Tuan Muda Tampan

Tuan Muda Tampan
Part II, Episode 29 : Berbincang Dengan Hasasi


__ADS_3

Aku memainkan kancing pakaian Hasasi sedangkan Hasasi menatapku bingung, sesekali kami bertatap-tatapan dan sesekali aku membuang mukaku. Hari semakin larut dan matahari mulai terbit dari ufuk timur sedangkan kami berdua sama sekali tidak tidur hanya terdiam saling bertatapan saja.


"Hasasi ini... astaga kalian tidak tidur?" gerutu Steven yang menatap kami berdua.


"Ada apa?" tanya Hasasi dingin.


"Kau tidak tidur?"


"Tidak, aku khawatir dengan istriku. Dia baru sadar..."


"Oh mmm begitu ya..."


"Ada apa mencariku?" tanya Hasasi dingin, Steven memberikan secarik kertas dan Hasasi langsung membacanya.


"Itu masih dugaan awal."


"Tidak masalah, asalkan kita punya petunjuk saat ini."


"Aku tahu, oh ya mau makan apa adikku?" tanya Steven pelan.


"Aku mau kentang goreng...."


"Kau harus makan nasi."


"Gak mau, aku maunya kentang goreng kakak!"


"Haish baik kakak buatkan sekalian ayam goreng untuk kalian berdua..." gumam Steven berjalan pergi, aku kembali memainkan kancing pakaian Hasasi.


"Ada apa sayang?" tanya Hasasi pelan.


"Tidak ada kok..."


"Kenapa kamu seperti memikirkan sesuatu?"


"Aku... aku memikirkan kenapa Lisa memilih bunuh diri dan memberikan organ dalamnya padaku? Padahal aku tidak membutuhkannya.."


"Apa maksudmu tidak membutuhkannya!" protes Hasasi menatapku dingin.


"Aku tidak mau menggunakan organ dalam milik seseorang yang berharga bagiku dan..."


"Kamu kira aku mau menggunakan dua ginjal dan hatimu Fifiyan? Tidak! Aku lebih memilih mati dari pada melihat istriku mati!" protes Hasasi memotong pembicaraanku.


"Tapi aku tidak ingin kamu mati Hasasi! Aku ingin kamu hidup! Kamu sudah mengorbankan segalanya demi aku, jika aku tidak bisa melakukan apapun demi kamu maka aku akan menyesal seumur hidupku!" Teriakku kencang dan Hasasi menekan kedua pipiku sambil menatapku serius.


"Sayang dengar, selama aku denganmu... aku selalu menyakitimu, aku selalu menduakanmu, dan dengan kelakuanku aku selalu membuatmu ragu bahkan... aku yang membunuh keluarga besarmu, untuk apa kamu mengorbankan nyawamu hanya untukku!" ucap Hasasi dingin.


"Aku... mencintaimu, aku sangat mencintaimu dan itu yang terjadi. Aku tidak mau melihat masa lalu, aku hanya melihat masa depan! Aku melakukan semua itu karena aku... mencintaimu!" ucapku pelan, air mataku menetes pelan dan Hasasi langsung memelukku erat.


"Aku juga mencintaimu istriku, kamu benar-benar mengubah hidupku. Jika saat itu aku tidak menemukanmu pasti hidupku akan hampa sampai saat ini, bersamamu hidupku benar-benar memiliki arti yang sangat dalam Fifiyan dan aku sangat bersyukur akan hal itu..." gumam Hasasi pelan.

__ADS_1


"B-benarkah?"


"Ya, Lisa melakukan itu karena dia tahu kalau aku sangat mencintaimu. Aku benar-benar gila tanpamu dan saat melihatmu hanya 20 persen bisa hidup membuatku benar-benar gila, aku takut kehilanganmu... aku sangat takut kehilanganmu!" rengek Hasasi pelan.


"Aku berulang kali mencoba bunuh diri demi menyusulmu tapi... tapi mereka mereka melarangku melakukannya, mereka selalu memergokiku melakukannya, padahal aku hanya ingin mati denganmu dan aku sangat ingin bersamamu!!" rengek Hasasi memelukku sangat erat.


"Kamu tidak seharusnya melakukan itu Hasasi!"


"Kita sudah bersumpah dan berjanji akan mati bersama jadi kalau kamu mati maka aku juga akan mati!"


"Oh mmm, aku kira kamu akan melupakanku dan..."


"Kamu istriku dan pastinya aku tidak akan melupakanmu! Aku tidak ingin kehilanganmu, aku sama sekali tidak ingin kehilanganmu!"


"Haish sayang... aku juga tidak ingin kehilanganmu..." gumamku memeluk Hasasi erat dan Hasasi terdiam sambil terus sesenggukan pelan.


"Ayah, Han dengar kalau... Ibu! Ibu sudah sadar!" teriak Han berlari memelukku erat.


"Ohh mmm ya sayang... dimana Sasa?" tanyaku pelan tapi tiba-tiba Sasa berlari kearahku dan memelukku erat.


