Tuan Muda Tampan

Tuan Muda Tampan
Episode 40 : Berita Mengejutkan


__ADS_3

Hassan menarikku lembut keluar rumahnya, tak ku sangka rumahnya besar dan juga luas lebih luas dari yang aku bayangkan. Wajah Hassan memancarkan wajah senang seperti anak kecil yang diajak jalan - jalan ke taman ria


“Kamu mau mengajakku kemana?”


“Ke suatu tempat”


“Apa rumah kalian berada di tengah hutan?” tanyaku penasaran karena yang aku lihat hanya hutan


“Tidak juga, rumah ini berada dadi atas bukit... tapi ya bisa dibilang hutan sih”


“Aku takut” ucapku terbata – bata sambil menarik tangan Hassan


“Tenang ... jangan takut kan ada aku” ucap Hassan dengan tesenyum


Aku hanya bisa mengikutinya dari belakang, sejujurnya aku takutkarena berdua di hutan dan tidak ada siapapun


yang melintas


“Kenapa rumah kalian tersembunyi seperti ini?” tanyaku heran


“Biar musuh tidak tahu”


“Apa kalian tidak takut kalau aku musuh kalian?”


Langkah Hassan langsung berhenti dan memandangku tajam, tangannya langsung memegang daguku


“Aku percaya kakakku, siapapun yang dia bawa pulang pasti bukan orang jahat... apalagi dengan wajahmu yang manis ini aku yakin kamu orang baik” ucap Hassan penuh percaya diri dan tiba – tiba mencium bibirku lembut


“Mmmm kamu menciumku” ucapku kaget dan menutup bibirku


“Kamu sangat manis... andaikan kamu milikku” gumam Hassan lirih


“Eee... maksudnya?”


“Ti ... tidak, lupakan saja” ucap Hassan tersipu malu


“Kenapa wajahmu memerah?”


“Ti...tidak ada... kita sudah sampai”


“Waah bulan yang indah” ucapku kagum saat melihat langit yang dihiasi bulan purnama dengan bertaburan bintang berkedip membuat tenang melihatnya


“Ya ini lah yang ingin aku beritahu, aku kalau jenuh selalu melihat bulan seperti ini” gumam Hassan melihat bulan


diatasnya


“Kenapa kamu tidak berjalan – jalan dengan pacarmu saat kamu jenuh?”


“Tidak... aku tidak punya pasangan”


“Kenapa?”


“Karena ... tidak ingin saja”


“Emang tidak ada yang menarik perhatianmu?”


“Tidak... kami sebagai petinggi harus mengikuti aturan main”


“Maksudnya aturan main itu apa?” tanyaku polos


“Maksudnya harus menikah dengan wanita yang menjadi anak suatu perusahaan agar mampu bekerjasama... ya dapat diartikan pernikahan karena bisnis”


“Tapi kan kalian sudah menjadi nomor 1 di dunia... kenapa khawatir?”


“Iya meskipun begitu, tetap saja aturan itu berlaku... makanya kenapa aku dan kakak belum menikah”


Oh .. mmm... emang semua pemimpin perusahaan terkenal memiliki aturan seperti itu?” tanyaku sedih


“Ya pastilah... tidak bisa di pungkiri lagi, kecuali bisa membuktikan walaupun dia menikah dengan wanita pilihannya dan bisa membuat perusahaannya terus maju ... hal itu tidak masalah”


“Mmmm... pantas saja” gumamku sedih


“Kenapa?”


“Tidak ada”

__ADS_1


“Ceritalah cantik”


“Mmm ya ... apa kamu tahu Hasasi?” ucapku dengan menatap Hassan sedih


“Oh si Hasasi ya?... ya aku tau, emang kenapa dengan dia?”


“Aku sebenarnya calon istrinya ... tapi dia selalu bermain wanita dan ini sudah kali ke dua” ucapku sedih


“Mmm ya biasanya  sih pasti akan begitu... demi urusan bisnis”


“Mmmm...” desahku sedih


“Eh tunggu dulu... bukannya Hasasi akan menikah ya?”


“Sama siapa?” tanyaku kaget


“Sama Bunga Mo... anak perusahaan terbesar nomor satu di Australia, dan kemarin disiarkan di TV juga” ucap Hassan melirik ke arahku


“Ka... kamu se.. serius?” teriakku kaget


“Yups... liatlah ini” ucap Hassan menyerahkan handphonenya kepadaku


“I... ini” ucapku kaget sampai tidak bisa berkata – kata


Pemimpin perusahaan Stun akan menikah dengan wanita cantik perusahaan Mo dalam setengah tahun lagi


Sejujurnya aku kaget sampai tidak terasa air mataku jatuh, hatiku sakit sangat sakit sampai aku tidak bisa berkata – kata


"Sebenarnya Bunga Mo adalah mantan kakakku dan pernah mencoba mendekatiku sampai - sampai kami bertengkar hebat, tapi untung Bunga Mo di sisi kakakku tidak lam dan akhirnya kami bisa rukun kembali" jelas Hassan namun aku hanya diam saja


“Ka... kamu menangis?” ucap Hassan kaget tapi aku tidak menjawabnya. Tiba – tiba Hassan memelukku hangat dan aku menangis di pelukannya


“Sudah jangan menangis...kan ada aku yang akan selalu di sisimu” ucap Hassan lembut dan mengelus rambutku


