
Beberapa hari aku sibuk berlatih dan Hasasi juga sibuk melakukan rapat internal dengan wakilnya dan beberapa sekutu mafianya yang membuatnya terlupa tentang pertanyaannya padaku beberapa hari yang lalu.
Aku setiap hari berlatih dengan kakakku Steven, diajarkan olehnya benar-benar menyiksa dan benar-benar melelahkan, tapi demi menjaga Hasasi aku harus melakukannya. Aku tidak mau Hasasi terluka, aku ingin Hasasi tetap aman berada di pelukanku.
"Terus Fifiyan! Gunakan kekuatanmu!" Teriak Steven terus melawanku.
"Tenagamu kurang kuat Fifiyan!" Protes Steven kesal.
"Sudah aku katakan, kuda-kudamu belum sempurna!" Teriak Steven terus menerus membuatku benar-benar kesal.
Ya ajaran Steven dalam berlatih bertarung benar-benar menyiksa, sudah berulang kali aku jatuh bangun melawan Steven. Walaupun tidak memakai senjata asli tapi latihan ini benar-benar membuatku lelah dan capek.
Di pojok ruangan, aku melihat Hasasi dan Hansol yang terdiam menonton aku yang sedang berlatih. Sesekali aku lihat tatapannya Hasasi seperti tatapan kosong, entah apa yang dipikirkan tapi tatapannya benar-benar kosong.
"Aduuhhh..." rintihku terjatuh ke lantai.
"Eehh Fifiyan!" teriak Hasasi menjatuhkan dirinya di lantai dan berusaha menyeret kakinya mendekatiku.
"Kamu tidak apa-apa istriku?" tanya Hasasi khawatir, yah ini pertama kalinya Hasasi melihatku berlatih karena biasanya dia tidak ingin melihatku dan memilih menatap matahari terbit dan terbenam dari balkon kamar.
"Eeeh mmm tidak apa-apa kok sayang..." gumamku menggendong Hasasi dan mendudukannya di kursi roda.
"Hmmm sayang lain kali jangan lakukan itu lagi ya, bahaya kalau cideramu semakin parah."
"Aku tidak apa kok, aku hanya khawatir melihatmu terjatuh saja."
"Oh hmmm jangan khawatir, namanya juga berlatih sayang."
"Tapi... mmm maaf jika aku merepotkanmu istriku..."
"Tidak apa sayang jangan khawatir, aku yang selalu merepotkanmu jadi maafkan aku ya suamiku..." gumamku tersenyum pelan.
"Tumben kamu kesini Hasasi, ada apa?" tanya Steven serius.
"Aku hanya membawakan makanan untuk Fifiyan saja..." gumam Hasasi memberikan beberapa camilan yang dia bawa.
__ADS_1
"Makanan? Hmmm tidak perlu repot-repot sayang."
"Tidak apa, ini makanlah sayang..." gumam Hasasi menyerahkan dua bungkus keripik kentang kesukaanku dan aku langsung terduduk sambil memakan keripik kentang itu.
"Kamu suka banget ya sama keripik kentang ya cantik?" gumam Hansol terduduk di sampingku.
"Yah, hanya keripik kentang yang selalu ku makan jika uang hasil jerih payahku bekerja paruh waktu kurang disaat aku sangat lapar.."
"Kamu bekerja dimana?" tanya Hansol serius.
"Aku melakukan semua pekerjaan dan lebih banyak bekerja di mall terbesar yang ada di Australia saja sih."
"Pekerjaan apa itu?"
"Hanya menjadi pelayan dan juga terkadang tukang kebersihan di mall itu, yaah hanya aku saja sih wanita yang gendut diantara semuanya."
"Tunggu, wanita gendut? Wanita yang dulu selalu memakai topi hitam dan sepatu yang sudah lusuh?" tanya Angel masuk ke dalam ruang latihan dengan menatapku terkejut.
"Yaah hanya aku yang menggunakan sepatu lusuh dan topi hitam, dulu sejak bekerja paruh waktu banyak orang-orang yang menghina dan bahkan mempermainkanku sampai aku selalu menangis setiap pulang kerja."
"Apa kamu tidak lelah dengan semua itu? Aku dulu mengamatimu terlihat kalau kamu bekerja dengan giat."
"Astaga kasihannya kehidupanmu yang dulu Fifiyan..." gumam Angel menatapku sedih.
