
Aku dan Hasasi keluar dari ruangan dan berjalan menuju kembali ke aula pernikahan tersebut. Aku memandang Hasasi sambil terus berfikir apa yang dikatakan kakek dan nenek Hasasi itu benar atau tidak. Tapi kalau mereka tahu dari kakek dan nenekku pasti itu kabar yang sebenarnya.
"Kamu kenapa memandangku seperti itu Fifiyan?" tanya Hasasi menatapku
"Tidak ada cuma senang aja memandangimu" gumamku
"Kenapa tiba - tiba senang?"
"Ya kan seneng ngeliat pasangan sendiri emang gak boleh?"
"Boleh kok, aku juga seneng kalau kamu seneng memandangku seperti itu" gumam Hasasi tersenyum
"Mmm Hasasi, jadi kita tuh di jodohin ya?"
"Ya yang sebenarnya seperti itu, kata orang tuaku juga"
"Kamu sebenarnya sudah tahu?"
"Tentang apa?"
"Tentang itu semua?"
"Udah"
"Tapi kenapa kamu gak cerita ke aku?"
"Aku gak mau kamu tahu dari, mending kamu tanya dari orang yang lebih tau" gumam Hasasi
"Yang masih aku bingungkan sampai sekarang tuh, dulu saat kamu terluka. Kakak pernah bilang ke aku jangan dekati atau berharap lebih ke kamu, apa maksudnya?"
"Ya yang kakek jelasin tadi, aku akan di nikahkan oleh Amelia Wang dan kakakmu tahu tentang itu. Ya mungkin dia takut kamu sakit hati" gumam Hasasi pelan
"Hmmm begitu ya..." desahku
"Tapi kan kita sudah melewati itu semua dan keluarga besarku juga sudah senang denganmu malah menerimamu dengan lapang dada jadi kamu jangan khawatir ya" gumam Hasasi membelai rambutku
"Mmm kalau anak tuan Wang itu masih hidup pasti kita mungkin tidak akan bisa bersama kan ya?"
"Ya, bisa jadi sih. Bahkan bisa jadi kita tidak akan dipertemukan" gumam Hasasi
"Hmmm benar juga sih"
"Ya udah jangan dipikirkan, yang penting kan kamu sekarang sama aku"
"Iya sih, aku bersyukur banget" gumamku tersenyum
"Aku juga bersyukur bisa bersamamu Fifiyan" ucap Hasasi merangkulku dengan erat
"Setelah ini kita kemana?"
"Kita?" gumam Hasasi bingung
"Mmm aku gak tahu, aku lupa jadwal"
"Hadeh dasar tua" gumamku
"Tua ya tua ya" gumam Hasasi mencubit pipiku
"Ya kan emang kamu tua"
"Aku masih muda ya!!" protes Hasasi
"Muda beberapa tahun yang lalu" ejekku
"Hmmm dasar kamu ya" desah Hasasi sambil terus mencubit pipiku sampai merah
"Aduh sakit lah!!" protesku
"Makanya jangan suka ngeledekin aku" gumam Hasasi kesal
"Iya - iya, tuh dicariin" gumamku menunjuk bawahan Hasasi di depan kami
"Ada apa?" tanya Hasasi dingin
"Mohon maaf tuan..." bisik bawahannya dan Hasasi mengangguk mengerti
__ADS_1
"Baiklah, tunggu disana" gumam Hasasi dan bawahannya pergi
"Ada apa Hasasi?"
"Hansol menungguku di suatu tempat"
"Ada apa?"
"Aku tidak tahu, kamu disini aja dulu ya"
"Gak mau, aku mau ikut!!" protesku
"Tapi..."
"Ayolah"
"Hmmm baiklah, ayo kalau begitu" gumam Hasasi mengalah
Hasasi menggandengku keluar dari pesta tersebut dengan terburu - buru, entah ada hal penting apa yang membuat Hasasi terburu - buru.
"Kalian berdua mau kemana?" tanya seseorang di belakang kami dan Hasasi menghentikan langkah kakinya dan berbalik
"Ada urusan penting sebentar"
"Masalah apa?" tanya Tuan Stun
"Sesuatu yang mendesak" gumam Hasasi melanjutkan langkahnya kembali meninggalkan tempat tersebut
"Hasasi kenapa terburu - buru?" ucapku lirih sambil mengikuti langkah Hasasi
"Nanti kamu akan tahu sendiri" gumam Hasasi terus berjalan cepat menuju ke depan pohon yang besar di sekitar lokasi acara tersebut
Setelah kami sampai di depan pohon tersebut, Hasasi menekan suatu tombol yang tertutup daun dan batang pohon tersebut terbuka dengan sendirinya
"Ini apa Hasasi?" tanyaku bingung
"Ini Lift darurat Hansol ada di bawah tanah, karena banyak orang di rumah kakek sama nenek jadinya kita lewat sini" gumam Hasasi mengajakku masuk ke dalam Lift dan Hasasi langsung memencet tombol tersebut
"Bawah tanah?" tanyamu bingung
"Ya, di setiap rumah keluarga Stun terdapat ruang bawah tanah"
Hasasi menggandengku kesuatu pintu yang ada di depan kami, saat pintu terbuka aku melihat Hansol yang sedang duduk di kursi dengan membelakangi kami
"Kamu telat 2 menit" gumam Hansol
"Maaf..." gumam Hasasi menggandengku berjalan menuju kursi yang ada di sebelah Hansol
"Eehh kenapa ada dia?" gumam Hansol dingin
"Ya dia maksa pengen ikut mulu" gumam Hasasi santai
"You know kan apa yang kita bahas"
"Yes I know"
"So... Kalau dia tahu bagaimana?"
