
Walaupun aku tahu Hasasi sudah mempersiapkan semuanya tapi rasa khawatir masih kepadaku, aku akan bertemu dengan Fiyoni dan menjelaskan kalau aku benar-benar baik-baik saja tapi untuk saat ini aku tidak tahu seperti apa kakak tiriku itu apalagi sudah berpuluh tahun aku tidak bertemu dengannya.
Fiyoni sangat menyayangiku bahkan menganggapku sebagai adiknya sendiri, apapun yang aku inginkan Fiyoni selalu memberikannya berbeda dengan Kwan Liang yang sangat pelit kepadaku.Aku teringat saat Fiyoni mengajakku bermain di taman bermain saat aku masih kecil sebelum Fiyoni menghilang.Di depan bianglala Fiyoni tersenyum kearahku yang membuatku bingung.
"Ada apa kak?" tanyaku pelan.
"Itu ... Kamu berani naik gak?"gumam Fiyoni menunjuk bianglala di depan kami.
"Aku berani kalau ada kakak."
"Kalau begitu ayo kita naik!" Gumam Fiyoni menggandeng kedua tanganku dan masuk ke dalam kereta bilalang itu.
"Kamu suka Fifiyan?"
"Ya aku suka kak, nanti kapan-kapan main lagi ya?"
"Hmmm ya, semoga aku bisa bertemu denganmu lagi."
"Kak Fiyoni katakan apa tadi?" tanyaku menatap Fiyoni.
"Eeee, ti ... Tidak ada kok. Nanti kita main lagi adikku."
"Kakak kenapa terlihat sedih?"
"Tidak kok, kakak tidak sedih kok. Mungkin karena kecapekan jadi terlihat sedih."
"Apa kakak capek? Kakak mau pulang?"
"Tidak, nanti saja. Selama Fifiyan senang aku juga ikut senang adikku."
"Kakak jangan tinggalkan Fifiyan ya ..." gumamku menetapkan Fiyoni.
"Eee ... Jangan banyak bergerak nanti jatuh!" ucap Fiyoni terkejut.
"Walaupun aku jatuh dengan kak Fiyoni aku tidak apa-apa kok kak .." tawaku polos
"Haish kamu ini manja ya. Oh ya Fifiyan, aku punya sesuatu untukmu." gumam Fiyoni memberikanku sebuah gelang yang memiliki bentuk love.
"Gelang?" tanyaku pelan.
"Ya kakak juga pakai jadi jangan dihilangkan ya!" gumam Fiyoni tersenyum manis.
"Baik kakak .."
"Lihat Fifiyan, mataharinya !!" Teriak Fiyoni menunjuk kearah matahari terbenam di depan kami.
"Waaah ..."
"Baguskan pemandangannya? Fifiyan suka?"
"Bagus ... Aku suka banget kakak!" teriakku memegang erat tangan Fiyoni. Aku menatap matahari di depanku, aku sangat suka dengan matahari terbenam bahkan sampai sekarang aku lebih suka memandangi matahari terbenam apalagi di pantai dan di tempat ketinggian.
"Fifiyan, mari kita pulang. Hari sudah mulai malam ..." Gumam Fiyoni menggendong tubuh kecilku keluar dari kereta bianglala dan berjalan masuk ke dalam mobil.
Di dalam mobil aku sebenarnya sudah merasa aneh melihat wajah sedih dan dingin Fiyoni berbeda dengan wajahnya biasanya, sebelum keluarpun Fiyoni dimarahi oleh tuan Liang entah perkara apa aku tidak mengerti saat itu, wajah yang kesal sangat terlihat jelas di wajahnya saat itu.
Saat kami sampai di depan rumah keluarga Liang yang besar dan megah, Fiyoni turun mendahuluiku dan membantuku turun dari mobil. Sebelum aku masuk ke dalam rumah, Fiyoni menggenggam erat tanganku.
"Ayo kakak kita masuk .."
"Mmm .." desah Fiyoni memukul belakang kepalaku dan membuat tubuhku lemas, walaupun mataku berkunang - kunang tapi aku masih mendengar perkataan Fiyoni kepadaku.
"Maaf Fifiyan, kakak berjanji akan membawamu kembali suatu hari nanti istriku sayang ..." bisik Fiyoni pelan.
Aku hanya mengingat saat itu saja, aku sama sekali tidak mengingatnya, bahkan kenangan dengan Fiyoni selain di taman bermain aku tidak mengingatnya. Pukulan keras Fiyoni membuatku gagar otak ringan, walaupun begitu aku masih ingat memori dengan keluarga besarku namun untuk kenangan dengan Fiyoni aku sama sekali tidak mengingatnya.
Aku menatap gelang dari Fiyoni bahkan masih aku pakai sampai sekarang, aku dulu tidak mengerti apa maksudnya istriku sayang, tapi saat ini aku mengerti arti perkataannya "Semoga kita bertemu lagi " dan arti perkataannya "untuk membawaku kembali suatu saat nanti". Dia mencintaiku lebih dari seorang adik dan juga dia ingin benar-benar merebutku kembali entah dari Kwan Liang atau dari Hasasi ataupun dari pria lainnya, tujuan dia benar-benar ingin menjadikan aku istrinya kemudian hari dan aku baru menyadarinya sekarang.
