
Aku dan Nyonya Stun berbincang - bincang hangat sambil berkebun bersama. perbincangan yang menyangkut kepribadianku dan juga tentang hubungan aku dan Hasasi. Bahkan aku terkejut ternyata perilaku Hasasi yang disukai para wanita bahkan Hasasi yang pernah gagal menikah di masa lampau diketahui juga oleh Nyonya Stun.
"Hasasi kemana kok belum kelihatan batang hidungnya?" tanya Nyonya Stun menatapku
"Tadi sudah saya bangunkan buk, tapi pas saya tinggal mandi dia tidur lagi"
"Hmmm dasar tuh anak selalu saja bangun telat"
"Ya mungkin dia kecapekan buk" gumamku
"Ya mungkin juga sih, apalagi Hasasi sekarang jadi orang sibuk"
"Hahaha iya sih buk, Hasasi sering dinas luar terus buk" gumamku
"Ya ... namanya juga petinggi kayak gitu" gumam Nyonya Stun dan aku hanya mengangguk tanda setuju
"Kamu beda ya sama Cindy!" ucap nyonya Stun tiba - tiba
"Mmm maksudnya beda bagaimana ya buk?"
"Ya... kalian berdua sama - sama yatim piatu sejak kecil tapi sifat dan perilaku kalian sangat berbeda. Cindy anaknya sombong, sok kaya, manja, dan pemikirannya tentang laki - laki sedangkan kamu mirip sekali seperti ibumu yang ramah, baik, sopan, pendiam, dan keliatan penyayang banget" gumam Nyonya Stun menata bunga - bunganya
"Maksudnya pemikirannya tentang laki - laki buk? tanyaku penasaran
"Ya... dulu dia pernah menginap disini, dan dia hampir aja memperkosa anakku" gumam Nyonya Stun kesal
"Memperkosa anak ibuk?" ucapku kaget, padahal kan biasanya tuh laki - laki memperkosa perempuan kok malah ini perempuan memperkosa laki - laki.
"Ya... dia hampir membuka semua baju Hasasi saat dia tidur berdua bersama Hasasi"
"Ibuk kok tahu?"
"Ya kan aku melihatnya di CCTV... dulu emang aku mengizinkan Hasasi tidur dengan Cindy karena Cindy kemalaman waktu mau pulang kerumah tapi malah izinku di langgar dan membuatku marah dan kecewa telah mengizinkan Cindy tidur bersamanya, ya akhirnya aku paksa untuk pulang ke rumah malam itu juga... makanya semalam saat kamu disuruh tidur sekamar dengan Hasasi oleh ayahnya Hasasi aku sedikit protes"
"Iya ibuk saya mengerti" gumamku paham
"Tapi aku percaya kamu tidak menodai anakku karena semalaman kami mengawasi kalian berdua dan kalian berdua hanya tidur pulas" ucap Nyonya Stun sambil tertawa keras
"Aduh pasti saya tidurnya jelek banget ya buk" gumamku malu
"Tidak kok, cuma Hasasi yang tidurnya lucu"
"Emang seperti apa buk?"
"Ya seperti anak kecil dia tidur"
"Hahaha pasti lucu sekali ya buk" gumamku tertawa
__ADS_1
"Ya begitulah... kalian sering ya tidur bareng?"
"Ya sering sih buk, tapi pada saat Hasasi sedang rapat di luar atau saat ada acara besar saja sih buk... itupun meskipun kami sekamar tapi berbeda tempat tidur" gumamku
"Ya dia pernah cerita kalau pas ada acara dan mengajak kamu kalau kamu tidir sendiri dia tidak tenang dan takut ada laki - laki yang datang kekamarmu" jelas Nyonya Stun dan aku baru mengerti
"Oh pantas Hasasi sering terlihat mondar mabdir di depan kamar saya buk"
"Ya... memang Hasasi seperti itu"
"Bahkan dulu saat kamu dekat dengan Alex Hasasi sering tidak mau makan dan sering melamun kata Lisa"
"Melamun buk?"
