Tuan Muda Tampan

Tuan Muda Tampan
Episode 129 : Keputusan Yang Menyakitkan


__ADS_3

Di pinggir pantai aku melihat Hasasi terus melamun dan pikirannya terlihat sangat kosong seperti memikirkan beban berat, aku mengusap - usap bahu Hasasi untuk menenangkan Hasasi dengan segala kekacauan yang ada di pikirannya


"Hasasi..." gumamku lirih dan Hasasi hanya memandangku


"Apakah ada hal yang sangat mengganjal di hatimu?"


"Tidak ada, cuma sedikit rasa kecewa"


"Kecewa karena apa?"


"Tidak ada, biar ku pendam sendiri"


"Hasasi ceritalah"


"Tidak"


"Hasasi..." bisikku lembut di telinganya


"Hmmm baiklah aku cerita ... tapi kamu jangan marah ya"


"Iya... ceritalah"


"Hmmm... sebenarnya... aku masih punya rasa dengan Cindy Wu... dan sebenarnya kita harusnya sudah menikah, tapi tidak direstui oleh orang tuaku karena akan di jodohkan dengan seseorang dari kecil yang ternyata dari keluarga Shinju... dan sebenarnya Amelia itu adalah pernikahan bisnis yang diberikan ayah saat ayah tidak menemukan jodohku yang dijodohkan diwaktu kecil, jadi saat ayah tahu anak dari tuan Shinju yaitu kamu masih hidup makanya ayah masih memintaku untuk menikahimu sesuai dengan kesepakatan ayah dan ayahmu"


"Oh begitu ya..." gumamku lirih


"Makanya Cindy Wu juga masih mengejar aku karena dia masih punya rasa kepadaku dan memintaku untuk menikahinya lagi tapi itu tidak mungkin..."


"Kenapa tidak mungkin?"


"Karena... kami tidak di restui oleh orang tuaku dan aku telah menerima pertunangan kita"


"Sejak kapan kamu kenal dengan Cindy Wu?"


"Sejak aku sekelas dengan Cindy diwaktu masih sekolah sebelum kenal dengan Sari Lie... aku berpacaran dengan Sari Lie itu hanya untuk pelampiasanku saja sedangkan aku dengan Cindy Wu benar - benar saling menyukai... Ya kami pacaran sudah bertahun - tahun tapi sering putus nyambung mulu tapi rasa kami masih ada sampai sekarang sampai kami berdua untuk sepakat menikah kemarin tapi hal itu tidak berjalan mulus karena kejadian yang menimpamu saat itu ayah datang dan tahu kejadian kamu di rendahkan dan tahu aku menikah diam - diam makanya ayah murka kepadaku... jadi bisa dibilang saat orang tuaku tidak merestui aku dengan Cindy dan ternyata kamu juga memilihku apalagi orang tuaku merestui aku dengan kamu jadi aku akhirnya memilihmu untuk menjadi calon istriku dan akhirnya Alex melamar Cindy Wu saat kamu menolak Alex"


"Kalau Cindy dengan Alex apakah kamu tidak marah?"


"Marah sih tapi ya mau gimana lagi..."


"Kamu masih punya rasa dengan Cindy?"


"Mau jawab jujur atau bohong?"


"Ya jujur lah"


"Kalau secara jujur... aku masih punya rasa sama cindy"


"Jadi kamu memilih bersamaku itu karena terpaksa?"


"Enggak"


"Jangan bohong, kalau kamu bohong aku akan marah" gumamku


"Baik... baik... jujur aku ... terpaksa, meskipun sedikit"

__ADS_1


"Oh begitu..." gumamku sedih dan berusaha menyembunyikan kesedihanku


"Kenapa suaramu seperti sedih?"


"Tidak kok"


"Jangan bohong Fifiyan"


"Aku gak bohong" ucapku tersenyum


"Hmmm aku kira...."


"Aku kesana sebentar ya" gumamku langsung pergi dari sisi Hasasi dan berjalan menjauh dari Hasasi, tidak terasa air mataku jatuh membasahi pipiku


"Oh ya Hasasi... terimakasih" gumamku menatapnya yang kaget saat tahu aku menangis


"Fifiyan... kamu menangis?" tanya Hasasi kaget tapi aku tetap terus pergi dan masuk ke dalam kerumunan orang banyak


Sejujurnya hatiku langsung terasa sakit saat tahu Hasasi masih punya rasa dengan Cindy, kalau aku tahu dari awal aku tidak akan menerima Hasasi, tapi kenapa Hasasi masih mau menerimaku dan mau menjadi suamiku padahal kalau aku tahu dari awal pasti aku akan mencari laki - laki lain. Kenapa hal ini terjadi kepadaku?


Aku terus berlari menghindar dari Hasasi dan aku berlari menuju ke kamar dan mengunci pintu kamar lalu duduk di belakang pintu kamar. Aku masih tidak percaya selama ini Hasasi masih punya rasa kepada Cindy Wu dan bersamaku karena keterpaksaan, kenapa perasaan kami sangat tolak belakang. Apakah aku salah mencintai Hasasi?, lalu selama ini Hasasi berikan kepadaku apa karena perintaj dari ayahnya saja?


