
Pagi ini suhu ruangan terasa sangat dingin, seingatku aku tidak menghidupkan pendingin kamar ... tapi kenapa terasa dingin sekali, apalagi aku semalem langsung tidur tidak mengecek ruangan kamar lagi. Karena kedinginan aku terbangun dan berusaha untuk melihat suhu di pendingin ruangan dan ternyata 16 derajat suhunya ... pantas saja dingin sekali.
"Mmm kenapa pendingin kamar tinggi banget" gumamku sambil mengucek mataku
"Jam 6 pagi ya" gumamku dan langsung melirik Hasasi di sebelahku
"Belum bangun juga ternyata ..." gumamku dan bangun dari tempat tidur
"Hasasi .. bangun ..." gumamku
"Mmmm"
"Bangun udah pagi nih"
"Ntar dulu, aku ngantuk"
"Eeehh bukannya kamu akan ke pertemuan?" tanyaku
"Iya entarana ya ... aku masih ngantuk" ucap Hasasi meregangkan badannya dan tidur lagi
"Woy bangun .... udah pagi " ucapku menampar - nampar pipi Hasasi
"Aduh sakit lah ... kenapa sih" gumam Hasasi kesal
"Bangun ... nanti kamu telat lagi"
"Iya ntar lagi... kamu mandi dulu aja " gumam Hasasi dan memejamkan matanya lagi
"kamu bangun dulu napa?"
"Iya ntaran ... kamu mandi dulu sana nah" gumam Hasasi dan tertidur kembali
"Baik - baik, awas saja kalau belum bangun" gumamku dan aku langsung berjalan menuju kamar mandi untuk mandi sekaligus berendam
Aku menyalakan air hangat ke dalam bathtub dan menuangkan sabun kedalam bathtub kemudian merendamkan badanku ke dalam bathtub yang hangat sehingga badanku mulai fresh kembali. namun di dalam hati dan pikiranku tidak tenang karena aku memikirkan hal - hal yang negatif terus menerus
"Hmmm..."
"Kalau aku diusir dari rumah ini sama orang tua Hasasi, aku mau kemana?" gumamku
"Mau ikut kakak ... tapi gak mungkin, apalagi kakak sekarang termasuk keluarga besar Hasasi... sedangkan aku ..." keluhku dan memandangi wajahku di dalam air
"Tapi masa orang tua Hasasi bakal mengusirku sih?"
"Tapi ya bisa jadi sih... apalagi mereka tidak tau keberadaanku sampai saat ini" gumamku dan mengambil air sabun menggunakan tanganku dan membasahi wajahku
"Jangan mikir yang enggak - enggak Fifiyan ... kalau emang begitu yang terjadi kamu harus tegar Fifiyan" gumamku lagi dan keluar dari bathtub
Setelah mandi aku segera memakai pakaian mandiku dan keluar dari kamar mandi. Di kasur, Hasasi masih tertidur pulas dan aku pun mengambil air menggunakan tanganku dan aku cipratkan ke wajah Hasasi
"Mmm apa sih ini basah" gumam Hasasi
"Bangun ... bangun ... bangun" protesku dan menyipratkan sekali lagi air ditanganku
"Mmm mandi dulu sana ih ... jangan ganggu aku tidur" gumam Hasasi kesal
"Hei ... aku udah mandi ... kamu mandi sana" protesku dan membasahi wajah Hasasi dengan sisa air di tanganku
"Iiihh jail banget ... iya - iya aku bangun" gumam Hasasi kesal dan membuka matanya
"Nah gitu lah ... bangun ... jangan tidur mulu" gumamku dan berjalan menuju ruang pakaian
"Ehhh ... Fifiyan ... " ucap Hasasi dan menghentikan langkahku
"Iya ... ada apa?"
"Nanti kamu pakek baju warna hitam ya" ucap Hasasi berusaha bangun
__ADS_1
"Lah ... nagapain warna hitam?"
"Ya soalnya nanti sekalian pergi ke pesta ulang tahun itu" ucap Hasasi
"Oh oke lah ... kamu mandi dulu" ucapku dan aku masuk ke dalam ruang ganti
"Aku mandi di sini"
"Nah ngapain?" ucapku di dalam ruang ganti
"Ya gak ada apa - apa ... cuma pengen aja" ucap Hasasi berjalan menuju kamar mandi
"Terserah..." ucapku dan membuka lemari pakaian untuk mencari gaun berwarna hitam
"Yang ini atau yang ini ya?" gumamku memilih gaun ditanganku
"Mmmm" gumamku bingung
"Mmm yang ini aja deh" gumamku mengembalikan gaun yang tidak aku pakai dan melihat sekali lagi gaun yang ada di tanganku
Gaun yang indah dengan dihiasi mutiara hitam kecil dan memiliki panjang rok se lutut adalah gaun pilihanku. aku langsung mememakainya kemudian berdandan di meja rias, aku langsung memakai bedak, lipstik dan tidak lupa menyisir rambutku lalu memberikan hiasan pita di rambutku. setelah aku selesai berdandan, aku pun keluar dari ruang ganti menuju kamar. disana aku melihat Hasasi yang sedang duduk di pinggir tempat tidur dengan memakai jas hitam sehingga dia tampak tampan sekali
"kamu udah mandi?" tanyaku kaget
"Udah lah .."
