Tuan Muda Tampan

Tuan Muda Tampan
Part II, Episode 19 : Penjelasan Angel


__ADS_3

Selama ini sebenarnya aku benar-benar lelah mengurusi Hasasi yang tidak bisa melakukan apapun, tapi melihat senyuman tulusnya yang menjadi obat lelahku ini. Aku tidak ingin melihat Hasasi sedih, aku hanya ingin melihat sifat manja, senyumamnya dan wajah dinginnya Hasasi yang selama ini aku rasakan.


"Eeh kenapa menatapku seperti itu sayang?" tanya Hasasi menatapku serius.


"E...mmm ti...tidak ada kok sayang."


"Apa yang kamu lamunkan?" tanya Hasasi mengusap lembut pipiku.


"Tidak ada, aku hanya senang menatapmu saja."


"Menatapku? Kenapa?"


"Hanya ingin saja dan... kamu benar-benar tampan."


"Oh hmmm... sayang aku ingin kesana..." gumam Hasasi menatap balkon di depan kamar.


"Kesana? Baiklah..." desahku mendorong kursi roda dengan perlahan. Hasasi terdiam dan menatap matahari terbit di depan kami, selama semalaman aku benar-benar terjaga menjaga Hasasi. Hasasi tidak bisa tidur karena punggungnya sangat sakit dan dia terus merintih kesakitan, aku menyuruhnya ke dokter kembali tapi dia menolak dan ingin ke dokter bersamaku sedangkan aku harus berlatih dengan kakakku.


"Sayang... nanti ke dokter ya..." gumamku pelan.


"Baiklah tapi temani ya."


"Tapi kan..."


"Sudahlah temani Hasasi saja, dari pada Hasasi tidak mau ke dokter!" ucap Steven berjalan kearah kami.


"Baiklah kak..." gumamku pelan.


"Aku siapkan sarapan dulu. Setelah sarapan kita pergi ke dokter Hasasi!" ucap Steven dingin tapi Hasasi hanya terdiam menatap matahari terbit di depan kami.


"Ada apa sayang?" tanyaku pelan.


"Tidak ada, hanya ingin bersamamu saja."


"Apa kamu khawatir?"


"Sampai kapanpun aku akan tetap khawatir sayang."


"Sayang tenangkan pikiranmu, kalau kamu terus seperti itu bagaimana kamu bisa cepat sembuh!" ucapku menatap Hasasi serius.


"Yaah aku tahu kok sayang, tapi..."


"Hasasi aku mohon, semangatlah sembuh... demi aku... demi anak-anak... aku tahu ini sangat berat untukmu tapi aku sangat memohon padamu suamiku..." gumamku menggenggam erat tangan Hasasi sambil meneteskan air mataku pelan.


"Hmmm baiklah, tapi temani aku terus ya sayang..." gumam Hasasi mengusap air mataku dan tersenyum manis kearahku.


"Ya, aku akan selalu menemanimu suamiku sayang. Jangan khawatir."

__ADS_1


"Fifiyan! Makanannya sudah siap!!" teriak Steven dari bawah dengan kencang.


"Baiklah, mari sarapan sayang..." gumamku kembali mendorong kursi roda milik Hasasi menuju ke dapur, karena rumah Steven mirip dengan rumah Hasasi yang sangat modern jadi dengan kursi rodapun bisa memudahkan kami naik ke kamar dan turun dari kamar.


"Ini makanlah..." gumam Steven meletakkan dua piring di depan kami, aku segera mengambil salah satu piring dan menyuapi Hasasi.


"Sayang, aku makan sendiri saja."


"Tidak apa, aku ingin menyuapimu dulu kok."


"Oh hmmm..." desah Hasasi kembali melahap makanan yang aku berikan.


"Fifiyan..." ucap seorang wanita yang berjalan ke arah kami, aku mengangkat kepalaku dan melihat Angel yang sedang berjalan dengan anggunnya.


"Eeh Angel, dimana Hansol?" tanya Steven serius.


"Ada apa?" tanya Hansol di belakang Angel.


"Tidak ada, aku kira Angel datang sendiri."


"Aku tidak mungkin meninggalkan dia sendirian bertemu denganmu!" gerutu Hansol dingin.


"Ya aku tahu, tenang saja... aku tidak tertarik.." gumam Steven kembali melahap makanannya.


"Yaah untungnya kamu tidak tertarik dengan wanita menyebalkan satu ini..." desah Hansol pelan.


"Aku memiliki type khusus, type seperti adik kecilku ini kok..." gumam Steven tersenyum kearahku.


"Main mata? Dia adik kandungku! Kenapa kamu sangat sensitif sih!" gerutu Steven kesal.


"Biasalah Hasasi dengan siapapun pasti bakal sensitif, dan ditambah penyakitnya kambuh seperti ini pasti Hasasi sangat sensitif..." gumam Hansol mengangkat alisnya.


"Haish sudahlah, apa yang membuat kalian berdua kemari?" tanya Hasasi serius.


