Tuan Muda Tampan

Tuan Muda Tampan
Episode 49 : Malam Indah


__ADS_3

Acara reuni ini berlangsung dengan hikmat dan juga mewah. Banyak tamu yang dimana tamu – tamu tersebut adalah teman sekolah Hasasi, bahkan acara ini aku mendapatkan teman baru. Aku dan Mutiara terus berbincang dan bercanda di tempat makan


“Mutiara beneran suka sama Naian?” tanyaku meyakinkan


“Beneran Fifiyan ... buat apa aku bohong”


“Apa yang kamu suka dari dia?”


“Mmmm ... apa ya .... banyak deh”


“Hal yang paling membuatmu suka dengannya”


“Mmm ... Naian itu ... baik ... sabar ... lembut ... dan pengertian banget”


“Tapi dia kan lebih dingin dari Hasasi”


“Yups ... emang, cuma aslinya dia lebih terbaik dari Hasasi”


“Lebih terbaik dari Hasasi?” tanyaku penasaran


“Hasasi orang yang susah sekali diluluhkan hatinya, dia keras kepala, dingin, dan anti sama wanita ...”


“Oh begitu kah?”


“Ya ... makanya aku penasaran bagaimana kamu bisa meluluhkan hatinya yang dingin itu”


“Aku sendiri tidak tahu Mutiara ... dari awal aku bertemu dia emang dia dinginnya seperti es tapi ... ya aku juga gak tau bagaimana Hasasi bisa luluh dengan kehadiranku” gumamku sambil memakan salad buah


“Masa kamu tidak tahu kenapa dia bisa suka sama kamu?”


“Mmmm aku tidak tahu “


“Oh ya kamu udah bertemu dengan adiknya juga ya?”


“Sudah ... malah selama aku serumah dengan Hasasi... aku berteman baik dengan adiknya”


“Oh pantes lah Hasasi bisa luluh denganmu” desah Mutiara


“Kenapa?”


“Ya ... adiknya jadi pendiam dan dingin setelah kakinya diamputasi, aku yang teman kecil Hasasi susah untuk meluluhkan hati Lisa apalagi berteman dengannya”


“Ya tidak terlalu sulit sih berteman dengan Lisa”


“Ya berarti keberuntungan berada dipihakmu Fifiyan” ucap Mutiara tersenyum


“Ya semoga saja Mutiara” gumamku pelan


“Fifiyan mau nambah lagi?”


“Enggak Mutiara”


“Okelah bentar aku ambil makanan dulu ya”


“Iya” ucapku dan Mutiara beranjak pergi mengambil makanan


Selagi Mutiara mengambil makanan, aku memandangi Hasasi yang sedang mengobrol dengan teman – teman laki – laki di sisi lain ada seorang laki – laki tampan memakai kaca mata hitam yang berjalan menuju ke mejaku


“Permisi”


“Iya”


“Kamu Fifiyan kan?”


“I ... iya, kamu siapa?”


“Aku ...” ucap pemuda tersebut sambil melepaskan kaca mata hitamnya


“Kwan Liang” teriakku kaget dan aku berusaha pergi menjauh darinya


“Kamu kenapa selalu menghindariku Fifiyan?” ucap Kwan Liang memegang tanganku


“Apa yang kamu inginkan?” protesku berusaha melepas genggamannya


“Aku hanya ingin menikah denganmu Fifiyan ... hanya itu”

__ADS_1


“Untuk apa kamu mau menikah denganku?”


“Karena hatiku memilihmu Fifiyan”


“Tapi hatiku tidak memilihmu” ucapku dan terus berusaha melepaskan tanganku


“Kenapa Fifiyan? ... berikan aku alasanmu”


“Tidak ada alasannya”


“Berikan aku alasanmu” bentak Kwan Liang, dan tiba – tiba ada tangan putih dan halus yang melepaskan genggaman tangan Kwan Liang ddari tangaku


“Alasannya adalah dia milikku” ucap Hasasi dingin


“Kamu kenapa selalu ikut campur masalahku Hasasi?” protes Kwan Liang


“Karena dia istriku jadi tidak ada seorang pun yang berhak memilikinya” ucap Hasasi dingin dan memelukku


“Kenapa Hasasi, dia milikku sebelumnya ... kamu sudah punya Bunga Mo ... apakah itu masih kurang?” protes Kwan Liang


“Milikku hanya Fifiyan seorang, dan tidak ada yang lain selain dia” ucap Hasasi dan membelai rambutku


“Kamu kenapa dari dulu selalu saja merebut milikku” gumam Kwan Liang


“Bukan aku yang merebut, tapi kamu yang sukanya merebut milikku”


“Emang ... itu dulu ... tapi Fifiyan beda, kamu yang merebutnya”


“Tidak ... aku tidak merebutnya, takdirlah yang mempertemukan kami” ucap Hasasi membela diri sendiri


“Aduuuhhh ... kalian ini sudah tua tetap saja merebutkan wanita, emang tidak ada wanita lain apa ... buat kepalaku pusing” protes Mutiara sambil membanting piringnya


“Kamu lagi”gumam Kwan Liang


“Kenapa denganku?, kamu tidak terima kehadiranku” protes Mutiara


“Tidak ... malas menghadapi nenek lampir” gumam Kwan Liang pergi menjauh


“Apa kamu bilang?” teriak Mutiara


“Ya dia selalu seperti itu” protes Mutiara


“Dia kan emang selalu seperti itu”


“Huuuhh ... dasar menyebalkan” protes Mutiara sambil duduk di kursi


“Entar kamu suka lagi sama dia” ejek Hasasi


“Ihh ... ogah mending sama Na ...”


