
"Fifiyan bangun, kita naik pesawat dulu" gumam Hasasi membangunkanku
"Eeh kok cepet banget, katanya agak la... ma hoooaaaammm" gumamku menguap
"Ya kan kita udah lama di jalan, kamu juga udah dari tadi loh tidurnya"
"Oh ya?" gumamku terbangun dari bahu Hasasi
"Kamu aja tidur ngigo mulu"
"Ngigo? Emang aku ngigo apa?"
"Mmm gak terlalu jelas sih tapi ada kata tolong di ngigomu itu"
"Tolong? Emang aku berkata tolong?"
"Ya kamu berkata seperti itu"
"Hmmm" desahku bingung
"Ya udah kita turun dulu, Hansol udah menunggu di dalam pesawat dari tadi pasti dia bakal marah" tangan Hasasi membuka pintu mobil dan kami berdua turun dari mobil
"Marah? Kenapa dia marah?"
"Ya sudah telat satu jam"
"Emang dia sudah mrnunggu satu jam?"
"Iya begitulah. Apa kamu mimpi indah?"
"Tidak" gumamku
"Kamu mimpi apa?"
"Aku tidak bermimpi"
"Tumben tidak bermimpi?"
"Tidak tahu juga sih, emang setiap tidur harus bermimpi ya?"
"Mmm tidak juga, aku kira kamu tidur ngigo terus tuh kamu sedang bermimpi buruk"
"Emang aku dari tadi ngigo terus gitu?, hmmm aku tidak mengingatnya" gumamku berjalan di tangga pesawat
"Ya sudah tidak perlu kamu ingat - ingat" gumam Hasasi
Saat kami berada di dalam pesawat aku melihat Hansol yang sedang duduk sendirian di kursi sambil memandang keluar jendela pesawat
"Tumben kamu setelat ini" gumam Hansol melirik kami
"Ya kalau dirumah kamu tahu sendirilah bagaimana, tadi aja aku di introgasi dulu" gumam Hasasi duduk di depan Hansol
"Ya aku tahu pasti permasalahan kapal pesiar kan?
"Ya begitulah" desah Hasasi melepaskan jas hitamnya
__ADS_1
"Ya hal itu emang rahasia umum semua orang tahu, bahkan pemilik ide itupun tidak ada yang tahu siapa" gumam Hansol meminum minumannya
"Tapi aku dengar - dengar sih keluarga Guan?"
"Guan? Gak mungkin lah kalau keluarga Guan punya bisnis gelap seperti itu pasti bakal mengalahkanmu dengan mudah"
"Lalu siapa?" tanya Hasasi penasaran
"Aku juga tidak tahu, tapi sependengaranku tuh dari keluarga Xixi"
"Keluarga Xixi? penguasa dari dataran China itu?" tanya Hasadi kaget
"Ya begitulah, setahuku seperti itu soalnya yang di rekrut paksa itu pasti bermata sipit dan putih"
"Tapi kan banyak yang tidak bermata sipit dan putih di culik juga" gumam Hasasi
"Ya kalau mereka pastinya di jual ke klub - klub gelap atau ke penguasa yang mau membayarnya mahal"
"Oh mmm kalau dipikir - pikir benar juga sih" desah Hasasi
"Mmmm tuan Hansol aku mau tanya, emangnya semenakutkan itukah kapal pesiarnya?" tanyaku serius setelah mendengar pembicaraan mereka berdua
"Sebenarnya tuh bagi kami biasa saja tapi bagu perempuan paling ya menakutkan"
"Menakutkan gimana?
