
Entah berapa lama aku menangis di tepian danau yang sunyi dan sepi ini, rasa sakit masih terasa di hati kecilku ini, aku ingin pulang tapi tidak ada tempat untuk pulang hanya rumah kontrakanlah satu – satunya tempatku pulang.
“Fifiyan...” teriak seseorang di tengah kegelapan aku hanya bisa sesenggukan melihat bayangan itu
“Fifiyan ... kenapa kamu disini?” ucap Hwansa
“Tidak ada”
“Kamu menangis?”
“Tidak”
“Jangan bohong, air matamu keluar semua” ucap Hwansa
“Tidak apa – apa, aku ingin pulang” ucapku sedih
“Kenapa? ... apa karena Hasasi menari dengan Cindy, jujurlah”
“Mmmmm ... iya”
“Emang apa hubunganmu dengan Hasasi?”
“Tidak ada”
“Jawab yang jujur” bentak Hwansa
“Hmm aku calon istrinya, ini cincin pemberiannya” ucapku sedih
“Serius, kenapa kamu tidak bilang” teriak Hwansa
“Udah lah jangan dibahas lagi, aku ingin sendiri”
“Tidak ... aku tidak akan meninggalkanmu sendiri, kalau terjadi apa – apa kepadamu aku yang akan kena marah Hasasi”
“Kenapa juga kamu kena marah, aku bukan siapa – siapanya juga” ucapku sedih
“Udah jangan dipikirkan ... mungkin Hasasi ada rencana sehingga dia melibatkan mantannya”
“Rencana apa? ... tidak mungkin ada”
“Ya ... mmm ... kemungkinannya”
“Ya udah lah aku mau pulang, ini berikan cincin ini kepada Hasasi ... aku tidak pantas memakainya dan tolong bilang terimakasih atas semuanya” ucapku sambil melepas cincin dan pergi dari tempat itu
“Kamu mau pergi kemana? ... ini kan hampir tengah malam”
__ADS_1
“Ke suatu tempat” ucapku dan berlalu meninggalkan Hwansa
Aku tidak tahu kenapa hwansa bisa menemukanku, kenapa tidak Hasasi sendiri yang menemukanku dan menjelaskan semuanya. Emang aku di lahirkan sebagai sampah yang tidak berguna, seorang sampah tanpa keluarga, dan juga tanpa seseorang yang bisa mengerti aku
Aku berlari dan terus berlari meninggalkan danau tersebut dan sampai akhirnya aku menjumpai jalan raya dan sebuah taksi
“Taksi” teriakku dan taksi berhenti
“Ke bandara pak” ucapku dan taksi mulai berjalan ke arah bandara.
Disaat aku berada dalam perjalanan, handphoneku berdering dan aku melihat Hasasi sedang meneleponku karena aku sedang badmood akhirnya aku matikan telpon tersebut tapi Hasasi tetap menelepon beberapa kali yang menyebabkan aku kesal dan akhirnya aku matikan handpohoneku untuk sementara
“Nona, kita sudah sampai di bandara” ucap sopir taksi
“Oh baik terimakasih pak” ucapku dan memberikannya uang dan aku langsung turun
Aku berjalan menuju ke tempat penjualan tiket dan berharap tiket menuju Australia masih ada
“Selamat malam nona, ada yang bisa saya bantu?” tanya penjual tiket
“Apakah ada tiket pesawat menuju Australia?”
“Mmm mohon maaf, pesawat yang menuju Australia terakhir berangkat setengah jam yang lalu”
“Mohon maaf itu pesawat terakhir hari ini, adan lagi besok siang pukul 11 siang”
“Aduh ... jalur penerbangan yang masih tersedia apa saja?”
“Tinggal satu pesawat menuju Jepang, lima belas menit lagi lepas landas” ucap petugas loket tersebut
“Baiklah, aku beli tiket pesawat yang terakhir”
“500 ribu dolar nona” ucap petugas loket tersebut dan aku menyerahkan uang kepada petugas loket tersebut
Aku berlari menuju pesawat karena takut aku akan ketinggalan pesawat, Negara Jepang adalah tempat kelahiranku dimana keluargaku dibunuh habis – habisan disana, sebenarnya rumah Hasasi juga ada di Jepang tapi aku tidak mau berada di rumah tersebut sehingga aku berharap semoga rumahku yang lama masih bisa untuk di tinggali sementara.
