Tuan Muda Tampan

Tuan Muda Tampan
Episode 194 : Taman Bermain


__ADS_3

Kami berdua menikmati suasana dan pemandangan yang ada di taman bermain, karena hari ini merupakan minggu pertama liburan sekolah jadi tidak heran banyak anak - anak yang menghabiskan waktu di taman bermain ini


"Kak Fifiyan ngeliatin apa?" tanya Lisa mengagetkanku


"Eeehhh ... Eeemmm tidak ada" gumamku


"Kenapa kakak ngeliatin anak perempuan dan kakak laki - lakinya itu?"


"Tidak ada"


"Emang mereka membuat kakak ingat sesuatu?"


"Ya bisa dibilang seperti itu"


"Emang kakak ingat apa?"


"Yah ingat masa kecilku dengan kakakku" desahku menatap langit yang berwarna kuning kemerah - merahan


"Kak Steven?"


"Ya kak Steven lah siapa lagi kakak kandungku"


"Ohhh ... Mmm... Kejadian apa yang membuat kakak tersentuh?"


"Tersentuh?"


"Ya maksudnya kenangan masa kecil apa yang membuat kakak terus teringat sampai sekarang?" gumam Lisa menatapku


"Kenangan ya? Kejadian yang paling berkesan saat aku digendong kakakku di tepi pantai setiap sore hari seperti ini. Tapi kenangan yang tidak bisa aku lupakan sebelum kejadian pembantaian terjadi. Aku dan keluarga besarku sedang pesta barbeque bersama dan ya itulah saat terakhir aku bertemu orang tuaku" gumamku sedih


"Dan ya apa kamu tahu, kejadian itu seperti hidup di ambang kematian. Suara tembakan terus terdengar di telingamu dan kamu melihat semua orang di sekitarmu yang tidak bersalah mati sia - sia" desahku menatap Lisa


"Eeee... Mmm... Maaf membuatmu teringat masa lalu kak"


"Iya tidak apa - apa, seberapapun aku berusaha melupakan tapi kenangan itu tidak akan pernah terlupakan"


"Mmm berarti kakak dulu sangat membenci orang yang membunuh keluarga besarmu?"


"Ya pasti lah, siapa yang tidak akan membencinya bahkan rasa dendamku dari kecil sampai sekarang. Tapi apa kamu tahu Lisa, orang yang aku benci selama 20 tahun malah akan menjadi suamiku dan dia akan menikahiku besok"


"Tapi sekarang kakak masih benci Kakakku?"


"Sebenarnya iya aku masih benci tapi tidak tahu kenapa cinta murni dari Hasasi mampu menghilangkan rasa dendam yang ada di dalam hatiku"


"Jadi kakak tidak dendam lagi?"


"Mmmm ya bukan tidak dendam tapi masih ada tapi sedikit"


"Kalau kakak tahu kakakku membunuh keluargamu kenapa kakak tidak membalas dendam?"


"Membalas dendam ya? aku dulu punya keinginan itu, tapi tidak tahu kenapa aku tidak bisa melakukannya. Mungkin karena aku sudah jatuh cinta dengannya"


"Berarti kakak sudah jatuh cinta dari dulu?"


"Ya bisa di katakan seperti itu, tapi aku tidak pernah mengungkapnya selama beberapa tahun sampai Hasasi mengatakan ingin menikahi berulang kali"


"Berulang kali?"


"Ya bisa dibilang seperti itu, ya Hasasi itu terkadang lucu. Dia bilang ingin menikahiku tapi besoknya kencan sama wanita lain terus saat aku marah dia datang bilang ingin menikahiku kembali dan besoknya tetap sama kencan dengan wanita yang berbed lagi. Dan kamu tahu Lisa, kejadian itu terus berulang sampai aku bosan mendengarkan kata - kata Fifiyan mau tidak menikah denganku?" gumamku kesal

__ADS_1


"Ya emang kakakku melakukan itu ingin memastikan kalau kak Fifiyan masih mencintai kakakkku walaupun kak Fifiyan disakiti berkali - kali"


"Emang aku boneka apa?" gerutuku kesal


"Bu... Bukan begitu kak, kakakku pernah bilang sebenarnya dia menyesal membuat kak Fifiyan marah tapi demi kelancaran misi dia harus melakukannya. Hal yang paling kakakku takutkan itu kalau kakakku kehilanganmu kak"


"Kenapa juga takut kehilanganku?, dia juga kan dulu ingin membunuhku kan"


"Ya memang benar, tapi kalau kakaku sudah terlanjur jatuh cinta dengan wanita. Apapun yang terjadi, kakakku tidak akan melepaskannya seumur hidupnya. Seperti mantan kakakku Cindy Wu itu"


"Oh begitukah, lalu apakah Hasasi sudah melupakan Cindy Wu?"


"Kalau kakakku sudah memutuskan untuk menikahimu berarti dia benar - benar sudah melupakan Cindy Wu"


"Benarkah?"


