Tuan Muda Tampan

Tuan Muda Tampan
Part II, Episode 24 : Kemarahan Hasasi


__ADS_3

Selama makan Hasasi dan yang lainnya menceritakan tentang mafia atau bahkan menceritakan tentang apapun yang menurut mereka menarik. Setelah aku menyuapi Hasasi dan aku akan makan, Hasasi mengambil sendok yang ku pegang dan langsung menyuapiku. Walaupun aku semenolak apapun Hasasi menatapku dingin dan terus menyuapiku.


"Hasasi... bagaimana dengan mafia musuh?" tanya tuan Stun serius.


"Menurut informasi yang Hasasi terima, ketua mereka sedang terluka parah ayah..." gumam Hasasi sambil terus menyuapiku. Jika membahas masalah mafia mereka semua selalu serius dan membuatku hanya terdiam karena aku tidak mengetahui apapun yang mereka bahas.


"Hhhhoooeeekkk...Hhhhooooeeekkk..." rintih Lisa terus mual-mual di meja makan, Lisa langsung pergi dari ruang makan dan diikuti Nyonya Stun yang membuatku khawatir. Aku berusaha mengikuti tapi Hasasi menggenggam erat tanganku.


"Kamu... disini saja dan habiskan makananmu!" ucap Hasasi dingin.


"Tapi... Lisa..."


"Biarkan!" ucap Hasasi menatapku kesal, aku kembali terduduk di tempat dudukku dan Hasasi kembali menyuapiku.


"Eehhh kenapa Lisa seperti itu? Apa dia sedang sakit? Padahal sebelumnya dia baik-baik saja!" tanya Tuan Stun bingung.


"Dia hamil!" ucap Hasasi dingin.


"Tu...tunggu! Apa! Hamil?" teriak Tuan Stun terkejut.


"Ya, kedua ketua mafia musuh bertarung karena tidak terima Lisa bermain dengan kedua pria itu. Saat tahun baru China, Lisa bersama dengan dua pria itu minum di bar dan yah dia di perkosa dengan dua pria itu!" ucap Hasasi dingin.


"Astaga! Kenapa dia melakukan hal bodoh seperti itu!" protes Tuan Stun kesal.


"Hasasi, Lisa tidak bilang kalau..."


"Dia memang bermain dengan Alan dan Fiyoni tapi saat Alan dan Fiyoni sadar membuat mereka berdua bertarung tidak mau bertanggung jawab! Itulah alasan kenapa Lisa diputuskan, sebenarnya hal itu sudah terjadi jauh-jauh hari setelah kamu bertemu dengan Fiyoni itu!" gerutu Hasasi dingin.


"Oh mmm kalau begitu maafkanlah Lisa dan..."


"Maaf? Tidak ada kata maaf di kamusku!" gerutu Hasasi menatap Lisa yang berjalan kembali ke ruang makan.


"Tapi Hasasi..."


"Seumur hidupku tinggal bersamamu, aku tidak pernah melakukan hal yang merugikanmu karena aku mencintaimu! Walaupun menurutmu Lisa tidak bersalah tapi bagiku dia tetap bersalah Fifiyan!" teriak Hasasi menatapku kesal.


"Sesama wanita aku tahu perasaannya Hasasi, itu bukan kesalahannya dan... PPLLAAAKKKK!!" terdengar suara tamparan yang sangat kuat di pipiku. Aku menatap Hasasi yang menamparku dengan tatapan yang sangat marah, melihat tatapannya yang terlihat marah membuatku tidak terasa meneteskan air mataku.


"Hasasi! Beraninya kau menampar adikku!" Protes Steven kesal.


"Aku kesal! Dia membela..." ucap Hasasi kesal. Aku beranjak dari tempat dudukku dan berlari pergi dari rumah, menangis... hanya itu yang aku lakukan sekarang. Aku tahu Hasasi kesal, aku tahu Lisa juga bersalah tapi kan sebagai seorang kakak seharusnya dia memikirkan janin di kandungan Lisa jika Lisa benar-benar hamil bukannya malah emosi seperti itu.


