
aku merasakan kepalaku rasanya sakit sekali seperti habis di pukul sangat keras benda tumpul. Aku membuka mata perlahan – lahan dan mencoba untuk menyadarkan diri, saat aku sadar sepenuhnya dan seketika itu juga aku kaget, aku berada di kamar yang sangat besar dan mewah berdinding warna putih, kasur yang ditutupi kain berwarna putih dipadukan dengan empuknya busa kasur sangat empuk, lemari yang menjulang tinggi dengan aksen modern berwarna putih bersih dengan kaca besar di sebelahnya, pintunya juga berwarna putih dan jendela kamar yang menghadap langsung ke hutan yang lebat sehingga terkesan seperti vila yang seharga bertriliunan dan yang pasti yang punya rumah ini pastilah orang kaya.
“Aku dimana?” gumamku bingung
“Oh ... nona sudah sadar” ucap wanita di sebelahku
“Ka... kamu siapa?”
“Aku Vini... pembantu di rumah ini” ucap Vini dengan ramah
“I... ini rumah siapa?” tanyaku
“Ini rumah tuan muda Naian Mark”
“Oh ... rumahnya ya ... Mmmm Apa rumahnya?” teriakku kaget
“Iya nona, nona di bawa pulang tuan muda dengan kondisi pingsan”
“Sudah berapa lama aku pingsan?”
“Sudah seminggu nona”
“Se... seminggu?”
“Iya nona, kata dokter nona depresi dan kekurangan gizi karena tidak makan makanya nona bisa pingsan begitu lama” jelas Vini
“Oh begitu ya... dimana Naian?”
“Dia sedang ada rapat dengan dengan perusahaan lain, mungkin setelah rapat tuan muda akan menjengukmu” ucap Vini sambil menuangkan teh ke dalam gelas
“Emang tuan muda kalian bekerja di perusahaan?”
“Iya ... tuan muda memiliki perusahaan terbesar no 1 di dunia” ucap Vini sambil memberikan segelas teh dan roti isi kepadaku
“Terimakasih... oh ya bukannya perusahaan terbesar itu PT Stun ya?
“Tidak ... Untuk lebih jelasnya tanyakan kepada tuan muda... nona bisa menggunakan pakaian yang telah disiapkan tuan muda, saya permisi” ucap Vini meninggalkanku
Aku terkejut perusahaan Hasasi bukannya merupakan perusahaan terbesar lalu kenapa pembantu itu bilang kalau perusahaan Naian itu terbesar No 1 di dunia. Aku ingin sekali mandi untuk menyegarkan badanku karena selama seminggu aku tidak mandi jadi terasa tidak enak. Aku meletakkan gelas di meja sebelah tempat tidur dan mencoba untuk berdiri namun kakiku masih lemas dan aku hampir terjatuh tanpa aku duga ada seseorang yang menangkap tubuhku sehingga tidak jadi jatuh
“Hati – hati, jangan dipaksakan berdiri... kamu baru saja sadar” ucap Naian di belakangku
“Ma... maaf tadinya aku ingin mandi”
“Sudah nanti saja biar pembantuku yang membantumu untuk mandi” ucap lembut Naian dan membantuku duduk di kasurku
“Kamu sudah selesai rapat?” tanyaku
“Sudah, rapat itu sungguh tidak menyenangkan” gumam Naian
“Emang rapat dengan siapa?” tanyaku penasaran
“Dengan perusahaan sebelah”
“Oh ya kata Vini kamu punya perusahaan terbesar no 1 di dunia ya?”
“Mmm.. ya bisa dikatakan begitu”
“Bukannya perusahaan terbesar itu perusahaan Stun ya?” tanyaku heran
__ADS_1
“Perusahaan Stun itu terbesar di Asia sedangkan aku di dunia... jadi kalau level internasional perusahaanku nomor 1 dan perusahaan Stun nomor 3... kok kamu tau perusahaan Stun?” tanya Naian kaget
“Ya tahulah... aku kenal siapa pemimpinnya bahkan keluarganya”
“Oh begitukah... dengar – dengar dia juga pemimpin Pembunuh Berdarah Dingin ya?” tanya Naian serius
“Mmm kok kamu tau?” tanyaku kaget tiba – tiba tangannya memegang daguku
“Ya aku tau lah cantik, karena aku pemimpin Mafia di seluruh dunia” ucap Naian dingin
“Emmm ... mmm... ekspresimu menakutkan” ucapku ketakutan
“Oh ... eee... maaf... jangan takut meskipun begitu aku baik kok” ucap lembut Naian mengelus rambutku
“Emang bedanya kalian apa?” tanyaku penasaran
“Bedanya... kalau pembunuh berdarah dingin itu ditakuti asia sedangkan aku ditakuti oleh seluruh dunia... tapi jangan sampai tau identitasku ya” bisik Naian di telingaku
“Ti ... tidak akan kok”
“Kenapa kamu membuat perkumpulan mafia?” tanyaku penasaran
“Itu ... panjang ceritanya...
“Berarti kamu ke Australia bertemu dengan Jiwon ya?”
“Iya... kok kamu tau?”
