penasaran tahu Hasasi"
"Ya pokok jangan penasaran, intinya suatu saat kalau kamu udah tahu aku seperti apa kamu pasti akan takut berhubungan denganku Fifiyan"
"Emang segitu menakutkannya kamu ya Hasasi?" gumamku
"Gak tahu? menurutku sih aku biasa aja tapi penilaian orang lain seperti itu, aku sendiri aja heran"
"Hmmm aku jadi penasaran tahu"
"Udah kamu jangan penasaran nanti bikin kamu takut, kita istirahat aja dulu yuk besok siang kita berangkat" gumam Hasasi menggandeng tanganku
"Baiklah" gumamku mengikuti langkah kaki Hasasi kembali ke kamar kami
"Kamu istirahatlah dulu sayang" ucap Hasasi menutup pintu kamar
"Iya bentar aku mau ganti baju" gumamku pergi ke ruang ganti untuk mengganti gaun pestaku ke baju tidur
"Kamu gak ganti baju?" tanyaku keluar dari ruang ganti
"Ya ini mau ganti baju" gumam Hasasi masuk ke dalam ruang ganti
"Baiklah" desahku merebahkan tubuhku
"Mmm Hasasi kalau di kapal pesiar nanti aku tersesat akau diculik gimana?" tanyaku menatap Hasasi yang keluar dari ruang ganti hanya memakai celana pendek
"Tenang aja sayang, kamu jangan kuatir"
"Gimana gak kuatir kalau kapal pesiar isinya kayak gituan" protesku
"Ya kamu tenang aja, di kalungmu sudah aku beri pelacak posisi jadi dimanapun kamu berada aku akan segera menjemputmu"
"Kalau kalung ini hilang gimana?"
"Duduklah dulu" perintah Hasasi dan aku duduk di kasur
"Mau ngapain?"
"Sebentar dulu, aku pakaikan ini dulu" gumam Hasasi membuka pakaian belakangku dan menempelkan sebuah alat tipis di punggungku
"Ini apa?"
"Ini alat pelacak juga, jadi kalau kalungmu hilang kamu masih ada yang lain"
"Emang gak hilang?"
"Tidak, ini warnanya sama seperti warna kulitmu dan tertempel sempurna di punggungmu jadi aman tidak akan ada yang tahu, walaupun kamu diculikpun aku bisa mengungkap siapa dalang dari kapal pesiar itu" gumam Hasasi menutup kembali pakaianku
"Kamu dapat alat itu dari siapa?"
"Dari Park Leo tadi"
"Oh begitu ya" gumamku merebahkan tubuhku kembali
"Udah kamu tidurlah, percaya sama aku kalau kamu tidak akan kenapa - napa" gumam Hasaai mengelus rambutku
"Hmmm baiklah Hasasi" desahku memejamkan mata
__ADS_1
Ya walaupun aku sendiri takut tapi aku mempercayai sepernuhnya kepada Hasasi