Saat aku berada di dalam pesawat,aku langsung menghidupkan handphoneku dan terdapat 20 notifikasi panggilan tidak terjawab dari Hasasi, tapi saat itu juga aku melihat pesawat Hasasi yang masih parkir di area khusus pesawat pribadi dan aku melihat seseorang seperti Hasasi sedang menggandeng tangan seorang wanita dan menuju ke dalam pesawatnya, aku tidak bisa melihat dengan jelas karena kondisi yang gelap dan di belakangnya aku melihat Hwansa memberhentikan Hasasi sendiri dan wanita itu masuk ke dalam pesawatnya sendirian, aku melihat Hwansa memberikan sesuatu kepada orang tersebut dan orang tersebut langsung memegang handphonenya sepertinya dia menelepon seseorang dan aku kaget handphone ku berdering lagi
"Apa itu tadi Hasasi ya?" gumamku dalam hati
panggilan demi panggilan masuk kedalam handphoneku, karena pesawat akan lepas landas akupun mematikan handphoneku dan melihat wajah Hasasi yang seperti ketakutan tapi aku tidak peduli, aku bukan siapa - siapanya sekarang.
Setelah 4 jam menempuh perjalanan udara, akhirnya aku sampai di Jepang. Aku langsung menaiki sebuah taksi dan sampai di sebuah rumah besar yang sudah berlumut dan tanpa seseorangpun disana yang tinggal hanya seorang tukang bersih – bersih yang membersihkan rumahku dulu
“Loh nona Fifiyan?” tanya paman itu kaget melihat kedatanganku
__ADS_1
“Paman kok masih kenal aku?”
“Ya kenal dong nona, bagaimana keadaan tuan Steven?”
“Dia baik paman”
“Nona kesini ada apa? ... dan kenapa nona memakai gaun yang mewah?”
“Aku kesini ingin bermalam disini paman ...aku baru selesai menghadiri acara ... apakah ada kamar yang bisa aku pakai?” tanyaku
“Oh ada nona, kamar nona masih bagus keadaannya ... nona bisa bermalam disana” ucap paman
“Baiklah terimakasih paman”
“Kalau ada apa – apa bilang ke paman ya” ucap paman dan aku berlalu menuju kamarku waktu aku kecil
Paman yang membersihkan rumahku ini adalah kepercayaan ayahku, dia adalah orang yang selamat dalam pembunuhan berdarah itu karena paman bukan dari anggota keluarga Shinju dan tepat saat pembunuhan tersebut terjadi paman sedang tidak ada di rumah.
Sejujurnya aku sedih dan hatiku masih terasa sakit gara – gara kejadian tadi saat acara pernikahannya Dennis dan juga sekarang lebih sedih karena aku menjadi keingat akan orang tuaku saat melihat rumahku yang usang ini, tapi walau bagaimanapun kejadian tersebut tidak pernah aku lupakan seumur hidupku
“Nona ini susu sapi hangat untuk nona” ucap paman saat aku sedang duduk di pinggir tempat tidur
“Terimakasih paman, paman selalu baik kepadaku” ucapku senang
“Ya kan nona dan tuan Steven satu – satunya keturunan Shinju yang masih hidup, jadi paman hanya bisa menjaga nona dan tuan Steven saja” ucap paman sambil memberikanku susu hangat
“Paman jaga kesehatan ya saat kami berdua tidak ada dirumah”
“Iya itu pasti nona, baiklah nona istirahat aja dulu” ucap paman dan berlalu meninggalkanku sendirian di kamar
Aku membuka lemari pakaianku yang dimana didalamnya masih ada pakaian yang masih bisa aku pakai yaitu baju dari ibuku sendiri dan didalam lemari juga terdapat foto kami sekeluarga, sangat hamonis dan indah dan tidak terasa air mataku jatuh
“Ayah ibu aku kangen kalian” gumamku sambil mengelus foto tersebut
Setelah itu aku langsung berganti baju dan bersiap untuk tidur karena besok aku harus kembali ke Australia dan jika aku tetap berada di rumah ini aku akan terus menangis tanpa henti. Dan aku berharap hidupku setelah ini akan lebih indah lagi dan tidak merasakan sakit hati yang terlalu dalam seperti saat ini.
Setelah berganti baju aku menghidupkan handphoneku kembali dan terdapat 35 notifikasi panggilan tidak terjawab dari Hasasi dan sebuah pesan dari Hasasi.
Sayang kamu kemana? aku khawatir denganmu? cepat dibalas pesanku ini, aku akan menjemputmu dan menjelaskannya kepadamu
Hasasi
"Menjelaskan tentang apa lagi? tidak ada yang perlu dijelaskan" gumamku kesal dalam hati dan aku langsung membanting handphoneku di atas kasur
Aku ingin hidup bahagia dengan keluarga dan juga dengan orang yang aku cintai tapi kenapa nasib baik tidak datang kepadaku.
__ADS_1