
Aku hanya bersandar di dinding dan menunggu Hasasi kembali, aku masih pertama kali datang ke mall ini jadi aku tidak tahu persis kondisi mall ini dan tidak tahu Hasasi pergi kemana jadi lebih aman aku menunggu Hasasi
Beberapa menit menunggu aku melihat Hasasi yang kecapekan berjalan kearahku sambil mengusap keringat di dahinya dan berjalan pincang
"Kamu lari kemana tadi?" gumamku
"Huuuhh... ta... tadi kesana sih, ta... tapi aku kehilangan jejak" gumam Hasasi dengan nafas cepat
"Tadi emang Mark beneran?"
"Ya..."
"Tapi kok dia bisa kesini?"
"Aku tidak tahu, padahal aku baru dapat info tapi dia ternyata udah dimall sini aja" gumam Hasasi sambil mengatur nafas
"Emang masalah Mark denganmu apa sih?"
"Panjang ... nanti di rumah aja lah" gumam Hasasi bersandar di dinding. Aku langsung mengambil tisu di tasku dan mengelap keringatnya yang terus menetes
"Sum...pah capek banget"
"Ya udah istirahat aja dulu" gumamku
"Hmmm baiklah , kita ke mobil duluan aja.. aku kabari dulu si Lisa" desah Hasasi dan Hasasi langsung membuka handphonenya dan mengetik sebuah pesan
"Sini aku bantu" gumamku memapah Hasasi
"Ti... tidak usah, aku bisa sendiri"
"Tidak apa, kamu aja pincang gitu jalannya"
"Ya... tadi aku jatuh"
"Hmmm kok bisa jatuh loh" gumamku memapah Hasasi masuk ke lift untuk keluar dari mall
"Sakit gak?"
"Lumayan"
"Hmmm itulah kalau kamu tidak hati - hati" gumamku
"Ya tadi aku tidak melihat ada tangga jadinya aku terjatuh"
"Hati - hati" gumamku sambil terus memapah Hasasi
"Ya udah sini hati - hati masuk ke mobilnya" gumamku
"Iya..." desah Hasasi menahan kakinya yang sakit
"Masih sakit?"
"Lumayan"
"Mau ke rumah sakit?"
"Tidak perlu, tidak bengkak juga" gumam Hasasi menggerak - gerakkan kakinya dan mobil berjalan meninggalkan mall
"Kita pulang duluan?"
"Ya... nanti orang tuaku pergi ke rumah Daniel duluan"
"Ohhh baiklah"
"Serius nih gak ke rumah sakit?"
"Iya serius"
"Hmm baiklah, sini aku kompres kakimu" gumamku mengambil air hangat yang ada di termos
"Itu air apa?"
"Air hangat"
__ADS_1
"Air hangat?... dari mana?"
"Dari termos itu"
"Sejak kapan disini ada termos?"
"Ya aku gak tahu, ini kan mobilmu Hasasi" gumamku
"Mmm... oh ya lupa ini bekas air panas buat kopi tapi gak jadi bikin" ucap Hasasi cengengesan
"Dasar pikun" gumamku mengompres kaki Hasasi dengan handuk
"Ya kan emang aku udah tua"
"Masih mudalah kamu tuh" gumamku
"Tualah... selisih kita berapa tahun coba"
"Selisih cuma 5 tahunan ... mungkin"
"Mana ada 5 tahun, selisih kita 8 tahunan... umurku 35 tahun tahu"
"Ohmm... mmmm 35 ya... mmm aku kira 40an hahaha" tawaku dan Hasasi mencubit pipiku
"Dasar... emang aku setua itu!!"
"La kamu dibilang muda gak mau ya udah aku bilang tua sekalian" gumamku
"Ya gak ditambah 5 tahun juga...!!!" protes Hasasi
"Iya - iya Hasasi, mmmm gak kerasa juga ya... padahal dulu kamu terlihat ganteng dan muda"
"Emangaku sekarang gak ganteng dan gak keliatan muda?" tanya Hasasi
"Mmm ya masih sih tapi beda dengan yang dulu, kalau sekarang sih udah ada keriputnya"
"Hmmm kita bertemu itu 10 tahun yang lalu tahu... itupun aku masih seger - segernya" gumam Hasasi memainkan handphonenya
"Ya kalau aku dari awal serius sama kamu pasti kita udah punya anak"
"Kamu sih kenapa gak serius sama aku!!"
"Ada pokoknya alasannya" gumam Hasasi menatap keluar jendela mobil
"Aku bisa tebak kok apa alasan kamu" gumamku
"Ya karena aku udah pernah bilang"
"Yups... tapi bener kan?"
