Tuan Muda Tampan

Tuan Muda Tampan
Episode 152 : Kaburnya Dua Tahanan


__ADS_3

Selama kami berjalan, Aku terus menatap Hasasi dengan perasaan senang. Akhirnya Hasasi mengajakku mencari gaun pengantin untuk pernikahan kami nanti


"Kenapa kamu menatapku seperti itu?" gumam Hasasi sambil menatap ke depan


"Aku cuma menatapmu saja"


"Kenapa?"


"Ya aku gak nyangka aja kamu mengajakku nyari gaun pengantin" gumamku


"Ya kan udah waktunya"


"Emang kapan?"


"Nanti kamu akan tahu sendiri cantik"


"Hmmm kamu selalu seperti itu Hasasi!!" protesku


"Hahaha... iya - iya sayang, udah tenang aja"


"Baiklah" desahku mengalah


"Mmm kita ke acara daniel kapan?" tanyaku


"Nanti agak sorean"


"Tapi kan ini udah sore" gumamku melihat jam


"Oh... mmm nanti lah kita makan dulu"


"Keluargamu yang lain gimana?"


"Pasti mereka udah makan" gumam Hasasi mengajakku ke tempat makan


"Kan dari tadi kamu denganku Hasasi, mana mungkin kamu tahu mereka udah makan belumnya?"


"Tahu... karena keluargaku makan dulu sebelum jalan - jalan... kamu mau pesan apa?" gumam Hasasi memegang menu di tangannya


"Aku Ramen aja" gumamku


"Baiklah... ramen dua" teriak Hasasi sambil mengangkat tangannya


"Kenapa kamu teriak Hasasi... kan nanti pasti datang pelayannya"


"Kata siapa?"


"Kan biasanya begitu"


"Kalau disini beda"


"Oh begitu ya... aku baru tahu" gumamku memainkan sumpit


"Ehhmmm Hasasi... kamu serius mau nikah sama aku?"


"Iya.. serius lah ngapain main - main"


"Ya kan aku bertanya aja Hasasi"


"Aku serius sama kamu, aku udah mantap sama kamu"


"Baguslah... aku sangat lega"

__ADS_1


"Kamu khawatir banget?" tanya Hasasi serius


"Ya begitulah, walaupun kamu membuktikannya tapi ada rasa takutku Hasasi"


"Hilangkan rasa takutmu sayang"


"Mmm gimana ngilanginnya coba, dulu setiap aku serius ada aja cobaan... ntah itu ada cewe lain lah, ntar itu ini lah... itulah, dan itu membuatku selalu cemas Hasasi"


"Ya aku tahu sayang, maafkan aku ya kalau aku selalu menyakitimu atau bahkan membuatmu takut mencintaiku lebih, ya ini emang salahku Fifiyan" gumam Hasasi menggenggam tanganku kencang


"... Tapi kali ini aku serius sama kamu Fifiyan, aku serius sama kamu... aku pengen menikah denganmu dan punya anak darimu" gumam Hasasi serius


"Apa aku bisa memegang omonganmu sampai kapanpun?"


"Ya... kamu boleh memegang omonganku bahkan seperti perkataanku kemarin, kamu boleh membunuhku apabila aku melanggar janji dan perkataanku" ucap Hasasi serius


"Hmm baiklah Hasasi aku percaya kepadamu dan percaya dengan keseriusanmu"


"Iya sayangku... jadi kamu jangan ragu dan takut lagi ya"


"Iya Hasasi" gumamku senang.


Tidak lama kemudian datang pelayan wanita yang membawakan makanan kami dengan ramah


"Permisi tuan dan nyonya... makanannya sudah datang" ucap pelayan ramah


"Baiklah terimakasih" ucap Hasasi menyerahkan kartunya dan pelayan itu mulai menggesek kartu tersebut


"Terimakasih ... silahkan menikmati" ucap pelayan tersebut mengembalikan kartu Hasasi dan pergi dari hadapan kami


"Selamat makan sayang" gumam Hasasi mulai menyumpit mie dengan sumpit besinya


"Bagaimana?... enak gak?"


