Tuan Muda Tampan

Tuan Muda Tampan
Episode 44 : Dengan Hasasi


__ADS_3

Aku masih tidak percaya dengan terselamatnya nyawaku kali ini, padahal mereka berdua saling bermusuhan mendapatkanku ternyata berdiri di depanku untuk menyelamatkanku


Setelah Bunga Mo dan Sari Lie dibawa oleh bawahan Naian, Hasasi langsung membantuku untuk berdiri


“Fifiyan, kamu tidak apa – apa kan?” ucap Hasasi menyakinkan


“Ti... tidak” ucapku gemetaran


“Hasasi...bawa Fifiyan ketempat aman, aku masih ada urusan ... nanti aku datang lagi” ucap Naian dingin


“Oke” ucap Hasasi sambil memegangi tubuhku yang lemas ini


“Fifiyan, dengan Hasasi dulu ya... nanti aku jemput kamu” ucap lembut Naian dan pergi bersama bawahannya


Setelah Naian pergi, Hasasi memapahku untuk turun dari lantai dua. Aku tidak tahu dimana Hasasi akan membawaku


“Hasasi..”


“Iya sayang”


“Kita akan kemana?”


“Ke markasku yang ada di Inggris”


“Emang Naian tau dimana?... nanti dia marah – marah lagi” gumamku lirih


“Tenang saja cantik... dia tau kok”


“Baiklah” ucapku lirih


Aku terus dipapah oleh Hasasi menuruni tangga, Hasasi sangat sabar menuntunku untuk menuruni tangga satu persatu.


"Hati - hati melangkah"


"Iya aku tau...padahal aku bisa berjalan sendiri" gumamku kesal, aku seperti anak kecil yang baru belajar berjalan


"Tidak bisa... kamu tidak boleh berjalan sendiri" protes Hasasi


"Kenapa?"


"Tubuhmu aja masih bergetar seperti itu" ucap Hasasi dan aku hanya diam saja


Setelah beberapa menit aku berperan layaknya anak kecil akhirnya aku turun dari lantai dua, Hasasi memapahku masuk ke dalam mobilnya. Hasasi langsung mendudukanku ke kursi mobil yang ada di tengah dan dia duduk di sebelahku. Tanganku tidak bisa berhenti gemetar


“Kamu masih takut kah?” tanya Hasasi lembut


“I... iya” ucapku lirih


“Udah jangan takut sayang” ucap Hasasi sambil membelai rambutku


“Hasasi kenapa kamu bisa bersama dengan Naian tadi?”


"Panjang ceritanya..."


"Ceritakanlah... aku penasaran"


“Baiklah... Dari tadi Naian mencarimu, lalu dia bertemu denganku akhirnya kami bersama - sama mencarimu, tapi  tidak ketemu, lalu kami juga tidak bertemu dengan Sari dan Bunga saat dipesta. Terus kami berinisiatif mencari seluruh ruangan di gedung ini setelah Naian bilang kalau dia mendapat kabar Sari dan Bunga berencana akan membunuhmu” jelas Hasasi lirih


“Oh... untung lah” ucapku lirih


"Ya untugnya kami berhasil menemukanmu sebelum Sari dan Bunga benar - benar melakukan hal itu


"Hmmm.. " desahku sedih


“Jangan khawatir sayang, Naian yang akan mengatasi mereka berdua.” Ucap Hasasi dan terus membelai rambutku


“Mengatasi bagaimana maksudnya?”


“Ya kalau itu urusan Naian.. yang penting kamu gadis kecilku akan selalu aman” ucap Hasasi tenang sedangkan aku hanya bisa diam tanpa kata


Setelah beberapa lama kami berkendara, akhirnya kami sampai di markas tersembunyi Hasasi. Markas ini berada tersembunyi di pinggir kota orang saja tidak ada yang berlalu lalang di depan markas Hasasi


“Kita turun dulu ya sayang” ucap Hasasi lalu menggendongku keluar dari mobil


“Kenapa kamu menggendongku?”


