
Setelah aku dan Hasasi keluar kamar untuk menuju ke ruangan pelelangan, aku melihat ada pintu yang besar kira – kira 5 kali tinggiku dan di depannya terdapat dua orang pemuda yang memakai jas rapi
“Silahkan tunjukan identitas anda” ucap pemuda itu dan Hasasi menunjukkan lencana itu
“Silahkan masuk, kursi anda berada di barisan depan” ucap pemuda itu dan membukakan pintu tersebut
Di dalam ruangan aku melihat banyak sekali orang – orang yang datang dan juga panggung yang sangat besar Aku dan Hasasi mendapatkan tempat duduk di kursi deretan pertama karena deretan tempat duduk ini di urutkan berdasarkan dengan peringkat posisi dari perusahaan yang di seluruh dunia dan juga lencana yang dipunyai. Di depan kami disediakan topeng bermotif berbeda dan berwarna berbeda. Aku memakai topeng berwarna biru langit dan Hasasi memakai topeng berwarna biru dongker.
Setelah kami duduk dan menggunakan topeng, acara perlelangan dimulai. Namun di awali dengan acara menari oleh wanita – wanita cantik, saat wanita – wanita cantik itu menari aku melihat Hasasi tetap berwajah dingin
“Tuan Hasasi mau beli barang apa?” tanyaku
“Don’t call me sir here... call me baby” jawabnya santai
“What?”
“Ingat kamu adalah istriku”
“Huuh... oke up to you, kita kan belum nikah” gumamku kesal
“Oke barang pertama gelas antik abad 19, harga dimulai dari 2 miliar dollar. Kami akan mengambil harga yang tertinggi” seru pembawa acara dan ditemani seorang wanita muda memakai tanktop dan rok mini yang memegang gelas berukuran kecil yang berhias permata warna warni
“5 miliar dollar” teriak pemuda bertopeng biru
“12 miliar dollar” teriak wanita bertopeng ungu
“20 miliar dollar”teriak pemuda bertopeng hijau. Dan setelah itu tidak ada yang menawarnya lagi
“Baik tidak ada yang menawar lagi... Baik tuan bertopeng hijau barang ini sekarang milik anda”
“Selanjutnya gaun dari kerajaan Inggris pertama gaun berwarna putih dengan renda yang khas, ini gaun pernikahan dari ratu Inggris yang pertama, dimulai dengan harga 10 milliar dollar. Kami akan mengambil harga tertinggi” seru pembawa acara
“15 miliar dollar” teriak wanita bertopeng putih menawar
“50 miliar dollar” teriak wanita bertopeng hijau muda
“80 miliar dollar” teriak wanita bertopeng merah kemudian
“1 triliun dollar” teriak wanita bertopeng merah muda kemudian
“Baik tidak ada yang menawar lagi?... Ini gaun limited edition” tanya pembawa acara
“Kamu tidak mau gaun itu?” tanya Hasasi tiba – tiba
“Kamu mau nawar berapa emang?” tanyaku balik
“10 triliun pun gak masalah demi kamu” jawabnya
sambil memandang aku
“Wait... 10 triliun! Gak perlu ah terlalu mahal... itu cuma sebuah gaun lama kok” jawabku.
