Tuan Muda Tampan

Tuan Muda Tampan
Episode 15 : Ketakutan Yang Nyata


__ADS_3

Sebenarnya aku sangat lelah dan mengantuk karena seharian jalan – jalan dengan Hasasi namun bayang – bayang ketakutanku terhadap Sari Lie tidak bisa aku lupakan. Aku tidak bisa beristirahat dengan tenang, aku dari tadi hanya mondar mandir di dalam kamar seperti orang linglung.


Beberapa jam kemudian aku mendengar suara pintu kamarku dibuka oleh seseorang dari luar


“Kamu ngapain mondar mandir mulu” ucap Hasasi mengagetkanku


“Aku tuh takut”


“Takut apa?, apa karena Sari Lie?”


“Iya bisa dibilang begitu”


“Udah jangan dipikirin, nanti kamu jadi gila loh ... masa aku nikah sama orang gila” ejek Hasasi


“Ya kalau kamu mau silahkan kalau enggak sana nikah saja sama Sari Lie” ketusku


“Enggak mau ah ... dia sangat – sangat gila lebih gila dari kamu”


“Ya udah deh terserah”


“Kamu ngapain kesini?” tanyaku


“Sebentar lagi acaranya dimulai” jawab Hasasi


“Acara apa lagi? ... mau jalan – jalan lagi?”


“Emang kamu gak capek?”


“Capek lah “


“Ya udah besok lagi aja”


“Terus maksudmu acara apa?”


“Ih ... acara yang semalam itu”


“Ooohh ... emang sekarang jam berapa?”


“Sekarang jam 5 sore” ucap Hasasi


“Oh okelah aku mandi dulu”


“Oke aku tunggu”


Aku pun berlalu meninggalkan Hasasi untuk mandi, setelah mandi aku berganti gaun lalu menemui hasasi


“Aku udah selesai mandi nih lo”


“Ini, bawa ini kemanapun” ucap Hasasi sambil memegang tombol kecil


“Apa ini?”


“Ini tanda kalau kamu dalam masalah, kalau kamu dalam masalah pencet aja tombolnya aku akan sesegera mungkin datang” ucap Hasasi


“Emang kamu tau aku berada dimana gitu?


“Taulah, ini ada gpsnya dan tersambung di handphoneku”


“Makasih ya Hasasi” ucapku lalu menyimpannya ditempat yang tersembunyi


“Udah ayo berangkat” ucap Hasasi lalu menarik aku menuju lift


Kami naik Lift menuju ruangan acara pertemuan untuk melanjutkan acara yang kemarin, aku tidak tahu acara apa lagi yang diadakan dan kekacauan apalagi yang sedang menunggu diriku.


Sesampainya di ruangan, aku melihat banyak sekali orang – orang yang sedang mengobrol dengan tamu yang lain, semua tampil cantik dengan gaun warna warni mereka dan juga jas berwarna hitam yang membuat tamu pria terlihat lebih gagah.


“Selamat Malam semuanya, selamat datang kembali diacara kita pada malam hari ini ... acara hari ini yaitu pesta dansa bersama pasangannya. Dimohon kepada para pasangan untuk saling mendekati tengah ruangan ini” ucap pebawa acara.


“Baiklah karena Tuan Hasasi sudah datang mari kita berdansa. Silahkan Tuan Hasasi mendahului berdansa” seru pembawa acara dengan senang. Tetapi hal itu yang membuatku gugup karena aku tidak bisa berdansa


Kami berdua berjalan menuju ke tengah – tengah lantai dansa, karena aku gugup tanganku sampai menggigil kedinginan dan Hasasi pun menyadarinya dan bertanya dengan mendekatkan mulutnya di telingaku

__ADS_1


“Kenapa tanganmu menggigil dan terasa dingin?”


“You know, aku enggak bisa dansa” jawabku gugup


“Tenang kan ada aku. Ikutilah alur dariku, kalau kaki kekiri kamu ke kanan dan sebaliknya” jawabnya santai


“Mmmm baiklah” jawabku gak tenang. Setelah kami sampai di tengah lantai dansa kami berdiri berhadapan beberapa menit untuk mengatur nafas apalagi aku yang pertama kali berdansa di antara orang – orang kaya. Sebenarnya bukan pertama kali sih ini yang kedua cuma dansa pertama kali dulu waktu pesta ulang tahun kampus aku terjatuh dan itu memalukan. Dan aku enggak mau hal itu terjadi lagi. Sebelum dimulai suara Sari Lie terdengar di telingaku.


