Tuan Muda Tampan

Tuan Muda Tampan
Episode 179 : Makan Malam


__ADS_3

Aku menatap matahari yang memancarkan sinar orange ke merah - merahan menghiasi langit, angin yang sepoi - sepoi dan air laut yang terlihat sangat tenang membuat suasana hatiku terasa nyaman


"Fifiyan, aku selalu mengecewakanmu emang kamu gak marah?"


"Marah ya? Enggak tahu Hasasi, aku gak pernah bisa marah ke kamu. Semarah - marahnya aku gak tahu kenapa aku gak bisa buat ninggalin kamu..."


"Dan walaupun banyak yang menyuruhku untuk berhenti mencintaimu tapi sejujurnya aku tidak bisa melakukannya" gumamku menatap Hasasi


"Kenapa bisa begitu Fifiyan? Padahal aku sering banget nyakitin hatimu dan sampai sekarang pun masih menyakitimu" desah Hasasi lirih


"Kamu ingin aku dengan laki - laki lain?"


"Tidak lah, kamu kan istriku tahu!!"


"Jadi kenapa kamu bertanya seperti itu?"


"Aku cuma penasaran aja" desah Hasasi


"Mmmm ... Tidak tahu, aku tidak punya alasannya. Ya kalau diingat - ingat lagi emang benar Hasasi, sudah berulang kali kamu menyakitiku tapi gak tahu kenapa aku biasa aja sakit sih sakit tapi ninggalin kamu itu aku gak mampu"


"Kenapa kamu tidak mampu meninggalkan aku? Padahal banyak laki - laki baik di luar sana"


"Ya memang tapi aku masih merasa kau nyaman denganmu Hasasi, aku dari kecil sudah kehilangan keluarga dan hidup di keluarga Liang sejak kecil dan saat aku dewasa aku hidup sendiri. Dan setelah hidup bersamamu aku mengerti rasanya memiliki keluarga"


"Hmmm Fifiyan aku akan terus berusaha untuk melupakan Cindy, aku berjanji padamu"


"Iya Hasasi, semoga saja kamu bisa" gumamku dan Hasasi tersenyum kepadaku dengan senyuman lembut


"Oh ya hampir lupa, Fifiyan ayo kita siap - siap dulu nanti pukul 7 malam kita makan malam di restauran yang ada di bawah"


"Baiklah, lalu untuk lelangnya?"


"Nanti malam lelangnya, habis makan malam" gumam Hasasi menggandeng lembut tanganku


"Mmmm begitu ya, ngomong - ngomong kenapa kita bisa bertemu dengan dua orang itu disini?"


"Aku juga tidak tahu, makanya aku tadi bertanya kepadanya"


"Berarti pasti banyak yang mengincar suatu barang di pelelangan itu?"


"Iya pasti. Pasti mereka berdua mengincar barang yang sama dengan barang yang diinginkan oleh ayah"


"Emang barang apa itu?"


"Mmm aku juga tidak tahu jelas, tapi intinya barang itu emang sangat berharga. Apapun yang diinginkan ayah itu selalu barang yang berharga"


"Kalau kamu tidak tahu itu barang apa lalu bagaimana kamu bisa tahu apa yang kamu beli?"


"Ya aku tahu lah pokok kesukaan ayah itu selalu barang terakhir dan emang barang terakhir itu adalah barang yang sangat langka dan banyak yang mengincarnya" gumam Hasasi membuka pintu kamar


"Oh begitu ya? Hmmm jadi pasti barang itu di rebutkan dengan harga tinggi"


"Iya bisa jadi begitulah, kita siap - siap saja dulu"


"Oke Hasasi" gumamku berjalan ke ruang ganti dan berganti pakaianku dengan gaun warna silver yang berada di dalam lemari


Aku memakai gaun itu dan menatap tubuhku di kaca, gaun berwarna silver ini memiliki panjang rok hanya selutut apalagi di malam hari seperti ini sangat tidak nyaman apalagi warnanya juga sangat mencolok digunakan di malam hari jadi agak tidak terasa nyaman banget buatku, jadi aku memutuskan keluar ruang ganti dan memberitahukan kepada Hasasi


"Aku memakai gaun ini?" gumamku keluar ruang ganti


"Iya, kenapa kamu tidak suka?"


"Tidak - tidak, aku suka aja cuma terlalu mencolok" gumamk


"Tidak kok, nanti banyak yang lebih mencolok dari pada ini dan emang harus memakai pakaian mencolok sih jadi aku mencarikanmu gaun yang tidak begitu mencolok"


"Oh ya? Hmmm baiklah" gumamku berjalan ke depan kaca besar di dekat tempat tidur


"Fifiyan, jangan lupa ya pesanku. Jangan jauh dariku ya"


"Iya sayang, aku tahu. Aku akan selalu bersama denganmu" gumamku sambil menyisir rambutku dan Hasasi berjalan masuk ke ruang ganti

__ADS_1


"Fifiyan, kamu tahu jasku yang aku taruh disini dimana?" teriak Hasasi di dalam ruang ganti


"Jas yang mana?"


"Yang disini"


"Disini mana?"


"Di dalam lemari"


"Bukannya di gantungan ya, kamu yang meletakkannya disitu"


"Gantungan mana?"


"Gantungan disebelah lemari"


"Oh ya lupa, udah ketemu" gumam Hasasi dan aku melanjutkan menyisir rambutku


"Kamu udah selesai?" ucap Hasasi keluar ruang ganti dan berjalan


"Udah kok, aku cuma tinggal menyisir rambutku aja"


"Kenapa gak nyisir rambut di meja rias?"