Dalam pikiranku, terpikirkan gaun tua ditawar sebegitu mahal dan buat aku? Gak ah gak mau merepotkan dia juga
“Iya... mau enggak?... nanti keburu diambil Sari Lie si topeng merah muda” tanyanya lagi
“Enggak perlu... biarkan dia saja”
“Baiklah”
“Baik selamat gaun ini untuk anda nyonya bertopeng merah muda” seru pembawa acara kembali
“Barang yang ketiga jas penikahan dari raja Inggris ke 5, jas ini masih bagus dan terlihat cocok bila dipakai, harga yang ditawarkan dimulai dari 15 Miliar dollar” tawar pembawa acara
“18 miliar dollar” tawar pemuda bertopeng coklat
“25 miliar dollar” tawar pemuda bertopeng orange
“57 miliar dollar” tawar pemuda bertopeng hitam
“Jas itu bagus gak menurutmu?” tanya Hasasi tiba – tiba
“Kenapa? Apa kamu mau beli?” tanyaku
“Iya kalau menurutmu bagus ya aku beli” kata dia kemudian, tapi sebelum aku jawab aku melihat jas itu dan melihat badan Hasasi aku kira – kira pantas juga kalau dipakai Hasasi. Cuma harga berapa yang akan ditawar oleh Hasasi ya. Aku ingin membelikan dia dengan sisa uang yang dia berikan kepadaku beberapa tahun ini apalagi uangku masih ada sisa 600 Miliar, ya seenggaknya dia sudah baik banget denganku jadi aku harus baik juga kepadanya
“Baik tidak ada yang mau menawar lagi?” tanya pembawa acara
“Bagaimana menurutmu?” tanya Hasasi lagi
“60 milliar dollar” teriakku kencang
“Baik nona bertopeng biru muda jas ini sekarang milik anda” kata pembawa acara. Nampaknya teriakku itu mengagetkan Hasasi
“Kamu membelinya?” tanyanya kaget
“Iya. Kenapa kamu enggak suka?” tanyaku. Dan tiba – tiba wanita yang tadi memegang jas itu datang menemui aku dan menyerahkan jasnya kepadaku
“Ini nona jasnya, harga 60 miliar dollar” kata wanita itu dan akupun membuka dompet dan memberikan uangku ke wanita itu
“Terimakasih telah bertransaksi” kata wanita itu dan pergi
“Kamu dapat uang dari mana?”tanya Hasasi
“Dari kamu lah... Ini tabunganku” Jawabku santai dan memberikan jas itu kepadanya
__ADS_1
“Oh ya? Kamu pintar menabung juga... Makasih ya baby” kata Hasasi dan langsung memelukku
“Oke sama – sama baby” jawabku di pelukannya dan tanpa sadar mata aku melihat Kwan Liang ternyata dia melihat kami, jarak kami berdua hanya sedikit bisa dibilang dia berada di belakang kami cuma dihalangi 4 orang sebelah kanan. Didalam pikiranku apakah dia selama acara ini tetap melihatku?
“Baik sekarang barang yang ke empat sepasang anting berhias diamond yang sangat langka. Harga dimulai dari 2 triliun dollar” tawar pembawa acara
“4 triliun dollar” teriak wanita bertopeng merah jambu
“5 triliun dollar” tawar wanita bertopeng ungu tua
“Baby kamu enggak mau anting – anting itu?” tanya Hasasi
“Enggak perlu Baby aku tidak terlalu tertarik” jawabku
“Sayang beliin aku itu dong!” kata Sari Lie. Suara dia terdengar sampai ketelingaku. Dan aku melihat Kwan Liang yang hanya diam tetapi dari mata dia, dia hanya melihat aku
“Kamu kok diam saja sih... Nanti keburu diambil Fifiyan” teriak Sari Lie sambil mencubit tangan Kwan Liang yang membuatnya kaget.
“Kamu mau anting itu enggak?” tanya Hasasi lagi
“Baiklah baik aku mau cuma satu ini aja ya aku tidak mau merepotkanmu untuk beli ini itu” jawabku tegas. Sebenarnya sih cuma ingin menyindir Sari Lie
“10 triliun dollar” teriak hasasi
“20 triliun dollar” teriak Kwan Liang
“50 triliun dollar” teriak Hasasi
“100 triliun dollar” teriak Kwan liang
“500 triliun dollar” teriak Hasasi lagi
“900 triliun dollar” teriak Kwan Liang lagi. Karena semakin lama semakin mahal aku pun akhirnya berbisik kepada Hasasi
“ Already, don’t continue to offer the let him buy it” bisikku
“Why... Kan kamu juga mau” kata Hasasi
“Please... Jangan dipaksakan” kataku memohon
“Baiklah” jawab Hasasi menuruti permohonanku
“Baik sepasang anting ini terjual seharga 900 triliun dollar, selamat tuan bertopeng abu – abu” kata pembawa acara. Setelah sesaat kemudian aku melihat wanita yang membawa sepasang anting berlian itu turun panggung dan mendatangi Kwan Liang
“Ini anting – anting anda tuan, harga yang dibayarkan 900 triliun dollar” jelas wanita itu dan Kwan Liang pun membuka dompetnya dan memberikan uang 900 triliun dollar itu kepada wanita itu
“Terimakasih atas transaksinya tuan” kata wanita itu dan langsung berjalan berlalu
“Waah... Terimakasih sayang kamu baik banget membelikanku anting – anting mahal ini... Hasasi saja tidak mampu membelinya buat Fifiyan wanita kampung itu” Celoteh Sari Lie dan itu membuat Hasasi marah dari raut wajahnya terlihat kalau marah. Karena aku liat dia akan marah akupun menciumnya dan berbisik kepadanya
“Kalau kamu tadi tidak memohon harga paling tinggi aku mampu membelikannya buatmu” tegas Hasasi dengan nada agak marah
“Ya sudah kita mengalah dulu oke?” kataku untuk menenangkannya
“Baiklah tapi nanti kalau aku ingin membelikannya untukmu jangan menolak” tegas Hasasi
“Baik Baby” jawabku menyenangkan dia. Tiba – tiba aku mendengar kata Kwan Liang yang membuat aku kaget
“Anting ini bukan buatmu” jawabnya lesu, seperti dia telah salah membeli barang seperti itu
“Apa? Bukan buatku? Terus buat siapa?” teriak Sari Lie.
