
Aku mendorong kursi roda Hasasi masuk ke sebuah pesawat yang sangat mewah dengan beberapa teknologi yang lebih canggih dari pesawatnya yang sebelunnya. Di dalam pesawat aku langsung mengganti pakaianku dan kembali menemui Hasasi yang sedang berbincang dengan Dennis dan Hansol.
"Hasasi cantik tidak aku pakai gaun ini?" Tanyaku pelan dan Hasasi menatapku terkejut.
"Aduhai, cantiknya!!" Ucap Dennis dan Hansol berjalan kearahku, melihat itu Hasasi langsung berdiri di depanku dengan tatapan dingin.
"Dia istriku!" Ucap Hasasi kesal.
"Halah!! Kami ingin juga!!" Gerutu Hansol dan Dennis manja.
"Tidak! Dia milikku!" Protes Hasasi kesal.
"Ciiihh kenapa kau lama kali matinya!" gerutu Hansol kesal.
"Walaupun aku mati. Aku tidak akan merelakan istriku di permainkan pria lain!" gerutu Hasasi kesal dan menggenggam erat tangnku.
"Haish aku jadi iri denganmu Hasasi!" Gerutu Hansol kembali terduduk dengan wajah kesal.
"Kenapa?"
"Yaaah kau mendapat istri yang cantik dan mencintaimu apa adanya bagaimana aku tidak iri."
"Butuh bertahun-tahun seperti ini tuan Hansol, mungkin jika tuan Hansol tahu bagaimana diriku saat gemuk mungkin tuan Hansol akan membullyku sama seperti yang aku alami dulu, yaah aku bersyukur bisa bertemu dengan Hasasi saat ini...." gumamku merangkul Hasasi dari belakang dan Hasasi mencium pipiku lembut.
"Aku juga bersyukur bisa memilikimu sayang..." gumam Hasasi pelan.
"Haish kalian membuatku sangat iri!" gerutu Hansol kesal.
"Makanya segera kau menikah agar kau bisa melakukannya."
"Menikah ya? Entahlah aku belum bisa memikirkannya..." gumam Hansol meminum wine di depannya.
"Apa karena perjodohan antara nona Angel dengan kakak?" Tanyaku pelan dan Hansol menghela nafas pelan.
"Itu menjadi pertimbanganku juga, walaupun aku mencintanya tapi dia di jodohkan dengan Steven adalah hal mutlak dan tidak bisa di batalkan sama sepertimu dan Hasasi.
"Tapi apakah anda mencintai nona Angel?" Tanyaku serius.
"Ya aku mencintainya, walaupun dia wanita yang sangat menyebalkan tapi tetap saja aku mencintainya."
"Aku dengar kau berulang kali menjebak Angel dan Steven agar tinggal sekamar?" Tanya Hasasi serius.
"Ya benar, tapi tidak berhasil."
"Tidak berhasil? Kenapa?" Tanyaku penasaran.
"Karena hatiku tidak rela, hanya itu..." desah Hansol menghabiskan wine itu dan menundukkan kepalanya.
"Oh mmm sabar ya tuan Hansol..." gumamku pelan sedangkan Hansol hanya terdiam sambil menunduk kepalanya.
"Mmm oh ya bagaimana dengan rencananya Hasasi?" Tanya Dennis mencairkan suasana dan Hasasi membahas rencana dengan kedua pria di depannya.
"Jika bukan karena pembantaian keluarga Shinju pasti aku tidak akan bertemu dengan Hasasi..." gumamku pelan dan terduduk di samping Hasasi, walaupun Hasasi nampak serius berdiskusi dengan Dennis dan Hansol tapi tangannya terus merangkulku dan tidak henti-hentinya menciumku.
Tidak lama pesawat mendarat di landasan udara dan kami berempat turun dari pesawat, menuju ke sebuah gedung pesta yang tidak jauh dari landasan pesawat. Aku mendorong kursi roda Hasasi perlahan sambil menikmati udara segar di pagi hari ini.
"Ada apa sayang?" Tanya Hasasi pelan dan aku hanya menggelengkan kepalaku.
__ADS_1
"Tidak ada, hanya menikmati pagi ini."
"Apa kamu tidak capek mendorong kursi rodaku?"
"Tidak kok, kenapa?" Tanyaku bingung.
"Mmmm tidak apa, aku hanya tidak mau merepotkanmu sayang."
