
Perjalanan yang cukup jauh dan Hasasi yang dari tadi tertidur di bahuku dengan posisi terduduk seperti ini membuat tubuhku kaku, mau bergerak aku masih berfikir berkali - kali karena aku takut membangunkan Hasasi.
"Hoooaaammm...." desah Hasasi merenggangkan tulangnya.
"Udah bangun Hasasi?"
"Ya, sangat capek badanku ini... Nanti pijitin ya..." gumam Hasasi manja
"Ya nanti aku pijitin Hasasi."
"Memang ya istri terbaik..." gumam Hasasi memelukku erat
"Eheeem..."
"Bisa tidak kalian tidak bermesraan di depanku!" gerutu Lisa di depan kami.
"Apa sih, bermesraan sama istri sendiri emang gak boleh?" gerutu Hasasi kesal.
"Ya boleh lah, tapi liat lah depanmu yang jomblo ini kakak!!"
"Salah sendiri di suruh menikah sama Min Xiying gak mau, sama laki - laki pilihan kakak juga gak mau.. Ya udah cari aja sendiri!!"
"Lisa gak jadi dengan Min Xiying?" tanyaku terkejut.
"Enggak, dia menolak!" gumam Hasasi dingin.
"Kakak, kalau aku dengan Min Xiying itu nanti aku harus mengikuti aturan kerajaan yang menyebalkan itu? Iih aku mendengarnya saja seperti berada di dalam penjara!!" gerutu Lisa kesal.
"Lalu kalau dengan laki - laki pilihan kakak kenapa?"
"Apa kakak gila? Pilihan kakak seperti kakak semua tahu dari sifatnya, sikapnya perilakunya. Sangat menyebalkan!!" gerutu Lisa kesal.
"Menyebalkan gimana? Nih Fifiyan saja betah denganku, aku sakitin apapun dia tetap bertahan denganku sampai sekarang."
"Ya kan emang kakak ipar mencintaimu kakak!!"
"Ya sekarang, emang dulu dia mencintaiku? Hal yang tidak mungkin apalagi keluarga kita membantai seluruh keluarganya. " gumam Hasasi mengusap lembut rambutku
"Emang benar yang kakak katakan ya kakak ipar?"
"Ya, dulu tidak ada rasa cinta... Cuma ya butuh beberapa tahun bisa menerima kenyataan dan mencintai Hasasi. Mencintai seseorang butuh waktu Lisa apalagi di jodohkan..." desahku pelan.
"Itulah kenapa aku tidak mau!" protes Lisa kesal
"Kalau tidak mau ya udah cari sendiri lah!!"
"Sudah bertahun - tahun kakak tidak ada yang mau!! Gara - gara kakak tuh semua pada takut!!"
"Kenapa gara - gara aku, aku tidak melakukan apapun kok!!!" gerutu Hasasi kesal.
"Mafia kakak tuh ditakutin semua orang, gimana semua tidak takut mendekatiku!!'
"Kamu aja yang kurang cantik!!" sindir Hasasi.
"KAKAK!!!" protes Lisa kesal.
"Itu kenyataannya!"
"Hasasi husst gak boleh seperti itu, Lisa tuh cantik tahu!" gumamku mencubit pipi Hasasi.
"Aduh sakit tahu!!" protes Hasasi mengusap pipinya.
"Hahaha rasain dimarahin kakak ipar!!" tawa Lisa kencang.
"Hufft istriku gak membela suaminya."
"Hmm sayang jangan kayak anak kecil, di ketawain Han dan Sasa tuh!" gumamku menunjuk kedua anakku yang tertawa.
"Baik - baik, ayah menurut sama ibu!" gumam Hasasi polos
__ADS_1
"Iihh ayah lucu kalau dimarahin sama ibu!!" tawa Sasa keras.
"Haduh anak ayah satu ini suka banget nyindir ayah ya!" gumam Hasasi memangku Sasa di pahanya.
"Ya lah ayah lucu..."
"Hmm ya deh anak ayah. Ya udah kita turun, kita udah sampai." gumam Hasasi turun dari mobil menggendong Sasa sedangkan aku memegang tangan Han turun dari mobil.
Di depan aku melihat taman bermain yang sangat ramai dipenuhi oleh orang - orang yang sedang asik bermain di taman bermain itu
"Waah ramai ayah!" teriak Sasa senang.
"Ya ini hari libur pastinya ramai, jadi kalian berdua jangan sampai terpisah ayah dan ibu ya."
"Baik ayah!" teriak Han dan Sasa bersamaan.
"Baguslah, mari bermain bersama!!!" gumam Hasasi melangkahkan kakinya masuk ke dalam wahana taman bermain itu.
Di taman bermain, kami berlima bermain bersama, semua wahana yang aman untuk Han dan Sasa kami coba, wajah senang dan bahagia terpancarkan dari wajah Han dan Sasa.
"Sudah ah ayah capek!" desah Hasasi pelan.
"Iihh ayah nih gitu aja udah capek!!!" gerutu Sasa kesal.
"Kita makan dulu habis itu main lagi, mau?"
"Mau ayah!" ucap Han dan Sasa bersamaan.
"Hmm baiklah kita makan dulu..." gumam Hasasi menggendong Sasa menuju ke restoran yang ada di dalam taman bermain. Hasasi memesan makanan untuk kami sedangkan kami berempat hanya terduduk di meja yang kosong.
"Kakak ipar..." bisik Lisa pelan.
"Ya Lisa ada apa?"
