Tuan Muda Tampan

Tuan Muda Tampan
Episode 70 : Penasaran


__ADS_3

Aku terus menyuapi Hasasi dengan penuh kasih sayang, entah aku harus berbuat apa untuk menebus semua kesalahanku yang kemarin, mencoba untuk membahagiakan Hasasi tapi aku sendii tidak tahu harus bagaimana melakukannya.


"Hay Fifiyan ... kenapa wajahmu seperti memikirkan sesuatu" ucap Hasasi membuyarkan lamunanku


"Enggak ... enggak ada"


"Apa yang sedang kamu pikirkan?"


"Tidak ada kok ... Oh ya Hasasi ...orang tuamu mengetahui tentang aku tidak?"


"Mmmm sebenarnya belum ..."


"Lalu ?"


"Lalu gimana maksudmu?" tanya Hasasi sambil membaca buku agenda perjalanan bisnisnya


"Kalau orang tuamu tidak menyetujui bagaimana?"


"Tenang aja sayang ... itu nanti urusanku ... apalagi Lisa udah menceritakannya kepada mereka" ucap Hasasi sambil menutup buku agendanya


"Bagaimana respon orang tuamu...?"


"Selama ini baik - baik saja"


"Oh syukurlah ... Tapi ..."


"Tenang saja sayangku"


"Hmmm baiklah"


"Oh ya ... tiga hari lagi, aku ada jadwal ke Korea..."


"Hasasi kamu kan baru saja sadar udah mikirin agenda selanjutnya" protesku


"Iya kan udah tanggung jawab mau bagaimana lagi" ucap Hasasi mengeluh panjang

__ADS_1


"Hmmm baiklah ... tapi kan kamu masih dirawat sayang ..."


"Enggak kok besok pagi udah boleh keluar"


"Kok kamu yakin?"


"Karena aku bakal bilang ke dokter untuk bisa keluar besok"


"Tapi kan kamu belum sembuh"


"Tenang saja ... jangan kamu pikirkan, aku sudah sehat kok"


"Ta ... tapi "


"Udah gak usah tapi - tapi mulu" protes Hasasi


"Ya udah deh terserah ... sekarang kamu istirahat ya ..." ucapku menutupi badan Hasasi dengan selimut


"Kamu mau kemana?"


"Tidak kemana - mana kok, aku cuma ingin duduk di sofa situ" ucapku menunjuk ke arah sofa


"Mau main game"


"Boleh ikutan?"


"Enggak ... udah cepat tidur" protesku dan berjalan mengarah ke sofa sebelah jendela kamar inap tersebut


"Hmmm baiklah " ucap Hasasi memejamkan mata


Setelah mengetahui Hasasi memejamkan mata, akupun mulai bermain game kesukaanku karena udah lama juga aku tidak bermain dan juga biar aku tidak jenuh dan berfikir yang negatif. karena asiknya bermain aku tidak melihat dan mendengar ada orang yang masuk ke dalam kamar inap ini.


"Fifiyan.." teriak Steven di sebelah telingaku


"Mmmm"

__ADS_1


"Fifiyan..." teriak Steven sekali lagi


"Mmmm ntar dulu jangan ganggu"


"Fifiyan..." Teriak Steven sekali lagi dan langsung merebut handphone dari tanganku


"Iiiihh apa sih kak ... ganggu" protesku kesal


"Kamu ini kayak anak kecil mainnya game"


"Kan aku masih kecil"


"Ya kecil jika dilihat dari sedotan ... wkwkwk" Ejek Steven


"Ih apa sih kak ... " protesku


"Hihihi ... janganlah ngambek adikku sayang"


"Hmmm iya - iya ... ada apa kak?"


"Kakak mau pergi duluan karena ada sesuatu hal yang harus dilakukan"


"And than?"


"Ya besok pagi langsung aja bawa Hasasi pulang ke rumah, Michel dan Rahel juga sudah pulang tadi..."


"Oh oke ..."


"Oh ya satu lagi ... kamu jangan berharap lebih, biar kamu tidak sakit hati" ucap Steven mengembalikan handphoneku


"Maksudnya?" tanyaku bingung


"Nanti kamu akan tahu sendiri, takut kalau yang aku takutkan akan terjadi... jadi jaga dirimu baik - baik ya... kalau butuh kakak kabari kakak saja ntar kakak bantu kamu... adikku sayang" ucap Steven mencium keningku lembut dan bejalan keluar kamar


"Apa sih kak aku paham?" protesku

__ADS_1


"Pokok intinya ... nanti kamu akan tahu sendiri apa yang akan terjadi" ucap Steven yang lama - lama mengecil


Aku tidak tahu apa yang dimaksud oleh kakakku steven, apakah ada kejadian yang akan membuat aku sakit hati lagi... ataukah akan ada kejadian yang membuatku patah hati seperti dulu... aku tidak tahu... aku masih penasaran apa yang di katakan oleh kakakku itu. Meskipun pemandangan malam kota sangat indah dan membuatku sedikit tenang namun aku tidak bisa untuk tenang dan terus memikirkan apa yang akan terjadi, tumben kakak tidak menjelaskan secara langsung seperti biasanya.


__ADS_2