
Aku berjalan dengan cepat untuk menghindar dari keluarga Stun, aku takut dan sakit hati juga. Takut di bunuh dan sakit hati dengan apa yang sebenarnya terjadi. DIsaat aku berusaha untuk berlari cepat, tiba - tiba tanganku ada yang menggenggam dari belakang
"Kamu mau kemana?" tanya Min Xiying khawatir
"Bukan urusanmu"
"Kamu gak boleh pergi, kita baru saja ketemu. apalagi hari ini adalah hari ulang tahunku" ucap Min Xiying sedih
"Tuan putra mahkota tenang saja, semoga kita bisa bertemu lagi" ucapku lembut dan mencoba untuk tersenyum
"Ta ... tapi ..."
"Percaya saja, semoga kita bisa bertemu" ucapku dan melepaskan tanganku dari cengkraman tangan Min Xiying
"Fifiyan..." ucap Min Xiying lirih tapi aku tidak memperdulikannya
Aku terus berlari keluar dari kerajaan Min, banyak orang yang menatapku terheran - heran dan penasaran karena aku berlari - lari tanpa sebab di kerajaan Min. Malah ada yang menyangkaku sebagai orang gila yang salah jalan tapi aku sendiri tidak peduli dengan omongan orang.
Setelah berlari agak menjauh dari lingkungan kerajaan Min agar keluarga Stun dan juga kerajaan Min. Aku melihat ada taksi yang akan melintas di depanku. akupun langsung mengangkat tanganku dan segera memberhentikan taksi tersebut
"Taksi ..." teriakku sambil melambaikan tanganku dan taksi tersebut langsung berhenti di depanku
"Mau kemana nona?" tanya sopir taksi
"Ke Bandara pak"
"Baik nona" ucap sopir taksi dengan ramah dan langsung menginjak tuas gas mobil
Aku sebenernya ingin menangis tapi aku menahannya, aku tidak mau kalau kesedihanku diketahui banyak orang, Selama perjalanan aku hanya termenung dan melamun, aku bingung mau kemana. Apalagi aku tidak tau kemana akan aku tuju, aku tidak ada pandangan sedikitpun. Karena terlalu banyak melamun aku tidak terasa ternyata aku sudah sampai di bandara
"Kita udah sampai nona" ucap sopir taksi mengagetkanku
"Oh ... mmm iya pak" ucapku kaget
"57 won nona" ucap sopir taksi
"Ini pak... terimakasih " ucapku memberikan uang dan keluar dari taksi
Aku segera berjalan menuju loket tiket pesawat tapi ternyata masih sangat antri oleh pengunjung sehingga akupun memutuskan untuk menunggu di ruang tunggu disekitar loket tiket. Aku pun menghidupkan handphoneku dan ternyata banyak notifikasi yang masuk di dalam handphoneku terlihat notifikasi dari Steven, Lisa, Hansol dan terutama pesan dari Hasasi. Banyak yang mengirimiku pesan dalam waktu singkat, karena penasaran akupun membaca satu persatu pesan mereka
Fifiyan, kamu kemana? kenapa pergi begitu saja... kasih tau kakak posisimu dimana sekarang kakak akan menjemputmu
Steven
Kak Fifiyan ada dimana? papa mencari kak Fifiyan, ada sesuatu hal yang mau di obrolin
Lisa
__ADS_1
Sayang, maafkan papaku ya
sayang
sayang
kamu kemana?, aku khawatir denganmu :((
Sayang
Sayang
Sayang
Sayang maafkan aku kalau aku menutupi semuanya sama kamu :(
Sayang kembalilah, papa mau mengobrol denganmu :(
Sayang
Sayang
Jawablah sayang
Aku khawatir :(
"Apa sih mereka nih" gumamku kesal
Aku malas membalas pesan dari Hasasi, hatiku masih sakit sekali. Aku yang terlalu bodoh karena terlalu berharap kepada Hasasi, sudah tahu bakal ada pernikahan bisnis tapi aku tetap bertahan dengan egoku sendiri.
"Bodoh ... sangat amat bodoh" gumamku kesal sambil membenturkan handphone ke arah kepalaku
"Hey nona cantik jangan menyakiti dirimu seperti itu" ucap seorang pria yang berada di sampingku
"Tidak apa - apa, aku yang bodoh sangat bodoh" ucapku kesal
"Sabar... tenang, ada masalah apa cerita saja padaku tidak masalah" ucap pria itu lembut, tangan pria itu mengangkat daguku dan langsung mengusap air mataku. Aku menatap wajahnya yang sangat tampan dan sepertinya juga dari kalangan orang kaya dimana pakaiannya mirip dengan pakaian yang dipakai oleh Hasasi
"Ak... aku kan tidak kenal kamu" ucapku sesenggukan
"Oh ya kenalkan aku Alex Guan, aku direktur PT. Guan, perusahaan terbesar kedua di dunia" ucap Alex lirih
"Ak.. aku Fifiyan Shinju"
"Bentar aku pernah mendengar nama itu? tapi dimana ya?" ucap Alex berfikir
"Bu... bukannya kamu..."
__ADS_1
"Ya ... aku dulu pacarnya Hasasi Stun dari PT. Stun"
"Oh ya aku inget... jadi kenapa kamu sendiri disini, dimana tuan Hasasi?"
"Disana... sama calon istri bisnisnya" ucapku lirih
"Jadi kamu sedih persoalan itu?" tanya Alex
"Iya begitulah"
"Wajarlah cantik kalau direktur perusahaan terbesar di dunia di jodoh - jodohkan seperti itu" ucap Alex santai
"Tapi kan gak adil masa nikah karena bisnis"
"Ya emang, tapi hal itu tidak berlaku kepadaku"
"Emangnya kenapa?"
"Karena ayahku memberikanku kebebasan untuk mencari calon istri sehingga aku tidak dijodoh - jodohkan" ucap Alex santai
"Oh begitu ya .." gumamku lirih
"Jadi ... kamu akan kemana sekarang?" tanya Alex
"Tidak tahu, aku tidak punya tujuan... keluarga besarku sudah tidak ada, jadi aku sebatang kara disini" gumamku sedih
"Hmmm .. kalau tidak bagaimana kamu tinggal di rumahku saja, kamu jadi asisten pribadiku di perusahaan gimana?" tawa Alex
"Ta... tapi bagaimana dengan keluargamu?" tanyaku
"Tenang, aku tiggal di rumah sendiri kok ... jadi jangan khawatir... bagaimana?" tanya Alex lagi
"Emang tidak ada tes - tesan gitu?" tanyaku
"Khusus asisten pribadi tidak ada tes - tesan segala macemnya... bagaimana?" tawar Alex lagi
"Mmmm kalau diijinkan boleh lah aku jadi asisten pribadimu" ucapku pasrah, apalagi aku tidak tahu harus kemana... ikut orang ini sementara tidak apa - apa lah
"Deal yah ..." ucap Alex senang
"Iya..."
"Okelah ... asik dapat asisten baru" ucap Alex senang sampai lompat - lompat
"Hey kamu kayak anak kecil" ejekku dan Alex berhenti lompat - lompat sambil cengengesan
Direktur yang satu ini sangat lucu, baik, dan ramah, sangat berbeda dengan Hasasii yang dingin, cuek, dan bodo amat sama orang ... tapi udahlah Fifiyan lupakan Hasasi, kamu harus melupakannya, nikmatilah hidupmu yang baru sekarang.
__ADS_1