"Ya, kan kak Fifiyan pernah bilang ke kakakku. Kalau kak Fifiyan akan menunggu kakakku untuk melupakan Cindy Wu dan menikahi Kak Fifiyan tapi kalau belum melupakannya tunggu sampai kakakku benar - benar melupakannya baru kalian menikah kan?"


"Iya aku pernah bilang begitu"


"Ya itulah alasannya, kak Fifiyan harus menunggu bertahun - tahun agar kakakku bisa melupakan Cindy Wu itu"


"Oh begitu ya? Hmmm lega mendengarnya"


"Jadi kakak jangan khawatir, di hati kakakku sekarang hanya ada namamu"


"Hahaha ya semoga saja"


"Aku mengatakan yang sesungguhnya kak"


"Iya aku percaya kok Lisa tenang saja"


"Kakak tidak marah kan aku membahas kejadian masa lalu?"


"Huuffftt aku takut kalau kakak marah terus membatalkan pernikahan dengan kakakku" desah Lisa lega sambil mengelus dadanya


"Tenang saja, aku sudah mengikhlaskan semuanya kok dan aku emang ingin menikah dengan Hasasi"


"Benarkah? Aku senang kamu menjadi kakak iparku"


"Hahaha seriusan?"


"Iya aku seriusan, aku juga nyaman punya kakak sepertimu kak. Apalagi kak Fifiyan yang membuatku bangkit disaat aku terpuruk dulu"


"Oh syukurlah kalau begitu" gumamku senang


"Eeehh kalian berdua kenapa di sini?" gumam Kakek Stun di depan kami


"Eh kakek, kami sedang menikmati taman bermain saja. Kakek kenapa disini?"


"Kakek sedang mengantar si kembar bermain denga Lidya" gumam Kakek menunjuk seorang wanita dewasa dengan dua anak kecil yang sedang beli gula - gula di sebuah kedai


"Oh begitu, mari kakek duduk disini" gumamku menggeserkan badanku


"Terimakasih nak"


"Besok bukannya kamu menikah ya, kenapa kamu keluyuran disini?"


"Eeehh... Mmmm hanya menemani Lisa kek"

__ADS_1


"Haduh Lisa - Lisa seharusnya temani kakak iparmu mempersiapkan pernikahannya bukannya malah mengajaknya keluyuran"


"Ma... Maaf kakek" gumam Lisa sedih


"Eeehh.. Tidak apa - apa kakek, aku emang ingin jalan - jalan kakek. Apalagi mumpung tidak ada Hasasi disini kakek"


"Hummm ya aku paham, kalau ada Hasasi pasti di cerewetin kan"


"Ya kakek, apalagi aku juga takut kakek untuk besok"


"Tenang, tidak perlu takut nak. Hari bahagia pasti akan menakutkan, tapi tenang saja ya"


"Iya kek, tapi bagaimana dengan Hasasi? Dia belum kembali"


"Tenang saja nak, dia bakal hadir kan. Ini pernikahannya dia, dia pasti datang"


"Kalau dia belum datang bagaimana kek?" gumamku khawatir


"Tenang saja cu kalau dia tidak datang kakek marahin" gumam kakek tersenyum kepadaku


"Hmmm baik kakek"


"Oh ya kakek kenapa kakek ada di kota ini?" tanya Lisa polos


"Ya kan besok kakakmu menikah masa kakek tidak datang"


"Oh ya lupa hehehe"


"Haduh kamu ini ya" desah kakek menggelengkan kepalanya


"Hehehe iya namanya juga lupa"


"Hmmm..." desah kakek


"Kakek kami sudah selesai" gumam dua anak kembar di depan kami


"Oh hay Lola Loli" Sapa Lisa tersenyum


"Oh hai kak Lisa" sapa Lola dan Loli berbarengan


"Hai kakak cantik" gumam Lola memegang tanganku


"Oh hay Lola"


"Kakak cantik mau gula - gula?" tawar Loli menyerahkan gula - gulanya kepadaku


"Eeeehh.. tidak, untuk kalian saja" gumamku tersenyum


"Uhh baiklah"


"Kakak cantik mau gendong" gumam Lola mengangkat kedua tangannya kearahku


"Baiklah sini aku gendong" ucapku mengangkat tubuh Lola dan secepat mungkin Lola merangkulkan tangannya di bahuku


"Aku mau " teriak Loli mengangkat tangannya kearahku


"Sini sama kakak saja" gumam Lisa mengangkat tubuh Loli


"Baiklah ini udah hampir petang kita pulang dulu" gumam kakek berjalan mendahului kami

__ADS_1


"Baik kakek" ucap kami semua bersamaan


Kami berjalan meninggalkan taman bermain menuju ke mobil masing - masing dan ya si kembar Lola dann Loli ikut di mobilku dan Lisa sedangkan kakek dan Lidya naik di mobil milik kakek. Mobil kami berjalan bersamaan keluar dari taman bermain menuju ke rumah orang tua Hasasi


__ADS_2