"Iya... dia sering melamun setiap malam... waktu ibuk tanya jawabnya dia takut kamu diambil Alex dan dia tidak bisa menikah denganmu"
"Hmmm..." desahku
"Emang Hasasi begitu serius kepada saya ya buk?"
"Ya sebagai naluri seorang ibu ... aku melihatnya dia emang takut kehilanganmu"
"Tapi kan saya hanya orang biasa yang tidak punya apa - apa buk... bahkan dulu saya sangat gemuk sampai - sampai mantan saya mencampakan saya karena saya gemuk"
"Ya Hasasi pernah cerita tapi dia tidak mengakui siapa wanita yang di bawanya pulang itu sampai kami tahu dari Lisa dan Hasasi saat aku dan ayahnya mengunjungi Hasasi dulu"
"Ya makanya dulu kami menyangkanya kamu orang biasa yang hanya menginginkan jabatan seperti mantan Hasasi yang sebelumnya... jadi setelah ayahnya mengusirmu itu Hasasi dan Lisa mengakui identitasmu dan karena kami mengusirmu yang membuat kami merasa bersalah kepadamu" gumam Hasasi
"Iya tidak apa - apa ibu" gumamku sambil tersenyum
"Kalau kamu menikah dengan Hasasi harus selalu sabar ya!!"
"Kenapa buk?" tanya penasaran
"Karena dia masih berperilaku kayak anak kecil jadi kamu harus ekstra sabar ya" gumam Nyonya Stun menirukan perilaku seorang bayi yang membuat aku juga tertawa
"Aah ibuk selalu kek gitu!!!" protes Hasasi di depan pintu kebun
"Tumben udah bangun" gumam Nyonya stun
"Ya udah lah buk"
"Oh ya kapan rencana kamu untuk menikah?"
"Mmm tidak tahu, nanti aja di bahas bersama aja" gumam Hasasi berjalan mendekatiku
"Kamu sendiri pengennya kapan?"
__ADS_1
"Ya secepatnya buk, takut dia ilang lagi" gumam Hasasi mengelus rambutku
"Bukan aku yang ilang tapi kamu ntar yang ilang duluan"
"Enggak lah, aku ilang kemana juga"
"Ya kan kamu banyak cwenya" sindirku
"Emang banyak yang suka aku tapi aku suka calon istriku" gumam Hasasi mencubit pipiku
"Hmmm kamu ya!!" protesku
"Ya kalau kalian ini segera menikah persiapkan semuanya" gumam Nyonya Stun mencuci tangannya di kran air
"Ya ibuk hanya bisa mendoakan kalian bahagia" gumam Nyonya Stun keluar dari kebun
"Oh ya... ayahmu menunggumu di ruangannya" gumam Nyonya Stun berjalan menuju ke dalam rumah
"Iya buk, nanti aku sama Fifiyan menyusul" gumam Hasasi menatapku
"Kamu ngapain menatapku seperti itu?" gumamku
"Emang gak boleh menatapmu?"
"Boleh... tapi tatapanmu aneh"
"Ya namanya orang ngantuk"
"Mandi sana biar gak ngantuk"
"Aku udah mandi ya!!"
"Mandi apanya, masih bau!!" ejekku
"Dasar kamu ini" gumam Hasasi mencubit hidungku dengan gemas
"Aduuhh sakit lah!!" protesku
"Ya udah cepetan cuci tangan kita temui ayahku" gumam Hasasi mendorongku menuju ke kran air yang berada di pojokan kebun
"Iya ... ya ...tau, jangan dorong - dorong napa!!" protesku langsung mencuci tanganku dengan bersih
"Ayo kita menemui ayahku dan setelah itu kita berdua sarapan pagi" gumam Hasasi menggandeng tanganku dengan lembut
"Baiklah" gumamku mengikuti langkah Hasasi
Perbincangan aku dan Nyonya Stun sangat berharga karena Nyonya stun menceritakan semua hal yang belum pernah aku ketahui sebelumnya dan perbincangan ini membuatku senang karena Nyonya Stun terlihat nyaman berbincang denganku
__ADS_1