"Tidaklah sayang, kamu tidak pernah merepotkanku."
"Hmmm baiklah, terimakasih ya istriku..." gumam Hasasi pelan sambil terus menggenggam erat tanganku.
"Hasasi pesta masih nanti malam dan kita datang kepagian, kita makan aja dululah!" Ucap Hansol memainkan ponselnya sambil menatap Hasasi serius.
"Baiklah, kalian mau makan dimana?"
"Kemana saja deh, aku sudah lama tidak ke Paris jadi boleh lah ke tempat yang dulu."
"Oh baiklah, kita makan saja dulu kalau begitu..." ucap Hasasi pelan dan kami masuk ke dalam mobil yang sudah disiapkan.
Selama perjalanan wajah Hasasi terlihat sedih lalu senang lagi lalu kembali sedih lagi yang membuatku bingung. Setiap aku bertanya kenapa dia bersedih Hasasi selalu bilang tidak ada apa-apa yang membuatku khawatir.
Di dalam restoran Hasasi memilih di balkon restoran sambil menatap menara Eiffel sama seperti dulu saat Hasasi mengajakku ke pertemuan di menara Eiffel, bangunan menara yang berdiri kokoh di depan mataku teringat saat kami masih muda. Hasasi memutar kursi rodanya dan menatap menara Eiffel di depan kami.
"Ini makanannya tuan dan nyonya..." ucap Pelayan restoran menaruh beberapa makanan di depan kami.
"Terimakasih cantik!" Ucap Hansol menggoda pelayan itu dan pelayan itu pergi.
"Mmm tuan Hansol, kenapa Hasasi seperti itu?" Tanyaku pelan.
"Teringat Lisa?"
"Ya, ini restoran tempat dimana kami dulu merayakan hari ulang tahun Hasasi bersama dengan Lisa saat kami masih kanak-kanak," Gumam Hansol pelan.
"Dan momen dimana Lisa dengan polosnya melempar kue ulang tahunnya Hasasi membuat Hasasi marah besar masih teringat di kenangan kami, hahaha!!" Tawa Hansol kencang tapi Hasasi terdiam di depan balkon.
"Ya benar, apalagi besok tepat di ulang tahunnya pasti dia teringat akan Lisa!" Ucap Dennis melahap makanannya.
"Ulang tahun? Hasasi?" Ucapku terkejut.
"Jangan bilang kau lupa Fifiyan!" Ucap Hansol menatapku dingin.
"Eeemmm ya aku lupa tuan Hansol dan aku terlupa membeli kado, bagaimana ini?" Ucapku pelan.
"Tenang saja, nanti aku akan membelikannya kado."
"Benarkah? Terimakasih tuan Hansol!" Ucapku menundukkan tubuhku kearah Hansol.
"Eehh t-tidak perlu berterimakasih, lagi pula aku juga mau membeli kado di Paris ini. Ada beberapa barang yang dia inginkan tapi dia tidak berani membeli karena takut uangnya habis karena untuk operasinya kemarin, aku tidak sangka kamu akan mengeluarkan berjuta-juta dolar untuk operasi Hasasi loh Fifiyan."
"Eee mmm bagaimana tuan Hansol tahu?" Tanyaku terkejut.
"Ya saat kami akan membayarnya, dokter mengatakan kalau wanita yang menjadi pendonor Hasasilah yang telah melunasi semua biaya pengobatan."
"Oh mmm ya aku hanya mengeluarkan seluruh tabunganku yang ada tuan Hansol."
"Kenapa kamu lakukan itu Fifiyan?" Tanya Hansol serius.
__ADS_1
"Karena... Aku tahu kalau aku akan mati saat itu dan bagiku uang tidak akan bisa aku bawa ke surga jadi aku habiskan seluruh tabunganku untuk orang yang aku cinta."
"Hmmm kau sangat baik kepada Hasasi."
"Ya, aku hanya bisa memberikan apapun yang aku punya tuan Hansol lagi pula bisa bahagia bersama Hasasi adalah suatu hal anugerah terindah dari Tuhan..." gumamku melahap salad yang ada di depanku.
"Padahal Hasasi sudah sangat tua darimuloh Fifiyan dan kau bisa mencari pria lain yang seumuran denganmu."
"Aku tidak berminat tuan, aku hanya ingin dengan Hasasi saja dan tidak ada yang lain. Aku sangat mencintai Hasasi melebihi apapun."
