
Aku terus melawan Cindy dengan sekuat tenagaku walaupun aku tidak bisa dan tidak mengerti tentang bertarung tapi demi sebuah harga diri aku harus mempertaruhkan nyawaku. Aku dan Cindy terus menyerang bahkan tanpa celah sama sekali.
"Heei Hasasi, istrimu bertarung tuh kalau tidak kau bantu dia akan terluka!!" teriak Hansol keras sampai terdengar di telingaku tapi aku sama sekali tidak mendengar Hasasi berbicara.
"Heeh pria yang kau panggil suamimu itu dia tidak menyelamatkan istrinya dan hanya berdiri disana seperti orang bodoh tapi kau malah bertarung demi dia? Heeh sangat bodoh!!" sindir Cindy dingin.
"Hasasi tidak sebodoh yang kau kira!!"protesku membela.
"Oh benarkah? Lalu kenapa kau menikah dengan dia padahal mafianya yang membunuh keluarga besarmu!!"
"Kenapa? Itu tidak penting buatmu."
"Heleh bilang saja kau ingin menguasai harta milik Hasasi kan?"
"Menguasai ya? Aku sama sekali tidak memiliki keinginan menguasai apapun dari Hasasi, aku menerima Hasasi dan memaafkannya karena aku benar - benar cinta kepadanya."
"Oh benarkah? Tapi dia tidak mencintaimu Fifiyan, dia mencintaiku kau hanya sebagai pelampiasannya saja apa kau tahu!!!" protes Cindy mengayunkan pedangnya dan melukai lengan kiriku.
"Uuukkhhh..." rintihku terjatuh ke tanah, darahku mengalir deras di lenganku.
"Kalau dia mencintaimu tidak mungkin dia hanya berdiri menyaksikan kau terluka seperti itu? Apa kamu bodoh!!!" teriak Cindy keras, aku menatap Hasasi yang hanya terdiam menatap kami berdua.
"Kamu datang kemari tanpa skills mafia sama sekali sama saja kau hanya bunuh diri seperti wanita itu, apa kau paham!" gumam Cindy menunjukkan Wulan yang telah bersimbah darah di tanah. "Apa aku akan berakhir sama seperti Wulan?" desahku dalam hati, aku hanya menundukkan wajahku.
"Oh ya buat apa aku menasehatimu lebih baik aku bunuh kau saja!!!" gumam Cindy mengangkat pedangnya dengan tinggi, aku hanya menundukkan kepalaku dan hanya bisa pasrah kalau aku bakal mati disini.
Doooooorrr
Terdengar suara tembakan yang sangat keras di sekitarku, tembakan yang berulang - ulang membuat jantungku berdegup kencang mendengarnya. Aku sangat ketakutan, aku takut kalau aku berakhir ditempat ini. Tiba - tiba ada seseorang yang menggendongku erat, aku mengangkat kepalaku dan melihat wajah Hasasi yang sangat marah dan terlihat sangat menakutkan bagiku.
"Maaf aku terlambat sayang..." desah Hasasi menatapku dengan tatapan penyesalannya.
"Ha... Hasasi beraninya kau menembakku!!" protes Cindy yang terjatuh di tanah.
"Emang kau kira aku hanya terdiam melihat istriku kau bunuh di depan mataku?" gumam Hasasi dingin.
"Uuukkkhhh..." rintih seorang pria di belakang Cindy.
"Ke... Ketua..." gumam Cindy terkejut.
"Ternyata kau bisa diandalkan Hasasi hahaha..." tawa Hansol keras.
"Kau kira aku tidak berguna apa?" gumam Hasasi berbalik dan menggendongku menjauhi tempat itu.
"Hansol.. Dennis... Giliran kalian!!" gumam Hasasi dingin.
"Waaah aku suka ini!!" tawa Hansol dan Dennis menatap senang, aku ingin melihat apa yang dilakukan mereka semua di belakang Hasasi tapi Hasasi berusaha menutupi kedua mataku.
"Kamu tidak perlu melihatnya..." gumam Hasasi pelan.
"Kenapa?"
"Tidak baik untukmu..." gumam Hasasi pelan.
"Tuan Hasasi..." gumam Danu membawakan kotak obat.
"Terimakasih, kamu bisa membantu mereka" gumam Hasasi.
"Baik tuan..." gumam Danu pergi meninggalkan kami berdua. Hasasi menurunkanku dan menyandarkanku di pohon.
"Aku obati ya sayang..." gumam Hasasi membuka pakaianku yang berlumuran darah, aku hanya terdiam tanpa kata.
