Tuan Muda Tampan

Tuan Muda Tampan
Episode 143 : Berbelanja Bahan


__ADS_3

Saat aku dan Hasasi sampai di lantai bawah untuk menunggu Lisa datang. Tidak lama kemudian pengurus rumah membukakan pintu dan terlihat Lisa dengan memakai baju berwana merah muda kesukaannya sambil berdiri di depan kami dengan senyum


"Hay kakak ...hay Fifiyan" ucap Lisa senang langsung memeluk kami


"Kamu semakin gendut ya sekarang" gumam Hasasi menatap Lisa


"Ya ... aku makan mulu sih"


"Kamu gak tinggal dengan kakak makan terus?" gumam Hasai mengerutkan dahinya


"Kalian gak serumah?" tanyaku kaget


"Enggak... udah lama"


"La terus Lisa tinggal di mana?" tanyaku menatap Lisa


"Dimarkas kakak"


"Kalau Hasasi?"


"Aku di rumah kita"


"Emang udah selesai semua pembangunan?"


"Udah lama... jadi sudah aku tempati, tinggal menikah denganmu"


"Ku kira belum selesai pembangunannya" gumamku


"Udah selesai kok"


"Kayak gimana sih rumah kita aku penasaran"


"Bagus banget rumah kalian sumpah"


"Oh ya?"


"Masuk aja dulu kita ngobrol di dalam" gumam Hasasi dan kami duduk di sofa ruang keluarga


"Mmm ayah dan ibu dimana kak?" gumam Lisa melihat sekeliling rumah


"Ayah dan ibu sedang ada di ruangan ayah"


"Tumben gak di bawah menyambutku?" gumam Lisa


"Ayah sama ibu lagi ada sesuatu hal bentar lagi mereka turun kok"


"Oohh baiklah... mmm tumben kakak berani mengenalkan kak Fifiyan ke ayah dan ibu"


"Iya lah... kan kakak pengen nikah"


"Ya udah cepet nikah lah kak"


"Kakak nanti aja... yang penting kamu aja dulu yang nikah"


"Gimana mau nikah, calon aja belum ada" gumamku


"Udah ada kok"


"Siapa itu?"


"Seorang pangeran"


"Pangeran?"


"Ya..."


"Pangeran kerajaan mana?" tanya Lisa penasaran

__ADS_1


"Kerajaan Min"


"Ke... kerajaan Min?... kakak jangan aneh - aneh kenapa?" protes Lisa


"Emangnya kenapa?" gumam Hasasi


"Kak... denger ya... dia putra mahkota sedangkan aku anak pengusaha, itu gak logis kak!!!" protes Lisa kesal


"Siapa bilang gak logis?"


"Aku..." protes Lisa


"Itu logis Lisa..."


"Aku gak mau"


"Kenapa gak mau?" tanya Hasasi dingin


"Aku gak mau ya gak mau... ya udah lah aku mau ke kamar aku capek" gumam Lisa kesal langsung pergi ke kamar dan menutup pintu sangat kencang


Melihat kejadian itu Hasasi terlihat sangat marah, wajah Hasasi terlihat bewarna merah dan terlihat sangat kesal. Aku langsung mengusap pundah Hasasi untuk menenangkannya


"Hasasi... jangan marah, nanti aku akan coba memberitahukan Lisa ya..." gumamku lirih


"Hmmm baiklah... kamu emang bisa bikin aku gak bisa marah Fifiyan" gumam Hasasi mencoba tersenyum


"Ya aku tidak mau kamu marah Hasasi... biarkan Lisa istirahat, nanti aku tanya kepada Lisa"


"Iya Fifiyan... kita keluar aja dulu buat masak makan malam"


"Emang nanti enaknya masak apa Hasasi?" gumamku bingung


"Mmm ... ayah itu sukanya nasi goreng spesial kalau ibu sukanya steak "


"Oh baiklah... itu mah gampang" gumamku


"Emang kamu mau mengajakku kemana?"


