
Di dalam mobil wajah Alex sangat berseri - seri dan itu sangat terlihat jelas sampai - sampai dia senyum - senyum sendiri sambil menatapku dan itu menurutku sangat menyebalkan
"Kenapa sih kamu tertawa sendiri dan menatapku pula" ucapku kesal
"Ya seneng aja, liburan bareng pasangan apalagi sama kamu"
"Hmmm..."
"Kenapa?... kamu gak senang?" tanya Alex menatapku
"Ya senang aja sih" gumamku
"Ada yang kamu fikirkan?"
"Tidak ada, cuma sedikit lelah"
"Mau istirahat saja? kalau begitu kita tidak usah ke pantai"
"Tidak... aku maunya ke pantai" protesku
"Tapi tadi katanya lelah"
"Ya makanya pengen ke pantai biar gak lelah" gumamku
"Mmm baiklah" gumam Alex
"Nanti kamu akan rapat dengan siapa?"
"Dengan Tuan Steven"
"Siapa itu?"
"Ketua organisasi pengawas perusahaan di dunia"
"Loh emang ada pengawasnya?"
"Iya emang ada... "
"Oh aku baru tahu malah... emang Steven siapa?"
"Tidak tahu sih nama lengkapnya, pokok dia termasuk keluarga Stun sih sedengerku" gumam Alex
"Steven?... keluarga Stun" gumamku dan aku terfikirkan apakah itu Steven Shinju kakak aku sendiri
"Iya ... emang kenapa?, apakah kamu kenal?"
"Tidak, aku hanya memikirkan dia siapa!" gumamku
"Aku aja baru pertama kali akan bertemu dengan dia"
"Emang kamu gak pernah bertemu dia?"
"Belum... soalnya hanya perusahaan penting yang bisa bertemu dengannya seperti perusahaannya milik Hasasi yang setiap hari ketemu"
__ADS_1
"Tapi tumben kok ingin bertemu denganmu?"
"Entah... tiba - tiba aja ingin bertemu denganku padahal agenda aslinya tuh bukan bertemu dengan dia"
"Emang bertemu dengan siapa?"
"Dengan yang lain"
"Oh mmm" gumamku dan serelah itu tidak berkata apapun kepada Alex
Setiap perjalanan kemanapun dan kapanpun, Alex gak pernah mengobrol dan hanya diam tanpa kata sambil main handphonenya. Disaat Alex sibuk dengan handphonenya, aku mengambil handphoneku dan mengabari kakak
*Kak aku akan main di Pantai Sarang, kalau kakak bertemu aku temui aku di Pantai Sarang. Tapi jangan menemuiku saat ada Alex nanti dia curiga
Fifiyan
Oke... kakak tunggu di Pantai Sarang, kalau masalah Alex sudah aku atur jadi kamu jangan khawatir
Steven*
"Hufft" desah nafasku lega kakak sudah mengatur semuanya, jadi aku bisa puas untuk membongkar semua brankas yang ada di rumah.
Setelah kami menempuh perjalanan yang membosankan, akhirnya kami sampai di Pantai Sarang, pantai yang sangat indah dan juga dekat dengan rumahku hanya 500 meter dari rumah
Pantai yang menjadi tempatku untuk bermain pasir pantai di waktu kecil bahkan sampai dewasa saat masih bersama Hasasi pantai ini menjadi tempatku bercurah hati dan menenangkan diriku yang sedang bersedih.
Aku turun dari mobil dan segera berlari di pinggir pantai yang menyambutku dengan derusan ombak dan desiran angin yang menyejukkan hati dan jiwaku
"Ya seneng lah, udah lama banget gak liat pantai" gumamku
"Hmmm tapi kamu lucu sih berlarian seperti itu" ucap Alex sambil duduk di pasir pantai dan menatapku
"Aah kamu gak asik ah masa cuma duduk aja di pantai" gumamku kesal
"Aku lebih suka ke gunung dari pada ke pantai"
"Kenapa?"
"Di pantai panas"
"Gitu kok mau ke pantai"
"Ya kan kamu yang mau, jadi aku turutin" gumam Alex
"Hmmm... " desahku sedikit kecewa, berbeda sekali dengan Hasasi yang lebih suka pantai
"Wajahmu kenapa murung?" tanya Alex
"Tidak ada"
"Kamu marah aku tidak memikmati liburan ini?"
"Ya... apalagi pantai itu kesukaanku" gumamku
__ADS_1
"Maaf... aku emang tidak suka, aku sih yang penting kamu bahagia" ucap Alex dan aku hanya terdiam tanpa kata
"Jangan pundung dong cantik, meskipun begitu aku menikmati liburan ini" ucap Alex merangkulku lembut
"Hmmm baiklah" gumamku
"Fifiyan tahu tidak kalau aku serius sama kamu"
"Iya aku tahu"
"Kalau kamu tahu kamu harus bersamaku ya, jadilah nyonya Guan dan lupakanlah Hasasi" ucap Alex serius
"Ma... maksudnya?"
"Jadilah istriku, jadilah Nyonya Guan, lupakan Hasasi.. aku tahu kamu masih mencintai Hasasi, jadi tolong lupakan Hasasi dan jadilah istriku,Fifiyan" ucap Alex dan aku hanya diam saja.
Sejujurnya aku sangat mencintai Hasasi, walaupun Hasasi sering menyakitiku tapi dihatiku tetap ada nama Hasasi dan hatiku juga tetap memilih Hasasi menjadi suamiku
"Fifiyan kenapa kamu diam saja?" tanya Alex dan aku hanya diam bingung mau bilang bagaimana, aku tidak berani untuk menberikan jawabanku untuk memilih diantara dua orang itu apalagi aku belum emmbuka berankas milik ayah
"Fifiyan, kamu dengar tidak?" protes Alex menatapku yang kebingungan
Kriiing... kriiing
Tiba - tiba handphone Alex berdering sangat keras, Alex segera melepaskan tangannya dari bahuku dan segera mengangkat handphonenya
"Hallo, iya pak ada apa?" ucap Alex mengangkat telpon itu
"Mmm tapi saya beserta sekretaris saya"
"Lalu?... saya sendiri saja datangnya?" gumam Alex
"Ba... baik pak, saya akan tiba beberapa menit lagi"
"I.. iya pak saya berangkat sekarang" ucap Alex gugup dan langsung mematikan telponnya
"Aku berangkat dulu ya" ucap Alex menatapku
"Berangkat kemana?"tanyaku kaget
"Ke rapat, aku sudsh di tunggu oleh ketua" gumam Alex panik
"Ketua siapa?" tanyaku penasaran
"Tuan Steven yang aku ceritain tadi... aku berangkat dulu ya"
"Lalu aku mau ngapain?" tanyaku bingung
"Kamu udah tahu Jepang kan?... kamu jalan - jalan sendiri ya, aku udah di tunggu ketua nanti kalau sudah selesai aku hubungi kamu" ucap Alex segera buru - buru meninggalkanku di pantai sendirian sedangkan aku hanya menatap Alex yang berlari menuju mobil dan mobil yang berjalan cepat meninggalakan pantai
"Ini cwo apaan sih masa ninggalin cwe sendirian di pantai" gumamku kesal
"Mana kakak kemana aja sih kok belum muncul" gumamku kesal sambil melihat sekeliling ternyata tidak ada orang sama sekali apalagi hari ini adalah jam kerja dimana pantai pasti sepi pengunjung dan karena aku sendirian sambil menunggu kakak datang akhirnya aku hanya bermain pasir pantai sendirian
__ADS_1