"Kakak ipar bukannya itu Tuan Kwan Liang ya?" bisik Lisa memberikanku kode.
"Dimana?"
Aku melihat dengan serius dan saat kami saling bertatapan ternyata aku sadar dia adalah Alex Guan, pemilik perusahaan PT. Guan yang dulu pernah dijodohkan ayah tetapi ayah lebih memilih Hasasi untuk menjodohkanku.
"Sayang kamu sedang menatap siapa?" tanya Hasasi menepuk bahuku lembut.
"Alex Guan... Ada disini Hasasi." gumamku menatap Hasasi
"Biarlah, jangan dihiraukan!" desah Hasasi terduduk di depanku untuk menutupi pandanganku dari Alex.
"Kamu cemburu Hasasi?"
"Menurutmu?" gerutu Hasasi kesal.
"Hmmm..." desahku memegang tangan Hasasi lembut.
"Hasasi kamu suamiku, jadi jangan cemburu!"
"Bagaimana aku tidak cemburu, dia musuh cintaku tahu. Aku sudah hidup tanpamu berapa tahun saat kamu berada di genggamannya sampai akhirnya kamu memilihku. Aku kehilanganmu membuatku sakit Fifiyan!!" protes Hasasi kesal
"Iya sayang aku tahu kok, aku juga ingat masalah itu. Walaupun masalah itu pernah terjadi tapi apapun yang terjadi kamu tetap suamiku dan ayah dari anak - anak kita!!" gumamku menenangkan Hasasi.
"Hmmm baiklah, aku cuma takut kehilanganmu Fifiyan. Aku pernah merasakan kehilanganmu itu sangat menyakitkan..." desah Hasasi pelan.
"Iya sayang aku tahu."
"Permisi ini makanan anda..." gumam seorang pelayan meletakkan piring yang berisi makanan di atas meja.
"Terimakasih.." gumamku pelan dan pelayan itu pergi meninggalkan kami.
"Aku ingat masalah itu sayang dan aku juga tidak ingin kehilanganmu Hasasi..." desahku menggenggam tangan Hasasi erat.
"Hmm sama sayang..." desah Hasasi tersenyum manis kearahku.
__ADS_1
"Jangan dipikirkan lagi ya sayang.. " gumanku pelan dan Hasasi hanya mengangguk dengan senyuman manis di bibirnya.
"Ya udah mari makan..." gumamku memakan makananku dan kami berlima makan dengan lahap.
"Permisi Hasasi" gumam seorang pria berdiri di samping Hasasi aku menatap pria tampan yang belum pernah aku lihat.
"Oh Nino duduklah" gumam Hasasi meletakkan alat makannya
"ini temenku yang aku bilang tadi sayang" gumam Hasasi menatapku
"Hai aku Nino" gumam pria itu tersenyum kearahku.
"Oh.. Mmm aku Fifiyan"
"Salam kenal..."
"Nah baiklah bagaimana progresnya?" gumam Hasasi serius.
"Yups seperti dugaan."
"Ohh begitu ya, jadi siapa saja yang ingin libur?"
"Ada beberapa mafia "
"Alasan mereka?"
"Ya alasan mereka hanya ingin berlatih sebelum perang tiba bahkan mafia yang ikut survival tinggal berapa mafia saja."
"Oh benarkah siapa yang ikut campur?"
"Mafia pemberontak yang banyak mengganggu pertandingan survival itu."
"Oh begitu ya, ya sudah kamu bisa melanjutkan observasimu dan juga ajak kerja sama dengan yang lainnya biar pasukan kekuatan kita lebih banyak!!" guamm Hasasi serius.
"Oh baiklah tidak masalah, ini beberapa informasi bisa kamu baca nanti." gumam Nino memberikan gulungan kertas yang tebal.
"Ohh mm ya aku akan baca nanti."
"Baguslah... Kamu ingin makan?"
"Tidak, anak istriku sedang bermain. Oh ya Hasasi beberapa hari lagi akan ada pertemuan kau harus ikut." gumam pria itu beranjak dari tempat duduknya
"Ya aku tahu, tapi gak tau nantinya bagaimana"
"Ya itu terserah kamu. Aku permisi dulu tuan dan nona." desah pria itu berjalan meninggalkan kami.
"Hasasi itu gulungan apa?" gumamku pelan.
"Gulungan mafia saja."
"Kata kamu, kamu akan bertemu dengan seorang teman untuk membahas perusahaan?" tanyaku serius.
"Nanti sayang, itu tadi ketua mafia yang bersekutu dengan mafiaku."
"Ohh.. " desahku pelan dan aku kembali melanjutkan makananku.
"Setelah ini kita pulang ya, ayah akan bertemu dengan seseorang, lain kali kita main lagi..." gumam Hasasi menatap kedua anakku.
"Baik ayah" gumam Han dan Sasa bersamaan.
"Bertemu siapa lagi?"
"Temanku sayang, membahas gulungan itu."
"Oh apakah lama?"
"Tidak kok sayang, hanya mau minta file saja."
"Baiklah Hasasi, habis itu istirahat ya!"
__ADS_1
"Ya sayangku tenang saja!" gumam Hasasi tersenyum kepadaku dan aku membalas senyuman itu.
Aku tidak tahu isi gulungan itu apa, tapi dari percakapan mereka berdua terlihat isinya file penting, walaupun aku ingin tahu tapi aku tidak mau memaksa Hasasi kecuali dia cerita kepadaku.