"Ke swalayan besar aja gimana, kalau diswalayan biasa takut bahannya udah lama"


"Baiklah... ayo kita pergi" gumam Hasasi dan mengajakku keluar rumah menuju ke mobil yang terparkir di depan rumah


Aku dan Hasasi menaiki mobil milik Hasasi dan pergi menuju ke swalayan untuk membeli bahan - bahan untuk makan malam. Awalnya aku kira bakal banyak bahan makanan di rumah tapi ternyata harus beli dulu di pasar


"Mmm Hasasi... emang di rumah tidak ada bahan masakan?" gumamku menatap ke luar jendela


"Ada sih"


"Lalu kenapa tidak pakai bahan yang ada?" gumamku menatap Hasasi


"Tidak apa... aku pengen beli yang masih fresh " gumam Hasasi


"Kenapa gitu harus cari yang fresh" gumamku


"Kalau bahannya fresh pasti enak makanannya"


"Iya benar juga"


"Nanti kamu pakai kartuku ini untuk membayar" gumama Hasasi mengeluarkan kartu kreditnya dari dompet


"Gak perlu... kartu dari kamu masih ada isinya"


"Masih ada?" tanya Hasasi kaget


"Ya... aku gak mau menghabiskannya dalam sekejap"


"Tapi ... kok bisa kamu gak menghabiskannya?"

__ADS_1


"Emangnya kenapa?" tanyaku penasaran


"Ya... dulu Amelia dan Cindy aku kasih kartuku tidak ada setahun udah habis isinya"


"Oh ya??... emang buat beli apa?"


"Aku tidak tahu... mungkin buat belanja barang mewah"


"Yaaahh... namanya wanita itu hal yang wajar" gumamku


"Tapi kok kamu bisa gak menghabiskan isi kartuku yang aku kasihin?"


"Gak mau "


Kenapa gak mau?"


"Karena aku gak tertarik belanja baramg - baramg mewah... dulu aku belikan handphone ini udah itu doang" gumamku menunjukkan handphone merk terbaru milikku


"Bukannya itu harganya hampir 50 juta?"


"Ya..."


"Kenapa kamu beli yang murah"


"Itu mahal tau 50 juta dolar itu" gumamku


"Itu murah lah... yang standart tuh kayak handphoneku yang ini" gumam Hasasi menunjukkan handphonnya


"Bukannya ini 157 juta dolar" gumamku kaget


"Ya... benar sekali"


"Itu mahal banget tau"


"Ya kebutuhan tetep aja dibeli mau gak mau"


"Sama aja mahal" gumamku


"Itu standart ... aplikasi dan isi di handphoneku ini sesuai lah dengan perangkat di dalamnya"


"Mmm iya sih... itu handphone anti air, anti debu, anti maling kan"


"Iya ... kamu mau mengecek pesanku?"


"Mengecek pesan apa?"


"Pesan yang ada di handphoneku" gumam Hasasi


"Tidak perlu"


"Kenapa?"


"Itu privasimu, aku juga gak terlalu tertarik mengetahuinya"


"Hmmm baiklah... kalau kamu pengen tahu tinggal buka aja ya... ini letakkan salah satu jarimu di sensor sidik jari handphoneku" gumam Hasasi menarik tanganku dan menempelkan di sensor handphone


"Eehh... tidak perlu Hasasi" gumamku


"Tidak apa... jadi sekarang kalau kamu mau buka handphoneku buka aja, gak ada yang aku tutup - tutupi ke kamu"


"Hmmm baiklah Hasasi... kamu mau juga?" tanyaku


"Tidak perlu... handphonemu aja gak pernah kamu kunci"


"Kok kamu tahu?... kan kamu belum pernah memegang handphoneku"


"Ya tahulah Fifiyan... ya udah kita turun dulu, kita udah sampai swalayan" gumam Hasasi membuka mobil dan kami berdua turun dari mobil lalu berjalan menuju ke swalayan yang telah penuh lalu lalang masyarakat yangs edang berbelanja

__ADS_1


__ADS_2