Tuan Muda Tampan

Tuan Muda Tampan
Episode 24 : Markas Cabang


__ADS_3

Sejujurnya aku masih dongkol dengan perbuatan keluarga Kwan Liang yang telah tega membunuh keluarga besarku hanya karena jabatan semata dan mencelakakan keluarga Stun dengan trik licik mereka, aku geram sampai – sampai gayung air aku banting ke lantai


Bruuukkk


“Apa itu Fifiyan? ... kamu kenapa?” tanya Hasasi khawatir


“Eng ... enggak ada”


“Cepetan mandinya” teriak Hasasi khawatir dan aku segera menyelesaikan mandiku dan keluar dari kamar mandi


“Ayam ... ayamm ... ayam... ngapain kamu di depan pintu” ucapku saat melihat Hasasi sedang berdiri di depan kamar mandi sampai aku latah


“Ya.. aku khawatir makanya aku menunggumu di depan pintu”


“Jangan khawatir sayang, aku tadi lagi sakit hati makanya tanpa sadar membanting gayung ... hehehe”


“Sakit hati kenapa?”


“Ya ... masalah tadi” ucapku lirih


“Ya udah jangan sedih sayang, aku akan bantu kamu agar Kwan Liang membayar semua perbuatannya” ucap Hasasi menenangkanku


“Emang kamu mau berbuat apa?”


“Nanti kamu akan tau sendiri..” ucap Hasasi Santai


“Emang beda ya pandangan ketua pembunuh darah dingin”


“Iya lah, aku gak terima keluarga istriku di bunuh dengan kejam seperti itu” ucap Hasasi sambil mencium keningku


“Aku ganti baju dulu ya” ucapku dan berlalu


“Sini aku antar” ucap Hasasi dan langsung menggendongku


“Aku kan gak kenapa – napa, jangan bilang kamu mau mengintip ya” protesku


“Hahaha kok tau sih”


“Iiihh ... turunin aku” protesku sambil memukul dada Hasasi


“I ... Iya – iya jangan di pukul gitu dong sakit tau” protes Hasasi dan langsung menurunkanku


“Makanya jangan mata keranjang” ejekku sambil berlari ke ruang ganti


Aku membuka lemari dan memilih baju yang cocok untukku hari ini akhirnya aku memilih baju berwarna kuning lalu aku cepat – cepat mengganti bajuku. Saat aku mau meninggalkan ruang ganti, aku melihat sebuah foto yang menggantung di koper, foto itu adalah fotoku dan juga keluargaku. Aku mengambil foto itu dan duduk di balkon jendela sambil memegang foto itu.


“Fifiyan ... kenapa lama?” ucap Hasasi sambil membuka ruang ganti


“Fifiyan ada apa?” tanya Hasasi yang langsung merangkulku


“Emm ... tidak ada” ucapku sambil mengusap air mataku


“Jangan sedih terus ya ... ayo aku ajak ke suatu tempat”


“Ke ... kemana?”


“Nanti kamu tau sendiri, ayo” ucap Hasasi sambil terus menarikku


Aku hanya bisa mengikutinya dari belakang sambil merasakan tanganku agak sakit karena cengkraman Hasasi lebih erat dari pada kakakku. Setelah berada di parkiran Hasasi mulai melepaskan genggamannya


“Kamu kenapa megang tangan kayak gitu” tanya Hasasi


“Sakit tau kamu genggam ... liat jadi merah kan ... sama kayak kakak aja” gumamku


“Oh ... maaf ...ya kan aku besar sama kakak”


“Tapi kan dia juga kakak aku” protesku


“Kakak aku”


“Aku”


“Aku”


“Aku”


“Hey kalian berdua jangan ngerebutin aku kenapa sih, mengganggu tidurku” protes Steven di layar mobil

__ADS_1


“Kok kakak bisa tau sih” protesku


“Iya lah, aku kan mengintai kalian hihihi” ucap Steven cengegesan


“Dasar tukang menguntit” gumamku


“Kamu bilang apa?...” teriak Steven


“Eee ... ti ... tidak kak, gitu aja marah”


“Ya udah selamat bersenang – senang” ucap Steven lalu layar tersebut mati


“Ya kan dimarahin kakak” ucap Hasasi kesel


“Kan salah kamu”


“Kamu”


“Kamu”


“Kamu”


“Kalau kalian berdua gak bisa diam aku hukum” protes Steven yang terdengar di speaker dan kamipun diam seketika


Hampir setengah jam kami diam tanpa kata dan itu membuatku jenuh


“Kita akan kemana?” tanyaku


“Ke suatu tempat”


“Selama aku tinggal di Australia, aku tidak pernah lewat jalan ini” ucapku ragu


“Ini emang tempat pribadiku, tidak ada satupun orang yang tau”


“Apa itu?”


“Markas rahasia Pembunuh Darah Dingin”


“Kenapa kita kemari, katanya kesuattu tempat” gumamku


“Ya di sisi lain ada tempat yang akan kita kunjungi” ucap Hasasi santai


“Itu bangunan apa?, menyeramkan” tanyaku


“Itu adalah markas kami”


“Kok ada markas di Australia, bukannya markasnya di rumahmu?”


