Tuan Muda Tampan

Tuan Muda Tampan
Part II, Episode 16 : Belajar Berkepribadian Seperti Nyonya Stun


__ADS_3

"Apa yang kamu lamunkan adikku?" ucap Steven yang mengagetkanku.


"Eee...ti..tidak ada kak."


"Sebentar lagi orang tua Hasasi akan datang,"


"Tu...tunggu, kenapa mereka datang?" tanyaku terkejut.


"Tuan Stun akan mengikut pertemuan itu sedangkan Nyonya Stun akan mengajari bagaimana menjadi istri mafia yang sebenarnya!"


"Oh mmm apa aku bisa kak?"


"Bisalah, kakak saja bisa masa kamu tidak."


"Tapi kan aku denganmu memang berbeda kakak! Kakak sangat pintar, tampan, berwibawa sedangkan aku...hanya gadis kecil yang cengeng."


"Haish kalau kamu seperti itu, kamu tidak mungkin bisa menikah dengan Hasasi. Kamu kuat dan elegan tahu, kamu bisa membuat Hasasi benar-benar jatuh cinta padamu bahkan lihat saja bagaimana Hasasi menjadi pria yang penakut dan lembut setelah menikah denganmu padahal dia pria yang tidak takut apapun sejak kecil."


"Tapi kak..."


"Menjadi istri seorang mafia itu tidak mudah, banyak pelakor, banyak musuh, dan sebenarnya tidak mudah menjadi istri seorang mafia. Sama seperti kakak, kakak sampai sekarang belum memiliki seorang wanita, banyak yang harus kakak pertimbangkan tahu."


"Kenapa?" tanyaku terkejut.


"Menjadi Nyonya Shinju harus kuat, sabar, dan licik seperti kamu dan ibu. Kalau tidak pasti tidak akan ada yang kuat."


"Tapi kakak, aku tidak seperti ibu tahu! Aku berbeda, setiap punya masalah dengan Hasasi aku selalu menghindar setiap marah dengan Hasasi aku selalu pergi malah aku selalu..."


"Tapi buktinya kamu membuat Hasasi mencarimu dan memikirkanmu kan? Memang jika ada masalah harus diselesaikan baik-baik tapi apa yang kamu lakukan selama ini adalah taktik mafia, hanya beberapa mafia yang melakukan taktik itu untuk mengelabuhi musuh."


"Tunggu maksudnya?" tanyaku terkejut.


"Benar kata Steven, memang itu hal yang biasa dilakukan setiap wanita tapi jika kamu bisa membuat lawanmu berusaha mengejarmu itu adalah taktik licik yang dilakukan mafia wanita untuk mengelabuhi para petinggi mafia yang susah untuk diajak bekerjasama..." ucap Nyonya Stun berjalan kedalam kamar.


"Eeh mmm ibu... selamat datang ibu..." gumamku terkejut.


"Benarkan ucapanku, taktik licik biasanya digunakan ibu untuk mengelabuhi banyak mafia tertinggi agar mereka mau bekerjasama dengan ayah agar ayah memiliki kekuatan yang sangat besar sehingga mafia ayah menjadi mafia yang bisa setara dengan keluarga Stun." ucap Steven serius.


"Ya benar. Sebenarnya kamu itu lahir di keluarga mafia terhebat cuma mungkin hanya kakakmu saja yang diajarkan oleh Tuan Shinju jadi kamu hanya menggunakan bakat mafia dasar yang diturunkan kepadamu..."


"Tapi ibu, aku belum bisa menjadi seorang istri kak Hasasi yang seharusnya."


"Tenang saja, ibu akan mengajarkanmu. Sebagai seorang Nyonya Stun kamu hanya butuh beberapa keahlian, yang pertama tegas berwibawa, yang kedua pintar, dan yang utama adalah licik. Kamu harus bisa ketiga keahlian itu. Kamu memiliki keahlian dasar jadi tinggal kamu praktikan saja, ketiga keahlian itu kamu campur menjadi satu kepribadian."


"Jika dicampur bukannya seperti Fifiyan menjadi pribadi yang sombong ibu?"


"Ya benar, hampir mirip dengan sombong. Kamu sudah bertahun-tahun hidup dengan Hasasi kan pasti kamu mengerti bagaimana wanita mafia jika berada di suatu pesta atau pertemuan. Ya seperti itulah, tapi kamu harus menggunakan sifat licikmu untuk melindungi Hasasi."


"Sifat licik?"


"Ya sama seperti kamu bersikap manja dan berusaha seromantis mungkin saat berada di depan mantan kekasihnya. Bisa dibilang kamu melakukan bagaimanapun caranya kamu tidak melepaskan Hasasi dari genggamanmu, tapi jika Hasasi terlepas dari genggamanmu...kamu berusaha membuat Hasasi kembali kedalam genggamanmu kembali." jelas Steven serius.


