
Entah kenapa aku malam ini bisa tidur nyenyak padahal hatiku terasa sakit karena berita tentang Hasasi yang diberitahukan oleh Hassan semalam, aku perlahan membuka mataku untuk menikmati indahnya hari ini
“Good Morning manis” sapa Naian disebelahku
“Lohh ... kenapa kamu ada disini?” gumamku sambil mengusap mataku
“Kan kamu sendiri yang memintaku untuk menemanimu tidur”
“Oh ya... mmm aku tidak ingat”
“Ya semalam kamu panas terus memintaku untuk menemanimu tidur... ya apalah dayaku yang hanya mengikuti kemauan kamu” jelas Naian
“Oh begitu ... maaf aku lupa” gumamku lirih, aku baru ingat kalau badanku panas aku selalu meracau tidak jelas
“Ya gpp, udah kamu mandi dulu” ucap lembut Naian
“Emang mau sekarang?”
“Iya ... ke Inggris 1 jam lagi”
“Ehh ... kok cepat banget” ucapku kaget
“Ya soalnya Hasasi sudah dalam perjalanan” ucap Naian santai
“Oh begitu, baiklah sebentar ya” ucapku dan pergi berlalu untuk mandi
Aku segera mandi karena takut gara – gara aku Naian telat untuk rapat dengan Hasasi, ya bisa dibilang sekarang aku perang melawan bosku bahkan perang melawan mantan calon suamiku sendiri sekarang. Jadi aku ingin membuktikan kalau aku mampu tanpa Hasasi
Setelah mandi aku segera pergi ke ruang ganti dan aku kaget melihat Naian berdiri di depan lemari baju
“Kamu ngapain tetap disini?” ucapku kaget
“Iya pengen aja... oh ya ini gaunmu udah aku siapkan” ucap Naian lembut dan memberikan gaun yang indah untukku mungkin gaun berharga miliaran
“Kenapa pakai gaun?” tanyaku kaget
“Kita akan berpesta setelah rapat”
“Pesta?... pesta apa dan siapa?” tanyaku kaget
“Oh pesta ulang tahun saudaraku Dison Wang yang juga pemilik perusahaan Wang”
“Perusahaan terbesar di Inggris itu?” tanyaku kaget
“Yups...makanya kenapa kami rapat di Inggris”
“Oh begitu... aku ganti baju dulu” ucapku dan bergegas menuju ruang ganti
Hatiku sangat tidak tenang, Pesta?... ada Hasasi juga?... apa aku mampu menahan emosiku saat melihat Hasasi dengan wanitanya?... apalagi sekarang aku menjadi sekretaris Naian, bagaimana reaksi Hasasi ya? Hatiku tetap terasa tidak tenang tapi aku mencoba untuk tenang karena aku tidak mau menjadi tidak profesional karena Hasasi.
“Fifiyan sudah belum?” teriak Naian dari luar
“Eeehh... udah bentar” ucapku kaget karena teriakan Naian membuyarkan lamunanku
Aku segera menarik resleting gaun itu dan berjalan keluar ruang ganti
“Aku sudah ganti baju” ucapku keras dan secara otomatis Naian melihatku kaget
“Waah... kamu cantik sekali” gumam Naian
“Mmm terimakasih” ucapku malu
“Oh ya ayo kita berangkat Hassan sudah menunggu di bawah” ucap Naian lembut dan memegang tanganku
Aku dan Naian keluar kamar menuju ke lantai bawah, di lantai bawah aku melihat Hassan menunggu kami dengan memakai pakaian rapi seperti siap untuk pesta
“Ehh Hassan... bukannya pestanya masih nanti malam ya kok udah rapi” ejekku
“Loh ya harus rapi dong... biar ada wanita cantik yang menggodaku” gumam Hassan percaya diri dan aku tertawa kecil
“Udah jangan mengkhayal... kebanyakan liat sinetron sih mengkhayal” ejek Naian dan Hassanpun melompat kesal
“Ih ... kakak malah tidak mendukungku” gumam kesal Hassan
“I.. iya maaf, ya udah ayo” ucap Naian dan kami keluar rumah
Di luar rumah aku kaget melihat ada pesawat yang ukurannya lebih besardari pesawat milik Hasasi, pesawat berwarna putih bersih dan bertuliskan Mark di sisi kiri dan kanan pesawat
“I... ini pesawatmu?” tanyaku kaget
“Iya lah... milik siapa lagi” ucap Naian bangga
“Ja.. jadi kamu membawaku kesini pakai pesawat ini?”
