
Aku dan Hasasi masih bertahan di taman milik Naian, aku memandangi bunga – bunga di sekitarku dan juga bermain – main dengan bunga – bunga tersebut sesekali aku melihat Hasasi yang terus memandangiku
“Ada apa Hasasi?”
“Tidak ada”
“Hasasi”
“Iya sayang”
“Kalau aku tidak ada di sampingmu apakah kamu merindukanku Hasasi?” ucapku berdiri membelakangi Hasasi
“Aku ...” ucap Hasasi berdiri dari kursi taman dan berjalan mengarahku
“Aku sangat mencintaimu, aku akan merindukanmu dan akan terus mencarimu bila kamu tidak ada di sampingku ... Fifiyan” ucap lembut Hasasi dan memelukku dari belakang dengan erat
Tapi kenapa dulu kamu tidak mencariku Hasasi?” tanyaku memandangnya
“Siapa bilang aku tidak mencarimu, semua pengawalku mencarimu di seluruh dunia tanpa terkecuali”
“Seriusan sayang?” tanyaku kaget
“Iya seriusan lah ... kamu yang ada di hatiku saat ini” ucap Hasasi meyakinkanku
“Mmm aku senang sekali mendengarnya Hasasi” ucapku senang
"Kenapa kamu bertanya seperti itu?"
"Tidak ada ... aku cuma bertanya saja"
“Fifiyan ... aku benar – benar mencintaimu sayang”
“Aku juga mencintaimu sayangku” ucapku di pelukan Hasasi
Aku merasa nyaman dengan pelukan hangat Hasasi, walaupun aku sudah sering dipeluk Hasasi tapi menurutku pelukan kali ini yang paling hangat dan nyaman
“Eheeemm ...” sindir Naian di belakang kami dan aku langsung melepaskan diri dari pelukan Hasasi
“Bagus ya ... bermesraan di depan orang jomblo” sindir Naian
“Kamu sirik aja Naian” ucap Hasasi sinis
“Iya lah ... gua jomblo Hasasi, ngertiin gua napa” protes Naian
“Iya gua ngertiin lu ... udah ah jangan kayak anak kecil ... ayo berangkat” gumam Hasasi berjalan menuju mobilnya
“Pakek mobilmu?” tanya Naian kaget
“Iya lah ... biar tidak ketahuan Mutiara”
“Masih mending mobilku lah ... iya kan Fifiyan” sindir Naian tapi aku hanya diam saja
“Aaahh ... bawel” protes Hasasi
Hasai, aku, Naian dan juga Hassan masuk kedalam mobil Hasasi, seperti biasanya aku duduk di sebelah Hasasi sedangkan Hassan dan Naian duduk di depan kami
“Fifiyan menurutmu aku tampan gak?” tanya Naian memecah keheningan
“Hei kenapa kamu tanya seperti itu?” protes Hasasi
“Ya lah ... aku harus bertanya kepada wanita karena aku akan menemui wanita ...masa aku bertanya kepadamu ... kalau aku bertanya kepadamu ujung – ujungnya kamu mengejek aku” gumam Naian kesal
“Bagaimana Fifiyan ?” tanya Naian sekali lagi
“Kamu tampan banget ... Mutiara pasti suka” ucapku menyenangkan hati Naian
“Dengar itu Hasasi ... si cantik bilang sendiri kalau aku tampan” sindir Naian
“Eeeh ... tapi masih tampanan Hasasi sih” gumamku memandang Hasasi dan Hasasi langsung ketawa saat mendengar jawabanku
“Hey kalian berdua kayak anak kecil saja” protes Hassan di sebelah Naian
Dan keadaan menjadi canggung lagi, Keadaan canggung seperti ini sangat tidak menyenangkan dan membuatku bosan dan mengantuk. Dan ya akhirnya aku tidur di paha Hasasi. Tapi walaupun aku tertidur aku masih mendengar jelas apa yang sedang dibicarakan oleh Hasasi dan Naian
“Kamu kok bisa menyukai gadis seperti dia sih? Padahal kamu anti wanita”
“Siapa yang kamu maksud?” tanya Hasasi
“Ya siapa lagi”
“Maksudmu Fifiyan?”
“Yups”
“Ya ... dia beda dengan wanita lain” ucap Hasasi sambil membelai rambutku
“Beda bagaimana maksudmu?”