"Ya biarin lah"
"Konsekuensi kalau dia tahu kamu tidak ingat?" gumam Hansol
"Mmm iya juga sih, tapi dia maksa ikut mulu gimana dong"
"Haiissshh" desah Hansol menggelengkan kepalanya
"Emang kenapa kalau aku tahu?" tanyaku penasaran
"Hmmm, silahkan jelaskan Hasasi"
"Ya takutnya kamu akan menghambat kita"
"Emang kalian mau berbuat apa?" tanyaku
"Itu... rahasia"
__ADS_1
"Kasih tahu kenapa!!" protesku
"Hmmm ya kita berencana mencari keterangan dari seseorang yang bernama Xiao Xi permasalahan tentang kerjasama keluarga Liang dengan keluarga Mark"
"Kerjasama apa?"
"Pembalasan dendam kepada tiga perkumpulan" jelas Hansol
"Bentar kenapa harus Xiao Xi?"
"Karena dia saat ini tinggal di keluarga Mark jadi dia pasti tahu permasalahan itu" gumam Hasasi
"Xiao xi pacarnya Almira Wu?"
"Yups"
"Kamu kenal mereka?" tanya Hansol serius
"Kenal, Almira adalah teman baikku dan Hasaai pernah bertemu dengan Xiao Xi sebelumnya"
"Laki - laki yang itu?"
"Iya kamu bertemu saat ada Amelia juga"
"Aah, aku ingat" desah Hasasi
"Kalau boleh aku bisa bantu kalian" gumamku
"Bantu kita? Caranya?"
"Ya kan aku bisa mengajak Almira ketemuan pasti dia akan mengajak pacarnya itu"
"Mmm ide bagus tapi kalau mendadak mereka akan curiga" gumam Hansol
"Hmmm lalu?" desahku bingung
"Besok ada acara makan malam semua petinggi di Paris, kita bisa gunakan kesempatan itu"
"Acara makan malam?"
"Ya, sama seperti dulu saat kamu aku ajak le pesta di menara Eiffell"
"Oh aku ingat itu, itu keren banget sumpah" gumamku
"Mmm boleh juga sih" ucap Hansol
"Nanti kegiatannya tergantung situasi dan kondisi yang ada disana, tapi plan B nya sudah aku susun bersama Hasasi kamu tinggal ikutin aja" ucap Hansol menutup buku yang ada di depannya
"Oke beres"
"Oh ya Hansol bagaimana dengan persiapan kita?" tanya Hasasi serius
"Sudah clear tinggal sikat"
"Oh baguslah"
"Ingin aku akhiri ini semua biar aku cepat menikah dengan istriku ini" gumam Hasasi serius sambil membelai rambutku
"Ya meskipun begitu, kamu tidak bisa langsung senang Hasasi"
"Kenapa?" protes Hasasi dan Hansol membisikkan sesuatu ke telinga Hasasi
"Hmmm iya juga sih, tapi aku usahakan tidak akan terjadi" gumam Hasasi
"Emang akan terjadi apa?" tanyaku kepo
"Suatu hari kamu akan tahu Fifiyan" gumam Hansol
"Kalian sukanya merahasiakannya dariku!!" protesku
"Ya nanti kalau mentalmu sudah kuat aku akan memberitahukanmu semuanya" ucap Hansol serius
"Hmmm emang kalian berdua tuh jahat" protesku
"Udahlah, kita harus kembali Fifiyan. Nanti ayah mencarimu" gumam Hasasi langsung menggandengku keluar dari ruangan itu
__ADS_1
"Jangan lupa besok Hansol" gumam Hasasi dingin dan Hansol mengangguk mengerti
Hasasi menggandengku memasuki lift tersebut dan terus berjalan kembali ke pesta pernikahan Daniel yang belum selesai tersebut. Aku jadi penasaran nanti kalau udah nikah dengan Hasasi apa yang akan terjadi ke depannya, aku menjadi penasaran