__ADS_1
“Yups” ucap Naian dan mengajakku masuk ke dalam pesawat
“Waah terlihat mewah banget” gumamku kaget, didalam pesawat terdapat dua kamar lengkap dengan kasur, lemari, dan TV, di ruang tengah terdapat meja kecil, sofa, mini bar, aneka minuman, dan juga terdapat toilet di bagian belakang
“Emang pesawat Hasasi tidak seperti ini?” tanya Naian
“Beda banget lah... ini mah seperti rumah berjalan” gumamku
“Ya iyalah, derajat aja beda” ucap Hassan di depanku
“Mmm iya juga sih” gumamku
Tidak beberapa lama pesawat lepas landas dan aku memandangi awan yang sedang menari nari di luar jendela dan juga aku melihat laut berwarna biru dengan ombak yang tenang. Dan tiba – tiba kecemasanku akan bertemu Hasasi muncul
“Mmm Naian”
“Iya”
“Aku takut bertemu Hasasi”
“Udah santai aja...” ucap Naian sambil membelai rambutku
“Ta... tapi”
“Tenang aja... jangan takut” ucap Hassan santai
“Iya deh”
“Nanti kamu juga akan bertemu Hasasi dengan wanitanya” ucap Naian dingin
“Se.. serius?” ucapku kaget
“Yups...aku dan Hassan sudah merencanakan sesuatu” ucap Naian dingin
“Apa itu?”
“Liat saja nanti... rencana ini tergantung bagaimana situasi disananya”
“Mmmm baiklah” ucapku pasrah dan kembali memandang keluar jendela
Aku terus mempersiapkan hatiku untuk bertemu dengan Hasasi, karena terlalu cengeng jadi aku berusaha agar tegar dan tidak cengeng di depan Hasasi. Setelah 3 jam melakukan perjalanan akhirnya kami sampai di depan gedung tinggi dan seingatku ini adalah kantor Hasasi yang ada di Inggris
“Mmmm... Naian... bukannya ini kantornya Hasasi?” tanyaku polos
“Iya ... ini emang gedung miliknya” ucap Naian
Naian dan Hassan langsung berdiri saat pesawat sudah berada tepat di posisi yang seharusnya. Saat aku akan berdiri, aku melihat Hasasi dengan wajah dingin menyambut kami dan disebelahnya ada wnaita cantik mirip dengan wanita yang berdekatan dengan Hasasi saat jumpa pers dengan wartawan
“Naian...” ucapku lirih sambil memegang tangan Naian
“Kenapa cantik?”
“Takut” ucapku lirih
“Tenang saja... kamu di dekatku saja” ucap Naian lembut dan memegang erat tangaku
“Tenang kalau Hasasi bertindak kasar padamu ... aku akan melindungimu” bisik Hassan di telingaku
Aku hanya pasrah dan mengikuti langkah kaki keluar dari pesawat... aku berusaha mengubah gaya rambutku dan memasang muka dingin dan cuek dengan apa yang ada di sekitarku sambil berpegang tangan dengan Naian.
“Selamat datang Tuan Naian” uccap dingin Hasasi sambil menunduk hormat kepada Naian
“Oke terimakasih, sudah berdirilah” ucap Naian dingin, saat Hasasi meneggakkan badannya dia kaget melihat keberadaanku di sebelah Naian
“Fi... Fifiyan” gumam Hasasi lirih, matanya menunjukkan kalau ia tidak percaya bisa melihatku
“Silahkan masuk Tuan Naian “ ucap Bunga untuk memecah keheningan karena Hasasi terus melihatku
“Baiklah” ucap Naian dan mengajak aku masuk ke dalam kantor Hasasi
Suasana hening langsung tercipta saat Hasasi melihatku dengan penuh kesedihan, matanya melukiskan dia sedih namun dia berusaha menahan air matanya turun dari matanya. Setelah kami berjalan akhirnya kami sampai di depan ruang rapat
“Silahkan masuk Tuan” ucap Hasasi dengan nada kesedihan
“Baiklah, Hassan kamu tunggu diluar ya” ucap Naian dan Hassan hanya mengangguk lalu Naian duduk di tempat yang telah disediakan
“Mmm... maaf tuan, apakah tidak keberatan pasnagan tuan tidak berada disini” ucap Bunga sopan
“Dia sekretarisku... jadi dia harus ada disini” ucap Naian dingin
“Mmm ba... baiklah tuan” ucap Bunga lirih
“Kamu mengajakku rapat membahas hal apa Hasasi?” ucap Naian
__ADS_1
“Mmmm jadi begini tuan, perusahaan kami ingin melakukan kerja sama dengan perusahaan anda” ucap Hasasi berusaha seprofesional mungkin
“Oh ... baiklah silahkan dipresentasikan” ucap Naian santai dan Bunga maju ke depan kami