"Istriku, apa yang kamu pikirkan? " bisik Hasasi menatapku serius.
"Eee ... Mmm tidak ada kok Hasasi." gumamku mencoba tersenyum. Aku tidak ingin mengungkapkannya kepada Hasasi masalah di taman bermain itu, aku tidak ingin Hasasi khawatir.
"Kamu tidak bisa membohongiku istriku. Katakan sejujurnya kepadaku!" gerutu Hasasi dingin.
"Aku tidak ..."
__ADS_1
"Kamu tidak bisa membohongiku Fifiyan, kamu istriku dan aku suamimu!" protes Hasasi menatapku dingin. "Astaga dia jadi sangat sensitif ya..." desahku dalam hati.
"Eee ... Mmmm baiklah aku katakan suamiku, aku ingat saat sebelum Fiyoni menghilang dan aku masih kecil dulu Fiyoni mengajakku ke taman bermain, Fiyoni pernah mengatakan semoga kita bertemu kembali dan dia pernah bilang akan membawaku kembali suatu saat nanti istriku sayang.. Ya dia bilang seperti itu." gumamku pelan.
"Oh benarkah?"
"Ya Hasasi, aku berkata yang sesungguhnya dan hanya itu yang aku ingat dari kenanganku dengan Fiyoni selebihnya aku tidak ingat."
"Kenapa tidak ingat?"
"Sebelum dia mengatakan itu dan menghilang, Fiyoni memukul belakang kepalaku Hasasi dan membuatku gagar otak ringan sehingga aku hanya mengingat beberapa kenangan saja. Mmm ya walaupun Fiyoni memukul kepalaku tapi aku masih dengar apa yang dia ucapkan kepadaku." gumamku pelan.
"Hmmm, tidak apa sayang. Jangan khawatir."
"Aku tidak mengkhawatirkanku Hasasi tapi aku mengkhawatirkanmu dan kedua anak kita!"
"Ya aku tahu istriku, aku akan berusaha maksimal istriku sayang."
"Hmmm Hasasi, kalau aku sendiri yang berbicara dengan Fiyoni bagaimana?" gumamku pelan.
"Tidak boleh! Nanti dia membawamu!"
"Tapi dia pasti akan mengikuti perkataanku Hasasi!"
"Ya kalau dulu pasti mengikuti perkataanmu tapi untuk sekarang ... Dia tidak akan mungkin mengikuti perkataanmu Fifiyan, kita tidak tahu bagaimana sifat Fiyoni saat ini!"
"Ohh mmm benar juga."
"Masih ada waktu istriku, jangan buru-buru ya.."
"Hmmm ya Hasasi aku tahu, aku hanya tidak ingin ada yang terluka suamiku."
"Aku juga sama istriku, udah jangan dipikrikan. Mari kita makan istriku.." gumam Hasasi menggandeng tanganku erat.
"Han dan Sasa dimana?"
"Mereka sudah menunggu disana kok..." gumam Hasasi terus berjalan menuju ke dapur. Kami saat ini berada di rumah tuan dan nyonya Stun karena kedua anakku sedang tidak sekolah jadi kedua anakku ingin bermain di rumah kakek dan neneknya.
Di dapur aku melihat tuan Stun, Nyonya Stun, Lisa dan kedua anakku sedang memakan makanan mereka dengan lahap.
"Oh kalian berdua, mari makan.." ucap Nyonya Stun tersenyum.
"Oh ya Hasasi, bagaimana?" tanya tuan Stun pelan.
" Sudah aku bereskan ayah, ayah jangan khawatir"
"Ya ayah hanya ingin memastikan saja, jangan lupakan apa pesan ayah!"
"Ya Steven juga sudah setuju kok" gumam Hasasi santai.
"Oh baguslah...Aku hanya sedikit khawatir dengan kalian semua."
"Aku sudah tahu siapa kok ayah, ya walaupun identitasnya belum ketahuan siapa sih..." gumam Hasasi pelan.
"Ya itulah yang aku khawatirkan." gumam tuan Stun meletakkan alat makannya.
"Kakak dan ayah ngomongin tentang apa sih?" tanya Lisa bingung.
"Kamu anak kecil tidak boleh tahu!" gumam Tuan Stun dingin.
"Kan aku juga ingin tahu ayah !!"
"Kalau kamu tahu apa yang ingin kamu lakukan?" tanya Tuan Stun dingin.
"Aku... Ya... Mmmm ... Tunggu bentar ayah kenapa jadi sinis sama aku!!" protes Lisa kesal.
"Ayah tidak sinis, ayah dan ibu sudah tua bahkan kakakmu saja sudah memiliki istri dan dua orang anak lalu kapan kamu menikah?" gerutu Tuan Stun dingin.
"Ayah selalu begitu loh! Oh ya ayah aku punya kenalan cowok loh..." gumam Lisa mengeluarkan handphonenya .
"Cowok? Siapa namanya?" tanya Hasasi penasaran.
