
Setelah terjatuh dari tebing, aku tidak tau bagaimana diriku sekarang ... apakah aku sudah mati? ... apakah aku sudah berada di surga?.
"Ini dimana?" gumamku saat aku melihat aku berada di tempat yang semuanya berwarna putih
"Apakah aku di surga?" gumamku lagi dan mencoba menyelusuri jalanan yang berwarna putih tersebut
"Dimana jalan keluarnya?
"Apa Yang terjadi padaku?" gumamku ketakutan
"Tolooonnngg ... toolllooonng" teriakku kencang
"Tolllooonnnggg .... " teriakku lagi dan tidak ada yang menjawab teriakanku
Aku kebingungan dan ketakutan karena aku tidak tahu aku ada dimana. Tiba - tiba ada suara terdengar di telingaku.
"Fifiyan ... Fifiyan" ucap seseorang tidak ada wujudnya, sepertinya dia seorang pria dan hal tersebut membuat aku tambah merasa takut
"Fifiyan" ucapnya sekali lagi dan tiba - tiba ada seseorang yang berbaju hitam datang mendekatiku
"Kamu si ... siapa?" tanyaku ketakutan tapi seorang itu tidak menjawab
"Pergi jangan mendekat" teriakku ketakutan dan tiba - tiba tangan hitamnya ingin meraih tanganku
"Aaaaa ... peeerrggiii" teriakku lalu tiba - tiba aku membuka mata dan melihat aku berada di sebuah ruangan yang berbeda dengan ruangan sebelumnya dan juga aku melihat kepalaku terlilit perban putih selain itu melihat ada seorang pria yang sedang melihatku dari tadi
"Sayang ... kamu sudah bangun?" tanya lembut seorang pria yang berada di sisiku dan memegang tanganku
"Ka ... kamu siapa?" tanyaku ketakutan
"Aku Hasasi sayang"
"Hasasi ... Hasasi siapa?" tanyaku ketakutan
"Jangan takut sayangku ... " ucap Hasasi memegang lembut tanganku dan menenangkanku
Aku tidak tahu aku siapa dan pria yang namanya Hasasi ini siapa, aku hanya bisa menggigil ketakutan aja dan tiba - tiba pria itu memelukku erat
"Sayang jangan takut ... ini aku Hasasi" ucap pria itu lembut sambil memelukku dan mengelus rambutku tapi aku hanya diam saja
"Tidak apa - apa sayang ... kamu mengalami gagar otak ringan jadi kamu lupa tentang semuanya"
"Gagar otak ringan?" tanyaku kaget
"Iya ... tapi tenang saja sayang itu hanya sementara ... nanti kita mengingat sedikit - sedikit ya ... yang penting kamu masih hidup" ucap pria itu dan terus menerus membelai rambutku
"I ... iya baiklah" ucapku terbata - bata dan Hasasi terus membelai rambutku
"Tadi kamu kenapa teriak - teriak sayang ... membuatku takut"
"Ti ... tidak ada"
"Hmmm syukurlah kamu masih hidup sayang ... terimakasih Tuhan" ucap pria itu dan terus membelaiku lembut
"Oh ya namaku tadi siapa?" tanyaku
"Namamu Fifiyan Shinju sayang"
"Oh ... lalu namamu siapa?" tanyaku lugu
"Namaku Hasasi Stun sayang"
"Hasasi? ... seperti pernah dengar nama itu" tanyaku sedikit mengingat sesuatu
"Iya aku Hasasi ... suamimu sayang"
"Suamiku?" tanyaku kaget
"Iya sayang..."
"Tapi ... kok agak beda ya?"
"Beda gimana sayang?"
"Mmmm ... ya seingetku dia agak gemuk sedikit ..."
"Oh ya .. emang aku sekarang sekurus ini ya?" tanya Hasasi sambil melihat bentuk badannya
"Iya ... seingatku sih begitu"
"Ya emang beberapa minggu ini aku gak selera makan"
"Kenapa ?"
"Aku mengkhawatirkan kamu"
"Mengkhawatirkan aku?"
"Iya ... soalnya kamu tidak sadar diri terlalu lama sayang"
__ADS_1
"Emang berapa hari?"
"Tidak beberapa hari ... malah ... hampir 3 bulan kamu tidak sadar sayang"
"Tiga bulan?"
"Iya sayang ... "
"Bagaimana aku bisa tidak sadar seperti itu?"
"Itu ... kapan - kapan saja ya aku ceritain ... yang penting kamu istitahat saja dulu ya sayang"
"Hmmm baiklah" ucapku mengalah
"Sayang mau makan?" tanya Hasasi lembut
"Makan apa?"
"Makan bubur"
"Bubur?"
"Iya sayang"
"Bubur itu apa?" tanyaku bingung
"Bubur itu seperti ini sayangku" ucap Hasasi dan menunjukkan makanan berwarna putih yang halus di dalam mangkok
"Oh ini?"
"Iya sayang"
"Enak gak sayang?"
"Enak sayang ... coba rasakan sayang" ucap Hasasi dan akupun langsung membuka mulutku
"Enak kan sayang?"
"Mmm ... iya lumayan enak"
"Ini makan lagi sayang" ucap Hasasi dan menyuapiku kembali
"Siapa yang membuat ini?"
