
Pagi berganti malam, aku yang dari tadi duduk di sofa ruang tamu tanpa bergerak sedikitpun dan hanya menggerakkan jari tanganku yang sedang menyentuh layar handphone. Aku tidak tahu aku harus ngapain dan berbuat apa, Alex yang dari tadi menghilang dari pandanganku belum juga kembali, Pembantu Alex hanya memandangku dengan tatapan aneh dan penasaran, mungkin dikirannya aku siapanya Alex gitu ya?
Bosan menghantuiku selama berjam - jam lamanya. Sampai akhirnya, Alex dan wanita itu turun dari tangga menemuiku yang sedari tadi duduk tanpa kejelasan yang pasti. Mata wanita itu merah dan sembab yang sangat parah, mungkin dia menangis seharian kali jadi wajahnya bengkak kayak orang yg gagal operasi plastik gitu. Saat mereka berada di depanku, aku berusaha berlagak agak sombong di depan mereka berdua.
"Mmm jadi...dia siapa?" tanyaku cuek
"Di... dia pa...pacar aku... Wanda"
"Oh begitu... jadi mau kamu bagaimana?"
"Mmmm ya..."
"Ya gimana?" nadaku agak naik
"Ja... jangan marah - marah dong" ucap Alex menenangkanku
"Ya marah lah, aku istrimu... kenapa kamu selingkuhin aku dengan wanita kampung seperti ini!!" protesku
Ya Tuhan... sandiwara macam apa ini...
"Ya dia kan pacar aku"
"Mau pacar, mau budak, mau pembantu, aku tidak peduli... aku Nyonya Guan disini" protesku berakting marah besar
"Tapi kan aku baru saja bertemu denganmu dan dengan dia sudah lama" gumam Alex
"Oh macam tu... ya udah aku pergi dari rumah ini" protesku dan berjalan keluar rumah
"Fifiyan... tunggu jangan pergi" ucap Alex memegang tanganku
"Apa maumu? ... aku Nyonya Guan. INGAT!!!"
"Ya...ya aku tau... ta... tapi bolehkan dia tidur disini" ucap Alex memohon
"Enggak"
"Ayolah sayang"
"Enggak"
"Please... "
"Baiklah.. tapi wanita ini jadi pembantuku pribadi... Bagaimana?" tantangku
"A... apa?... pembantu pribadimu?" protes Wanita itu dengan marah
"Mau tidak, kalau tidak ya udah... aku akan pergi"
"Ba... baiklah, dia akan jadi pembamtu pribadimu" ucap Alex pasrah
"JAHAT KAMU YA!!" protes wanita itu
"Huuussttt... jangan protes" bisik Alex dan wanita itu diam tanpa kata
"Baiklah... dimana kamarku, aku ingin istirahat" gumamku sambil merenggangkan badanku
__ADS_1
"Itu dilantai 2 sebelah sana"
"Baiklah... Wanda temani aku sampai ke depan kamar"
"Gak mau"
"Gak mau ya udah... pergi saja dari rumah ini!!" ucapku keras sambil berjalan meninggalkan mereka berdua
"Tu... tunggu, baiklah aku temani kamu" ucap wanita itu dengan lirih dan berjalan mengikuti aku
Di perjalanan Wanda hanya diam tanpa kata mengikuti langkah kakiku, rasa kasihanku muncul saat dia hanya menunduk dan menahan air matanya
"Kenapa kamu menangis?" ucapku dingin
"Ti... tidak, aku tidak menangis" ucap wanda lirih
"Kamu tidak terima?"
"Ti... tidak, aku menerimanya kok"
"Baguslah, aku masih berbaik hati menerimamu dan memperbolehkan kamu tidur rumah ini"
"Te... terimakasih" gumamnya lirih
"Baiklah, cukup sampai sini saja... kamu boleh istirahat" ucapku membuka pintu kamar saat kami sampai di depan kamarku
"Terimakasih nyonya" ucap Wanda dan berjalan dengan cepat meninggalkanku
Setelah Wanda pergi aku segera menutup pintu dan merebahkan badanku dengan posisi ternyaman. Tiba - tiba kalungku bergetar , dengan refleks tanganku memegang liontin kalung itu dan tidak disangka muncul cahaya kecil yang berbentuk seperti layar kecil di depanku.
"Siapa?" teriakku kaget
"Disini lah" gumam seseorang itu dan aku melihat bayangan wajah Hasasi di depan ku
"Kamu ada disini?" ucapku kaget
"Iya lah... canggih kan"
"Ya... jadi kalung ini buat apa aja?"
"Kalung ini bisa buat memata - matai kamu, berkomunikasi denganmu, dan bisa melacak keberadaanmu"
"Hei kayak hewan piharaan aja" gumamku kesal
"Bukan lah... Kamu kan wanitaku, jadi dimanapun dan apapun kondisimu aku pasti tahu"
"Ya... ya... jadi ada apa?"
"Tidak ada...cuma kangen kamu"
"Pppfftt"
"Malah di ketawain" protes Hasasi
"Kamu udah nyakitin aku masih bisa bilang kangen aku" gumamku kesal
__ADS_1
"Maafkan aku... Fifiyan"
"Maaf... maaf, emang enak ya bilang maaf" gumamku kesal
"Ya maafkan aku ... serius, aku benar - benar ingin menikahimu"
"Ya... ya, terserah kamu mau bilang apa"
"Aku seriusan sayang"
"Bodo... amat"
"Sayang"
"Bodo amat"
"Jangan gitulah... aku serius sama kamu..."
"Baiklah... oh ya kenapa kamu menyuruhku melakukan permainan ini?" gumamku serius
"Yang pertama, aku ingin merebutmu... yang kedua, aku masih ada dendam dengan Alex... yang ketiga, ... kamu tau wanita yang sedang dengan Alex itu?" gumam Hasasi
"Iya... kenapa?"
"Dia itu wanita yang menyebabkan Lisa harus di amputasi dulu, jadi aku masih ada dendam dengan wanita itu"
"Serius?"
"Ya... dia disitu tuh meminta perlindungan Alex dari panasnya senjataku"
"Oh begitu... Jadi ya... kamu pengennya aku ngelakuin seperti apa?"
"Ya.. kamu sudah melakukan yang seperti aku harapkan, jadi terus lakukan ya cantik"
"Gak mau ah" gumamku
"Huhuhu... jahat" ucap Hasasi akting menangis
"Biarin"
"Jahaaaat... huhuhu"
"Hmmm, baik - baik... udah jangan menangis"
"Hahaha... baiklah, selamat menikmati permainan cantik"
"Dasar rubah licik" gumamku
"Hei... apa kamu bilang?"
"Tidak... tidak ada" ucapku memalingkan muka
"Baiklah... aku ada rapat hari ini... hati - hati ya, jaga hatimu ya cantik... Love you" ucap Hasasi sambil tersenyum dan layar di depankupun langsung mati
Ya meskipun sedikit membingungkan tapi intinya aku tahu apa yang diinginkan Hasasi jadi ya udahlah nikmati aja drama ini, anggap saja ini sedang melakukan syuting drama korea.
__ADS_1
Karena hari ini sangat capek akhirnya akupun memejamkan mataku dan terlelap di dalam tidurku. Aku masih penasaran dengan wasiat ayah yang masih tersimpan rapi di rumah, jadi aku tidak sabar untuk pergi ke Jepang