
"Fifiyan bangun..."
"Mmm..."
"Fifiyan bangun kita sudah sampai.." gumam Hasasi membangunkanku.
"Hoooaaammm... Udah sampai ya" desahku mengusap kedua mataku.
"Sudah sayang, ayo kita turun semua sudah berjalan turun tuh!!"
"Oh baiklah.." desahku beranjak berdiri
"Aduuuhh!!!" rintihku merasakan kram di kakiku.
"Kamu kenapa sayang?"
"Kakiku kram..."
"Hmmm kamu dari tadi tidurnya pulas banget jadinya tidak terasa ketindih mungkin.."
"Hmmm ya mungkin saja .." desahku memegang tangan Hasasi kuat dan berjalan perlahan.
"Apa kakimu masih sakit?"
"Hanya sedikit sakit."
"Kalau begitu jangan dipaksakan" gumam Hasasi menggendongku dan turun dari pesawat. Di depan kami terdapat banyak orang yang berlalu lalang masuk ke dalam sebuah gedung tinggi diantara gedung yang lainnya.
"Hasasi ada banyak orang jangan menggendongku aku malu.."
"Tidak masalah"
"Hasasi, aku gak mau jadi pusat perhatian!!" protesku kesal.
"Baik - baik, tapi jalan hati - hati ya..." desah Hasasi menggandeng tanganku.
"Iya aku tahu Hasasi.." desahku menggenggam erat tangan Hasasi.
Sebelum kami menikah sampai kami punya anak dua Hasasi sama sekali tidak merubah kebribadiannya dan sikapnya kepadaku, selalu melindungiku, menjagaku, dan menyayangiku membuatku sangat menyayanginya walaupun umur kita sudah tidak muda seperti dahulu.
"Kenapa kamu menatapku istriku?"
"Tidak ada apapun, cuma ..."
"Cuma apa?"
"Cuma kamu masih saja tampan Hasasi..." desahku tersenyum.
"Kulit yang sedikit berkeriput seperti ini kamu bilang tampan?"
"Ya, kamu masih tampan Hasasi. Masih banyak tuh wanita yang menggila karena ketampananmu..." desahku melihat banyak wanita yang bergumam menatap wajah Hasasi.
"Apa kamu cemburu?"
"Tidak, kamu kan milikku buat apa aku cemburu. Sudah berapa kali aku melihatmu bersama dengan wanita lain dan kamu tetap terjatuh di pelukanku Hasasi..." desahku pelan.
"Ya benar, sejauh apapun aku menghindarimu tapi aku tetap berada di pelukanmu bahkan sekarang aku menjadi suamimu." gumam Hasasi mengacak rambutku.
"Hmmmm.." desahku tersenyum kearah Hasasi.
Kami berdua mengikuti langkah kaki Hansol dan Dennis yang ada di depan kami, walaupun kakiku masih terasa kram tapi sudah bisa aku gerakan kembali.
"Aku sudah tidak apa - apa Hasasi." gumamku pelan.
"Benarkah? Baiklah kalau begitu..." desah Hasasi menggandeng tanganku lembut.
"Fifiyan!!!" teriak seorang laki - laki di belakangku.
"Ka... kakak?" gumamku terkejut, aku langsung berlari kearah Steven dan memeluknya erat.
"Senang bisa bertemu denganmu adikku!!"
"Aku juga senang bisa bertemu kakak. Kakak kenapa tidak pernah datang kembali?" desahku pelan.
"Kakak sibuk adikku, kakak minta maaf ya..."
__ADS_1
"Hmmm emang kakak selalu jahat kepadaku!!!" protesku kesal.
"Kamu datang juga Steven..." desah Hasasi berjalan kearah kami.
"Ya... Pertemuan ini sangat penting, tidak aku sangka kamu bisa menjaga adikku ini." gumam Steven mengusap lembut rambutku.
"Tenang saja aku bisa melindungi istriku."
"Aku tahu, aku bukan mengkhawatirkan adikku..."
"Jangan bilang wanita itu." gumam Hasasi dingin.
"Ya... Benar..."
"Wanita? Siapa?" tanyaku polos
"Kamu tidak perlu tahu.."
"Aku adikmu jadi aku harus tahu!" gumamku kesal tapi Steven hanya terdiam.
"Dia mengkhawatirkan Angel dan Lauren" gumam Hasasi pelan.
"Nona Angel? Kakak sudah menerima nona Angel?"
"Tidak... Sampai kapanpun tidak adikku sayang."
"Lalu kenapa kakak sangat khawatir dengannya?"
"Besok malam kamu akan tahu adikku dan jangan sampai kamu terpisah dengan Hasasi apa kamu mengerti!!!"
"I... Iya kakak aku mengerti.." desahku pelan, " Tatapan kakak menakutkan..." gumamku dalam hati.
"Baiklah mari sayang kita harus masuk ke dalam..." gumam Hasasi meraih tanganku
"Tapi kakak..."