"Iihh apa sih kakak kepo!" gerutu Lisa menyerahkan handphonenya kepada tuan Stun.
"Ini? Aku belum pernah melihatnya, kamu pernah sayang?" tanya Tuan Stun menatap nyonya Stun.
__ADS_1
"Tidak, emang siapa namanya?" tanya Nyonya Stun bingung.
"Nama aslinya dia tidak mau memberitahukannya hanya dia menyuruhku memanggilnya tuan muda."
"Tuan muda? Mana coba lihat!" gumam Hasasi serius, tuan Stun memberikan handphonenya kepada Hasasi.
"Aku juga belum pernah melihatnya, pasti dia jelek!" sindir Hasasi dingin
"Tidak, dia sangat tampan kak. Bermata sedikit merah dan berambut pirang keabu-abuan."
"Emang kamu sudah pernah bertemu dengannya?" tanya Hasasi penasaran.
"Pernah beberapa kali kami bertemu, dia sangat tampan sumpah. Apalagi dia memiliki cekungan pipi dan tahi lalat kecil di samping mata kanannya cuma dia tidak mau menyebutkan namanya.." jelas Lisa senang. Mendengar pernyataaan Lisa membuatku terkejut.
"Tunggu, Hasasi mau lihat!!" gumamku serius, Hasasi menunjukkan foto itu dan aku sangat terkejut.
"Dia... Fiyoni Khun!!!" teriakku kencang dan seluruh keluarga Stun terkejut.
"Apa kamu yakin Fifiyan?" tanya Hasasi serius.
"Ya, pria yang sama dengan diingatanku. Mata merahnya dan rambut keabu-abuan, aku yakin dia Fiyoni!"
"Dari mana kamu kenal dia Lisa?" tanya tuan Stun serius.
"Eee... Mmm di sebuah pesta, aku menceritakan semuanya bahkan tentang kakak ipar juga."
"APA?" teriak tuan Stun dan Hasasi terkejut.
"Kenapa kamu menceritakan tentang keluarga Stun?" protes tuan Stun kesal.
"Ya dia terlihat pria baik ayah jadi aku ... Aku..."
"Dasar adik bodoh, pria itu mengincar Fifiyan. Kalau pria itu menculik istriku, aku akan benar-benar mengusirmu!!!" teriak Hasasi kesal.
"Aku tidak tahu kakak, maaf kakak..." desah Lisa pelan.
"KAMU!!!!" teriak Hasasi mengangkat tangan kanannya tinggi, melihat itu aku langsung menahan tangan Hasasi.
"Sudahlah Hasasi, jangan terlalu keras dengan Lisa." desahku pelan.
"Ta ... Tapi... Hmmm..." desah Hasasi mengalah, aku melihat kedua anakku yang sangat ketakutan saat melihat pertama kalinya Hasasi marah. Aku menenangkan mereka berdua dan menyuruhnya tidur.
"Han... Sasa kalian tidur ya.." gumamku pelan
"Ibu takut... Ayah..."
"Tidak apa, ayah capek... Jadi kalian tidur ya..." gumamku mencium pipi kedua anakku dan kedua anakku berjalan meninggalkan dapur.
"Eee... Lisa kapan dia akan mengajak bertemu lagi?" tanyaku pelan.
"Mmm besok sebelum matahari tenggelam di taman bermain kota, dia bilang dia suka matahari tenggelam karena mengingatkan sesuatu tentang seseorang." gumam Lisa pelan.
"Ohhh baiklah, besok aku yang akan temui dia.." gumamku serius.
"Fifiyan!!" teriak Hasasi terkejut.
"Tenang saja, aku hanya akan menanyakan sesuatu kepada Fiyoni, Hasasi.."
"Tidak, nanti kamu kalau dibawa bagaimana?" tanya Hasasi khawatir.
"Ya kan kamu bersembunyi di sana Hasasi, kalau aku akan dibawa kamu bisa menghalanginya."
"Tapi kalau dia menyanderamu bagaimana?"
"Aku tahu apa yang aku lakukan, aku yakin dia tidak akan membawa senjata apapun nantinya apalagi yang dia pikir yang datang adalah Lisa..." gumamku pelan.
"Oh mmm baiklah, nanti aku akan mengaturnya. Tapi apa yang ingin kamu tanyakan kepadanya?" tanya Hasasi penasaran.
"Hanya beberapa pertanyaan kok Hasasi, tenang saja." gumamku tersenyum kearah Hasasi.
"Hmmm baiklah, kalau sampai dia membawamu. Aku akan merebutmu kembali istriku!!" gerutu Hasasi kesal.
"Ya tenang saja suamiku."
"Hmm baiklah, kalian makanlah lagi, untuk rencananya kalian bisa pikirkan setelah makan.. " gumam tuan Stun pelan.
__ADS_1
"Baik ayah!" gumamku dan Hasasi bersamaan.
Aku tidak tahu apakah Fiyoni benar-benar akan mengatakannya kepadaku jawaban yang aku inginkan, tapi aku benar-benar ingin tahu tujuan dia pergi dan tujuan dia ingin menikahiku padahal aku hanya menganggapnya seorang kakak dan tidak lebih.