
Aku termenung agak beberapa lama sambil memandang Hasasi yang berjalan menuju ke pintu loteng. Aku ingin mengatakan sesuatu apabila aku melakukan permainan yang akan aku lakukan dan aku harus mengatakan dengan jujur kepada Hasasi
"Mmm.. Hasasi ... tunggu sebentar" teriakku menghentikan langkah Hasasi
"Apa lagi?"
"Kemarilah dulu... ada yang aku bicarakan padamu!"
"Baiklah..."
"Apa yang ingin kamu katakan?" tanya Hasasi mendekatiku
"Hasasi, kenapa kamu tetap mempertahankan aku dan selalu ingin berada disisiku?" tanyaku serius
"Karena ..." Hasasi terdiam beberapa saat dan memandangku dengan lekat
"Karena apa?" tanyaku penasaran
"Karena ... aku cinta padamu"
"Padahal kamu tidak menyukaiku saat aku berada di sisimu saat itu, dan selalu menyakitiku dengan berganti ganti pasangan malah... aku yang punya rasa padamu" gumamku
"Hmmm... aku tak tahu... kenapa itu bisa terjadi"
"Hasasi... sejujurnya hatiku masih ada kamu... tapi..." gumamku lirih
"Tapi apa?"
"Tapi karena kejadian menyakitkan yang selalu berulang - ulang ... menyebabkan rasa cintaku sedikit hilang padamu apalagi kamu menyuruhku memainkan permainan anak kecil seperti ini, Apa kamu tahu Hasasi? aku takut aku jatuh hati kepada Alex dan melupakan kalau aku sedang memainkan permainan yang sedang kamu rencanakan dan sebenarnya selama aku melalui kejadian yang menyebalkan itu, aku berdoa agar kamu menemukan wanita yang terbaik ... Hasasi"
"Hmmm ... ya aku tahu hal itu akan terjadi, apalagi semua ini kesalahanku juga... Tapi..." gumam Hasasi lirih
"Maafkan aku Hasasi, aku hanya ingin mengatakan hal ini padamu. Selamat malam" ucapku pergi meninggalkan Hasasi.
Tiba - tiba Hasasi menahanku dengan memegang tanganku dengan wajah agak sedih
"Tunggu Fifiyan..." ucap Hasasi tangannya menarik tanganku
"Apa yang harus aku lakukan agar kamu kembali cinta padaku?" tanya Hasasi, matanya berkaca - kaca
"Aku tidak tahu... "
"Apakah aku tidak perhatian kepadamu ? kalau menurutmu begitu aku akan belajar lebih lembut padamu"
"A... aku..."
"Apa aku harus bersujud seperti ini agar kamu mau menerimaku dan mencintaku kembali?" ucap Hasasi dan langsung bersujud di kakiku
"Hasasi... apa yang kamu lakukan?" ucapku kaget
"Aku... takut aku kehilanganmu lagi Fifiyan, aku depresi, stress, aku seperti kehilangan akal pikiran saat kamu tak bersamaku.. Fifiyan" ucap serius Hasasi dan terus bersujud
"Hasasi berdirilah... kamu orang terpenting kamu tidak pantas bersujud kepadaku yang orang biasa ini " ucapku membantu Hasasi berdiri
"Aku tidak peduli kamu orang biasa atau bukan ... yang aku peduliin adalah... kamu istriku"
"Hasasi aku tak pantas untukmu" gumamku lirih
"Kamu pantas, sangat pantas... berjanjilah padaku Fifiyan, kamu jangan pergi meninggalkanku tetaplah menjadi nyonya besar Stun" ucap Hasasi memegang tanganku erat
"Baiklah kalau kamu ingin mendapatkan cintaku kembali dan takut aku meninggalkanmu... buktikan semua cintamu padaku. Berusahalah kembali, Hasasi" ucapku tersenyum dan pergi dari hadapan Hasasi
"Selamat malam Hasasi... aku tunggu pembuktian cintamu padaku" gumamku dan keluar dari loteng rumah Hasasi
Aku keluar loteng dan keluar dari ruangan kerja Hasasi untuk balik ke kamar, aku tak tahu apakah Alex sudah tidur atau menungguku dengan wajah marah.
Aku menyusuri sepanjang jalan dan aku berhenti lalu duduk di kursi teras lantai 2 rumah Hasasi yang menyajikan pemandangan laut yang indah dengan pantulan cahaya bulan yang menawan, aku terus berfikir dan termenung. Apa yang harus aku lakukan?, aku memilih siapa diantara Hasasi dan Alex. Kenapa jadi banyak sekali wasiat ayah dan membuatku terbingung sendiri untuk memilihnya. Apa yang sebenarnya ayah inginkan?