"Kakak ada urusan yang lain, nanti kakak akan datang menemuimu adikku..." gumam Steven tersenyum kepadaku.
"Hmmm..." desahku mengikuti langkah kaki Hasasi. Aku merasa ada yang aneh dengan gedung di depanku, banyak orang yang terlihat ketakutan bahkan seperti menghindari satu sama lain yang membuatku bingung.
"Eeee... Mmm tidak ada Hasasi.."
"Apa kamu melihat ada yang aneh?"
"Ya benar..." desahku pelan.
"Memang, orang yang tidak terbiasa di dunia mafia akan aneh melihatnya..." desah Hasasi pelan.
"A.. Apa yang kamu maksud?"
"Nanti sampai kamar aku ceritakan kepadamu istriku. Yang terpenting kamu jangan sampai terpisah dariku sedetikpun, apa kamu paham?"
"Ya aku paham.." desahku pelan.
"Jangan khawatir ada aku disini, dengan adanya kamu aku tidak akan seceroboh dulu kok!" desah Hasasi merangkulku erat.
"Hmmm..."
Aku melangkahkan kakiku masuk ke gedung yang terlihat megah dan hangat dari luar tapi terasa dingin dari dalam. Banyak orang yang berpakaian mewah sama sekali tidak menyapa satu sama lain, mata mereka sangat awas bahkan aku melihat tangannya sangat waspada di dalam saku celana dan di sela gaun yang mereka gunakan. Dengan cepat Hasasi menggandengku masuk ke dalam kamar. Hasasi mengunci pintu kamar dan terduduk di sebelahku.
"Huuuhh..." desah Hasasi merebahkan badannya di tempat tidur.
"Kenapa Hasasi?" tanyaku bingung
"Sebenarnya mengajakmu kemari sama saja mengajakmu untuk bunuh diri tapi kalau aku tidak mengajakmu aku pasti tidak bisa mengontrol diriku seperti saat kamu diculik dan kamu terluka dulu..." desah Hasasi menarik tanganku dan membuatku terjatuh di sebelah Hasasi.
"Sebenarnya apa yang terjadi Hasasi?"
"Kamu tahu kan tatapan semua orang yang datang di acara ini seperti sangat siaga ..."
"Ya, aku masih bingung kenapa mereka seperti itu?" desahku pelan
"Ini kongres mafia seluruh dunia sayang."
"Hanya kongres biasa kan apa yang kamu khawatirkan Hasasi..."
__ADS_1
"Ini bukan kongres biasa sayang. Kalau hanya kongres biasa aku tidak akan mengajak Dennis dan Hansol tidak akan mengajak Jiwon..." desah Hasasi pelan.
"Lalu..."
"Hmmm susah menjelaskannya kepadamu sayang..." desah Hasasi menatapku.
"Biar kami saja yang menjelaskannya..." desah Dennis keluar dari lemari pakaian.
"Haah Hasasi selalu saja lemah kalau dengan Fifiyan bisa - bisa kamu akan terbunuh!!" gerutu Hansol berjalan di belakang Dennis
"Tu.. Tuan Dennis dan Tuan Hansol kenapa bisa keluar dari dalam lemari?" tanyaku terkejut.
"Ini adalah jalan rahasia kami dan lima kamar ini sudah kami modifikasi bertahun - tahun yang lalu..." desah Dennis terduduk di sofa.
"Ya tidak hanya lima kamar ini tapi kamar ketua mafia lain juga akan melakukan hal yang sama tapi biasanya kamar Hasasi inilah yang digunakan untuk pertemuan kami" gumam Hansol dingin
"Jadi sebenarnya tempat apa ini?" tanyaku penasaran.
"Ini adalah base camp seluruh mafia di dunia, kongres hanyalah alasan klasik para mafia.." gumam Dennis pelan.
"Yups benar, yang sesungguhnya terjadi adalah... Semua ketua mafia akan melaksanakan suatu strategi bertahan hidup..."gumam Hansol santai.
"Jadi itu sebabnya kita akan berminggu - minggu?"
"Yups benar sekali" desah Hansol pelan.
"Lalu kenapa aku dan Wulan diajak?" tanyaku bingung.
"Karena peraturannya harus berpasangan dan pasangan kamilah yang menjadi sasarannya" gumam Hansol santai.
"Itulah kenapa aku bilang mengajakmu kemari sama saja aku mengajakmu bunuh diri istriku..." desah Hasasi tertidur di pahaku.
"Lalu kenapa aku yang kamu ajak Hasasi?"
"Kamu mau dia mengajak wanita lain berminggu - minggu di alam bebas Fifiyan? Kamu istrinya sekarang!!" protes Dennis dingin.
"Tapi kalau kami mati bagaimana?" gumamku pelan.
"Tenang saja Hasasi sudah memikirkannya ini beberapa tahun yang lalu. Kamu tahu kan kalau marah seperti apa Hasasi apalagi melihat kamu diculik atau terluka Hasasi berperilaku seperti orang gila..." gumam Hansol santai.