Aku berlari ke dalam hutan dan menangis di bawah pohon. Hujan yang turun dengan lebatnya benar-benar tidak aku pedulikan, aku tidak menyangka ini kali pertamanya Hasasi menamparku dengan kuat di depan semua orang yang membuatku teringat saat Kwan Liang pernah menamparku saat pesta ulang tahunnya dulu.


"Fifiyan!! Fifiyan!!! Dimana kamu!!" teriak seorang di dalam hutan, aku sebenarnya mendengarnya tapi aku hanya terdiam dan terus menangis.


"Fi...Fifiyan..." ucap seorang pria di bawah guyuran hujan, aku menatap pria itu dan melihat Hasasi yang menjatuhkan dirinya ke tanah dan segera menyeret kakinya ke arahku. Hasasi langsung memelukku erat dan membenamkan wajahnya di bahuku.


"Ma...maafkan aku Fifiyan... aku... aku..."


"Tidak apa kok."


"Tapi Fifiyan..." gumam Hasasi mengusap pipiku yang terasa perih.


"Maaf aku memukulmu keras sampai kamu berdarah seperti ini, aku... aku tidak bisa mengontrol diriku. Gara-gara sakit ini... pikiranku benar-benar terpecah dan aku benar-benar sedih, aku... aku... maafkan aku..." gumam Hasasi menangis kencang.


"Tidak apa kok, aku sudah biasa dì perlakukan seperti ini..."


"Tidak Fifiyan, aku... aku tidak berniat memperlakukanmu seperti ini aku... aku minta maaf padamu... aku tidak sengaja... Fifiyan maafkan aku!" rengek Hasasi menggenggam erat pakaianku.

__ADS_1


"Hmmm..." desahku pelan.


"Fifiyan maafkan aku... maukah kamu memaafkan aku?" tanya Hasasi pelan.


"Hmmm ya Hasasi, aku memaafkanmu kok..." gumamku melepaskan pelukannya dan tersenyum manis kearahnya, Hasasi langsung menciumku dan kembali memelukku erat.


"Terimakasih istriku, terimakasih sudah mau memaafkanku..." gumam Hasasi pelan.


"Tidak masalah, hmmm kenapa kamu hujan-hujanan seperti ini?"


"Aku mencarimu dari tadi, aku khawatir denganmu... saat melihatmu pergi membuatku terkejut dan aku benar-benar merasa bersalah padamu, aku..."


"Sudahlah sayang, tidak perlu dibahas. Mari kita kembali ke sana."


"Tidak mau! Aku mau ke kamar saja."


"Ke kamar? Kenapa?"


"Aku ingin istirahat."


"Hmmm baiklah kalau begitu..." desahku menggendong Hasasi dan mendudukannya di kursi roda kembali.


"Hasasi... kakimu berdarah!" ucapku terkejut.


"Tidak apa sayang."


"Hmmm..." desahku mendorong kursi roda itu pergi kembali ke rumah keluarga Stun. Suasana di rumah itu sudah sunyi tidak ada siapapun dan hanya para pelayan yang membersihkan ruangan.


"Oh sudah selesai ya?" tanyaku pelan.


"Sudah tiga jam yang lalu..." gumam Hasasi pelan, aku menatap jam di dinding dan ternyata sudah menunjukkan pukul satu dini hari.


"Duduk disini dulu ya, aku ambilkan pakaian kering..." gumamku mendudukkan Hasasi di kursi besi dan aku segera mengambil pakaian milik Hasasi serta handuk miliknya.


"Aku ganti pakaianmu ya sayang..."


"Kamu tidak ganti pakaian?"


"Nanti saja, setelah mengganti pakaianmu."


"Kamu gantilah dulu, aku bisa melakukan sendiri nanti kamu demam!" ucap Hasasi pelan.


"Eeehh mmm baiklah..." desahku meletakkan pakaian itu di meja dan segera berganti pakaian. Aku menatap wajahku di cermin dan terlihat bekas tamparan yang berwarna merah dengan sedikit darah di pipiku.