Disaat aku tengah termenung, tiba - tiba ada seseorang yang memegang bahuku dari belakang dan sontak aku kaget
"SIAPA?" teriakku
"Huussttt... jangan teriak- teriak, kamu nanti membangunkan orang lain" ucap Hansol yang berdiri di belakangku
__ADS_1
"Hansol, kenapa kamu kemari?" tanyaku kaget
"HEI AKU JUGA DIUNDANG HASASI YA!!" protes Hansol
"Hmmm ... iya aku tahu, maksudku kamu kenapa kemari?" tanyaku memandang samudera kembali
"Tidak ada, aku cuma melihat kamu keluar dari ruangan kerja Hasasi. Apa yang kamu lakukan disana?" tanya Hansol penasaran
"Menurutmu?"
"Kamu memohon agar Hasasi kembali padamu kan?" ejek Hansol
"Tidak... kamu ngarang aja, emang aku cwe apaan" gumamku kesal
"Iihh gak pernah ketemu jadi galak beud dah" gumam Hansol kesal
"Galak apaan?"
"Kayak gitu tuh" gumam Hansol
"Hmm..."
"Hasasi sudah memberitahukanmu semua ya?" tanya Hansol serius
"Memberitahukanku apa?"
"Kejadian yang sebenarnya 20 tahun yang lalu dan wasiat ayahmu"
"Ya ... kamu kok tau" tanyaku kaget
"Tahulah, aku juga mata - mata Hasasi" tawa Hansol
"Hmmm kamu kok tahu kalau Hasasi mengatakan tentang kejadian 20 tahun lalu dan wasiat ayah?" tanyaku penasaran
"Tahulah, kan aku yang tidak sengaja melukai ayahmu dan wasiat itu diberikan ayahmu padaku setelah ayahmu meninggal, aku berikan kepada ayah Hasasi. Sebenarnya keluarga Stun mencarimu saat kamu menghilang sampai sekarang... Aku sebenarnya menyuruh Hasasi mengatakan pada ayahnya tentang keberadaanmu tapi Hasasi pengecut... dia takut mengatakannya" ucap Hasol
"Kenapa?"
"Karena dia tidak tahu tentang surat wasiat itu dan ayah Hasasi hanya menyuruh Hasasi mencari anak kecil dari keluarga Shinju yang hilang tanpa tahu namanya dan ternyata anak kecil itu kamu"
"Jadi... kamu akan memilih siapa?" tanya Hansol dan membuatku bingung
"Aku... tidak tahu"
"Buatlah keputusan Fifiyan, kalau kamu tidak membuat keputusan... aku tidak akan menjamin bahwa tidak akan terjadi peperangan kembali" ucap Alex maju menuju pagar pembatas teras
"Emang jaman kuno... ada peperangan" gumamku lirih
"Kamu tidak tahu apa yang direncanakan Hasasi sebenarnya" gumam Hansol
"Apa yang dia rencanakan?" tanyaku penasaran
"Ya pokoknya kalau rencana awal Hasasi gagal dan tidak bisa membawa pulang kamu... akan ada peperangan hebat dan yang paling ditakutkan Hasasi adalah... takut kalau kamu meninggalkannya saat dia melakukan itu"
"Meninggalkannya kenapa?"
"Karena kalau Hasasi berada di medan perang dia akan melakukannya secara brutal seperti orang yang tidak punya akal sehat"
"Dan aku akan pastikan, peperangan ini akan lebih kejam dari pembantaian keluargamu..." ucap Hansol serius
"Kok bisa seperti itu?" tanyaku kaget
"Karena kaluarga Stun dan Guan adalah keluarga adidaya dimana dua keluarga besar ini adalah keluarga terkuat di seluruh dunia, dua keluarga yang mempunyai kekuasaan tertinggi dan dua keluarga yang memiliki jumlah perkumpulan terbanyak walaupun begitu... pihak Hasasi yang memiliki wilayah adikuasa"
"Tapikan, keluarga Guan tidak punya kekuatan seperti itu, apalagi Perkumpulan milik Hasasi yang ..."