Aku menangis dan terus menangis di pelukannya Hassan, aku tidak percaya wanita itu adalah tunangannya dan menikah karena bisnis saja. Apalah dayaku yang hanya orang biasa sekarang, seandainya keluargaku masih terkenal aku bisa menikah dengan laki – laki yang aku mau


“Hassan ... apa yang sedang kamu lakukan sampai – sampai Fifiyan menangis?” ucap seseorang di balik pohon pinus besar


“Kakak ... aku tidak melakukan apapun” ucap Hassan kaget dan tiba – tiba Naian menarikku dan memelukku lembut


“A... aku tidak melakukan apapun... ta.. tadi” ucap Hassan terbata - bata


“Kamu jangan bohong”  teriak Naian dingin


Karena aku tidak mau kakak beradik ini bertengkar karena aku akhirnya aku menenangkan diri dan ingin menjelaskan kepada Naian


“Naian... di... dia tidak melakukan apapun” ucapku terbata – bata


“Lalu, kenapa kamu menangis?” tanya Naian serius dan aku menyerahkan berita yang ada di handphone Hassan


“Oh karena berita tentang Hasasi ya?”


“I... iya”


“Sudah jangan menangis... kan kamu sekarang milikku jadi jangan pedulikan Hasasi lagi” ucap Naian lembut dan terus membelaiku tetapi aku hanya diam saja, aku tidak paham maksudnya aku milik Naian


“Mmm oh ya bukannya kakak besok akan mengadakan rapat dengan si Hasasi itu ya?” ucap Hassan tiba – tiba


“Yah... benar.. aku hampir lupa, besok kamu ikut denganku Hassan” ucap Naian dingin


“Tumben ngajak aku” gerutu Hassan


“Karena aku akan mengajak sekretarisku yang manis ini bersama, jadi aku memintamu untuk menjaga dia” ucap Naian dingin dan terus mengelusku


“Oh oke beres, kenapa gak sekalian jadi milikku saja” gerutu Hassan


“Tidak bisa ini milikku”


“Ya ... ya terserah” ucap Hassan kesal


“Fifiyan gak apa – apa kan besok ikut aku rapat” ucap Naian lembut


“Ta ... tapi apa aku bisa?” tanyaku takut


“Bisa... tenang aja, ada Hassan kok” ucap Naian lembut dan tiba – tiba dia menggendongku

__ADS_1


“Ka ... kamu kenapa menggendongku?” tanyaku kaget


“Kita pulang, besok kita berangkat ke Inggris” bisik Naian di telingaku


“Bukannya kamu akan mengajakku jalan – jalan ya?”


“Setelah rapat aku akan mengajakmu jalan – jalan, jadi tenang saja” bisik Naian dan mencium pipiku lembut


“Mmmm Baiklah...” ucapku pasrah


Naian terus berjalan sambil menggendongku sesekali dia mencium keningku ini


" Naian, sebenarnya aku tidak sakit loh kenapa kamu menggendongku?"


"Tidak apa - apa... apalagi aku tidak pernah menggendong perempuan" ucap Naian lembut


"Naian, mantan pacarmu menikah dengan pria lain apa kamu tidak marah?"


"Mmm sebenarnya sih... tapi sekarang ada kamu, jadi aku tidak memikirkannya lagi"


"Emang kenapa dengan aku?"


"Ya... kamu adalah orang yang spesial"


" Aku kan bukan keluarga bangsawan atau perusahaan terkenal"


"Ya ... tapi kamu anak dari perusahaan yang pernah menjadi sainganku... perusahaan Shinju" ucap Naian lembut


"Hmmm... itu kan dulu"


"Dulu atau sekarang, bagiku sama aja" ucap Naian dan menggendongku sampai ke kamar


"Kamu tidur dulu ya..." ucap Naian meletakkan tubuhku di kasur


"Kamu panas ya?" ucap Naian kaget saat memegang leherku


"Vini... Vini..." teriak Naian


"Iya tuan"


"Tolong bawakan pengompres dan obat panas" ucap Naian dan Vini langsung keluar kamar. Tidak beberapa lama kemudian Vini membawakan seember baskom dan beberapa obat


"Kamu minum obat dulu ya" ucap Naian dingin tap aku menolaknya


"Aku tidak apa - apa Naian"


"Udah cepetan minum..." ucap Naian mendudukanku


"Hmmm baiklah" ucapku mengalah dan meminum obat itu


"Sini aku kompres dahimu" ucap Naian lembut dan meletakkan handuk kecil di dahiku


"Naian... terimakasih ya" ucapku senang


" Apa saja akan aku lakukan untukkmu cantik" ucap Naian lembut


"Baiklah kamu istirahat saja ya dulu"ucap Naian meninggalkanku sendirian tapi aku langsung memegang tangannya


"Naian jangan pergi... temani aku" rengekku


"Hmmm ... baiklah" ucap Naian lembut dan tidur di sebelahku dan mengelus rambutku


"Naian"


"Mmm.. apa cantik?"


"Apa aku bisa?"


"Bisa, pokok kalau ketemu dia tenangin diri dan anggap saja kamu tidak pernah kenal Hasasi"


"Mmm baiklah" ucapku pasrah


"Sudah kamu tidur dulu" ucap Naian lembut sambil mengelus rambutku sampai aku tertidur


Aku tidak ahu apakah aku siap atau tidak untuk bertemu dengan Hasasi besok, apalagi menghadapi kenyataan kalau dia tidak akan menjadi milikku untuk selamanya.

__ADS_1


__ADS_2