"Ya begitulah, tapi sekarang aku sangat bersyukur semenjak bersama Hasasi, kehidupanku benar-benar berubah dan aku sangat menyayanginya apapun yang terjadi..." gumamku menggenggam erat tangan Hasasi dan Hasasi hanya mengusap lembut rambutku.
"Hmmm kalau dulu aku tahu dimana keberadaanmu pastinya aku tidak akan membiarkan adik kecilku menderita seperti itu!" gerutu Steven dingin.
"Yah kau juga sih kelamaan, niat mencari Fifiyan tapi pulang-pulang malah bawa hasil rampokan!" sindir Hansol menatap Steven dingin.
"Ya mana aku tahu kalau adikku ada di Australia! Kalian juga sudah sering ketemu tapi tidak membawanya kepadaku!"
"Ya mana kami tahu kalau wanita gendut itu Fifiyan!" protes Angel kesal.
"Tapi kan pastinya kalian bisa tanya siapa namanya gitu lah!" Protes Steven kesal.
__ADS_1
"Haish sudahlah, hari ini kita harus pergi ke rumah keluarga Stun sebelum pesta ulang tahun Lisa dimulai!" ucap Hasasi dingin.
"Apa pesta itu meriah?" tanyaku pelan.
"Tidak, hanya makan malam bersama saja."
"Oh mmm baiklah..." desahku pelan.
"Ada apa sayang?" tanya Hasasi menatapku serius.
"Mmmm ada sesuatu yang ingin aku katakan padamu Hasasi..."
"Masalah Lisa yang bermain dengan pria lain? Aku sudah tahu sayang."
"Eeeh be...benarkah? Bagaimana kamu bisa tahu?" tanyaku terkejut.
"Pertarungan Fiyoni dan Alan itu karena Alan tidak terima saat tahu Fiyoni pernah melakukan hal yang sama. Lisa di putuskan juga karena Alan tidak terima dan menganggap kalau Lisa sering bermain dengan pria lain padahal hanya mereka berdua yang bermain dengan adikku yang bodoh itu!" gerutu Hasasi kesal. Tangannya benar-benar menggenggam erat tanganku dan dari tatapannya terlihat jelas rasa kecewa yang dirasakan Hasasi.
"Hmmm sayang, itu bukan kesalahan Lisa."
"Bukan kesalahanya? Kalau dia tidak bodoh pastinya dia tidak akan melakukan hal bodoh itu! Aku malu sebagai kakaknya! Aku seumur hidup malah serumah denganmu tidak pernah melakukan apapun kepadamu sebelum mengetahui kalau kamu jodohku!" ucap Hasasi kesal.
"Tapi setelah mengetahuinya kamu seperti harimau yang kelaparan Hasasi!" sindir Steven dingin.
"Karena dia milikku dan aku tidak mau kehilangan milikku! Aku mencintai Fifiyan apapun yang terjadi!" gerutu Hasasi kesal.
"Hmmm yah aku tahu perasaanmu Hasasi, tapi kita belum tahu apakah Lisa akan hamil atau tidak."
"Tapi meskipun begitu, tidak hanya aku tapi ayah dan ibu akan sangat marah jika mengetahui hal itu Fifiyan!" protes Hasasi kesal.
"Hmmm ya aku tahu tapi jangan membuatnya depresi sayang, kasihan nanti bayinya jika dia benar-benar hamil."
"Haish sumpah pusing beneran kepalaku melihat kelakuan bodoh Lisa!" gerutu Hasasi kesal, melihat wajahnya yang sangat marah membuatku segera mencium Hasasi lembut yang membuat genggaman tangannya sedikit melonggar dan langsung memelukku erat.
"Hmmm sayang... kamu harus sabar, walaupun kamu tahu jangan marahin Lisa sekarang. Nasihatlah jika Lisa mengakui semuanya, apa kamu mengerti..." gumam Hasasi pelan.
__ADS_1
"Eeehh mmm baiklah, aku mengikuti ucapanmu Fifiyan..." desah Hasasi pelan.
"Baiklah, aku mandi dulu ya..." gumamku berjalan meninggalkan ruangan latihan, aku tahu Hasasi sangat kesal tapi aku sangat sayang dengan kesehatannya, aku benar-benar menjaga kesehatan Hasasi apalagi operasi itu masih belum bisa dilakukan dalam waktu dekat.