
Aku terus berlari menuju ke ruangan tempat Hasasi berada tapi Hansol tetap mengikutiku dari belakang
“Fifiyan tunggu...” teriak Hansol
“Jangan mengikutiku” teriakku
“Tunggu Fifiyan...” teriak Hansol dan berhasil menangkap tanganku
“APA LAGI...” teriakku
“Ayo pulang” ucap Hansol memohon
“Enggak ... aku pengen tau yang sebenarnya”
“Gak boleh” ucap Hansol dan menarik tanganku
“Lepasin”
“Jangan membuatku kasar kepadamu Fifiyan” ucap Hansol dengan wajah sedikit marah dan itu membuatku takut
“Apa yang kamu mau?” tanyaku dingin
“Pulang”
“Enggak” ucapku dan melepaskan tanganku dari genggamannya
Aku berlari dan terus berlari sampai akhirnya aku sampai di sebuah ruangan yang sudah banyak wartawan yang berkumpul di depan pintu
“Fifiyan tunggu” teriak Hansol di belakangku tanpa berpikir panjang aku menaksa memasuki ruangan. Dan betapa terkejutnya melihat Hasasi dengan tatapan dingin dan santai meminum wine di tangannya dan disebelahnya ada wanita cantik yang terus menempel Hasasi seperti perangko
Aku diam membeku di antara wartawan yang sedang asik mewawancarai Hasasi dan wanita itu, Hasasi tidak menyadari sama sekali kehadiranku, tanpa ku duga air mataku jatuh mengalir ke pipiku seperti air terjun. Sakit, itulah rasanya hatiku saat ini. Walaupun aku tahu pasti dia sedang merencanakan seseuatu , tapi dia tidak memberitahuku sama sekali dan itu membuatku sakit.
“Hasasi...” teriakku keras sambil menangis
“Fi...fiyan, kenapa kamu kesini?” ucap Hasasi kaget dan tanpa pikir panjang aku keluar dari restaurant tersebut
“Fifiyan tunggu” teriak Hasasi dari belakangku
Aku tidak peduli teriakan Hasasi dan terus berlari menjauhi Hasasi. Tiba – tiba langkahku terhenti karena Hansol berada di depanku
“Kamu kenapa menangis?” tanya Hansol tetapi aku diam saja
“Fifiyan, tunggu jangan pergi” teriak Hasasi dari belakang
__ADS_1
“Oh udah bertemu dengan Hasasi” ucap Hansol dingin dan aku tidak memperdulikan omongan Hansol
“Mau kemana kamu?”
“Bukan urusanmu”
“Jangan kemana – mana” ucap dingin Hansol
“Udah cukup Hansol... tolong ngertiin aku okey” ucapku lembut dan genggamannya sedikit melonggar
Aku melanjutkan pelarianku tapi disaat aku berlari, aku mendengar percakapan Hasasi dan Hansol
“Kenapa kamu biarkan Fifiyan kemari?” ucap Hasasi dingin
“Ya mau gimana lagi, dia nekat banget” ucap Hansol dingin dan Hasasi terus mengejarku
Aku terus berlari dan terus berlari sampai akhirnya aku bisa menjauhi Hasasi, aku tidak menyangka Hasasi melakukan hal itu lagi, padahal baru tadi pagi dia bilang serius denganku terus kenapa saat menjelang malam kejadian menyakitkan ini terulang lagi. Aku menangis dan terus menangis apa salahku, kenapa setelah kebahagian selalu ada kesedihan.
Padahal yang aku inginkan adalah kebahagiaan bersama Hasasi, orang yang aku cintai sepenuh hatiku. aku terus berjalan sampai akhirnya aku sampai di pinggir danau yang indah dan sepi dan hanya ada aku disitu. aku menangis sekencang - kencangnya, aku ingin mencurahkan semua sakit ini, hati yang sangat sakit lebih sakit dari yang sebelumnya padahal hatiku sudah sedikit terobati dengan kehangatan Hasasi
“Hey.... “ sapa seseorang di belakangku, seorang pria tampan, pria itu memiliki kulit putih, wajah bersinar, dan sangat tinggi apalagi dari jas yang dipakainya terlihat bahwa perutnya seperti roti sobek yang siap untuk di sobek
“Si... siapa kamu?” tanya kaget
“Perkenalkan aku Naian Mark... “ ucap lembut Naian
“Yups benar... Namamu siapa?” tanya Naian lembut
“A... aku Fifiyan” ucapku sesenggukan
“Kamu kenapa menangis sendirian?”
“Ti.... tidak ada.. lupakan saja”
“Kamu asli orang sini ya?” tanyaku
“Bukan.. aku pendatang”
“Oh dari mana?”
“Dari Rusia”
“Kok bisa bahasa kami?”
__ADS_1
“Hey ya tau lah... aku orang penting”
“Ngapain kamu ada di sini?”
“Aku tadi sore selesai rapat dengan seseorang... sebenarnya malam ini kembali ke Rusia sih tapi aku masih ingin jalan - jalan ke tempat sepi seperti ini, pas jalan – jalan malam malah ketemu kamu yang sedang menangis” jelas Naian
“Oh ... katamu tadi kamu orang penting ya... emang kamu kerja apa?” tanyaku penasaran
“Suatu hari nanti kamu akan tau... mau aku antar pulang?”
“Ti... tidak terimakasih” ucapku sambil tersenyum
"Kenapa?"
"Tidak apa - apa kok"
"Jangan menangis lagi ya, nanti cantiknya hilang loh" ucap Naian dan mengusap air mataku dengan lembut
"I... iya... kamu kesini sendirian?" tanyaku sambil melihat sekeliling
"Tidak juga... disini banyak mata - mata dan penjagaku"
"Serius?... tapi aku tidak melihat mereka"
"Ada kok... aku panggil ya... KALIAN SEMUA KELUAR" teriak Naian dan satu persata orang keluar dari ttempat persembunyian, mereka memakai pakaian rapi seperti seorang mafia
"Eeee.... banyak sekali" tanyaku kaget
"Iya begitu ... kamu takut ya... aku suruh mereka sembunyi lagi agar kamu tidak takut" ucap Naian sambil mengangkat tangannya seperti memberi sebuah kode dan penjaga beserta mata - mata naian kembali bersembunyi
"Waw... hebat... emang ada berapa tadi?"
"Mmmm... ya kira - kira ada 100 orang lah"
"Se... seratus?"
"Yups benar"
"Oh ya tampilan mereka seperti mafia?"
"Mmmm ya kalau dibilang mafia emang mafia, dibilang bukan ya bukan"
"Maksudnya?"
__ADS_1
"Suatu hari nanti kamu akan tau... baiklah aku pulang dahulu ya, kamu cepetan pulang nanti dicariin loh" ucap Naian dan berjalan meninggalkanku
Tidak tahu kenapa kepalaku terasa berat, mataku seperti TV jadul yang hanya berwarna hitam putih sama seperti saat aku pingsan di jembatan dulu, badanku juga terasa lemas sekali dan akhirnya aku tidak berdaya.