"Kau salah nak, di dunia bagian selatan ada 3 perkumpulan terkuat dan di dunia bagian utara ada 3 perkumpulan terkuat juga... walaupun begitu perkumpulan Hasasi termasuk yang diuntungkan kali ini karena dia kerjasama dengan mafia terkuat tapi kita tidak tahu bagaimana kekuatan perkumpulan keluarga Guan. Apalagi kamu berada di perbatasan dua keluarga yang sedang berkonflik, Ibaratnya kau sudah keluar dari kandang Singa tapi kamu masuk ke kandang Harimau" jelas Hansol
"Lalu, apa yang harus aku lakukan?" tanyaku bingung
"Tanyakan kepada hatimu nak, siapa yang akan kamu pilih, kalau kamu salah pilihan aku juga tidak tahu apakah kamu akan bahagia atau malah menderita"
"Aku bingung memilih Alex atau Hasasi"
__ADS_1
"Ya itu semua keputusan ada ditanganmu, aku tidak bisa membantumu dalam hal ini. Tanyakan kepada hatimu sendiri. Aku berharap tidak akan terjadi pertumpahan yang besar dalam sejarah... ingat perkataanku ini nak"
"Terimakasih nasehatnya suhu" gumamku dan menundukkan kepalaku kearah Hansol
"Oh ya satu lagi... kalau kamu mengikuti permainan yang diberikan Hasasi, kamu harus menetapkan keputusanmu sebelum permainan berakhir, karena ..."
"Karena apa?"
"Karena ... Hasasi hanya memberimu waktu sekitar satu tahun untuk memikirkan keputusanmu dan setelah satu tahun kamu tidak memberikan jawaban yang puas, Hasasi akan melakukan rencananya tersebut"
"Rencana apa yang akan dilakukan Hasasi sih sebenarnya?" tanyaku penasaran
"Kau akan tahu jika kau sudah memberikan keputusan yang tulus Fifiyan, apalagi kamu sudah berkata kepada Hasasi kalau cintamu kepada dia sudah mulai hilang dan kamu memintanya untuk membuktikan cintanya padamu"
"Kenapa kamu tahu apa yang aku katakan kepada Hasasi?" tanyaku kaget
"Hei... kami itu bersekongkol apalagi dengan perkumpulan lain, apa yang kamu lakukan kita tau Fifiyan... kalau kamu melakukan kesalahan fatalpun kita semua juga tahu apalagi Hasasi."
"Kamu memata mataiku?" protesku
"Bukan cuma aku, Hasasi juga melakukan hal yang sama"
"Kenapa kalian melakukannya?" protesku
"Kami mengikuti perintah Hasasi... apalagi di keluarga Guan terdapat beberapa mata - mata kami" ucap Hansol santai
"Siapa orangnya?" tanyaku penasaran
"Ada deh pokoknya.Ya sudah cepat tidur sana, tuh Alex menunggumu dari tadi" gumam Hansol santai
"Hmmm baiklah" gumamku
"Oh ya... jangan lupakan perkataanku, jangan bilang ke Hasasi ataupun Alex rahasia yang ku katakan kepadamu"
"Itu rahasia ya?" tanyaku kaget
"Sudahlah cepetan tidur sana, selamat malam nak" ucap Hansol menatapku dan aku berbalik menuju kamarku
"Ingat apa yang barusan aku jelaskan padamu" teriak Hansol dan aku mengangguk mengerti
Aku kembali menuju kamar untuk beristirahat. Semua perkataan Hasas dan Hansol sangat membuatku sakit kepala, apa yang harus aku lakukan? apakah yang Hansol katakan benar? tapi emang selama Hansol menjelaskan kepadaku selalu benar dan tidak pernah salah.
Saat aku berada tidak jauh dari kamar aku melihat Alex sedang berdiri di depan pintu dengan wajah cemas dan kebingungan entah apa yang sedang dia pikirkan
"Alex kamu tidak tidur?" tanyaku dan mengagetkan Alex
"Akhirnya kamu balik, dari mana saja kamu?" tanya Alex dingin
"Aku baru jalan - jalan"
"Emang kamu berjalan - jalan kemana?" tanya Alex serius
"Kenapa begitu?" tanyaku membalikkan pertanyaannya
"Aku mencarimu dari tadi dan tidak menemukanmu, kamu pergi dari mana aja?" protes Alex
"Aku berjalan - jalan ke pantai"
"Sendirian?"
"Iya.. "
"Kenapa tidak mengajakku? kalau kamu ada apa - apa bagaimana?" protes Alex
"Tapi kan aku baik - baik saja" gumamku
"Ya sudah, kamu tidur udah jam 3 pagi" ucap Alex membuka pintu
"Baiklah.." gumamku menuju ke ruangan ganti untuk berganti baju tidur dan langsung berbaring di kasur kamar
"Selamat malam Alex" ucapku berbaring memunggungi Alex
"Selamat malam juga sayang" ucap Alex lembut dan mematikan lampu kamar
__ADS_1
Walaupun aku mengatakan kepada Alex kalau aku tidur sebenarnya aku masih terjaga, aku masih memikirkan pilihan diantara kedua pria yang ditulis di wasiat ayah, aku takut aku salah pilih apalagi dengan resiko yang menyeramkan itu. Tidak aku duga ternyata aku berada di area terlarang kedua keluarga adidaya dan adikuasa seperti ini. Apa yang harus aku lakukan?