“Buat... Fifiyan” jawab Kwan Liang. Kata – kata itu membuatku kaget dan secara otomatis Sari Lie dan Hasasi juga kaget dan marah
“Apa? Buat apa kamu membelikan semahal itu buat wanita kampungan bukan buat pacarmu ini?” tegas Sari Lie
“Karena aku masih sangat mencintai Fifiyan bukan sama kamu. Kamu berbeda dengan Fifiyan” jawaban Kwan Liang pun membuat kami kaget dan Hasasi langsung emosi disitu juga
“Hei kau Kwan Liang. Fifiyan adalah istriku jadi kau tidak berhak mencintai calon istriku ini” teriak Hasasi sambil berdiri dan menunjuk Kwan Liang dengan sangat marah. Karena melihat Hasasi sangat marah akupun berdiri untuk menenangkannya
“Sudah jangan marah – marah” kataku untuk menenangkannya
“Bagaimana aku gak marah, aku sudah ikhlas mantanku direbut tapi sekarang aku enggak terima calon istriku di rebut” kata Hasasi dengan marah
“Tenang sayang, aku tetap mencintaimu kok” kataku untuk menenangkannya dan mencium pipinya dengan lembut agar dia tidak marah
“Hmmm... Baiklah tapi jangan pernah menerima apapun dari dia... Paham” teriak Hasasi lagi
“Iya paham sudah ayo duduk” jawabku dan menuntunnya untuk duduk. Aku melihat ekspresi Kwan Liang sangat sedih dan itu terpancar jelas dari raut wajahnya dan Sari Lie terlihat sangat marah karena ucapan Kwan Liang.
“Baik para hadirin sekaian... Mohon maaf ada masalah sedikit... Kita lanjutkan pelelangan barang selanjutnya sepatu berwarna gold dan bertabut butiran diamond yang indah. Harga dimulai 4 triliun dollar” lanjut pebawa acara
“8 triliun dollar” teriak wanita bertopeng putih tulang
“27 triliun dollar” teriak wanita bertopeng kuning
“100 triliun” teriak wanita bertopeng merah muda
“1000 triliun” teriak Hasasi tiba – tiba dan teriakannya itu membuat aku kaget. Dan tawaran yang sangat tinggi itu mebuat Sari Lie diam tanpa kata entah dia punya uang untuk menawar lebih tinggi dari tawaran Hasasi atau dia tidak punya uang segitu banyaknya.
“Baiklah... sepatu ini milik anda sekarang tuan bertopeng biru dongker” kata pembawa acara lagi dan wanita yang membawa sepatu itu turun panggung dan menghampiri Hasasi
“Ini tuan sepatu anda, harga 1000 triliun dollar” kata wanita itu dan Hasasi membuka dompet dan mengeluarkan atm miliknya
“Ini didalamnya ada uang sejumlah 1000 triliun dollar dan dibelakangnya ada pin atmnya” kata Hasasi dengan santai dan menyodorkan atm itu kepada wanita tersebut.
__ADS_1
“Baik terimakasih atas transaksinya tuan” kata wanita tersebut dan langsung berlalu meninggalkan kami.
“Ini sepatu buatmu” katanya sambil menyodorkannya kepadaku
“Lah kan aku gak minta”
“Whatever ever i give you may not refuse”
“Okedeh... Makasih baby” kataku sambil menerima sepatu itu ya walaupun agak sedikit terpaksa.
“Barang selanjutnya....... “ lanjut pembawa acara untuk melanjutkan.
