
Pagi ini aku terbangun dari tidurku setelah kemarin baru tersadar dari masa kritisku, aku melihat Hasasi yang masih tertidur pulas di sampingku. Walaupun banyak alat medis yang mengelilingi tubuhku tapi Hasasi masih berusaha untuk tidur di sebelahku. Aku mengusap pipi Hasasi yang membuatnya membuka mata dan senyuman manis di bibirnya.
"Selamat pagi istriku..." ucap Hasasi pelan.
"Mmm pagi juga."
"Hmmm..." desah Hasasi memelukku erat.
"Ada apa sayang?" tanyaku pelan.
"Aku khawatir, aku takut jika benar-benar kehilanganmu... kenapa kamu memberikan organ dalammu untukku?" ucap Hasasi serius.
"Hanya ingin."
"Hanya ingin? Kamu ingin meninggalkanku apa!" protes Hasasi kesal.
"Tidak, aku hanya takut kehilanganmu, aku hanya tidak ingin kamu menderita dan aku... aku ingin berterimakasih padamu karena kamu telah merawatku dengan baik Hasasi."
"Berterimakasih? Kamu ada untukku di sepanjang hidupku saja itu sudah cukup bagiku, walaupun aku mati dulu aku rela asalkan..."
"Aku tidak rela! Aku tidak ingin kehilanganmu! Aku tidak ingin.. uuhhuuukkk... uuhhuukkk..."
"Haish baik-baik sayang, ya sudah tidak perlu dibahas. Organ dalammu masih beradaptasi jadi jangan banyak bicara sayangku..." gumam Hasasi mengusap rambutku pelan.
"Hmmm..." desahku memejamkan kedua mataku.
"Oh ya makan dulu sayang."
"Nanti saja aku belum lapar."
"Hmmm kamu harus makan tahu!" ucap Hasasi menepuk kedua tangannya dan muncul dua bawahannya yang membawa beberapa makanan dan berjalan pergi.
"Aku suapin ya sayang."
"Aku tidak lapar sayang."
"Haish kamu tidak makan berbulan-bulan sayang."
"Hmmm baiklah, tapi sedikit saja ya..."
"Ya tidak apa, pokok kamu makan..." gumam Hasasi menyuapiku perlahan.
"Mmm Hasasi kenapa kakimu sedikit hitam?" tanyaku pelan.
"Oh ya aku keseringan menyeret kakiku jadi ya seperti ini."
"Apa mengganti organ dalammu tidak menyembuhkan punggungmu?"
"Hmmm tidak lah sayang. Memangnya kenapa?"
__ADS_1
"Mmm tidak kok sayang, aku kira kalau menyembuhkan juga."
"Jangan sedih sayang, aku tidak apa-apa kok asalkan kamu bisa terus hidup. Oh ya lain kali jangan menggendongku lagi ya, aku bisa melakukan apapun sendiri sekarang."
"Tidak mau! Bagaimana kamu melakukannya?"
"Aku seorang pria dan aku harus bisa melakukan apapun walaupun sulit, aku tidak mau merepotkanmu lagi. Kamu sudah membuatku kembali hidup jadi aku tidak mau merepotkanmu."
"Mmm tapi Hasasi..."
"Ini permintaanku sayang, kalau aku bisa berjalan lagi pasti aku juga akan melakukannya seperti yang kamu lakukan istriku..." gumam Hasasi menciumku lembut.
"Tapi... kenapa kamu sudah bisa terduduk Hasasi?" tanyaku serius.
"Mmm ya karena... ya kan aku terapi sayang jadi aku sudah sedikit bisa terduduk."
"Oh begitu ya, syukurlah kalau begitu..." desahku pelan.
"Ada apa sayang?"
"Tidak ada, aku hanya senang mendengarnya...." desahku pelan dan menatap Hasasi serius.
"Oh mmm Hasasi... kenapa Lisa bunuh diri?" tanyaku pelan.
"Bagaimana kamu bisa tahu?"
"Ayah dan ibu yang bercerita saat aku ada di alam sana, padahal aku ingin ikut ayah dan ibu ke surga tapi ternyata aku belum mati dan hanya masih kritis saja."
"Hmmm kamu masih ingat ucapanku ya Hasasi."
"Tentu saja! Aku mendengar bisikanmu saat aku tidur, kamu bilang kalau kamu akan mati bersamaku jika aku mati jadi aku tidak mengijinkan kamu mati meninggalkanku dahulu sebelum aku mati!"
"Oh mmm baiklah, maafkan aku ya sayang..." gumamku pelan dan Hasasi kembali mencium pipiku lembut.
"Tidak apa, sudah ini makanannya habiskan dulu sayang." Hasasi kembali menyuapiku sambil terus tersenyum kearahku.
"Oh ya Hasasi, bagaimana yang sebenarnya Lisa pikirkan mengakhiri nyawanya seperti itu?" tanyaku serius.