"Yaaahh hanya kamu satu-satunya orang yang bisa mencintai Hasasi tanpa memandang siapa Hasasi dan juga bisa mencintai pria kejam itu."
"Benarkah? Mungkin karena aku lebih mengetahui lebih dalam tentang Hasasi tuan Hansol apalagi sebelum kami menikah, aku sudah hidup bersamanya selama sepuluh tahun lamanya."
"Yaahh benar juga sih, tapi aku salut kamu bisa bertahan hidup bersama dengannya Fifiyan."
"Karena aku mencintainya dan itu alasanku tuan Hansol apalagi jika ada inkarnasi di dunia ini pasti aku akan mencari Hasasi dan menikahinya kembali, itu janjiku kepada Hasasi..." gumamku menyentuhkan tanganku di bahunya yang membuat Hasasi terkejut dan mengusap kedua pipinya dengan cepat.
"Sayang... Makan ya..." gumamku pelan dan Hasasi menganggukkan kepalanya pelan, aku menggendong Hasasi dan mendudukkannya di kursi.
"Yaaah aku sangat iri pada Hasasi, andaikan aku bisa memiliki wanita berhati baik dan lembut seperti Fifiyan pasti aku juga tidak akan melepaskannya dari genggamanku..." gumam Hansol pelan sedangkan aku menyuapi Hasasi yang sedari tadi memelukku erat.
"Makanya cepetan nikah kau kelamaan!" Sindir Dennis yang membuat Hansol kesal.
"Apaan sih, suka-suka guelah!" Gerutu Hansol kesal yang membuat Dennis dan Hasasi tertawa kencang.
"Oh ya Hansol bagaimana dengan perkembangannya?"
"Yaaah kami memiliki fakta baru Hasasi."
"Apa itu?"
"Lisa melakukan bunuh diri karena hasutan orang lain."
"Tunggu dulu! Hasutan orang lain?" Tanya Hasasi terkejut.
"Ya, Lisa menceritakan kehamilannya bukan kepada Fifiyan saja tapi teman-teman kuliahnya dan teman-teman kerjanya yang membuat dia di bully dan yaahh ada yang menghasutnya kalau dia tidak berguna jadi lebih baik mati saja. Lisa berusaha tetap tegar karena ucapan Fifiyan dan yang membuatnya percaya kalau kau akan memaafkannya tapi ternyata kau marah besar ditambah penyemangatnya Fifiyan berada di fase kritis yang bisa kapan saja mati jadi hal itu membuatnya tidak tega dan akhirnya bunuh diri."
"Jadi... itu alasannya?" gumamku pelan
"Ya menurut rekaman CCTV sebelum dan setelah dia bunuh diri terlihat jelas sehingga kami dapat dengan mudah menelusurinya."
"Ohh hmmm..." desahku meletakkan garpu dan sendok ke atas piring kosong tapi Hasasi langsung memelukku erat sambil menyembunyikan wajah sedihnya di pelukanku.
"Tuan Hansol tolong ya..." gumamku pelan dan Hansol menganggukkan kepalanya pelan.
"Ya kami sedang berusaha mencari tahu semuanya, kalian berdua jangan khawatir... Dan kau Hasasi, kau jangan sampai lengah karena disini musuh juga ada takutnya Fifiyan akan disakiti oleh mereka!" Ucap Hansol yang membuat Hasasi memelukku erat.
"Benar juga... Dennis perketat penjagaan, aku tidak mau harta satu-satunya yang aku punya terluka sedikitpun!" Ucap Hasasi menatap Dennis dingin dan Dennis menganggukkan kepalanya pelan.
"Ya sudahlah, aku mau memesan makanan lagi. Mari Dennis!" Ucap Hansol menarik tangan Dennis pergi, aku melihat Hasasi yang tampak marah dan sedih yang membuatku sangat khawatir, aku mengangkat dagu Hasasi dan menciumnya lembut.
"F-Fifiyan..." gumam Hasasi terkejut.
"Sayang, ada aku jadi jangan khawatir... Aku akan selalu bersamamu dan aku berjanji padamu..." gumamku pelan dan Hasasi langsung menciumku dengan lembut.
"Aku tahu itu sayang..." bisik Hasasi pelan dan kami kembali berciuman. Perasaan marah dan sedih Hasasi masih terlihat jelas di kedua mataku jadi aku berusaha agar Hasasi sedikit tenang dan kembali ceria.
__ADS_1