Aku termenung sendiri, sedih, kesal, marah campur aduk di dalam hatiku. Aku tidak tahu harus bagaimana dengan situasi sekarang ini, apakah aku harus lari dari kenyataan ini atau aku harus menyerah dan pasrah dengan keadaan yang ada


Tookkk... toookkk


"Fifiyan kamu ada didalam?" ucap Hasasi mengetuk pintu kamar tapi aku tidak menjawabnya


"Fifiyan, buka dulu... jangan marah seperti itu, kita bicarakan baik - baik " ucap Hasasi sambil terus mengetuk pintuku terus menerus tapi aku diam danlangsung mematikan lampu kamar


"Fifiyan sayang, ada apa kamu mengunci diri di kamar" ucap Steven mengetuk pintu dengan pelan


"Tidak ada"


"Coba buka, kakak ingin mengobrol denganmu... disini tidak ada Hasasi kok" ucap Steven pelan


"Gak mau"


"Ayolah adekku sayang kita ngobrol berdua aja"


"Hmmm baiklah" gumamku membuka pintu dan Steven masuk ke dalam bersamaku


"Ada apa Fifiyan?" tanya Steven menatapku yang sedang terdiam


"Kak aku ingin pergi dari sini"


"Pergi kemana?"


"Pergi jauh dari Hasasi"


"Kenapa?"


"Tidak ada, aku hanya ingin aja"


"Coba jelasin ke kakak ada apa yang sebenarnya terjadi"

__ADS_1


"Hmmm kak..." gumamku berkaca - kaca


"Hasasi masih punya rasa dengan Cindy dan dia terpaksa denganku" gumamku sambil terus menangis


"Hmmm kamu masih ingat omongan kakak yang bilang kamu jangan terlalu berharap, maksud kakak jangan terlalu berharap karena sebenarnya Hasasi masih mencintai Cindy Wu"


"Kenapa kakak tidak bilang langsung kepadaku" protesku sambil terus mengusap air mataku


"Karena kakak tidak mau mengekang kebahagiaan kamu"


"Hmmm baiklah kak aku paham sekarang..."


"Paham tentang apa?"


"Paham apa yang harus aku lakukan, bisa manggilin Hasasi untuk datang kesini gak kak?"


"Baiklah, kakak panggilin Hasasi sebentar" gumam Steven berlalu meninggalkanku sendiri tapi tidak lama kemudian Hasasi datang ke kamarku dengan wajah penuh salah


"Fifiyan..." gumam Hasasi lirih dan aku berani untuk menatap wajah Hasasi


"Maafkan aku Fifiyan, aku akan..."


"Cukup Hasasi, aku tahu apa yang harus aku lakukan" gumamku sambil melepaskan cincin tunangan kami


"Hasasi .... kalau kamu mau mengejar cintamu kejarlah aku tidak apa - apa kok" gumamku tersenyum sambil mengembalikan cincin itu kepada Hasasi


"Tidak Fifiyan ... aku... aku tidak mau kehilanganmu"


"No problem aku juga tidak mau menjadi bebanmu apalagi menjadi pelampiasanmu, jadi apapun keputusanmu dan apapun keinginanmu itu adalah jalan yang terbaik" gumamku


"Fifiyan... bukan maksudku ..."


"Tidak apa, aku baik - baik saja kok... sekarang, lupakan aku dan anggap saja kita tidak pernah bertemu sama sekali" gumamku langsung berdiri dan langsung memakai pakaianku


"Tidak Fifiyan, aku tidak mau... jangan pergi"


"Maafkan aku Hasasi karena aku kamu tersiksa menerima aku dengan keterpaksaan sedangkan aku tidak mau memaksakanmu apapun yang terjadi"


"Fifiyan... aku tidak mau kehilanganmu, sungguh"


"Tidak apa Hasasi, lupakan aku" gumamku meninggalkan Hasasi


"Fifiyan, jangan tinggalkan aku" gumam Hasasi memegang tanganku dengan erat


"Ak... aku mencintaimu sungguh, aku jatuh hati kepadamu" bujuk Hasasi


"Maaf Hasasi, semoga kamu mendapatkan kebahagiaan dengan Cindy Wu... betulkan ...Cindy Wu" gumamku melihat Cindy yang sedang bersandar di dinding kayu depan kamar


"Fifiyan jangan begitu"


"Aku bahagia kalau kalian berdua bahagia Hasasi... aku pamit dulu ya" gumamku melepaskan genggaman Hasasi dan pergi dari kamar dan berjalan keluar kamar, tapi saat berada di depan Cindy aku sengaja untuk menghentikan langkahku


"Semoga kalian bahagia dan tolong jaga Hasasi untukku ya... Cindy" gumamku tersenyum dan berjalan pergi meninggalakn mereka berdua


Aku tidak tahu apakah keputusanku ini benar atau salah, tapi yang jelas aku ingin mencari laki - laki yang serius kepadaku dan bukan karena keterpaksaan jadi aku tidak mau menjadi aku sendiri sakit hati. Kalau Hasasi bahagia aku juga bahagia walaupun sakit

__ADS_1


__ADS_2