“Ya dia gadis yang semangat untuk hidup walaupun dia disakiti seperti apapun dia tidak menyerah dan putus asa, bahkan ... dulu saat aku menemukannya pertama kali dia gadis yang tidak menarik untukku ...”
“Tapi ... saat dia menuruti perintahku, berusaha keras akhirnya dia bisa menguruskan badannya dan menjadi wanita yang cantik dan juga ... walaupun dia menjadi cantik dia tidak berubah sama sekali, dia tetap menjadi gadis lugu dan polos seperti pertama kali kenal” ucap Hasasi yang terus mengelus rambutku
“Sejak kapan kamu suka gadis polos, gadis polos kan kesukaanku?”
__ADS_1
“Sejak kenal dia”
“Pasti bukan karena itu doang kan?” tanya Naian sekali lagi
“Ya ... karena dia beda, dan dia sesuai dengan type wanita idamanku” ucap Hasasi serius
“Apa kamu serius dengan dia?”
“Iya aku serius banget, dia istriku mana mungkin aku tidak serius”
“Baiklah Hasasi kau menang”
“Hahaha ... menang apa?”
“Menang mendapatkan gadis yang memang aku juga menyukainya” ucap Naian lirih
“Tenang saja kak, kan ada Mutiara” ucap Hassan menghibur
“Tapi dia begitu berbeda dengan Fifiyan”
“Udah liat dulu Mutiara orang nya seperti apa sebelum kamu menyatakan cintamu” ucap Hasan menenangkan Naian
“Baiklah”
Sejujurnya aku sangat senang saat mendengar perkataan Hasasi, ternyata dia begitu serius denganku, ingin sekali aku bangun dan memeluknya tapi nanti ketahuan kalau aku belum tidur sepenuhnya. Tidak lama kemudian Hasasi membangunkanku
“Sayang ... bangun”
“Mmm iya Hasasi, ada apa?”
“Kita sudah sampai”
“Sudah sampai? ... aduh apa make upku jadi jelek?” tanyaku panik
“Tenang sayang, kamu masih cantik kok” ucap lembut Hasasi sambil memperbaiki rambutku
“Makasih sayang”
“Ya sudah ayo kita turun” ucapHasasi menggandeng tanganku dan turun dari mobil sedangkan Naian dan Hassan tidak turun
“Kenapa mereka tidak turun Hasasi?”
“Turun kok ... tuh mereka turun” ucap Hasasi menunjuk Naian dan Hassan
Saat aku dan Hasasi turun banyak mata yang tertuju kepada kami, tapi saat Naian dan Hassan turun banyak mata wanita yang melihat mereka berdua. Memang sih pria tampan siapa yang tidak mau
“Selamat datang Hasasi dan Fifiyan, silahkan masuk” ucap Mutiara ramah, dia sangat cantik dengan memakai gaun pesta berwarna merah muda yang sangat indah
“Terimakasih” ucapku senang
“Ada kok tenang saja”
“Dimana Naian? Kok aku tidak melihatnya” gumam Mutiara
“Tuh ...” ucap Hasasi dingin dan menunjuk segerombolan wanita di belakang kami
Tanpa disuruh Mutiara mendekati segerombolan wanita tersebut dan melihat Naian dan Hassan di tengah segerombolan wanita tersebut, saat Mutiara sudah berada di tengah – tengah segerombolan tersebut tanpa aba – aba para wanita yang mengerubungi Naian dan Hassan pergi meninggalkan lokasi tersebut
“Naian.. kamu datang juga ya?” ucap Mutiara seperti menganggap tidak tahu apa – apa
“Iya ... Hasasi yang menyuruhku untuk ikut”
“Oh baguslah... silahkan masuk” ucap Mutiara senang dan kami mengikuti Mutiara masuk menuju tempat acara tersebut berlangsung
“Emang ini acara apa Mutiara?” tanya Hasasi penasaran
“Acara biasa aja ... acara ulang tahunku, masa kamu lupa” ucap Mutiara kesal
“Oh ... iya – iya aku lupa” ucap Hasasi
“Dasar udah tua” gumam Mutiara
“Ya tapi kan masih tua situ” ejek Hasasi
“Hiiih kau ini” protes Mutiara
“Ehh... dia hanya bercanda Mutiara jangan di ambil hati ... padahal yang udah tua tuh Hasasi” ucapku menenangkan Mutiara
“Nah betul tuh ... bener juga ucapan Fifiyan” ucap utiara tertawa lepas
“Kamu ini dukung siapa sih?” protes Hasasi
“Husst ... jangan buat rencana kita mak comblangin gagal” bisikku dan Hasasi pun sadar
“Ayoo masuklah” ucap Mutiara mempersilahkan kami masuk
“Wah ramai sekali Mutiara” gumamku
“Ya ... namanya juga pesta ulang tahun”
“Hmmm ...” desahku
“Kenapa sayang?” ucap Hasasi saat tau wajahku berbeda
__ADS_1
“Tidak ada sayang”
“Katakan sayang!”