“Baiklah ... ijinkan saya Bunga Mo, saya akan mempresentasikannya... perusahaan Stun adalah perusahaan.....” ucap Bunga panjang lebar tetapi di mata Naian tidak berarti sama sekali
“Kamu tidak mendengarkannya?” bisikku lirih
“Tidak, buat apa?... tidak penting” ucap Naian santai
Aku hanya terdiam saat Naian mengatakan seperti itu, mungkin mereka mati – matian mempersiapkan bahan presentasi tersebut
“Kamu tenang saja... aku tetap mendengarkannya kok” ucap lirih Naian dan aku hanya tersenyum lega
Setelah berjam – jam berlalu, akhirnya presentasi Bunga selesai dan itu membuatku mengantuk karena terlalu fakus dengan apa yang di jelaskan oleh bunga
“Baiklah tuan Naian... bagaimana menurut anda?” ucap Hasasi harap – harap cemas
“Mmm bagaimana ya... bagaimana menurutmu cantikku?” ucap Naian menggodaku
“Emmm a.. aku?” ucapku kaget
“Yups... bagaimana menurutmu? Apa kamu akan menerima kerjasama ini?” ucap Naian santai
“Mmm...” gumamku dan mencubit tanagan Naian dan Naian hanya tenang dan menahan sakit cubitanku, aku melihat Hasasi dan merasa kasihan kepadanya
“Mmm baiklah tuan Hasasi, kami setuju” ucapku santai dan aku tidak asal menjawabnya karena ini juga mempertaruhkan perusahaan Mark, untung aku mendengarkan apa yang di jelaskan oleh Bunga
“Baiklah
terimakasih atas kerjasamanya tuan” ucap Hasasi tenang,
“Kamu bisa keluar Bunga” ucap Hasasi dingin dan bunga keluar ruangan terlebih dahulu lalu Naian menggandengku keluar ruangan
“Emmm ... tunggu sebentar... bolehkah aku mengobrol dengan sekretaris anda mengenai kerjasama ini” ucap Hasasi mencari alasan
“Boleh 3 menit, karena kami akan pergi” ucap Naian melepaskan tangannya
“Tenang saja, aku ada di depan pintu” bisik Naian di telingaku dan dia pergi keluar dari pintu
Suasana canggungpun muncul saat Naian pergi meninggalkan kau sendiri bersama Hasasi.
“Ya tuhan perasaan apa ini?” Gumamku dalam hati
Tiba – tiba terdengar suara langkah kaki menhampiriku dan aku merasakan Hasasi memelukku dari belakang
“Fifiyan... itu beneran kamu kah? Aku mencarimu ke ujung dunia” bisik Hasasi senang
“A... ada apa kamu mencariku?” ucapku dingin
“Kamu melupakanku kah?” ucap Hasasi kecewa
“Tidak... Kamu jangan seperti ini Hasasi, kamu akan segera menikah” ucapku melepaskan pelukannya
“Jangan tinggalkan aku” gumam Hasasi
“Hasasi dengar... kamu akan menikah, jadi apa pentingnya aku bagimu” ucapku menatap serius Hasasi
“Aku tidak mau menikah selain dengan dirimu... ini hanya masalah bisnis” gumam Hasasi sedih
“Hasasi... aku tau perasaanmu... lupakan aku sekarang”
“Tidak... aku tidak mau melupakanmu” ucap Hasasi sambil meneteskan air matanya
“Hasasi jangan menangis... aku tidak mau kamu menangis” ucapku sedih ketika melihat Hasasi menangis, aku langsung mengusap air matanya
“Jangan meninggalkanku, aku akan melakukan apapun agar bisa membatalkan pernikahan ini... aku janji padamu” ucap Hasasi optimis
“Semoga kamu bisa... aku pegang janjimu” ucapku dan mencium kening Hasasi
Hasasi yang semula menangis dan terdiam tanpa kata, dia memandangku senang lalu memelukku erat
“Makasih Fifiyan sudah percaya kepadaku, tunggu aku” bisik Hasasi senang
Tiba – tiba pintu ruang rapat terbuka dan Hasasi langsung melepaskan pelukannya
“Ayo Fifiyan” ucap Naian dingin
“Jaga dirimu baik – baik, aku pegang janjimu” bisikku di telinga Hasasi lalu melihat Naian di depan pintu
“Baik” ucapku dan berjalan menuju Naian
“Kamu habis membisikkan apa?” ucap Naian dingin
__ADS_1
“Tidak ada... sudahlah ayo” ucapku menggandeng tangan Naian dan pergi meninggalkan kantor Hasasi
Bagaimanpun juga aku menjaga perasaan Naian, apalagi posisiku berada di tengah pemimpin mafia yang jahat jadi aku harus menempatkan posisiku agar Naian tidak melukai Hasasi. Aku juga tidak menyangka ternyata perkataan Naian dan Hassan benar masih ada pernikahan karena bisnis, aku akan selalu memegang janji Hasasi yang akan membatalkan pernikahan itu dan kembali kedalam pelukanku.