"Hansol ingin mengatakan sesuatu denganmu dan aku memiliki sesuatu hal yang ingin ku katakan kepada Fifiyan..." gumam Angel serius.


"Ada apa?" tanyaku terkejut.


"Ikutlah denganku sebentar saja..." gumam Angel berjalan mendahuluiku dan aku mengikuti langkah kakinya menaiki tangga.


"Ada apa Angel?" tanyaku serius.


"Kamu harus selalu di sisi Hasasi Fifiyan."


"Emangnya kenapa?" tanyaku bingung.


"Ya... perang kali ini aku yakin kalau Hasasi akan te...was."

__ADS_1


"Eehh tunggu... kenapa kamu berkata seperti itu?" tanyaku terkejut.


"Tahu kan bagaimana keadaan Hasasi?"


"Aku tahu, pasti Hasasi akan .."


"Ya dia akan sembuh dan bisa berjalan seperti biasa jika terus berobat tapi... karena penyakitnya itu telah menggerogoti sebagian tubuhnya. Dia akan mati saat berhadapan dengan Fiyoni atau dengan musuh lainnya, dia sebenarnya sangat lemah sekarang tapi demi kamu demi anak-anakmu dia berusaha kuat dan menutupi semuanya."


"Hasasi? Apa kamu serius?"


"Ya, semua orang tahu tapi hanya kamu yang tidak tahu. Sebenarnya aku dilarang mengatakan ini tapi aku kasihan padamu Fifiyan, aku menganggapmu sebagai teman baikku jadi aku harus memberitahukanmu walaupun aku tahu kamu akan sakit setelah mendengarnya..." gumam Angel pelan, mendengar ucapan Angel membuatku benar-benar bersedih.


"Fifiyan, kamu sudah tahu kan. Jadi aku mohon jangan katakan apapun yang aku beritahu di depannya, aku takut dia akan bunuh diri secara diam-diam."


"Bunuh diri diam-diam?"


"Ya, sebenarnya dia mengajakmu kemari karena dia ingin mengakhiri hidupnya dan kamu bisa aman dengan Steven jika dia tiada, yang tahu rumah ini hanya Hasasi, Hansol dan aku saja sedangkan tidak ada yang tahu jadi kamu dibawa kemari agar saat dia mati kamu aman."


"Tidak mungkin! Kamu hanya bercanda kan?" teriakku kesal.


"Sejak kapan aku bisa diajak bercanda Fifiyan, aku mengatakan yang sebenarnya. Di dalam hati Hasasi dia sangat merana, dia suka matahari terbit kan? Yah akhir-akhir ini dia suka matahari terbit karena dia berfikir bagaimana dengaanmu jika saat matahari terbit kamu melihatnya sudah mati di sampingmu..." gumam Angel menatapku serius sedangkan aku hanya terdiam dan menangis pelan.


"Aku tidak tahu apa ada namanya inkarnasi itu! Tapi dia selalu berharap bisa berinkarnasi suatu hari nanti dan bisa bertemu denganmu Fifiyan."


"Walaupun ada inkarnasi tapi kan tidak mungkin akan bertemu seperti ini!" ucapku serius.


"Ya benar, mungkin saja kalian terpisah dan bertemu tanpa sengaja seperti saat ini... tapi memang tidak ada yang tahu bagaimana kehidupan kita kedepannya Fifiyan..." gumam Angel serius.


"Itulah kenapa walaupun kami berinkarnasi aku tidak yakin akan bertemu dengannya..."


"Sudahlah jangan dipikirkan, mumpung kalian masih hidup nikmatilah waktu bersama Fifiyan..."


"Yaah aku mengerti..."


"Oh ya Fifiyan, kamu pernah mendengar tentang hal magic?"


"Yaaah aku pernah mendengarnya, ada apa?" gumamku mengusap air mataku.


"Apa kamu percaya?"


"Tidak! Memangnya kenapa?"


"Yaah aku juga tidak percaya tapi aku di suatu tempat dengan Hansol dan Hasasi pernah bertemu dengan seseorang yang dulu pernah meninggal, dia ingat kenangan sebelum dia mati bahkan dia jadi jauh lebih muda dan tampan dari pada dia yang dahulu!" ucap Angel serius.


"Astaga, itu tidak mungkin Angel!"


"Aku juga sama tapi karena itulah yang membuat Hansol dan Hasasi percaya dengan yang namanya inkarnasi!" ucap Angel serius.

__ADS_1


"Inkarnasi ya? Kalau memang itu ada, aku berharap bisa bertemu dengan Hasasi, kak Steven, kedua anakku dan juga kalian semua.." gumamku menatap pemadangan hutan di depanku.


Walaupun ucapan Angel tentang inkarnasi tidak masuk akal tapi namanya mitos pasti ada yang percaya. Meskipun aku tidak percaya tapi aku sedikit percaya tentang hal magic dan aku sendiri ingin benar-benar fokus kepada Hasasi setelah mendapatkan kabar dari Angel itu.


__ADS_2