Tuan Muda Tampan

Tuan Muda Tampan
Episode 118 : Rumah Steven


__ADS_3

Selama perjalanan menuju ke rumah kakak, kakak terus mengajakku bercanda dan melemparkan lelucon ringan kepadaku dan membuatku terus tertawa. Candaan ini membuatku teringat saat masih kecil bersama kakak, kita selalu bercanda, ketawa, bahkan ejek - ejekan bersama


"Aduh kak please lah, capek tahu ketawa terus" gumamku mengatur nafas


"Ya kan gak masalah kan membuatmu tertawa"


"Iya tapi .. capek tau"


"Hahaha ya udah baiklah, nanti sakit perut kamunya"


"Ya makanya jangan bikin aku ketawa terus napa"


"Baiklah adikku, aku seneng aja... gak nyangka ya kita bisa bertemu dan bercanda gurau lagi kayak waktu kecil" gumam Steven


"Mmmm iya juga sih"


"Apalagi kamu udah dewasa gak kayak dulu pas masih kecil, cantik dan imut"


"Ya kan sekarang aku juga masih cantik dan imut kan?"


"Iya - iya adikku sayang" ucap Steven lembut dan mengelus rambutku dengan lembut


"Kak... kalau dulu tidak ada kejadian pembantaian pasti kita masih hidup bahagia kan ya"


"Hmmm iya sih tapi ya kejadian itu sudah berlalu jadi tidak perlu menyesalinya"


"Tapi aku masih menyesal dan emosi kak"


"Udah sabar jangan emosian"


"Gak bisa kak ..."


"Fifiyan... kan sekarang kamu masih punya kakak jadi jangan dipermasalahkan ya"


"Hmmm iya sih kak tapi..."


"Ya udah jangan menyesali kejadian yang telah berlalu ya"


"Hmmm baiklah kak" gerutuku


"Kamu ya masih aja kayak anak kecil"


"Kan emang aku masih anak kecil... kakak itu yang sudah tua"


"Eeh dasar ya" gumam Steven dan aku hanya tertawa cekikikan

__ADS_1


"Mmm Fifiyan, kamu suka sama Hasasi?"


"Sebenarnya iya kak tapi"


"Tapi apa?"


"Tapi aku tidak tahu kalau perasaan Hasasi ke aku"


"Dia juga mencintaimu kok"


"Gak percaya "


"Seriusan"


"Tapi kata Alex, Hasasi ingin menikahiku agar perusahaannya tetap bertahan dan berkembang"


"Ya Alex juga akan berfikir sama"


"Masa?"


"Iya loh..."


"Hmmm"


"Tapi ... aku gak mau lah nikah tapi karena hal itu"


"Iya itu pastilah tapi namanya cwo dari perusahaan ternama pasti ingin sesuatu"


"Hmmm"


"Udah yang terpenting adalah kamu memilih calon suami yang menirutmu cocok denganmu"


"Hmmm baik kak tapi ya..."


"Ya aku tahu itu akan sulit" gumam Steven


"Yang penting kamu bahagia" imbuh Steven tersenyum lembut kepadaku dan aku langsung membuang muka ke jendela


Di luar jendela aku melihat kami sedang melewati gerbang yang sedang dijaga oleh penjaga rumah kakak


"Ya udah kita turun dulu"


"Loh kita sudah sampai?"


"Sudah... ayo turun" ucap Steven lembut dan menggandengku turun dari mobil

__ADS_1


Saat turun dari mobil aku melihat rumah bercat putih yang besar dan mewah, rumah yang di kelilingi banyak tanaman hijau dan para pembantu rumah kakak yang menyambut kedatangan kami


"Selamat datang tuan muda dan nyonya muda" sapa pembantu yang tengah berdiri di pinggir kiri dan kanan jalan


"Iya... kalian boleh pergi"


"Baik tuan" ucap pembantu dan mereka pun membubarkan diri


"Waaah hebat kakak punya rumah semewah dan sebesar ini" gumamku kagum


"Aaahh biasa aja"


"Hmmm andaikan kakak ngajak aku dari dulu, aku bisa merasakan nikmatnya hidup di rumah mewah" gumamku


"Hahaha... nanti kalau kamu sudah nikah, sudah kerja, terus punya uang banyak baru bisa membangun rumah yang kamu idamkan"


"Iiihhh maksudku tuh aku pengen menikmati nikmatkan rumah kakak yang mewah ini"


"Iya kan kamu hari ini tidur di rumah kakak" ucap kakak memasuki rumah


"Hmmm" gumamku lirih mengikuti kakak dari belakang


Didalam rumah aku melihat ruang tamu kakak yang mewah dengan dihiasi foto kami masa kecil dan foto kami bersama orang tua kami dan hiasan piano klasik di sudut ruangan serta hiasan - hiasan ornamen yang sangat mewah


"Waaah keren banget rumah kakak" gumamku terkagum - kagum


"Hahaha enggak biasa aja"


"Hmmm kakak rumahnya sebesar ini tapi masih hidup sendiri


"Hahaha ya gak apa - apa lah, nanti kalau kakak ada wanita baru kamu cemburu"


"Iihh enggak masa cemburu sama kakak sendiri gak lucu lah" gumamku


"Hahaha baiklah... Kamu istirahatlah dulu kamarmu ada di sebelah sana... kakak ingin istirahat juga" ucap Steven menunjuk sebuah kamar di lantai atas


"Baiklah kak" gumamku berjalan menuju ke kamar


"Kalau kamu ingin makan nanti minta ke pembantu aja ya"


"Iya kak" gumamku terus melangkahkan kakiku ke tangga


Setelah sampai di depan kamar, aku langsung membuka pintu dan aku kaget ternyata kamar yang akan aku tempati sangat mewah dan begitu nyaman apalagi kasur empuk berwarna putih yang menawan membuatku ingin segera berbaring di atas kasur.


Kasur empuk warna putih di padukan dengan dinding berwarna krem dan ornamen dekorasi yang sangat imut dan lucu sehingga membuat kesan kamar menjadi sangat nyaman. Tanpa waktu lama dan tanpa membuang - buang waktu akupun ketiduran di kasur tanpa mandi ataupun mengganti pakaianku sama sekali

__ADS_1


__ADS_2