
Aku saat ini merasakan kepalaku benar-benar sakit dan terasa seperti berkunang-kunang, aku membuka mataku dan melihat Hasasi yang sedang tertidur dengan bekas darah di bibirnya, aku mencoba terduduk sambil memegang kepalaku yang benar-benar terasa berat.
"Kamu sudah bangun sayang?" tanya Hasasi menatapku dengan tatapan mengantuk.
"Iya, kamu sudah bangun?"
"Ya barusan bangun, mmm kenapa kamu memegang kepalamu?" tanya Hasasi menatapku serius.
"Mmm tidak ada kok, jangan khawatir..." gumamku mencoba bersikap biasa. Hasasi menarik tanganku yang membuatku kembali berbaring di sebelah Hasasi.
"Kamu disini saja menemaniku..." gumam Hasasi merangkulku erat.
"Tapi aku mau membantu ayah dan ibu menyiapkan sarapan."
"Tidak perlu, kamu disini saja."
"Tapi kan... hmmm baiklah..." desahku memejamkan kedua mataku kembali, tapi tidak lama kemudian terdengar suara ketukan sangat keras di telingaku.
Tttookkk.. Ttookkk...
"Selamat pagi tuan muda dan nona muda, sarapan sudah siap!" ucap seorang pelayan di depan kamar.
"Oh mmm ya terimakasih!" teriakku kencang, aku berusaha terbangun tapi Hasasi tidak mau melepaskan pelukannya.
"Tidak boleh kemanapun!"
"Kamu harus makan Hasasi."
"Aku masih kenyang kok. Lagi pula aku malas bertemu dengan Lisa!" gerutu Hasasi kesal.
"Tapi kan... hmmm baiklah..." desahku kembali berbaring di sebelah Hasasi.
"Apa kamu masih marah dengan Lisa?" tanyaku pelan.
"Ya! Karena kebodohannya aku jadi menamparmu..." gerutu Hasasi dingin.
"Hmmm ya sudahlah tidak perlu dibahas, kamu harus makan sayang."
"Aku masih kenyang."
"Tapi aku lapar, aku semalam hanya memakan beberapa sendok dan kamu meminum banyak darahku..." gumamku pelan.
"Oh ya astaga aku lupa, ya sudah mari makan sayang..." gumam Hasasi berusaha terduduk.
"Eehh sayang jangan lakukan sendiri nanti kamu..."
"Aku hanya ingin belajar aja sayang."
"Hmmm nanti kalau kamu sudah sembuh, kamu bisa melakukannya sendiri kok sayang..." gumamku tersenyum manis, aku kembali menggendong Hasasi dan mendudukkannya di kursi roda.
"Hmmm kamu lapar banget ya sayang? Tanganmu bergetar..."
"Ya... sedikit kok."
"Ya sudah kita makan dulu, kamu harus banyak makan!" ucap Hasasi serius.
"Baik-baik, santai saja Hasasi..." gumamku pelan. Di ruang makan sudah hadir tuan Stun, Nyonya Stun, Han, Sasa, dan Lisa yang sedang duduk dan memakan sarapan bersama.
__ADS_1
"Aaah kalian akhirnya datang juga, hmmm ibu sangat khawatir dengan kalian berjam-jam tidak kembali..." ucap nyonya Stun pelan.
"Mmm maaf sudah membuat ibu khawatir..." gumamku pelan.
"Maafin Hasasi ya anakku, Hasasi selalu main tangan jika sangat kesal. Biasanya dia akan memendamnya tapi tidak aku sangka Hasasi menamparmu sampai kamu terluka."
"Mmm tidak apa-apa kok ibu."
"Hmmm baiklah mari duduk dan makanlah..." ucap tuan Stun menatapku serius dan aku kembali menggendong Hasasi terduduk di kursi sedangkan aku terduduk di kursiku juga, aku segera melahap makananku dengan lahap.
Tiiinnggg
Suara pesan masuk dari handphoneku terdengar dengan keras, aku membuka pesan itu dan ternyata dari dokter pribadi Hasasi.
"Nona muda, beberapa minggu lagi akan saya jadwalkan pelaksanaan operasi untuk tuan muda. Jadi nona muda harus menjaga kesehatannya!" gumamku membaca pesan itu, aku segera membalasnya dan memasukkan kembali handphoneku.
"Oh ya ayah, kata dokter akan ada orang yang mau mendonorkan organ dalamnya untukku. Mungkin beberapa bulan lagi Hasasi akan operasi!" ucap Hasasi senang.
"Oh benarkah? Ayah senang mendengarnya... tapi..." gumam tuan Stun menatapku dan aku langsung menggelengkan kepalaku yang membuat tuan Stun terdiam.
"Tapi apa ayah?" tanya Hasasi serius.
"Mmm tidak ada, ayah senang mendengar berita bagus itu tapi... ayah masih memikirkan nasib Lisa dan bayinya..." gumam tuan Stun pelan.
"Apa... Lisa benar-benar hamil?" tanyaku terkejut.
"Ya, semalam dokter memeriksanya dan dia hamil. Ayah meminta pendapatmu Hasasi!"
"Kenapa meminta pendapatku?"
"Kamu anak pertama dan kamu kakaknya Hasasi!"
"Kakak... maafkan aku... aku..."