"Mmm... enak, makanan yang kamu rekomendasiin selalu enak - enak sih Hasasi"


"Hahaha... ini aja aku baru nyoba, sebenarnya ini restoran tidak mewah hanya restoran biasa"


"Oh ya?... tapi makanan ini sungguh nikmat"


"Iya juga sih, ini pertama kalinya aku makan makanan biasa"


"Aku sih sering, karena aku jarang makan di tempat mewah... paling cuma sama kamu aku makan di tempat mewah" gumamku


"Kenapa?... padahal kan kamu punya uang?"


"Enggak ah... hemat, makanan biasa apalagi pinggiran juga nikmat kok" gumamku


"Oh ya??...Lain kali ajak aku mencobanya"


"Okey... nanti aku ajak kamu" gumamku terus menyeruput mie sampai habis


"Ummm... kenyang" gumam Hasasi meletakkan sumpit di atas mangkok


"Udah kenyang?"


"Ya kenyang banget malah, ternyata mienya sangat banyak"


"Ya emang kalau makanan biasa murah dan biasanya porsinya banyak" gumamku


"Ohh... mmmm aku jadi pengen nyoba makanan biasa yang lainnya"

__ADS_1


"Tenang aja nanti aku ajak kamu Hasasi" gumamku


"Okey siap sayang" gumam Hasasi memqinkan handphonenya sembari menungguku menghabiskan mieku


"Mau pergi sekarang?" tanyaku


"Nanti lah... habiskan dulu, santai aja"


"Ayah ibumu dimana?"


"Lagi membeli sesuatu kata Lisa, jadi kita tunggu aja sebentar"


"Baiklah" gumamku menghabiskan mieku dan meletakkan sumpit di mangkok


"Hasasi kenapa raut wajahmu seperti itu?" gumamku mengusap bibirku dengan tisu


"Ada tahanan keluarga yang kabur"


"Siapa?"


"Kwan Liang dan Mark"


"Serius?" tanyaku kaget


"Iya ... tapi tenang aja sayang" gumam Hasasi tersenyum kepadaku


"Tapi siapa Mark?"


"Mark itu temanku dan Kwan Liang"


"Kenapa dia jadi tahanan keluargamu?"


"Karena dia dulu hampir membunuh ayahku"


"Serius gimana ceritanya?"


"Panjang ceritanya, nanti aku ceritakan"


"Hmmm... iya sayang" desahku meletakkan tisu bekas di atas meja


"Udah selesai?"


"Udah..."


"Kamu mau kemana?"


"Tidak tahu... kita jalan - jalan dulu" gumamku


"Baiklah"


Aku dan Hasasi keluar dari restoran tersebut dan berjalan - jalan menyusuri mall kembali sambil menunggu orang tua Hasasi selesai membeli barang. Saat aku berjalan dengan Hasasi, aku terkejut dengan seorang laki - laki yang sengaja menyenggol bahuku hingga hampir terjatuh


"Aduuhh..." rintihku berusaha menyeimbangkan tubuhku


"Ma... maaf" gumam laki - laki itu dan berusaha pergi dari hadapan kami


"Bentar itu bukannya Mark?" teriak Hasasi dan laki - laki itu berlari di tengah kerumunan orang sedangkan Hasasi berusaha mengejar orang itu


"Hasasi... tung...gu" teriakku tapi Hasasi sudah berlari menjauh dariku


Apa yang terjadi?... kenapa Mark bisa di mall ini?... pasti ada Kwan Liang disini apabila Mark juga kabur bersama Kwan Liang jadi aku harus ekstra waspada dengan keadaan yang ada, aku takut kalau bertemu dengan Kwan Liang kembali

__ADS_1


__ADS_2