Hasasi menyuntikkan obat bius padaku dan menjahit lenganku dengan hati - hati, aku hanya terdiam menahan rasa sakit di lenganku.
"Tahan sebentar sayang..." gumam Hasasi terus menjahit lenganku.
"Huft selesai..." gumam Hasasi mengusap keringat di dahinya. Aku melihat lenganku terjahit dengan sempurna bahkan hampir mirip dengan jahitan dokter sungguhan. Aku terus terdiam selama berada dengan Hasasi, perkataan Cindy dan ketakutan akan kejadian tadi masih teringat jelas di kepalaku.
"Sayang..." gumam Hasasi menatapku tapi aku hanya terdiam.
"Apa kamu masih marah kepadaku?" gumam Hasasi mengangkat daguku, aku menatap wajah dan tubuh Hasasi yang ternyata penuh dengan bekas darah. Aku meneteskan air mataku dan menangis dengan kencang.
"Eehh kenapa kamu menangis sayang?" gumam Hasasi memelukku erat.
"Ke.. Kenapa kamu berlumuran darah seperti itu? Apa kamu terluka?"
__ADS_1
"Tidak, aku baik - baik saja."
"Ta... Tapi... Tapi.." gumamku sesenggukan.
"Tenang sayang, aku baik - baik saja."
"Apa yang kamu lakukan tadi sampai kamu seperti ini?"
"Kamu tidak melihatnya?" aku menggelengkan kepalaku dan terus menatap Hasasi.
"Oh baguslah kalau kamu tidak melihatnya" gumam Hasasi memelukku erat.
"Beritahu aku Hasasi..."
"Tidak perlu sayang, kamu tidak perlu tahu." gumam Hasasi mengusap lembut punggungku.
"Haaah aku suka tangkapan kali ini..!!" teriak Hansol senang sambil membawa beberapa senjata milik musuh.
"Apa kalian udah selesai bersenang - senang?" gumam Hasasi kembali menggendongku.
"Ya tentunya, bahkan aku memiliki senjata yang bagus.." gumam Hansol senang.
"Oh ya Fifiyan kamu baik - baik saja?" tanya Dennis menatapku dan aku mengangguk pelan.
"Tuh contoh Hasasi, dia membawa istri tapi dia lindungi.. La kamu malah kau jadikan umpan istrimu!!" sindir Octa dingin.
"Umpan?" gumamku pelan.
"Biarin lah, kalau tidak begitu ketuanya tidak bakal keluar tahu!" tawa Dennis kencang.
"Hmmm..." desah Hasasi pelan.
"Hasasi..." gumamku menatap Hasasi.
"Ada apa sayang?"
"Maksudnya umpan apa?"
"Ya ketua mereka itu mantan suami Wulan, jadi pernikahan dia dengan Wulan hanya permainan dari Dennis agar dia menang "
"Tapi kan itu kejam Hasasi."
"Sampai kapanpun dia akan berganti istri Hasasi."
"Memang, tapi sebenarnya Dennis masih memiliki istri."
"Istri? Istri yang mana?"
"Istri pertama."
"Istri pertama bukannya udah mati kata kamu?"
"Yang aku sebutin kemarin itu istri permainannya kalau istri aslinya masih istrinya yang dulu " gumam Hasasi pelan
"Yang kita pernah datang saat mereka menikah itu?"
"Yups benar."
"Katanya dia sudah mati karena sakit?"
"Itu hanya omong kosong Dennis di depan Wulan. Aslinya dia baik - baik saja di rumah ayah ibu." gumam Hasasi pelan.
"Di rumah ayah ibu?" tanyaku terkejut
"Yups, pasti dia sedang membantu Lisa mengurus Han dan Sasa di rumah "
"Oh begitu ya.." desahku pelan.
"Aku sudah menghubungi ketua kalau kita sudah berhasil!!" teriak Octa dari belakang
"Oh lalu apa jawabannya?" gumam Hasasi dingin.
"Katanya ya kita diperbolehkan istirahat dan tidak ikut perang itu, tapi kalau kita di butuhkan kita harus membantu."
"Emang kalian mau membantu?" gumam Hasasi dingin.
__ADS_1
"Heeh males ah, musuhnya tidak sekuat musuh kita jadi bikin malas saja." gumam Hansol merenggangkan tubuhnya.
"Ya aku juga ingin berlibur dengan istriku jadi aku malas ikut mana itu jauh lagi." gumam Dennis pelan.