“Gak apa – apa sayang?”
“Jujur aja sayang”
“”Hmm kapan aku kayak gini pas aku ulang tahun?”
“Mmm nanti ya sayang kalau kamu ulang tahun lagi”
“Hmmm”
“Ya waktunya tidak tepat sayang ... kamu tenang saja” hibur Hasasi
“Hmmm tidak perlu sayang ... aku tidak apa – apa”
“Jangan marah sayang”
“Aku tidak marah kok”
“Beneran sayang?”
“Iya sayang ... kan ... pesta seperti ini tidak ada gunanya”
“Hmm ... ya udah tapi nanti kalau pesta pernikahan kita sangat mewah jangan protes ya” ucap Hasasi serius
“Kenapa harus mewah?”
“Karena pernikahan kita ... dan itu harus mewah ... jangan protes” ucap Hasasi dingin
“Iya – iya aku gak protes ... tapi BTW aku kangen wajah dinginmu Hasasi” ucapku memandang Hasasi
“Oh ya ... tapi aku tidak bisa memasang wajah dingin denganmu”
“Kenapa Hasasi?”
“Kamu itu istriku ... nanti kamu ninggalin aku lagi”
“Aku tidak akan meninggalkan kamu sayang” ucapku memeluk Hasasi
“Eheeemm ... kalian ini romantis terus sih ... gak ngertiin orang jomblo” protes Naian di belakang kami
“Iya nih Hasasi ... bikin orang iri hati aja” sindir Mutiara
“Eleh ... kalian kayak anak kecil aja” gumam Hasasi
“Dasar bucin ...” teriak Naian dan Mutiara barengan
Kriiikk .... krriikkk ... krrrriikkk
“Mmm ayo Fifiyan kita sebelah sana” ucap Hasasi menarikku
“Ehh .. kalian bucin mau kemana?” protes Mutiara dan Naian menarik
“Kenapa kamu menarikku Naian?” protes Mutiara dan tiba – tiba Naian merogoh saku celananya dan memegang kotak cicin kecil di tangannya lalu Naian pun berjongkok di bawah Mutiara
“Mutiara ... maukah kamu menikah denganku?” ucap Naian bersungguh – sungguh
“Kamu seriusan?” tanya Mutiara tidak percaya
“Ya aku serius ...”
“Mmmm” gumam Mutiara
karena aku tau mungkin Mutiara agak canggung karena kaget sehingga dia berdiri terpaku disana, jadi kenapa aku tidak menyemangati Mutiara saja
“Terima ... Terima ... Terima” teriakku menyemangati Mutiara, dan tidak menyangka tamu Mutiara juga berteriak sama dengan ucapanku
“Terima ...”
“Terima ...”
“Terima ...”
“Terima ...”
“Mmmm ... baiklah aku terima kamu Naian” ucap Mutiara malu – malu kucing
“Benarkah?” ucap Naian tidak percaya dan Mutiara menganggukkan kepala lalu Naian memasangkan cincin di jari Mutiara. Tiba – tiba tersengar suara tepuk tangan yang keras di pesta tersebut.
Pllookk ... pllookk ... ploookk
Aku dan Hasasi berjalan menuju Naian dan Mutiara yang sedang kasmaran tersebut
“Cie bucin cie” sindir Hasasi
“Kamu juga buncin” sindir Mutiara
“Iya kan bucin udah lama ... weelllkk” ejek Hasasi dan aku hanya tertawa disamping Hasasi
“Udah lah nikmati kebucinan kalian ya ... aku mau bucin sama istriku dulu” ucap Hasasi dan menarikku menjauh dari Hasasi
__ADS_1
Aku tidak tahu akan kemana Hasasi membawaku pergi, tidak akan jauh kan? Apalagi masih ada masalah yang harus di hadapi setelah acara ini