"Ya aku tidak tahu sih, soalnya siapapun yang di culik mereka gak akan bisa kembali, jadi kamu jangan sampai terpisah dengan Hasasi"
"Tapi kalau aku terpisah dengan Hasasi bagaimana?" tanyaku cemas
"Tenang aja sayang, kan sama aku kamu akan aman" ucap Hasasi menimpali desahan Hansol
"Tapi kan kamu pasti bakal sibuk banget tahu!!" protesku
"Ya emang, tapi aku usahakan tidak akan melepas pandanganku"
"Hmmm baiklah" desahku menatap ke luar jendela pesawat dan Hasasi mengelus rambutku dengan lembut
"Kamu yakin bisa Hasasi?" tanya Hansol meyakinkan
"Ya bisa lah, dia istriku sendiri. Kalau mereka berani - berani menculik istriku aku tenggelamkan kapalnya" ucap Hasasi marah
"Ya ya kamu lebih berkuasa dari pada siapapun sih" desah Hansol meminum minumannya
"Lebih berkuasa bagaimana maksudnya?" tanyaku penasaran
"Ya Hasasi kan pemimpin perkumpulan yang di takuti dunia mafia siapa yang tidak takut" gumam Hansol menatapku
"Tapi kan ada tiga perkumpulan lain yang lebih kuat"
"Ya emang tapi kan perkumpulan lain juga bersekutu dengan Hasasi, sekali Hasasi menyuruh memusnahkan musuh ya bakal tidak ada beberapa detik musuh itu bakal musnah"
"Segitunya?"
"Hei kamu bertahun - tahun belum tahu masalah ini?" tanya Hansol kaget dan aku cuma menggelengkan kepalaku
__ADS_1
"Hmmm emang hebat ya Hasasi identitas yang sesungguhnya di tutupi rapat" ejek Hansol
"Ya tidak semua harus dia tahu, yang harus dia tahu itu kalau aku selembut sutra"
"Heleh selembut sutra apanya kamu aja seperti bom waktu kek gitu" gumam Hansol
"Emang Hasasi seperti apa orangnya?" tanyaku bingung
"Ya coba kamu nilai dia seperti apa, kalau kamu tahu pasti kamu bakal berfikir kalau kamu berada di genggaman raja neraka" gumam Hansol santai
"Begitukah?" gumamku menatap Hasasi serius
"Hei kenapa kamu menatapku seperti itu?" protes Hasasi
"Aku mau liat kamu, apa yang dikatakan Hansol benar atau tidak" gumamku menatap Hasasi terus menerus
"Hmmm perkataan Hansol aja kamu pikirkan sebegitunya" desah Hasasi
"Gimana perkembangannya Hasasi?" gumam Hansol menatap Hasasi serius
"Lancar, tinggal pelaksanaannya"
"Oh baiklah, bagus kalau sudah siap semua"
"Ya tenang saja sudah aku urusi"
"Mmm tuh buat Fifiyan gimana?"
"Apanya?"
"Alat pelacak udah kamu berikan?"
"Udah, dia selalu memakainya" gumam Hasasi santai
"Baguslah, ya aku cuma punya firasat dia akan terpisah di kapal pesiar itu" gumam Hansol
"Hey firasatmu itu bisa gak kau rubah!!" protes Hasasi
"Firasat mana bisa di rubah, kau ada - ada saja kamu ini" desah Hansol menggelengkan kepalanya
"Hmmm semoga aja tidak akan terjadi" desah Hasasi
"Ya udah jangan di pikirin yang penting kamu bisa jaga dia aja"
"Ya aku usahakan" gumam Hasasi menatapku yang sedang melihat landasan pesawat dari luar jendela pesawat
"Ya udah kita siap - siap bentar lagi kita sampai" gumam Hansol dan Hasasi memakai jas hitamnya kembali
"Cepet banget" gumamku
"Ya kita ngobrol udah lama"
"Oh ya aku gak sadar" gumamku membenahi gaunku yang hampir lusuh
Tidak beberapa lama kami sampai di landasan pesawat dan turun dari pesawat itu, Ya landasan pesawat yang berbeda saat aku terakhir kali ke Paris. Sudah lama aku tidak ke Paris terakhir aku kesini waktu pesta di menara Eiffeel dulu.
__ADS_1