"Mmm benar juga, tapi aku harus jawab bagaimana?"
"Jawab saja dan bilang kalau ketua pusat organisasi mereka sudah terbunuh jadi kita tidak ada urusan lagi. " gumam Hasasi dingin
"Tapi kalau kita menolak si tua bangka itu akan terus memaksa!" protes Farkhan dingin.
"Ya kalau memaksapun dia akan meminta kita membantu yang tersulitnya apalagi aku sudah bilang kepada dia kalau kita juga ingin istirahat dan bersenang - senang. " gumam Hasasi pelan.
"Oh oke baiklah, aku juga capek. Selama organisasi kita masih organisasi tertinggi tidak masalah lah kita beristirahat biarkan anak buah kita yang bekerja... " desah Octa pelan.
"Ya benar aku setuju dengan perkataanmu kali ini." gumam Hansol pelan.
"Hilih kau yang tidak pernah sejalan dengan pemikiranku Hansol!" gerutu Octa kesal.
"Sudah lah kalian berdua, mari kita pulang dan obati pasukan kita" gumam Hasasi terus melangkahkan kakinya masuk ke dalam sebuah mobil.
"Mobil? Kenapa bisa ada mobil Hasasi?"
"Ini mobil ketua organiasasi pusat." gumam Hasasi masuk ke dalam mobil itu dan diikuti yang lain juga.
"Hasasi bagaimana dengan peserta survival lainnya?"
"Mereka masih survival, hanya kita dan beberapa organisasi tertinggi yang melakukan tugas khusus itu." gumam Hasasi merangkulku erat.
"Oh ya Hasasi, semuanya sudah kami bereskan tadi.." gumam Farkhan menatap Hasasi.
"Wanita gila itu juga?"
"Ya semuanya dan sebelum dia mati, dia memberikanmu ini." gumam Farkhan menyerahkan sebuah kalung kristal biruku yang hilang dulu, bentuknya sama seperti kalung kristalku yang Hasasi belikan untukku cuma hanya berbeda di warna saja
"Dan Ini juga..." gumam Farkhan memberikan secarik kertas kepada Hasasi, Hasasi membuka kertas itu dan membacanya dengan serius
"Oh..."desah Hasasi pelan, aku mencoba membacanya tapi tangan Hasasi menghalangi mataku dan belum saja aku membaca isi nya, Hasasi langsung membakarnya dan membuangnya ke luar jendela
"Eeh Hasasi aku belum membacanya!!"
"Kamu tidak perlu tahu..." gumam Hasasi menunjukkan kalung kristal itu
"Kamu saja yang memakainya"
"Aku? Tapi kan."
"Anggap saja ini pengganti kalungmu yang hilang dulu" gumam Hasasi memakaikan kalung itu di leherku.
"Apa ini kalung berharga Hasasi?"
"Ya, kalung milik ibukku."
"Kalung ibumu?"
"Lalu kenapa Cindy memakainya?"
"Ya dulu kalung itu ibu suruh memberikannya kepada istriku kelak jadi saat aku pacaran dengan Cindy aku berikan kalung itu kepadanya "
"Mmm maaf aku menghilangkan kalungmu Hasasi."
"Tidak apa, bukan kamu yang salah. Ya namanya juga dulu ribet persalinan Han dan tidak sadar kalungmu hilang jadi tidak masalah sayang." gumam Hasasi mengelus lembut rambutku.
"Hmmm Hasasi jadi kita ini berhasil?"
"Ya kita berhasil, dan ini berkat bantuanmu sayang."
"Aku? aku tidak melakukan apapun." gumamku bingung.
"Kamu sudah memberikan Hasasi waktu untuk membunuh semua orang di sekitar kalian saat kamu fokus bertarung dengan Cindy dan itu membuat Cindy terfokus melawanmu dan Hasasi bisa fokus dengan tugasnya." gumam Hansol dingin.
"Ya benar, kalau bukan kelakuanmu yang otodidak itu pasti kita akan mati apalagi Hasasi."
"Ya benar, jadi makasih sayang" gumam Hasasi memelukku erat.
"Hmmm .."
__ADS_1
"Oh ya kamu istirahatlah, perjalanan kita akan panjang. Jangan buat anak - anak khawatir sayang"
"Hmmm iya Hasasi. " gumamku menyandarkan kepalaku di bahu Hasasi dan tertidur pulas, walaupun nyeri dan sakit di lenganku tapi dengan adanya Hasasi disampingku membuatku aman dan nyaman.