"Hmmm..." desahku kembali meneteskan air mataku.


"Fifiyan... kenapa kamu sangat lama?" teriak Hasasi di luar ruang ganti dengan keras. Aku segera mengusap air mataku dan pergi keluar ruang ganti.


"Fifiyan... kenapa kamu menangis lagi?" tanya Hasasi menatapku sedih.


"Eehh mmm ti..tidak kok, aku tidak menangis..." gumamku pelan, aku segera mengganti pakaian Hasasi dan mengeringkan rambutnya.


"Hmmm apa kamu masih belum memaafkanku istriku?" tanya Hasasi pelan.


"Aku memaafkanmu kok."


"Lalu kenapa kamu menangis?"


"Aku tidak menangis kok..." gumamku pelan, Hasasi mengusap pipiku lembut dan menatapku sedih.

__ADS_1


"Kamu tidak bisa berbohong denganku istriku."


"Hmmm aku memang memaafkanmu kok Hasasi."


"Lalu kenapa kamu kembali menangis" tanya Hasasi pelan.


"Aku... aku hanya sedih saja..." desahku mengambil kotak obat dan mengobati kaki Hasasi.


"Sedih kenapa?"


"Yaah sedih saja sih..."


"Hmmm maafkan aku sayang..." gumam Hasasi mengambil handuk di bahuku dan mengeringkan rambutku dengan handuk yang dipegangnya.


"Ya aku memaafkanmu kok sayang..." gumamku pelan.


"Benarkah? Kalau kamu tidak... Uuhhhuuukkk... Uuuhhuukk..."


"Kamu kenapa batuk berdarah?" tanyaku menatap tangan Hasasi yang mengeluarkan banyak darah.


"Aku... aku tidak apa-apa kok... Uuhhuukk... Uuuhhuukkk.."


"Hmmm..." desahku kembali menggendong Hasasi dan membaringkannya di tempat tidurnya.


"Kalau kamu membutuhkan darahku kamu bilang saja sayang."


"Tidak! Aku tidak butuh!"


"Kamu juga tidak bisa membohongiku Hasasi, aku istrimu dan aku tahu apa yang kamu alami sebenarnya..." gumamku menggoreskan lenganku dengan senjata milik Hasasi yang membuatnya terkejut.


"Fifiyan! Apa yang kamu lakukan aku.... mmmppphh..." aku segera membungkam bibirnya dengan lenganku yang membuatnya terdiam.


"Kalau kamu membutuhkan darahku kamu bilang saja, tidak perlu menyembunyikannya dariku Hasasi. Aku tahu alasan kita di jodohkan karena apa dan aku tahu apa penyakitmu..." gumamku pelan. Hasasi menatapku terkejut dan dia hanya terdiam melepaskan lenganku.


"Ada apa?" tanyaku pelan.


"Dari mana kamu mengetahui penyakitku?" tanya Hasasi serius.


"Aku istrimu, aku menikah denganmu bagaimana aku tidak tahu Hasasi."


"Apa Lisa yang menyebalkan itu menceritakan kepadamu?"


"Tidak, aku tahu sendiri dari surat perjanjian kontrak kita dulu saja cuma aku hanya pura-pura tidak tahu apapun..." gumamku berbohong.


"Oh hmmm..." desah Hasasi menggigit leherku dan kembali meminum darahku.


"Maafkan aku yang berpenyakitan ini istriku..." gumam Hasasi pelan.


"Tidak, kamu tidak bersalah kok sayang."


"Tapi aku..."


"Tenang saja, kamu tidak akan menderita lagi setelah ini sayang..." gumamku mengusap lembut rambut Hasasi dan memejamkan kedua mataku.


"Apa maksudmu?" tanya Hasasi terkejut.


"Sudahlah minum saja, aku mengantuk..." gumamku pelan.


Hasasi benar-benar meminum darahku seperti orang yang sangat kehausan, walaupun sebenarnya menyakitkan tapi aku harus menahannya dan lebih baik aku tidur agar tidak membuatnya khawatir jika melihat wajah kesakitanku ini.

__ADS_1


__ADS_2