“Hasasi yang memberitahukanku”
“Kamu kenal Hasasi?” tanya Naian kaget
“Kamu siapanya Hasasi?”
“Aku calon istrinya tapi... Hasasi sering berperan sebagai pacar seseorang untuk melakukan rencana sesuatu yang menyebalkan jadi gak tau lah aku calonnya atau bukan”
“Maksudnya rencana membunuh orang?”
“ya begitulah”
“Itu hal biasa”
“Tapi kan dia gak memberitahukanku jadinya aku sakit hati” ucapku kesal
“Ya kalau dia memberitahukanmu rencananya bakal berantakan”
“Kok bisa?”
“Karena rencana itu harus rahasia termasuk pasangan”
“Ya tidak boleh begitu lah” protesku
“Husstt sudah jangan protes... kalau kamu marah sama dia, lupakanlah”
“Aku susah melupakannya” ucapku sedih
“Ya sudah aku bantu melupakannya gimana?”
“Caranya?”
__ADS_1
“Kamu jadi sekretaris pribadiku, jadi karena pekerjaan yang menumpuk kamu bisa
lupa dengan Hasasi” ucap Naian meyakinkanku
“Mmmm ... baiklah aku setuju” ucapku dan tiba – tiba Naian menciumku
“Baiklah aku terima”
“Mmm ka... kamu menciumku” ucapku kaget
“Iya itu tanda kalau aku menerima kamu jadi sekretarisku ... oh ya kamu istirahatlah dengan nyaman ya anggap saja ini rumahmu, nanti biar adikku yang menemanimu jika aku tidak ada dirumah” ucap Naian melangkah keluar kamar
“Eh tunggu...”
“Iya ada apa?”
“Dimana adikmu?”
“Dia sedang main game, nanti aku suruh untuk menemanimu... oh ya besok aku akan mengajakmu keluar ... jangan lupa” ucap Naian dan pergi meninggalkanku
Aku tidak tahu kenapa aku menyetujui untuk menjadi sekretaris pribadinya, padahal aku masih menjadi sekretaris pribadi Hasasi. Sejujurnya aku kangen Hasasi
“Kamu sedang apa Hasasi?” gumamku sambil memandangi cincin pemberiannya
Hatiku terasa sedih jika teringat Hasasi, jadi untuk melupakan sejenak aku memutuskan keluar kamar dan berjalan – jalan. Saat aku keluar kamar aku kaget melihat rumah yang sangat mewah, malah lebih mewah dari rumah Hasasi, ternyata kamarku berada di lantai 3 dimana dari lantai 3 ini aku bisa melihat adanya salah satu ruangan yang terdapat sofa empuk berwarna hitam. Aku berjalan menuruni tangga dengan memegang pegangan agar aku tidak terjatuh lagi. Saat aku sampai di lantai bawah aku melihat TV besar masih menyala dan ada suara langkah kaki di belakangku
“Kamu siapa?” ucap seseorang dibelakangku
“A... aku...” ucapku terbata – bata
“Kamu ngapain disini?” ucapnya lagi tapi aku hanya diam tidak bisa berkata – kata karena aku ketakutan
“Aku bertanya sekali lagi, kamu ngapain disini?” ucapnya lagi dan membalikkan badanku menghadapnya
“A...aku ... ha... hanya...” ucapku ketakutan melihat wajahnya yang sangat dingin mengalahkan dinginnya Hasasi
“Kamu penyusup ya?” ucapnya lagi tapi mulutku tidak bisa mengucapkan apapun dan aku melihat dia mengangkat tangannya seakan siap mendaratkannya di pipiku. Aku hanya pasrah kalau dia menamparku aku hanya bisa memejamkan mataku
“Sudah... jangan apa – apakan dia” ucap Naian dingin sambil memegang tangan pemuda itu
“Kenapa?... emang kakak kenal?”
“Ya ... dia Fifiyan, orang terpenting bagiku” ucap Naian melepaskan tangan pemuda itu dan memelukku
“Sudah Fifiyan jangan takut, dia adalah adikku” ucap Naian menenangkanku
“Ma ... maafkan aku Fifiyan, aku tidak tahu kalau kamu kenal kakakku” ucap pemuda itu menyesal
“Ti... tidak apa – apa, aku yang mina maaf sebab keluar kamar tanpa ijin” ucapku terbata – bata
“Oh ya aku Hassan Mark, adiknya Naian” ucap Hassan ramah, laki – laki yang tampan sama seperti Naian, tinggi, dari kaosnya terlihat memiliki perut berkotak – kotak dan juga terlihat masih muda.
“A... aku Fifiyan Stun” ucapku terbata – bata
“Mmm... sebagai rasa bersalahku maukah kamu jalan – jalan bersamaku” ucap Hassan
“Ba.. baiklah” ucapku dan melepaskan diri dari pelukan Naian
“Hati – hati ya, jaga dia... Hassan” ucap Naian lembut
__ADS_1
Aku dan Hassan keluar meningglkan rumah mewah itu, aku tidak menyangka kakak dan adik ini walaupun termasuk penguasa perusahaan terbesar dan juga pemimpin mafia ternyata baik, lembut, dan juga perhatian.