"Panjang ceritanya."
"Ceritakan padaku Hasasi!"
"Hmmm tapi pelan-pelan saja ya."
"Kenapa?"
"Ya kamu belum sembuh seutuhnya jadi aku akan menceritakannya perlahan-lahan ya."
"Hmmm baiklah, jadi bagaimana ceritanya?" tanyaku pelan.
__ADS_1
"Ceritanya ya... hmmmm... " desah Hasasi menatapku dengan berkaca-kaca.
"Yaah awalnya Lisa biasa saja sebenarnya, setiap hari ayah dan ibu mengawasinya bahkan mengurusnya dengan baik. Tapi saat ayah dan ibu tahu aku akan operasi membuat ayah dan ibu sibuk mengurusiku. Yaah saat aku menanyakan dimana kamu, ayah dan ibu bahkan semuanya menutupinya dariku malah mengatakan sedang dirumah menemani Han dan Sasa..." gumam Hasasi meletakkan piringnya di meja.
"...Ya selama berbulan-bulan aku di rawat oleh ayah dan ibu, saat itu Lisa datang menjengukku bersama Han dan Sasa, aku bertanya kepada Sasa dimana kamu dia dengan jujur menjawab kalau kamu tidak pernah pulang setelah mengantarkanku yang membuatku mengerti kalau selama ini semua orang berbohong..." desah Hasasi menggenggam erat tanganku.
"Hmmm lalu?"
"Ya karena aku marah luar biasa akhirnya Steven mengatakan kalau sebenarnya organmu lah yang menjadi pengganti organku, dan..." desah Hasasi meneteskan air matanya.
"Dan Hasasi tanpa berpikir panjang melepaskan infusnya dan berlari mengelilingi rumah sakit demi mencarimu. Yaah kamu tahu apa yang terjadi selanjutnya Fifiyan!" ucap Steven masuk ke dalam kamar perawatanku.
"Oh mmm lalu?"
"Ya Hasasi menemukanmu dan tidak mau makan atau tidur bahkan memilih untuk menangis terus menerus dan disaksikan keluarga Stun, di bujuk apapun Hasasi dia sama sekali tidak mau melepaskan pelukannya yang membuat kami bingung mau membujuknya seperti apa lagi..." gumam Steven pelan, aku menatap Hasasi kembali memelukku dan terus menangis di pelukanku.
"Lalu bagaimana Lisa bisa bunuh diri?" tanyaku serius.
"Ya melihat Hasasi terus menerus menangis ditambah tidak ada yang memperdulikan Lisa membuat Lisa depresi apalagi kehamilannya sudah tua, dia takut kalau dia di buang dari keluarga Stun..."
"Lalu?"
"Ya kami tidak tau bagaimana kejadiannya tapi kami menemukannya di kamar sudah bersimbah darah dan anaknya ada di tempat tidur dengan banyak darah, seperti baru saja dilahirkan!!" jelas Steven serius.
"Tapi di sebelah anaknya, aku melihat sebuah kertas yang bertuliskan agar organ dalamnya untukmu."
"Oh mmm begitu ya..." desahku pelan. Mendengar perkataan Steven membuatku bingung sekaligus sedih, tidak ada yang bisa menjadikan jawaban kenapa Lisa bisa melakukan hal itu.
"Ya sudah jangan dipikirkan lagi. Yang penting istirahatlah adikku..." gumam Steven berjalan pergi.
Aku mengusap lembut rambut Hasasi dan menghembuskan nafasku pelan, yah kehilangan adik kandungnya tanpa di duga pasti membuatnya sangat sedih.
"Sayang... a...aku... aku tidak pantas menjadi kakak, aku..." rengek Hasasi pelan.
"Hasasi, jangan salahkan dirimu... ini bukan salahmu."
"Tapi Fifiyan..."
"Ayah dan ibu bilang kalau Lisa telah bahagia di surga, ayah bilang kalau Lisa menitip salam padamu dan minta maaf padamu."
"Hmmm... tapi..."
"Sekarang kita berpikir bagaimana cara kita membalaskan dendam Hasasi, kita harus balaskan dendam kematian Lisa!" ucapku serius.
"Hmmm ya benar... aku harus membalaskan dendam ini, aku harus membalaskan dendam ini!" ucap Hasasi serius.
"Ya benar, sudahlah jangan menangis sayang. Ada aku... aku akan membantumu..." gumamku mengusap air mata Hasasi pelan.
"Ya benar katamu Fifiyan, terimakasih sayangku!" ucap Hasasi memelukku senang.
__ADS_1
"Iya sayangku.." desahku pelan.
Ya membalas dendam? Aku tidak tahu apakah aku akan bisa membantu Hasasi atau tidak, apalagi dengan kondisinya yang belum bisa berdiri membuatku tidak yakin kami bisa membalaskan dendam ini.