"Ibu! Sasa khawatir kalau ibu tidak bangun! Sasa takut kehilangan ibu!!" rengek Sasa kencang dan Han tanpa mengatakan apapun juga hanya menangis kencang.


"Hmm ibu tidak apa-apa kok anakku jangan khawatir."


"Kami khawatir ibu! Ibu terbaring disini dan banyak barang-barang yang menakutkan ditubuh ibu apalagi ayah... ayah sering kali memegang senjatanya di samping ibu, Sasa yang sering memergoki ayah ibu! Ayah terus menyakiti dirinya ibu, Han takut kehilangan ayah dan ibu!!" Rengek Han kencang, aku memeluk tubuh kedua anakku erat dan sesekali mencium pipi mereka.


"Maafkan ayah dan ibu ya anakku, kami tidak akan meninggalkan kalian."


"Tentu saja, ibu pernah merasakan hidup sendiri dan kehilangan orang tua ibu sejak kecil jadi ibu tidak akan meninggalkan kalian."


"Apa mereka kakek nenek kami ibu?" tanya Sasa pelan.


"Ya, kakek dan nenek sangat senang mendengar mereka memiliki cucu yang sangat hebat seperti kalian."


"Apa ibu menceritakannya kepada kakek dan nenek?"


"Tentu saja, jadi Han dan Sasa harus kuat dan buktikan kalau Han dan Sasa anak yang sangat hebat!"


"Baik ibu!!" Teriak Ham dam Sasa dengan semangat.


"Han... Sasa... waktunya berlatih!" ucap Steven yang sedang masuk ke dalam kamar.


"Baik paman, ibu kami berlatih dulu ya..." gumam Han pelan dan pergi keluar kamar bersama Sasa.


"Ini makanan untuk kalian, aku akan melatih mereka berdua jadi jangan lupa dimakan!" ucap Steven berjalan pergi dan aku hanya menganggukkan kepalaku.


Di sebelahku aku melihat Hasasi yang sedang menundukkan kepalanya dan menangis sesenggukan, aku menarik tangannya dan Hasasi terbaring di sebelahku. Aku mengusap lembut kedua pipinya dan mencium pipinya lembut.


"Apa yang kamu tangisi sayang?"

__ADS_1


"Tidak ada, hanya senang melihatmu masih hidup sayang.."


"Benarkah, aku juga... uuhhuukkk... uuuhhuukkk..."


" Eehhh sayang, minum obatmu dulu!" ucap Hasasi khawatir.


"Aku tidak apa, sunggu..."


"Tidak, kamu sedang sakit. Kamu harus minum obat."


"Aku tidak suka obat dan kamu tahu sendiri aku tidak suka obat!"


"Hmmm..." desah Hasasi memasukkan beberapa obat ke dalam mulutnya dan langsung menciumku sambil memasukkan obat ke dalam mulutku.


"Uhhuuukk... Uuhhuukkk... astaga pahit tahu! Kau ingin membunuh istrimu apa!" protesku kesal.


"Tidak, ini demi kesehatanmu..." gumam Hasasi memberikanku segelas air putih dan aku segera meminumnya.


"Haaahh..." desahku menghabiskan air putih itu dan menjatuhkannya di atas selimutku.


"Mau tambah lagi Fifiyan?"


"Tidak terimakasih."


"Hmmm, oh ya akan ada pesta mafia beberapa bulan lagi jadi kita akan datang kesana."


"Pesta mafia? Pesta apa itu?"


"Ya pesta tahunan."


"Kenapa aku tidak pernah tahu?"


"Aku tidak pernah mengajakmu jadi kamu tidak tahu sayang."


"Kenapa kamu mengajakku?"


"Kamu istriku jadi aku harus mengajakmu."


"Oh mmm baiklah."


"Oh ya sayang hari ini kamu bersama dengan Dennis dulu ya, aku ada pertemuan bersama Steven dengan beberapa mafia."


"Kenapa Dennis tidak ikut denganmu?"


"Kamu baru sadar, aku takut kamu kenapa-napa jadi kamu harus di temani. Oh ya besok siang aku akan mengajakmu pergi sayang."


"Pergi kemana?"


"Besok kamu akan tahu sendiri, ya udah aku pergi dulu ya. Dennis sudah berada di lift sebentar lagi sampai..." gumam Hasasi turun dari tempat tidurku dan terduduk di kursi roda sebelahnya.

__ADS_1


"Oh baiklah hati-hati Hasasi..." gumamku pelan dan Hasasi memutar roda pada kursi rodanya keluar dari kamar perawatan ini.


"Hmmm..." desahku pelan, aku menatap kedua tanganku dan teringat genggaman tangan ayah dan ibu saat aku tidak sadar. Tidak aku sangka waktu sebentarku bertemu ayah dan ibu itu terhitung berbulan-bulan aku tidak sadar bahkan Hasasi masih saja tidak peduli dengan kondisinya sendiri disaat aku terluka dan bahkan Hasasi sangat khawatir kepadaku seperti itu.


__ADS_2