"Aku yang membuatnya"
"Kamu bisa buat ini?" tanyaku sambil menunjuk isi mangkok itu
"Oh iya kah? ... hmmm aku lupa" ucapku sedih
"Tidak apa - apa sayang ... udah makanlah lagi sayangku" ucap Hasasi dan terus menyuapiku deng bubur di tangannya
Aku terus menerus disuapi bubur oleh Hasasi. Aku melihat Hasasi sangat lembut menyuapiku dan memandangku lembut yang lama - lama membuatku sedikit inget Hasasi
"Hasasi ... "
"Iya sayang"
"Kamu tampan deh hari ini" pujiku
"Wow ... tumben kamu memujiku sayang"
"Oh ya ... emang aku gak pernah memujimu gitu?"
"Tidak pernah sayang malah ini yang pertama kali kamu memuji kegantenganku"ucap Hasasi cengengesan
"Oh ya maaf Hasasi, aku akan sering - sering memujimu ... sekarang aku sedikit ingat tentangmu" ucapku sambil tersenyum
"Oh ya? ... baguslah sayang ... ingatlah selalu aku sayang" ucap Hasasi langsung mencium keningku
"Mmm Hasasi ..."
"Iya sayang"
"Bolehkah aku jalan - jalan?"
"Nanti ya kalau kamu udah sembuh ... kan kamu baru saja sadar sayang"
"Gak mau ... aku pengen jalan - jalan"
"Iya deh iya ... demi kamu aku mau sayang"
"Makasih ya Hasasi"
"Siap sayang ... istirahat dulu ya sayang"
"Gak mau ... aku mau jalan - jalan"
"Jalan - jalan kemana sayang?"
__ADS_1
"Kemana aja"
"Baiklah .... tp panggil aku sayang dulu"
"Kenapa?"
"Udah turutin dulu ... dari pada aku gak mau ngajak jalan - jalan loh"
"Ihh ... nyebelin ... baiklah sayang"
"Nah begitu dong ... ayo kita jalan - jalan sayang" ucap Hasasi membawa kursi roda untukku
"Kenapa menggunakan kursi roda ?"
"Biar kamu gak capek sayang"
"Kan aku kuat sayang ... coba liat" ucapku dan turun dari kasur tapi tidak tahu kenapa badanku terasa lemas dan tiba - tiba aku pun terjatuh
"Tuh kan aku udah bilang ... kamu sih tidak nurutin suamimu" ucap Hasasi sambil memegangi aku dan menuntunku untuk duduk di kursi roda
"Iya sayang ... maafkan aku" ucapku lirih
"Tidak apa - apa sayang ... kamu tidak perlu minta maaf sayang" ucap Hasasi lembut dan mulai mendorong pelan kursi rodaku ini
"Hasasi ... kenapa kamu mau bersedia di sisiku?"
"Karena kamu sangat istimewa sayang"
"Hmmm istimewa gimana?"
"Ya ... istimewa saja sayang ... udah jangan di pikirkan ... apapun yang terjadi kamu tetap istriku"
"Hmmm ... baiklah"
"Udah jangan dipikirin sayangku ... kamu tetap milikku" ucap Hasasi mendekatkan wajahnya di pipiku
"Baiklah sayang ... "
"Kamu mau jalan - jalan kemana?"
"Kemana aja"
"Mau ke danau?"
"Mau ... "
"Ya udah ayo sayang" ucap Hasasi dan mendorong lagi kursi rodaku
"Ini dimana Hasasi?"
"Maksudnya?"
"Ini di negara mana?"
"Oalah ... ini di Jepang sayang"
"Jepang?"
"Iya sayang"
"Oh ya bukannya ada orang tuamu"
"Wah kamu udah inget ya ... Iya ... cuma udah beberapa minggu yang lalu, orang tuaku udah pulang kok sayang"
"Lalu bagaimana sayang?"
"Apanya sayang?"
"Katanya orang tuamu datang dan kamu bikin rencana agar orang tuamu mensetujui kita" ucapku
"Kamu tenang saja ... udah selesai kok sayang"
"Serius sayang?"
"Iya sayang ... kalau ingatanmu sudah pulih aku ceritakan semuanya"
"Baiklah sayang"
"Mmm oh ya masih jauh kah sayang?" tanyaku
"Tidak sayang ... bentar lagi sampai kok" ucap Hasasi dan terus mendorong kursi rodaku
"Sayang ... makasih ya kamu selalu ada disisiku dimanapun aku kesulitan kamu selalu ada" gumamku lirih
"Tidak masalah sayang ... kamu istriku ... apapun yang terjadi kamu akan selalu aku lindungi apapun yang terjadi ... oh ya maafkan aku tidak melindungimu kemarin saat kamu jatuh dari tebing sayang" ucap hasasi sedih
"Tidak apa - apa sayang ... kamu udah mau merawatku, menjagaku, melindungiku setiap aku kesulitan sayang"
"Sama - sama sayangku" ucap Hasasi tulus dan terus mendorong kursi rodaku dengan pelan
__ADS_1
Hari ini sangat aneh menurutku .. kenapa aku tadi ada di ruangan yang serba putih dan tiba - tiba aku balik ke dunia yang kejam ini dan aku bersyukurnya aku bertemu dengan Hasasi kembali.