"Heeeh sudah aku katakan kan! Aku tidak akan mau mengurusi apapun itu! Kau sudah dewasa! Kau meminta rumahku yang aku bangun sendiri dan aku mengabulkannya, tapi kau mempermalukan aku seperti ini! Aku marah dan kesal denganmu malah istriku menjadi sasaran kekesalanku! Kau tidak sekali dua kali melakukan ini! Apa kau kira aku tidak tau seperti apa kelakuanmu!!" teriak Hasasi kencang, Lisa hanya terdiam dan menundukkan kepalanya.
"Aku benar-benar kecewa denganmu Lisa!" gerutu Hasasi bersiap menjatuhkan tubuhnya ke lantai kembali. Melihat dia mau menjatuhkan tubuhnya, aku segera menangkap tubuhnya dan menggendongnya.
"Turunkan aku Fifiyan!"
"Kamu mau kemana?"
"Aku muak! Aku ingin balik ke rumah!" gerutu Hasasi kesal.
"Oh mmm baiklah... ayah ibu... Fifiyan dan Hasasi pamit dulu..." gumamku mendudukkan Hasasi di kursi roda dan sedikit membungkukkan badanku.
"Ayah dan ibu mau kemana?" tanya Han dan Sasa bersamaan.
"Kembali ke rumah paman Steven."
"Han dan Sasa mau ikut ibu!" ucap Han serius.
"Eehh ikut? Kenapa?" tanyaku penasaran.
"Han dan Sasa ingin merawat ayah."
"Hmmm baiklah, pamit dulu sama kakek dan nenek..."
__ADS_1
"Kakek... nenek... Sasa sama kak Han ikut ayah dan ibu ya!" ucap Sasa polos.
"Oh mmm baiklah, jaga ayahmu ya cucuku. Jangan lupa main ke rumah kakek sama nenek!" ucap Tuan Stun mencium pipi Sasa dan Han.
"Baik kakek!" ucap Han dan Sasa bersamaan.
Aku mendorong kursi roda keluar dari kediaman keluarga Stun dan menggendong Hasasi menuju ke mobil. Selama perjalanan Hasasi nampak seperti terlihat sangat marah ditambah kedua anak kami yang ikut juga membuat Hasasi hanya terdiam selama perjalanan, tangan halus yang terus bergemetar membuatku mengerti rasa kecewa Hasasi ini, aku memeluknya dan mengusap lembut punggungnya sampai kami sampai di rumah Steven.
"Han dan Sasa istirahat dulu ya, nanti malam baru makan bersama ya..." gumamku pelan.
"Tapi ibu..."
"Paman Steven sepertinya sedang ada urusan dan kalian di rumah paman Steven jadi kalian harus sopan ya."
"Baik ibu, Han juga mau mengerjakan tugas Han di kamar ibu..." gumam Han menggandeng Sasa masuk ke dalam rumah Steven.
"Oh ya pak bawakan kursi roda itu ke kamar ya..." gumamku pelan.
"Lalu bagaimana nanti tuan muda..." ucap sopir pribadi Steven bingung.
"Tenang saja, aku akan menggendongnya. Dia sedang tertidur."
"Biar saya saja yang menggendongnya."
"Tidak perlu pak, bawakan saja kursi roda itu!"
"Oh mmm baik nona muda." Sopir pribadi Steven itu langsung membawa kursi roda ke dalam rumah sedangkan aku hanya mengusap lembut pipi Hasasi dan bersiap menggendong Hasasi.
"Hmmm...." desahku menggendong Hasasi dan melangkahkan kakiku masuk ke dalam rumah, aku tahu dia tidak benar-benar tertidur. Dia melingkarkan kedua tangannya di leherku dan menyembunyikan wajahnya di dadaku.
"Kamu mau ke kamar?" tanyaku pelan dan Hasasi menganggukkan kepalanya pelan.
"Oh mmm baiklah..." desahku menggendong Hasasi dengan perlahan. Sebenarnya aku capek menggendong tubuh Hasasi yang berat disaat aku hanya memakan sarapanku yang sedikit tadi tapi aku berusaha untuk selalu berada di sisinya.
"Fifiyan... apa aku berat?" tanya Hasasi pelan.
"Tidak kok."
"Tapi kenapa nafasmu seperti terengah-engah seperti itu?" tanya Hasasi pelan.
"Oh mmmm tidak juga, kamu tidak berat kok sayang."
"Oh benarkah?" tanya Hasasi pelan.
"Iya sayang, tenang saja..." gumamku mendudukkan Hasasi di atas tempat tidur tapi Hasasi tidak mau melepaskan rangkulan tangannya.
"Hasasi lepasin..."
"Aku gak mau disini."
"Lalu... kamu mau dimana?" tanyaku bingung.
"Disana..." gumam Hasasi menunjuk balkon di depan kamar.
"Oh baiklah..." gumamku berjalan ke kursi balkon dan mendudukkan Hasasi kembali tapi Hasasi tetap tidak mau melepaskan rangkulan tangannya.
"Ada apa Hasasi?"
__ADS_1
"Mau duduk di pangkuanmu..."
"Haish kamu sangat manja ya sayang..." desahku terduduk di kursi dan Hasasi langsung merangkulku erat. Aku sebenarnya mendengar suara tangisan Hasasi di telingaku, tapi aku hanya terdiam dan mengusap lembut rambut Hasasi sambil sesekali mencium pipinya yang sedikit basah karena air mata.