"Dan mengajakmu dapat membuatku bisa mengendalikan diriku, aku takut aku jadi menggila seperti dulu..." gumam Hasasi menggenggam erat tanganku.
"Menggila seperti saat aku terluka dan diculik itu?" tanyaku bingung dan Hasasi hanya menggelengkan kepalanya.
"Lalu kenapa?" tanyaku penasaran
"Mantan yang disayang Hasasi ada disini, saat Hasasi belum menikah denganmu Hasasi hampir mati karena dia tidak tega melukai Cindy Wu. Walaupun kalian sudah menikah Hasasi masih saja..." gumam Hansol dingin.
"TIDAK... AKU SUDAH MELUPAKAN WANITA RENDAHAN ITU APALAGI WANITA LAINNYA!!!" teriak Hasasi memotong pembicaraan Hansol.
"Tapi kenyataannya seperti itu Hasasi dan itu benar terjadi kan, kalau kamu tidak mengajak Fifiyan pasti kamu akan melakukan kesalahan yang sama dan kamu hampir mati terbunuh lagi. Untung waktu itu aku dan Hansol bisa mengalahkan Cindy dengan organisasinya sendiri kalau tidak organisasi kita tidak ada dipuncak saat ini!!!" protes Dennis kesal.
"Walaupun kamu sudah menikah dengan Fifiyanpun kamu masih belum tega malakukannya Hasasi kalau kamu terus seperti itu bagaimana kamu bisa mempertahankan ini semua!!" gerutu Hansol kesal.
Aku melihat tangan Hasasi bergemetar memegang tanganku dan wajahnya bersembunyi digaunku. Aku memang tahu melupakan seseorang yang pernah disukai tidaklah mudah, Aku juga tidak berhak memarahi Hasasi, aku sudah tahu dari awal sebelum kami menikah kalau Hasasi memiliki rasa dengan Cindy sampai sekarang, aku tidak tahu perasaan apa yang dimiliki Hasasi sekarang tapi aku tahu dia tidak mungkin bisa dengan mudah meninggalkanku apalagi kita sudah memiliki dua orang anak yang lucu.
"Kamu harus merubah sifatmu Hasasi!!! Kalau kali ini kamu tidak bisa melawan Cindy atau wanita lainnya, jangan salahkan aku membunuhmu.." gerutu Hansol dingin.
"Hmmm tenangkan dirimu Hansol, disini ada Fifiyan tidak baik mengatakan hal itu.." gumam Dennis menenangkan Hansol.
"Aku sudah kesal Dennis, setiap kali Hasasi seperti itu. Apalagi sekarang ini kita membawa orang yang terpenting dihidup kita, kalau sampai salah satu diantara Fifiyan atau Wulan atau Angel terluka aku akan membenci Hasasi seumur hidupku!!!" teriak Hansol kesal. "Angel? Jadi inikah yang dikhawatirkan kakak, mmm aku mengerti sekarang."
"Kalau Wulan urusanku, aku bisa mengurusnya kalau Angel itu urusanmu dan Fifiyan urusan Hasasi jadi kamu jangan semarah itu..." desah Dennis santai.
"Bagaimana aku tidak marah kalau Hasasi tetap tidak melakukan dengan benar mereka akan terluka Dennis!!!" protes Hansol kesal.
"Tuan Hansol jangan khawatir, aku dan Angel sudah mengerti masalah dunia mafia apalagi Angel bisa dikatakan lebih hebat dariku. Kalau untuk Hasasi... Aku akan berbicara dengannya, jadi tuan Hansol jangan marah - marah ya.." gumamku mencoba menenangkan Hansol.
"Hmmm... Baiklah katakan kepada suamimu itu agar dia mengerti, jangan terus seperti anak kecil hanya karena seorang wanita yang menyakitinya, dia sudah menikah denganmu jadi dia..."
"Baik - baik tuan Hansol, aku mengerti kok tuan Hansol. Sudah siang tuan Hansol dan tuan Dennis pasti juga sedang capek, ada baiknya anda berdua bisa beristirahat sebelum menyusun rencana." gumamku tersenyum manis.
"Aaah hmmm baiklah kalau wanita cantik yang memintanya aku akan mengikuti kemauannya..." desah Hansol beranjak dari tempat duduknya.
"Ingatlah ini Hasasi, kalau kamu sampai selalu melakukan kesalahan hanya karena beberapa wanita yang menyakitimu dahulu dan membuat organisasimu hancur. Aku tidak segan - segan membunuhmu dan merebut Fifiyan darimu, apalagi kamu tahukan banyak yang menginginkan Fifiyan. Ingat itu baik - baik!!!" gumam Hansol dingin dan berjalan memasuki lemari pakaian bersama dengan Dennis. Aku baru pertama kali melihat Hansol dan Dennis sebegitu marahnya kepada Hasasi bahkan sampai Hasasi diancam seperti itu jadi saat ini aku harus memikirkan cara untuk menenangkan Hasasi dan memberitahukannya dengan perlahan.
__ADS_1