“Hayo Na siapa?” sindir Hasasi


“Kamu tidak perlu tahu” gumam Mutiara


“Maksudnya Naian” bisikku di telinga Hasasi


“Oh baguslah ... aku dukung kalau itu” sindir Hasasi dan mutiara langsung memancarkan muka merahnya


“Ihh ... Fifiyan kenapa kamu kasih tau Hasasi” gumam Mutiara


“Udah jangan salahkan Fifiyan .. aku bantu kamu mendapatkan Naian”


“Ahh ... gak perlu bantuanmu”


“Seriusan? ... aku jamin dia akan mau denganmu, sebenarnya dia suka denganmu juga” ucap Hasasi santai dan duduk di sebelahku


“Apa? ... seriusan? ... uhuukk ... uuhhuuuk” ucap Mutiara kaget sampai tersedak


“Mutiara kamu tidak apa – apa?” tanyaku khawatir


“Aku tidak apa – apa Fifiyan” ucap Mutiara menaruh gelas di meja


“Bagaimana Mutiara?” tawar Hasasi


“Seriusan kamu tidak bohong?”

__ADS_1


“Kita berteman dari kecil, masa aku berbohong denganmu” ucap Hasasi menyakinkan Mutiara


“Baiklah ... aku percaya perkataanmu ... besok ada acara di rumahku, kalau emang benar perkataanmu ajak Naian ke pesta tersebut dan suruh Naian mengucapkan yang sebenarnya ... bagaimana ... Hasasi” ucap Mutiara serius


“Baik ... aku akan ajak Naian nanti” ucap Hasasi serius


“Oke aku tunggu kabar baikmu” ucap Mutiara menghabiskan makanan penutupnya


“Okey ... gampang kalau masalah itu, aku mau mengajak Fifiyan istirahat ...” ucap Hasasi menggandeng tanganku


“Jangan lupa mengajak Fifiyan ya” ucap Mutiara yang juga bergegas keluar dari ruangan tersebut


Aku dan Hasasi berjalan menuju kamar, aku tidak yakin dengan perkataan Hasasi ... apa dia hanya menyoba menenangkan Mutiara yang sedang panas dari tadi gara – gara perilaku Kwan Liang


“Hasasi ...”


“Iya sayang “ ucap lembut Hasasi membuka kamar


“Emang beneran ya Naian suka sama Mutiara?”


“Iya beneran lah ... masa aku bohong”


“Kamu tahu dari mana?”


“Karena ... Naian pernah berbicara denganku”


“Dulu seberapa dekat kamu dengan dia?”


“Ya ... seperti keluarga ...”


“Oalah ... baguslah kalau itu benar – benar terjadi” desahku lega


“Emang kenapa?”


“Tidak ada ... tadi Mutiara bilang dia juga sama Naian ... pas aku tanya kenapa dia tidak suka denganmu ... dia bilang kamu menyebalkan” gumamku bercanda


“Hahaha ... emang aku orang yang menyebalkan dan anti terhadap perempuan” ucap Hasasi di ruang ganti


“Kenapa kamu anti terhadap perempuan Hasasi?”


“Ya karena ... aku trauma dengan wanita” ucap Hasasi sambil keluar dari kamar ganti


“Lalu kenapa kamu bisa suka denganku Hasasi?” tanyaku penasaran


“Karena ... kamu begitu istimewa dan kamu adalah istriku” ucap Hasasi lalu mencium keningku


“Ihh kamu selalu bicara seperti itu saat aku tanya” gumamku kesal


“Suatu hari nanti kamu akan tau semuanya ... udah kamu cepat ganti baju dan tidur” ucap Hasasi dan aku bergegas menuju ruang ganti lalu berganti bajuku


“Hasasi” ucapku saat keluar kamar


“Ia sayang”


“Kamu udah tidur?” tanyaku saat melihat punggung Hasasi


“Belum ... aku masih menunggumu” ucap Hasasi berbalik kearahku


“Mmm ... Hasasi kenapa bajumu terbuka?” tanyaku kagetsaat melihat baju Hasasi terbuka dan terlihat roti sobeknya


“Tidak ada... disini gerah ... jadi aku buka”


“O .. oke baiklah ... aku tidur di sana saja” ucapku berjalan menuju sofa


“Udah tidur disebelahku saja” ucap hasasi menarikku ke tempat tidur


“Ta ... tapi kamu tutup dulu bajumu” ucapku malu


“Udah tenang saja ... aku tidak melakukan hal buruk kepadamu ... aku hanya ingin ti ...” ucap Hasasi memejamkan matanya


“Eee ... Hasasi” gumamku tapi dia tidak bersuara ternyata Hasasi sudah tertidur


“Hmmm ...” desahku dan mulai tertidur di pelukan Hasasi


Pemandangan yang membuatku malu setengah mati apalagi aku pertama kali tidur bersama Hasasi saat Hasasi membuka baju atasnya dan melihat langsung roti sobek Hasasi yang biasanya hanya terlihat dari baju yang Hasasi pakai. Malam ini kamu begitu mempesona ... Hasasi

__ADS_1


__ADS_2