“Ya... udah lama gak menggendongmu, kamu semakin ringan aja... apa Naian tidak pernah memberimu makan?” ejek Hasasi


“Masa aku jadi ringan?”


“Iya loh” ucap Hasasi dan mengangkat tubuhku setinggi mungkin

__ADS_1


“Hasasi, jangan seperti itu...aku nanti jatuh” protesku


“Hehehe iya - iya... maafkan, aku senang sekali aku bisa menggendongmu seperti ini”


“Emang kamu belum pernah gendong wanita lain?” tanyaku polos


“Tidak... dan tidak akan”


“Kenapa?”


“Karena ... aku gak mau” ucap Hasasi dan menurunkanku di kamar miliknya


“Ini bukannya kamarmu ya?”


“Kok kamu tau?”


“Ya tau lah, kamar yang ada di semua markasmu sama semua” ejekku


“Hehehe, iya biar aku serasa di rumah walaupun aku diluar negeri, biar gak homesick”


“Mmm iya juga sih”


“Oh ya Fifiyan, maafkan aku ya gak bisa menjaga kamu dengan baik” ucap Hasasi lirih lalu duduk dibawahku


“Udah gak apa – apa Hasasi, jangan duduk dibawah seperti itu”


“Aku belum bisa jadi pelindungmu, sampai – sampai kamu dua kali hampir dibunuh orang” ucap Hasasi dan mengeluarkan air matanya


“Jangan menangis Hasasi, ini bukan kesalahan kamu kok... Kamu udah melindungiku kok tadi” ucapku menghibur


“Tidak Fifiyan, aku gagal menjaga kamu... aku terlalu lengah jadi Bunga bisa menyakitimu” ucap Hasasi sedih dan terus mengeluarkan air mata


“Udah lah Hasasi, ini bukan salahmu kok” ucapku sambil membelai rambutnya


“Aku berjanji akan menjagamu Fifiyan, aku tidak mau orang yang aku cintai terluka kembali” ucap Hasasi memandangku serius


“Iya Hasasi, sudah jangan menangis lagi ya” ucapku sambil tersenyum


“Fifiyan, andaikan aku tidak mengecewakanmu... kamu tidak  akan berada di tangan Naian” ucap Hasasi kembali sedih


“Tidak apa – apa Hasasi, udah jangan dipikirin lagi”


“Bagaimana aku tidak kepikiran Fifiyan, kamu berada di tangan pemimpin mafia kelas dunia... sedangkan aku bukan apa – apa dibandingkan dia, pasti kamu udah jatuh hati ya sama dia” ucap Hasasi lirih


“Fifiyan... bisakah aku memperbaiki kesalahanku?” ucap Hasasi memohon


“Bisa kok Hasasi, kapanpun bisa” ucapku tersenyum


“Terimakasih Fifiyan” ucap Hasasi lirih. Hasasi terus berada di bawahku dan hanya sesenggukan yang aku dengar


“Hasasi...” ucapku lirih dan Hasasi mendongak kearahku


“Jangan duduk di lantai, dingin ... aku gak mau kamu sakit” ucapku berusaha mengangkat tubuh Hasasi


Hasasi melihatku yang berusaha untuk mengangkat tubuhnya secara tidak langsung dia mengikuti tanganku untuk duduk di kursi


“Kuat juga kamu mengangkatku”


“Gak kok, kamu jadi berat gitu... di kasih makan terus ya sama Bunga” Ejekku


“Siapa bilang... aku malah turun 10 kilo gara – gara kehilanganmu” ucap Hasasi sedih


“Kan aku masih ada disini” ucapku menghiburnya


“Hmmm.. Fifiyan jangan pergi lagi ya, aku janji tidak akan mengecewakanmu lagi” ucap Hasasi memohon


“Aku kan gak pernah pergi darimu Hasasi”


“Hmmm... aku ingin sekali berdua denganmu Fifiyan”


“Ini kan juga udah berdua denganku Hasasi”


“Ya aku ingin selamanya denganmu Fifiyan”


“Aku juga Hasasi” ucapku dan memeluk Hasasi


Aku dan Hasasi saling berpelukan seperti baru pertama kali bertemu setelah sekian tahun terpisah, Hasasi nampak rindu sekali dilihat dari pelukan dia yang sangat erat lebih erat dari pelukan Hasasi yang lainnya, bahkan aku menikmati kehangatan pelukan Hasasi.