"Oh baik Fifiyan mengerti."


"Kamu harus mengajari Han dan juga Sasa. Walaupun mereka masih kecil tapi ibu yakin mereka bisa melindungi kalian berdua."


"Mmm baik ibu."

__ADS_1


"Baiklah, ibu akan mengajarimu caranya..." ucap Nyonya Stun memanggil beberapa bawahan Tuan Stun ke dalam kamar.


"Hari ini aku mau mengajarkan Fifiyan, jadi tolong bantuannya ya..." gumam Nyonya Stun berdiri di depanku.


"Baik nyonya."


"Baiklah Fifiyan, lihat dan pelajari bagaimana aku melakukannya, anggap saja mereka ketua mafia dan Steven ini Tuan Stun..." ucap Nyonya Stun menarik Steven dan mereka berusaha berperan seperti saat di pesta.


Walaupun aku mengerti karena sudah sering melihat dan merasakan sendiri apalagi aku bertahun-tahun hidup dengan Hasasi tapi terkadang aku berpikir apa aku bisa? Aku seseorang yang sangat pengecut jika di bandingkan dengan wanita mafia lainnya.


"Apa kamu paham Fifiyan?" ucap Nyonya Stun menatapku serius.


"Mmm eee ya saya mengerti ibu."


"Baguslah, sekarang kamu harus melakukannya juga."


"Tu...tunggu aku?" ucapku terkejut.


"Ya, mumpung Hasasi belum datang, kalau dia tahu ibu mengajarimu pasti dia akan marah, dia ingin kamu menjadi gadis biasa tapi secara tidak langsung kamu harus belajar menjadi seorang mafia yang bisa melindungi Hasasi dan kedua anakmu."


"Oh mmm baiklah ibu..." desahku mengalah, aku berusaha sekuatku untuk melakukan hal yang sama, tapi aku akui sungguh sangat melelahkan.


"Coba lebih senatural lagi!" protes Steven serius dan aku terus mencobanya.


"Lebih dingin lagi Fifiyan!" teriak Nyonya Stun kencang.


"Jangan lembek seperti itu, kamu harus tegas Fifiyan!"


"Mata kamu harus tajam tahu!"


"Astaga..." desahku terduduk di sofa sambil terengah-engah.


"Kamu harus natural Fifiyan, kamu benar-benar kaku. Kalau kamu tidak bisa melakukannya bagaimana kamu bisa melindungi Hasasi dari wanita-wanita yang pastinya akan merebut Hasasi darimu!" gerutu Steven menatapku kesal.


"Sebenarnya sudah bagus sih, cuma tatapannya dan perilakunya terkadang masih saja seperti bukan seorang istri mafia. Kamu harus mencoba lagi dan lagi Fifiyan!" ucap Nyonya Stun dingin.


"Ba..baik ibu, Fifiyan akan mencobanya lagi..." desahku beranjak dari sofa dan memulai mencoba berakting menjadi Nyonya Stun kembali.


Selama empat jam aku belajar seperti benar-benar menjadi seorang istri mafia, benar-benar berat dan melelahkan tapi setelah aku memahaminya dan mempelajarinya sekarang aku mengerti jika aku tidak melakukan ini pasti Hasasi sekarang dengan wanita lain.


"Naaah seperti itu, kamu harus latihan setiap hari di depan cermin pasti kamu bisa." ucap Nyonya Stun tersenyum ke arahku.


"Tapi ingat Fifiyan jangan sampai ketahuan Hasasi ya!" ucap Nyonya Stun serius.


"Jangan sampai ketahuan apa?" tanya Hasasi dingin.


"Tidak ada, kamu sudah selesai?" tanya Steven serius, tapi Hasasi hanya terdiam dan menatapku dingin.


"Apa yang kamu sembunyikan yang sesungguhnya padaku istriku?" ucap Hasasi menatapku dingin.


"Eee...mmm tidak ada serius, cek saja kalau tidak percaya..." desahku pelan.


"Heeei kau kenapa datang-datang memarahi adikku!" protes Steven berdiri di depanku.


"Sudahlah Hasasi, dia tidak tahu apapun kamu jangan marah-marah kepada Fifiyan." gumam Dennis masuk ke dalam kamar.


"Ada apa Dennis?" tanya Steven serius.

__ADS_1


"Biasalah mantan kekasih Fifiyan memanasi emosi Hasasi, mereka bilang jika Fifiyan tidak dengan Hasasi pasti mereka bermain dengan Fifiyan dibelakang Hasasi." jelas Dennis santai.


"A...aku tidak pernah bertemu dengan mereka, aku hanya dengan anak-anak dirumah. Aku bersumpah padamu Hasasi!" ucapku serius. "Tunggu, kenapa bisa mereka mengatakan kebohongan kepada Hasasi sih!" gerutuku dalam hati.