“Hei wanita kampungan, emangnya lu bisa dansa apa... dulu aja lu jatuh dengan memalukan pas berdansa” celotehnya yang membuatkumarah.


Karena tahu aku marah, Hasasi pun memegang tanganku lalu terdengarlah musik dansa yang indah. Hasasi dengan anggunnya menarik tanganku ke kiri ke kanan dan memutar badanku kiri kanan memutar badan, gerakannya yang tanpa aku sadar aku bisa mengikuti gerakan kaki dan tangan Hasasi dengan indah dan anggun. Dan para undangan juga ikut kami untuk berdansa sedangkan Sari Lie yang sedari tadi mengoceh akhirnya diam tanpa kata. Kami berdansa kurang lebih hampir 30 menit dan diakhiri dengan gerakan aku pura – pura jatuh dan tangan Hasasi segera menangkap tubuhku dengan memeluk pinggangku, itu adalah dansa pertamaku yang sangat indah para pengunjungpun bertepuk tangan setelah kami selesai melakukan dansa.


Ploookk .... pllloookkk ... plllloookk


Terdengar tepuk tangan yang meriah dari para tamu undangan, aku tidak percaya aku berhasil melakukannya dengan baik tanpa kesalahan sedikitpun. Dansa kami akhiri dengan membungkukkan badan sebagai tanpa penghormatan kepada semua orang yang telah melihatnya.


“Benarkan ucapanku” bisik Hasasi di telingaku


“Yes ... thanks Hasasi” ucapku senang


“Baiklah acara pertemuan hari ini telah selesai, silahkan untuk menyantap hidangan yang telah disiapkan” ucap pembawa acara


Setelah dipersiapkan oleh pembawa acara untuk menyantap hidangan, para tamu langsung antri untuk mengambil makanan kesukaan mereka, sama halnya aku dan Hasasi yang juga ikut mengantri mengambil hidangan yang telah disiapkan


“Kamu mau apa?” tanya Hasasi


“Yang ini aja” ucapku sambil menunjuk ke kentang goreng


“Kamu mau minuman apa?”


“Aku mau coca cola aja”


“Oke baiklah, kamu tunggu di kursi sana aja dulu ... nanti aku susul” ucap Hasasi dan akupun berlalu menuju kursi mewah berwarna putih tulang di pojokan ruangan.


Kursi di pojokan ruangan ini aku pilih karena aku tidak suka ditengah, kalau kursi yang ambill ditengah nanti menjadi pusat perhatian orang lain. Tidak beberapa lama Hasasipun datang dengan makanan yang diambilnya


“Ini kentang goreng dan coca cola yang kamu mau” ucap  Hasasi


"Kamu ambil apa itu?"


"Ini ... steak kuda" ucap Hasasi


“Oh ya Hasasi, emangnya acara pertemuannya cuma kayak gini ya?”


“Kayak gini gimana maksudnya?”


“Ya masa cuma perkenalan kamu terus makan terus dansa terus makan lagi, pertemuan macam  apa ini” protesku


“Itu cuma acara bersama pasangan, acara aslinya adalah pertemuan dengan para CEO saja” ucap  Hasasi


“Kapan itu?” tanyaku


“Tadi saat aku ninggalin kamu sendirian di kamar”


“Oh ... begitu” ucapku mengerti


Aku dan Hasasi menyantap hidangan sampai habis, tapi aku duluan yang menghabiskannya karena aku hanya makan kentang goreng sedangkan Hasasi makan steak kuda yang kayaknya sangat enak


“Emang enak steak kuda?” tanyaku


“Enak, dagingnya lembut”


“Bolehku coba?”


“Boleh” ucap Hasasi sambil mengiris daging tersebut lalu menyuapkannya kedalam mulutku


“Mmm ... enak, lembut gimana gitu”


“Kan aku udah bilang”


“Oh ya Hasasi aku ke kamar mandi sebentar boleh?”

__ADS_1


“Boleh, segera kembali” ucap Hasasi dan akupun mengangguk


Aku berjalan keluar ruangan untuk pergi ke toilet, tapi saat aku berjalan di tengah – tengah ruangan aku tidak menjumpai Sari Lie, dimana Sari Lie kayaknya tadi dia mengejekku saat akan berdansa. Tanpa berpikir panjang aku cepat – cepat menuju ke toilet


Di gang kecil menuju toilet, aku melihat bayangan seorang wanita dengan gaun mirip Sari Lie tapi aku tidak yakin karena dia berdiri tidak tepat cahaya lampu


“Siapa disana?” tanyaku tapi tidak di jawab oleh orang itu


Aku tidak perduli dan tetap berjalan menuju toilet. Namun saat aku dekat dengan bayangan itu, bayangan itu menutupi jalan menuju toilet dan aku berhenti tepat di tengah cahaya lampu. Aku melihat bayangan itu jalan mendekatiku dan itu membuatku ketakutan


“Si ... Siapa kamu?” ucapku ketakutan


“Kamu tidak perlu tahu siapa aku” ucap wanita itu


“Ka ... Kamu Sari Lie?”