"Kan kamu lagi ganti baju" gumamku memasukkan sisir rambutku ke dalam tasku dan mengambil lipstikku


"Oh ya sih, tapi sebenernya gak apa - apa loh"


"Gak mau ah, nanti kamu kira aku mengintip kamu lagi" gumamku memakai lipstikku


"Gak usah malu - malu. Ya kan aku suamimu jadi ya tidak masalah lah"


"Kalau kamu pengen aku gak malu, makanya kita nikah" gumamku memasukkan lipstikku dan memakai sepatu hak tinggiku


"Kan kita udah menikah"


"Kamu bisa melupakan Cindy dan kita rayakan pernikahan kita baru aku sebut kita sudah menikah" bisikku di telinga Hasasi


"Eehh tapi kan!!"


"Hmm baiklah" gumam Hasasi mengunci pintu kamar dan mengikutiku dari belakang


"Katanya kamu gak marah tapi bahas itu" gerutu Hasasi di belakangku


"Aku memang gak marah, aku kan jawab seperti yang kamu katakan sebelumnya"


"Hmmm ya udah secepatnya kita menikah, kan aku berjanji setelah urusanku dengan keluarga Guan selesai kita menikah" gumam Hasasi menggandeng tanganku


"Beneran loh ya?"


"Iya sayang, kan aku udah janji"


"Tapi kamu juga harus lupa dengan Cindy loh ya"


"Iya sayang"


"Okey aku akan tagih janjimu Hasasi" gumamku senang dan Hasasi hanya tersenyum manis kepadaku


"Mmmm Hansol gak ikut sekalian?"


"Ikut, dia sudah menunggu di restauran duluan dengan Leo"


"Baiklah"


"Oh ya nantisetelah lelang aku ada rapat sebentar jadi kamu nanti dengan Leo ya"


"Rapat dengan siapa? Hansol?"


"Dengan salah satu petinggi"


"Hansol gak ikut?"

__ADS_1


"Ikut, makanya nanti kamu dengan Leo ya. Jangan sampai kamu kehilangan itu orang"


"Baiklah Hasasi" gumamku menganggukkan kepala


Aku mengikuti langkah Hasasi menuruni tangga dan berjalan ke sebuah restauran yang letaknya masih satu lingkungan di aula tempat pesta malam yang diadakan semalam. Di restauran terlihat banyak sekali orang yang memenuhi tempat duduk sambil menikmati makan malam mereka. Memang benar kata Hasasi banyak diantara para wanita yang sedang makan di restauran sedang memakai gaun dengan warna mencolok


Hasasi menggandengku masuk ke dalam restauran dan duduk di meja Hansol dan Leo. Hansol menatapku dengan tatapan lembut tidak seperti Hansol yang tadi pagi memarahi aku dan membuatku hampir dilempar gelas oleh Hansol


"Fifiyan..." sapa Hansol menatapku


"I.. Iya tuan Hansol" gumamku


"Mmmm maaf ya buat kejadian tadi pagi"


"Tidak apa kok tuan Hansol"


"Aku minta maaf banget kalau aku membuatmu takut, tadi emang kebablasan aku memarahi kamu"


"Iya tidak apa kok Tuan Hansol"


"Hmmm baiklah, aku merasa bersalah aja"


"Emang Tuan Hansol dimarahin sama Hasasi?"


"Mmm kalau itu sih tanyakan kepada Hasasi sendiri" gumam Hansol menatapku


"Jadi?" tanyaku menatap Hasasi yang santai meminum winenya


"Kenapa?"


"Kamu memarahi Tuan Hansol?"


"Sedikit sih"


"Kenapa juga kamu marahin?"


"Ya kan udah bikin kamu kesel jadi aku marahin lah"


"Jangan bilang Tuan Leo juga"


"Ya sama saja"


"Kan Tuan Leo tidak berbuat apa - apa" gumamku kesal


"Udah tidak apa nona Stun, aku juga merasa bersalah"


"Ti... Tidak kok Tuan Hansol dan Tuan Leo tidak bersalah kok" gumamku salah tingkah saat melihat mereka berdua sedih


"Kamu mau makan apa?" tanya Hasasi mengalihkan pembicaraan


"Mmm aku ngikut kamu aja Hasasi"


"Chicken pop mau?"


"Mmm boleh lah, aku ngikut aja"


"Baiklah" gumam Hasasi menyerahkan menu kepada seorang pelayan yang menunggu di sebelah Hasasi


"Sejak kapan ada dia disini?" gummaku biingung


"Dari tadi saat kamu marah - marah"


"Gimana gak marah lah, Tuan Hansol dan Tuan Leo tidak salah kenapa kamu marahin..."


"Hadeeeh mulai lagi, intinya ya sayang aku tidak mau kamu marah dan kesal apalagi tadi kamu marah - marah dan kesel sendiri" gerutu Hasasi meminum winenya


"Hmmm Hasasi ... Hasasi" desahku mengalah. Tiba - tiba datang pelayan yang membawa beberapa makanan kepada kami


"Permisi tuan dan nyonya, silahkan menikmati" gumam pelayan itu menaruh makanan ke atas meja dan langsung pergi meninggalkan meja kami


"Selamat makan" gumam Hasasi memakan makanannya

__ADS_1


"Selamat makan juga" gumamku menikmati makananku juga


Aku dan Hasasi memakan makanan kami dengan lahap sedangkan Hansol dan Leo sedang mendiskusikan sesuatu dengan kode - kode yang tidak aku mengerti, aku masih bingung apa yang akan mereka lakukan dan apa yang akan terjadi. Walaupun aku sendiri secara diam - diam telah merencanakan kemungkinan - kemungkinan yang terjadi tapi aku masih saja terlalu khawatir dengan hal itu


__ADS_2