Hasasi mendorongku dan memegang bahuku erat, tatapannya benar-benar terlihat sangat marah kepadaku.


"Aku bertanya serius Fifiyan!"


"Aku mengatakan yang sebenarnya, aku tidak kemanapun! Aku hanya di rumah menjaga Sasa dan Han saja jika kamu ada tugas di luar kota. Kalau kamu tidak percaya coba cek saja CCTV di rumah!" gerutuku menatap Hasasi kesal.


"Hmmm... baiklah aku percaya padamu..." desah Hasasi memelukku erat.


"Kamu sudah tua Hasasi, hanya karena itu kamu jangan mudah tersulut emosi seperti ayahmu!" protes Nyonya Stun dingin.


"Aku tidak mau istriku benar-benar melakukannya!"


"Ibu yakin dia tidak melakukannya Hasasi, dia mencintaimu kalau dia tidak mencintaimu tidak mungkin dia mau menikah denganmu!" ucap Nyonya shinju menatap Hasasi dingin, melihat tatapan Nyonya Stun yang dingin dan tegas membuatku mengerti seharusnya aku harus seperti itu jika ingin terus menggenggam Hasasi di genggamanku.


"Ya, yang dikatakan ibumu benar nak, kamu jangan tersulut emosi. Ya kalau Fifiyan bisa teguh dengan pendiriannya untuk mencintaimu, jangan samakan Fifiyan dengan ibumu. Fifiyan lebih lembut dan masih seperti anak-anak dari pada ibumu yang licik dan tegas dengan pendiriannya seperti itu, kalau dia sakit hati dan meninggalkanmu berulang kali seperti dulu bagaimana!" gerutu Tuan Stun serius mendengarkan perkataan Tuan Stun, Hasasi hanya terdiam sambil menatapku serius.


"Hmmm..." desah Hasasi kembali memelukku erat.


"Kau harus belajar dewasa Hasasi, jangan seperti anak kecil terus. Kamu sekarang pengganti ayah dan kamu pemegang seluruh mafia kalau kamu seperti itu pasti mafia milikmu tidak akan bisa bertahan lama tahu!" protes Tuan Stun serius.


"Menjadi pemimpin mafia tertinggi, kau harus lebih tegas dan berwibawa apalagi kedepannya kamu akan bertemu dengan beberapa wanita cantik yang menggodamu, jika Fifiyan bisa menjagamu kalau tidak kau akan seperti ayahmu yang terhasut ucapan beberapa wanita tahu!" gerutu Nyonya Stun menatap Tuan Stun serius.


"Eeeh kan sekarang aku berubah istriku sayang hehehe.." ucap Tuan Stun tertawa pelan.


"Kalau aku tidak menarik telingamu setiap hari kamu juga akan tetap membandel tahu!" gerutu Nyonya Stun menarik telinga Tuan Stun kuat.


"Aauuu sa...sakit sayang, aku kan tidak nakal jangan tarik telingaku!" rengek Tuan Stun kencang.


"Oh ya sudah waktunya makan malam, kami akan menunggu kalian berdua di bawah!" gumam Nyonya Shinju berjalan meninggalkan kamar sambil terus menarik telinga Tuan Shinju.


"Aku juga mau kebawah, ayo Dennis..." gumam Steven berjalan menarik tangan Dennis keluar kamar.


"Hmmm baiklah maaf kalau aku tadi kasar padamu istriku..." ucap Hasasi menatapku serius.


"Ti...tidak apa, mmm Hasasi kalau suatu hari nanti aku akan melakukan seperti yang dilakukan ibu apa boleh?"


"Seperti apa? Memarahi ayah seperti itu?"


"Ya semacam itu sih, aku hanya ingin menjagamu Hasasi."


"Oh kamu tadi diajari ibukah?" tanya Hasasi menatapku dan aku hanya menganggukkan kepalaku pelan.


"Tidak masalah, tapi jika aku melakukan kesalahan saja ya."


"Kalau tidak juga samalah, aku tidak mau kamu..."


"Hmmm baiklah, aku mengerti. Kamu istriku, kamu Nyonya rumah disini jadi kamu boleh melakukan apapun bahkan kamu boleh menghukumku jika aku bersalah padamu bagaimana?"


"Benarkah?" tanyaku terkejut.


"Ya serius istriku...ya sudah kita makan juga yuk..." gumam Hasasi menarik tanganku keluar kamar.


Walaupun Nyonya Stun dan kakak tidak memperbolehkan aku mengatakannya kepada Hasasi tapi mau bagaimanapun dia suamiku dan aku harus meminta izin kepadanya, untungnya Hasasi mengizinkannya jadi aku harus bisa tegas, licik, dan berwibawa seperti Nyonya Stun.

__ADS_1


__ADS_2