“Ka ... kamu ngapain ke sini?” tanyaku ketakutan


“Aku ngapain kesini hahaha” tawa wanita itu sambil berjalan mendekatiku


“Apa yang kamu inginkan?” tanyaku lagi sambil mundur beberapa langkah


“Aku... ingin ... membunuhmu” ucap wanita itu dengan tangan berada di leherku


“Ke ... kenapa kamu ingin membunuhku, kita kan sahabat” ucapku saat tau wanita itu Sari Lie


“Heh ... sahabat, ogah banget. Kamu selalu menyusahkanku, mending kamu mati aja sekalian” ucap Sari Lie dan dia menambah erat cengkraman tangannya dileherku


“Emang apa yang aku lakukan? ... lepasin aku gak bisa nafas” ucapku dengan nafas tidak beraturan


“Mati saja kamu mati” teriak Sari Lie seperti orang gila


Aku tidak tau apakah aku akan mati sia – sia disini, tapi aku ingat tombol yang dikasih oleh Hasasi. Dengan cepat tanganku memencet tombol itu, aku tidak tahu apakah tombol itu akan berhasil atau tidak yang penting aku sudah mencoba


Sari Lie tetap mencekik aku dengan tangannya, badanku sudah lemas, dan aku sudah kesulitan bernafas. Mungkin inilah akhir dari hidupku yang memalukan, mati ditangan sahabat sendiri.


Duuuuaaaarrr


Beberapa menit kemudian, suara pintu yang di buka dengan dorongan yang sangat keras dan aku melihat ada Hasasi datang dengan muka dingin dan seperti marah besar


“Hei kau wanita jalang, lepaskan Fifiyan” teriak Hasasi dengan muka dingin


“Ka ... Kamu ... kenapa kamu tahu aku disini” ucap Sari Lie ketakutan


Plaaakk


Tanpa sepatah kata, Hasasi berlari memegang tubuhku yang lemas dan menampar serta mendorong Sari Lie sehingga Sari Lie terhempas ke lantai dengan pipi merah bekas tamparan Hasasi.


“Apa yang sudah kamu lakukan? ... kamu mau membunuh istriku” teriak Hasasi


“Dia tidak pantas jadi istrimu” protes Sari Lie


“Terus siapa yang pantas”


“Aku ... aku yang pantas, aku putri CEO terkaya nomor 2 PT. Lie, dan wanita kampungan itu tidak pantas untukmu” protes Sari Lie


“Kau ... heh dengerin ya wanita jalang, gua gak peduli lu anak orang kaya kek atau apa kek gua gak peduli ... jangan sampai aku menangkap basah kelakuanmu seperti ini lagi, kalau tidak aku akan memenjarakanmu ke penjara bawah tanah internasional walaupun lu melepaskan diri pakek duitpun gak bakal bisa ... dan kalau kamu melakukan hal yang sama berkali - kali, aku tidak segan - segan untuk membunuhmu paham” teriak Hasasi sambil memegang dagu Sari Lie


Hasasi mengetahui aku lemas dia segera menggendongku untuk meninggalkan tempat itu


“Ingat itu” teriak Hasasi dan meninggalkan Sari Lie sendirian.


Walaupun badanku terasa lemas dan hampir kehabisan nafas, tapi aku masih bisa melihat wajah Hasasi yang marah lebih marah dari pada saat Hasasi memarahiku, tapi dikarenakan aku tidak berdaya wajah Hasasi seperti orang ketakutan


"Hasasi ... aku gak apa- apa kok" ucapku menenangkanya


"Tidak ... kita harus ke klinik" ucap Hasasi dengan tegas


Aku hanya tersenyum bahagia, ternyata masih ada pria yang tulus mendampingi diriku dan menyelamatkanku dari bahaya yang datang.


"Hasasi ... makasih ya" senyumku

__ADS_1


Aku merasakan pusing yang sangat hebat, badanku sangat lemas, dan dadaku terasa sangat sakit. Aku merasa seperti akan segera mati di gendongan Hasasi, dan akhirnya aku pingsan di gendongan Hasasi.


__ADS_2