"Ya memang, alasanku pertama karena aku masih mencintai Cindy, tapi ada alasanku yang lain"
"Apa?"
"Karena aku masih merasa tidak enak denganmu karena keluargaku telah membantai keluargamu" desah Hasasi lirih
"Ya gak apa - apa Hasasi, itu masa lalu juga... apalagi orang tuaku senang kita tunangan"
"Serius?"
"Ya serius... di mimpiku orang tuaku terlihat sangat senang banget ngelihat anaknya benar - benar tunangan dengan pasangan yang di pilih oleh orang tuannya" gumamku terus mengompres kaki Hasasi
"Tapi kan... keluargaku sudah kejam dengan keluargamu... kenapa orang tuamu masih menerima aku?" tanya Hasasi menatapku
"Gak tahu...tapi mungkin orang tuaku udah percaya kamu kalau kamu bakal menjaga aku dan kamu akan mencintaiku dengan tulus makanya senang aku bisa tunangan denganmu" gumamku
"Iya sayang, aku akan menjagamu dan mencintaimu dengan tulus sebagai permohonan maafku kepada keluargamu"
"Udah Hasasi jangan merasa bersalah" gumamku sambil tersenyum
"Hmmn padahal keluargaku telah menghancurkan hidupmu dari kecil tapi kamu masih mencintaiku dan menerimaku sampai sekarang Fifiyan... biasanya kalau orang lain, dia akan balas dendam"
"Hasasi... aku seperti orang lain punya rasa dendam juga tapi aku pikir lagi kalau aku membalaskan dendamku apa untungnya untukku, aku juga gak ada pelarian selama ini dan aku semenjak bersamamu aku sudah merasa punya keluarga baru juga" gumamku
__ADS_1
"Hmmm Fifiyan, aku senang mendengarnya kalau kamu bisa menganggap aku dan keluargaku adalah keluargamu juga"
"Udah gak perlu dipikirkan Hasasi... kita pikir masa depan kita aja ya" gumamku
"Iya Fifiyan" gumam Hasasi tersenyum
"Mmmm... Jadi kenapa kamu mengejar Mark itu?"
"Nanti di kamar saja aku ceritakan detailnya"
"Penasaran tahu"
"Ya aku tahu tapi di luar seperti ini juga gak enak tahu"
"Hmmm baiklah" gumamku membuka pintu mobil karena kami sudah sampai di rumah
"Ayo aku bantu kamu" gumamku memegang badan Hasasi berjalan menuju ke kamar
"Sakit kah?"
"Lumayan"
"Kalau aku kuat menggendongmu udah aku gendong Hasasi"
"Aku aja yang menggendongmu" gumam Hasasi langsung menggendongku
"Kakimu sakitlah, turunkan aku!!" protesku
"Hehehe iya baiklah" ucap Hasasi langsung menurunkan aku
"Hati - hati, nanti jatuh lagi" gumamku memapah Hasasi menaiki tangga
"Iya bawel" gumam Hasasi menaiki tangga satu persatu
"Bentar, aku bukakan dulu pintunya" gumamku membuka pintu dan memapah Hasasi lagi dan menidurkan Hasasi di kasur
"Udah kamu istirahat aja dulu" gumamku duduk di samping Hasasi
"Fifiyan... makasih ya" gumam Hasasi menatapku yang sedang meminum air
"Yes... no problem" gumamku meletakkan gelas di meja
"Dokter akan segera datang" gumamku
"Kenapa dokter?"
"Jangan protes Hasasi ... kamu tidak mau ke rumah sakit jadi dokter yang aku suruh kemari" protesku
"Hmmm baiklah..." desah Hasasi
"Jadi bagaimana ceritanya" gumamku
"Ceritanya Mark itu ingin membunuh ayahku"
"Kenapa ingin membunuh ayahmu?"
"Karena... dia ingin menaikan perusahaannya ke rangking pertama"
"Emang dia rangking berapa?"
"Dia rangking 56"
"Jadi kenapa harus membunuh ayahmu sedangkan dia di posisi yang jauh dari kamu
"Ya emang... tapi kan dia kalau membunuh ayahku sama aja menghancurkan keseimbangan pasar saham jadi dia bisa melonjak naik ke rangking atas"
"Oh begitu... pintar juga ya"
"Ya memang"
"Jadi detail ceritanya gimana?"
"Hmmm panjang ceritanya" desah Hasasi dan aku bersiap mendengarkan cerita Hasasi
__ADS_1