Barang selanjutnya dan selanjutnya sangat mahal dan itu membuatku agak bosan dan aku juga tidak berminat untuk memiliki barang – barang yang harganya sangat mahal seperti itu, sudah bisa untuk hidup sederhana membuatku aneh kalau mempunyai barang yang harganya triliunan dollar seperti ini.
“Baik ini adalah barang terakhir, barang ini langka... barang ini berbentuk sebuah buku, tapi buku ini bukan sembarang buku tapi buku ini adalah buku pedoman yang ditulis Edward Eintern tentang menjadi penguasa dunia. Harga dimulai dari harga 100 triliun silahkan untuk ditawar” tawar pembawa acara dan secara otomatis banyak peserta lelang menginginkannya dan menawar harga yang tinggi
“200 triliun dollar”
“380 triliun dollar”
“700 triliun dollar”
“1000 triliun dollar”
“1590 triliun dollar”
“2850 triliun dollar”
“4070 triliun dollar”
“5780 triliun dollar”
“Itu buku apa?” tanyaku kepada Hasasi
“Itu buku yang aku ingin beli” jawabnya santai
“tapi kan nawarnya pada dengan harga yang tinggi – tinggi banget”
“Gak apa – apa” jawabnya santai
“6840 triliun dollar” teriak salah satu orang yang sudah berumur
“7390 triliun dollar”
“Baiklah tidak ada yang mau menawar lagi?” tanya pembawa acara
“10.000 triliun dollar” teriak Hasasi dan itu membuat semua peserta lelang terkaget karena orang masih muda belum menikah tapi mempunyai uang banyak.
“Baiklah buku ini di serahkan kepada...” kata pembawa acara tapi dipotong oleh salah satu pemuda dan pemuda itu Kwan Liang
“Tunggu... 50.000 triliun dollar” teriak Kwan Liang
“70.000 triliun dollar” teriak hasasi sambil mengangkat tangannya
“100.000 triliun dollar” teriak Kwan Liang
“250.000 triliun dollar” teriak Hasasi lagi dan itu membuat Kwan Liang diam tanpa menawar lagi.
“Baik tidak ada yang menawarnya lagi?... baiklah selamat buku ini milik pemuda bertopeng biru dongker dengan harga 250.000 triliun dollar” kata pembawa acara dan wanita yang membawa buku tersebut menemui Hasasi kembali
“Ini bukunya tuan, harganya 250.000 triliun dollar” jelas wanita tersebut dan Hasasi hanya membuka dompet dan mengambil atm di dalam dompetnya.
“Ini atm isinya 250.000 triliun dollar dan pin atmnya ada dibelakang kartu itu” jawab Hasasi santai
“Baik terimakasih atas transaksinya tuan” jawab wanita tersebut dan langsung berlalu
“Terimakasih atas partisipasinya selamat berjumpa lagi di tahun yang akan datang” kata sambutan penutup dari pembawa acara dan kami pun keluar dari ruangan tersebut, dan kami pun kembali kekamar kami.
Saat menuju ke kamar aku penasaran dengan buku yang dibeli oleh Hasasi dengan harga yang sangat mahal itu
“Hasasi, itu buku apa sih ... kayaknya biasa aja” ucapku
“Ini adalah buku moyangku”
“Moyangmu?”
“Iya ... kamu ingat perkumpulan Penjahat Internasional?”
“Oh ... pernah dengar sih”
“Iya itu ketuanya adalah moyangku”
“Loh kok bisa, bukannya margamu Stun?”
“Ya kan marga dari kakekku Stun itu sedangkan nenekku Eintern. Ya aku juga gak tau asal mulanya terbentuk perkumpulan itu, aku membeli buku ini untuk aku pelajari dan juga ayahku memintaku mencarinya karena tidak tahu hilang kemana dan aku dengar buku ini di pelelangan makanya aku kesini” jelas Hasasi
“Oh begitu ...”
“Ya begitulah ... ya udah kita istirahat dulu ... besok kita ada jadwal lagi”
“Kemana?”
“Besok aja aku beritahu ... aku udah ngantuk ... hoaam” ucap Hasasi lalu dia menguap
“Baiklah ... selamat malam Hasasi” ucapku dan aku masuk ke dalam kamarku
__ADS_1
Hari ini adalah hari yang sangat melelahkan, aku mendapatkan hadiah dari Hasasi hasil dari pelelangan, walaupun aku tidak mau tau dia memaksa akhirnya akupun menerimanya. Enak ya jadi orang kaya, punya uang bisa mendapatkan segalanya.