“Ya kalau di rumah itu adalah pusatnya, disini adalah cabangnya”


“Kok markas disini sangat jelek”


“Ya kan luarnya aja untuk mengelabuhi orang lain, kalau di dalamnya jangan tanya” ucap Hasasi dan kamipun berhenti dan turun dari mobil


Kami berdua sampai di depan pintu yang sangat besar dan banyak lumut yang tumbuh di luar kulit pintu tersebut, bangunan ini sangat tidak layak dan mengerikan jika di lihat dari luar karena banyak lumut dan rumput ilalang yang umbuh liar di bangunan maupun di taman.


“Selamat datang, silahkan masukan kata sandi anda” suara dari kunci modern yang terpasang di sisi kiri pintu


“Hasasi Stun yang sampai kapanpun akan selau mencintaidan melindungi istriku tercinta” Ucap Hasasi sambil melihatku


“Sandi benar, silahkan masuk tuan Hasasi” ucap kunci modern tersebut dan pintu terbuka


“Ayo masuklah” ucap Hasasi dan berjalan mendahuluiku


“Eh ... kenapa kata sandimu kayak gitu?” tanyaku


“Itu kata sandi yang khusus untukmu”


“Pfftt ... dasar tukang menggoda” ejekku


“Eh ... ini ruangan kok gelap sih” gumamku dan tiba – tiba suara tepuk tangan Hasasi yang otomatis menghidupkan lampu


“Waw ... keren” gumamku


“Selamat datang tuan Hasasi” ucap laki – laki yang saling berjejer di depan kami dengan rapi


“Oke ... terimakasih”

__ADS_1


“Selamat datang tuan Hasasi dan nona Fifiyan, silahkan sebelah sini” ucap salah satu pemuda dan mempersilahkan kami masuk ke dalam ruang yang sangat mewah


“Nona Fifiyan pasti sangat capek ya, Violent tolong bawa nona Fifiyan menuju kamarnya” ucap pemuda itu


“Mari nona” ucap wanita yang cantik di depanku


“Emmm, nanti saja” gumamku


“Udah kamu istirahat aja dulu, aku mau ada rapat sebentar ... setelah itu aku akan menghampirimu” bisik Hasasi dan akupun mengangguk mengerti


“Mari nona” ucap Violent dan mendahuluiku


“Nama kamu siapa?” tanyaku saat aku berjalan di depannya


“Violent nona” ucap Violent tanpa mengengok ke belakang


“Kamu kerja disini ya?” tanyaku tapi Violent tidak menjawab, dan tiba – tiba kami sampai di sebuh ruangan


“Silahkan nona, ini kamar anda ... kalau ada keperluan nona bisa mencariku” ucap Violent sambil berlalu tap aku langsung mencegahnya


“Tu .. tunggu” ucapku menghentikan langkahnya


“Iya nona, ada apa?”


“Bolehkah kamu menemaniku, aku masih agak asing” ucapku memohon


“Baiklah” ucap Violent dan tetap berdiri di sampingku


“Sini duduklah bersamaku” ucapku dan aku duduk di sofa pangjang sekat jendela


“Tidak nona, saya tidak pantas duduk disitu” ucap Violent


“Kenapa?”


“Karena saya hanya pembantu”


“Sini duduk aja, gak ada yang akan memarahimu ... kalau ada yang memarahimu, aku akan memarahi balik” ucapku sambil tersenyum


“Baiklah ...” ucap Violent dan duduk di sebelahku


“Kamu kerja disini?” tanyaku ramah


“Iya nona”


“Jangan terlalu formal ah sama aku ... oya kenalin aku Fifiyan” ucapku sambil tersenyum


“Aku Violent nona”


“Kamu kerja disini siapa yang menyuruh?” tanyaku


“Tidak ada, aku hanya ... inisiatif sendiri”


“Oh ya? ... hmmm berat ya membersihkan rumah ini?”


“Ya bisa dibilang begitu nona”


“Bisakah kita berteman?” tanyaku ramah


“Nona tidak pantas berteman denganku, nona adalah istri dari tuan Hasasi”


“Siapa yang melarangku? ... Hasasi?”


“Bukan nona, karena ... pembantu tidak pantas berteman dengan majikan”


“Tapi aku beda kok, aku suka berteman dengan siapa saja ... Bagaimana?” tanyaku lagi


“Hmmm baiklah, aku mau bertean dengan nnona”


“Oke terimakasih Violent, jadi setelah ini kamu jangan formal banget sama aku ya” ucapku dengan senyum


“Baik nona.... nona silahkan istirahat, nanti Tuan Hasasi akan mengajak nona ke suatu tempat” ucap Violent


“Kemana sih? ... dia tidak mau memberi tahuku


“Ya ... suatu tempat yang hanya ada nona san tuan Hasasi saja” ucap Violent


“Di mana itu?”

__ADS_1


“Nanti nona akan tau, selamat istirahat nona. Saya ijin keluar” ucap Violent dan meninggalkan aku di dalam kamar


Emang sih dari luar terlihat menyeramkan, tapi di dalamnya sangat mewah, sama – sama mewah dengan rumahh aslinya, semuanya lengkap tidak ada yang terlewat di dalam ruangan tersebut. Dan aku juga tidak tau Hasasi akan membawaku ke mana, hal itu membuatku penasaran.


__ADS_2