Tuan Muda Tampan

Tuan Muda Tampan
Episode 67 : Kekecewaan


__ADS_3

Aku terus memandangi langit - langit rumah dan terus berharap Hasasi tidak terjadi kenapa - napa. aku terus memikirkan Hasasi yang belum ada kabar sama sekali.


"Nona apa yang nona pikirkan?" tanya Rahel memandangku


"Tidak ... tidak ada" desahku


"Masih memikirkan Hasasi?"


"Mmmm ..."


"Udah jangan dipikirkan, tenang saja nona .. nanti pagi aku ajak nona jalan - jalan bagaimana?" ucap Rahel menenangkanku


"Hmmm baiklah ... emangnya kapan mereka pulang?"


"Tidak tahu nona, mungkin nanti siang pulang ... nona tidur lagi saja dahulu"


"Hmmm ... baiklah" ucapku dan kemudian memejamkan mata


Aku berusaha untuk tidak memikirkan hal - hal yang jelek tentang Hasasi, aku percaya Hasasi bakal pulang dengan selamat tanpa terjadi hal yang tidak aku inginkan


Sreeekk ... sreeekk


Aku kaget saat mendengar suara gorden yang sangat keras dan juga cahaya matahari yang sangat menyilaukan mataku dan akupun membuka mataku


"Selamat siang nona" ucap Lily menggeser gorden kamar


"Selamat ... si ...siang? kamu bilang udah siang?" tanyaku kaget


"Iya nona? ... saya tidak berani membangunkan nona yang tidur dengan lelap"


"Rahel kemana?"


"Nona Rahel sedang di taman bunga depan rumah nona" ucap Lily


"Oh baiklah aku akan ke sana" ucapku tergesa - gesa mengambil handuk mandi dan mandi dengan bersih lalu pergi ke taman bunga depan rumah


"Nona mau kemana?" tanya Lily yang sedang merapihkan kamar


"Mau menemui Rahel, katanya dia mau ngajak keluar aku"


"Oh baik nona, nona silahkan sarapan dulu, tadi kan belum sarapan" ucap Lily menyerahkan nampan yang berisi sandwich dan susu hangat

__ADS_1


"Oke baiklah ... terimakasih" ucapku dan makan di meja makan kamar


"Mmmm oh ya Lily, ada kabar tidak dari Hasasi atau Michel?"


"Belum ada nona, cuma saya mendengar kabar, pertarungannya sedang memanas"


"Memanas bagaimana?"


"Saya kurang begitu paham nona"


"Hmmm baiklah terimakasih infonya Lily" ucapku sembari tersenyum lembut


"Sama - sama nona"


"Oh ya aku sudah selesai makan Lily, aku keluar dulu ya" ucapku dan meninggalkan Lily sendirian di kamar


Aku segera turun dari lantai 2 letak kamarku tadi dan disaat aku berjalan menyusuri tangga, aku melihat Rahel memasuki ke dalam rumah dengan membawa beberapa bunga tulip dan  mawar yang indah di tangannya


"Hay Rahel" sapaku lembut


"Hay juga nona, nona sudah bangun ya?"


"Oh ini ... bunga ini buat hiasan"


"Hiasan?"


"Iya nona, Hiasan rumah"


"Boleh aku bantu?" tawarku


"Boleh silahkan Nona"


"Ini bunga - bunganya di rangkai bagaimana?" tanyaku kebingungan


"Ini pot kacanya di beri air yang telah diberi vitamin seperti ini lalu bunga tulip sama bunga mawar dipotong berbeda ukuran lalu dimasukan dan di jadikan satu seperti ini terus jadi deh"ucap Rahel dan tampak sepot bunga cantik di atas meja ruang tamu


"Waaahh ... cantik, aku ingin mencobanya" ucapku dan mulai mencobanya


"Bagaimana?" ucapku memperlihatkan hasil karyaku


"Waaahh ... bagus sekali nona" ucap Rahel dan hal tersebut membuat hatiku senang dan semangat membuat karya pot tersebut

__ADS_1


Kring ... kriiinngg ... krriiingg


Handphone milik Rahel berdering dan aku juga tidak sengaja melihat di layar handphonenya terdapat telepon dari Michel


"Halo kak... ada apa?" tanya Rahel memegang bunga di tangannya


"A ... apa ? ... baiklah ... kami akan segera kesana" ucap Rahel langsung menutup teleponnya


"Ada apa Rahel, wajahmu berubah panik dan sedih" tanyaku dan terus menata bunga


"Emmm ... anu ... itu ... tuan Hasasi ... di ... dia tertembak" ucap Rahel terbata - bata


Praaaaannkkk


Pot bunga yang aku pegangpun jatuh ke lantai, air mataku yang sedari tadi kering pun langsung turun membasahi pipi. Aku tidak menyangka mimpiku tadi pagi akan menjadi kenyataan ... aku tidak tahu aku harus berbuat apa, badan, kaki, dan tangan ku lemas tanpa ada tenaga sama sekali.


"Nona ... nona ... ada apa nona?" tanya Rahel kaget


"Ra ... Rahel ayo sekarang kita ke Hasasi" ucapku terisak


"Emmm nanti saja ... nona ... nona istirahat aja dulu"


"Tidak ... tidak mau ... kalau kamu tidak mau mengantar aku kesana sendiri" teriakku dan berusaha untuk berdiri tapi terus terjatuh karena lemasnya badanku


"Sebentar lagi nona, tenangkan diri nona terlebih dahulu" ucap Rahel menenangkanku


"Enggak ... ini salahmu ini salah michel ini salah keluargamu ... karena permintaan kalian Hasasi harus menderita seperti ini" teriakku dengan kencang dan Rahel langsung diam tanpa kata


"Aku ingin kesana sendiri... lepaskan aku" teriakku dan aku berusaha berlari menuju luar rumah tetapi Rahel mengejarku


"Nona tunggu sebentar" teriak Rahel


"Apa lagi ... apa yang kamu inginkan?" protesku


"Baiklah nona, karena kesalahanku, kakaku dan juga keluargaku aku secara pribadi memohon maaf"


"Maaf ... hanya kata maaf ... kalau Hasasi mati kalian yang bertanggung jawab" teriakku yang sangat kencang


"Baik nona, saya Rahel akan bertanggung jawab ... sekarang nona tenangkan diri dulu,  mari saya antarkan untuk menemui Hasasi" ucap Rahel lembut dan menuntunku memasuki pesawat pribadi mereka


Aku yang sedari tadi emosi, sedih, kesal, kecewa hanya bisa diam di dalam pesawat. aku tidak tahu aku harus apa, apakah Hasasi akan bertahan dan terus hidup atau akan mati, aku tidak tahu ... hatiku sakit hatiku sedih aku tidak tahu aku pasti akan seperti oang yang gila jika kehilangan Hasasi yang satu - satunya aku miliki

__ADS_1


__ADS_2