"Eh ... cepat sekali"
"Ya kan laki - laki kalau mandi itu cepet beda sama perempuan ... lama" uacap Hasasi mengejek
"Siapa yang memandikanmu?" tanyaku
"Aku sendiri lah"
"Yang memakaikan baju?"
"Bukannya lukamu belum sembuh ya?" tanyaku
"Udah lumayan kok ... udah kering juga ... kan pakek obat mahal"
"Oh gitu ya ... ya udah mau berangkat kapan?" tanyaku
"Besok .. ya sekarang lah" gumam Hasasi dan langsung berdiri
"Kamu gak memakai perban?" tanyaku melihat Hasasi mudah sekali untuk berdiri
"Enggak ... buat apa perban ... udah ah ... kita berangkat dulu " ucap Hasasi langsung menggandeng tanganku
"Lisa tau gak kalau kita keluar?"
"Enggak ... buat apa dia harus tau"
"Nanti nyariin?"
"Enggak ... dia udah besar .. bukan Lisa yang dulu masih kecil kemana - mana harus laporan dulu " ucap Hasasi santai
"Baik lah ... "
Hasasi terus menggandengku dan kami berjalan menuju ke landasan pesawat Hasasi yang tidak jauh dari rumah Hasasi. Di landasan tersebut terlihat pesawat berwarna Hhitam, bersih dan tentunya lumayan besar. saat sampai di baah pesawat. Hasasi langsung berjalan menaiki tangga pesawat dan akupun mengikuti Hasasi dari belakang. Hasasi jarang sekali memakai pesawat yang ini, biasanya dia memakai pesawat yang memliki ukuran kecil
"Hasasi ... tumben kamu memakai pesawat ini" tanyaku dan langsung duduk di kursi empuk berwarna hitam di dalam pesawat
"Ya ... pengen aja, apalagi aku membutuhkannya"
"Membutuhkannya ... untuk apa?" tanyaku
"Ya soalnya Hansol dan anak buah nya nebeng"
__ADS_1
"Lah mereka naik dari mana?" tanyaku kaget
"Tuh mereka .." ucap Hasasi menunjuk keluar jendela pesawat
Di luar pesawat, aku melihat Hansol dan enam anak buahnya berjalan menuju ke dalam pesawat. anak buahnya membawa senjata laras panjang yang melekat di badan mereka dan juga memakai pakaian yang khas seperti pakaian mafia - mafia terkenal
"Hasasi kenapa itu orang yang dibelakang Hansol membawa senjata?" tanyaku polos
"Enggak tau ... nanti tanyakan pada dia" ucap Hasasi santai dan tidak beberapa lama Hansol masuk ke dalam pesawat Hasasi
"Wah ... sudah berada di sini ya ... aku cari - cari loh padahal" ucap Hansol dengan tertawa
"Kamu aja baru datang, cari dimana kamu tuh"
"Hahaha .. kok kamu tau?" ucap Handol
"Ya tau lah ... ini areaku, siapa yang tidak tau" ucap Hasasi santai
"Baiklah ... oh ya gimana lukamu kemarin?" tanya Hansol duduk di depan kami
"Ya udah lumayan baik" ucap Hansol santai
"Nona kecil ikut juga ya?" tanya Hansol menatapku
"Ya ... diajak nih sama serigala dingin sebelahku" ucapku melirik Hasasi
"Hahaha setia sekali kamu sama serigala dingin ini" ejek Hansol
"Ya begitu lah... oh ya anak buahmu kenapa bawa senjata?" tanyaku pada Hansol
"Ya karena dibutuhkan ... "
"Untuk apa?" tanyaku
"Hari ini pertemuan penting dengan seseorang ... jadi untuk berjaga - jaga aja... apalagi tuh serigala dingin milikmu sedang sakit, jadi ya mau gak mau bawa mereka
"Emang itu anak buahmu?"
"Iya betul sekali"
"Ohhh ... begitu ya" gumamku mengerti
"Oh ya Hasasi ... aku mendapatkan informasi tentang apa yang kamu butuhkan"
"Informasi apa?"
"Yang masalah si Prak Bo Shin"
"Terus apa informasi yang kamu dapat?"
"Ya ebenarnya tidak ada yang aneh sih... dia seperti yang kamu duga sebelumnya itu, tapi menurutku ada yang ganjal" jelas Hansol
"Apa yang membuatmu ganjal?"
"Aku tidak jelas memahaminya, nanti Lie Gun akan menjelaskannya pas pertemuan nanti .. tapi ..."
"Tapi apa?"
"Tuh jika ada nona kecil, dia tidak mau memberitahukannya ke kamu"
"Kenapa?"
"Enggak tau.. di apengennya membbicarannya dengan kita bertiga aja"
"Baiklah ... bisa aku atur" ucap Hasasi santai
"Hmmm dasar orang - orang sok penting ... walaupun aku ingin tau tapi aku tidak terlalu kepo banget juga kali" batinku
__ADS_1
Selama perjalanan, Hasasi dan Hansol membicarakan masalah bisnis dan aku yang tidak tau apa - apa hanya diam danmemandangi pemandangan laut dengan perkampungan yang berada di bawah pesawat kami, pemandangan yang indah apalagi pemandangan pagi ini terlihat sangat menyejukkan mata dan pikiranku saat ini.