"Fifiyan"


"Iya Hasasi..."

__ADS_1


"Mau pergi kesuatu tempat?"


"Kemana?"


"Kesuatu tempat yang akan membuatmu tenang"


"Tapi ini kan udah malam Hasasi"


"Gak apa - apa, ayolah" ucap Hasasi memohon sambil terus menarik tanganku


"Baiklah..." ucapku dan berdiri dari tempat dudukku


"Tapi aku mau ganti baju dulu" ucapku


"Baiklah... itu dilemari tinggal ambil saja" ucap Hasasi santai


"Kenapa di setiap tempat selalau ada gaun yang indah" gumamku penasaran


"Iya lah... kan kemanapun aku pergi kamu harus ikut"


"Oh ... ini untukku ya... aku kira untuk Bunga" sindirku


"Enggak, tidak ada satu gaun ataupun satu barangpun untuknya"


"Kenapa ... kan dia calon istrimu" sindirku, tiba - tiba Hasasi mendekatiku


"Mulai sekarang tidak lagi, kamu yang akan menjadi nyonya besar Stun" bisik Hasasi


"Kenapa kok harus aku?" tanyaku penasaran


"Karena ... kamu cocok menjadi nyonya besar Stun"


"Baik - baik aku mau ganti baju dulu" ucapku dan berlalu menuju ruang ganti


setelah aku memakai pakaian yang aku ambil, aku langsung keluar menemui Hasasi yang sedang duduk di sofa


"Ayo kita berangkat" ucapku


"Kenapa kamu pakai baju santai?" tanya Hasasi kaget


"Iya kan kita mau pergi jalan - jalan kan... buat apa gaun" gumamku


"Oh iya - iya... baiklah aku juga kalau gitu" ucap Hasasi langsung melepaskan bajunya di depanku


"Hasasi pergi ke ruang ganti sana, kenapa lepas baju disini" protesku sambil menutup mataku


"Hei... santai saja lah, aku pakai baju kok" ucap Hasasi santai, ternyata dibalik kemeja dan jasnya itu dia memakai pakaian santai


"Kenapa gak bilang?" protesku


"La kamu gak tanya" ejek Hasasi


"Ya kan aku gak tau" protesku


"Udah lah, jangan marah - marah mulu... ayo berangkat" ucap Hasasi lembut


Aku dan Hasasi berjalan berdua keluar dari kamar, nampak sepi markas Hasasi yang ada di Inggris ini


"Hasasi, tumben markasmu sepi"


"Enggak kok, cuma mereka gak ada di lantai dua"


"Oh aku kira emang gak ada orangnya"


"Ada lah, masa gak ada orangnya... nanti mudah dong musuh masuk"


"Musuh siapa?"


"Ya kan kami banyak musuhnya"


"Siapa aja?"


"Mmmm... aku juga gak tau"


"Kalau gak tau kenapa bilang banyak"


"Ya kalau banyak sih benar tapi mereka tidak tau keberadaan markas - markasku" ucap Hasasi santai


"Oh begitu ya"


"Ya udah ayo masuk ke mobil" ucap Hasasi sambil membuka pintu mobil

__ADS_1


"Makasih Hasasi" ucapku dan masuk kedalam mobilnya


Setelah aku masuk mobil, Hasasi langsung menutup pintu mobil dan masuk ke dalam mobil melalui pintu mobil lainnya. aku tidak tau kemana Hasasi akan membawaku, semoga saja tempat romantis seperti Hasasi yang dahulu, Hasasi yang penuh dengan kejutan


__ADS_2