
Setelah ditinggal oleh Hasasi, aku dan Hwansa duduk berdua di meja kami, akibat kejadian ini aku jadi tidak selera makan aku hanya memainkan sendok dan garpu yang ada di tanganku
“Makanannya kenapa tidak dimakan?” tanya Hwansa sambil melihatku
“Ti ... tidak kenapa – napa, lagi badmood aja”
“Gara – gara Hasasi ketemu mantannya?”
“Mmm..”
“Emang kamu siapanya Hasasi?”
“Mmmm...” desahku lagi dan melihat Hasasi di yang sedang mengobrol dengan mantannya
“Bukan siapa – siapa” ucapku lirih
“Ya udah jangan dipikirkan, makan dulu, sebentar lagi kita akan ke acaranya Dennis” ucap Hwansa dengan tersenyum
“Nanti aja lah makannya”
“Mau aku suapin?” ucap Hwansa dan dia mulai menyuapiku
Walaupun agak menolak, tapi apa salahnya menghibur diriku dengan disuapi orang tampan di depanku ini. Buat apa aku memikirkan Hasasi yang dingin dengan mantan tercintanya itu, aku bukan siapa – siapanya hanya pelariannya saja. Aku disuapi oleh Hwansa seperti anak kecil yang sedang disuapi oleh ibunya, tapi saat aku sedang makan aku melihat Hasasi melirikku dengan dingin tapi aku bodo amat aku tidak mau memikirkan hal itu.
Setelah disuapi oleh Hwansa akhirnya makananku sudah habis tanpa sisa
“Makasih ya Hwansa” ucapku dengan tersenyum
“Tidak masalah cantik”
“Kamu siapanya Hasasi?” tanyaku
__ADS_1
“Oh aku, aku wakil ketua Pembunuh Darah Dingin yang ada di negara ini” bisik Hwansa di telingaku
“Emang ada berapa wakil ketua di dunia?”
“Ada 10 wakil ketua, dimana di bagi di setiap – setiap negara” ucap Hwansa sambil meminum wine yang ada di tangannya sampai habis
"Oh ya Cindy Wu itu pacaran dengan Hasasi sejak kapan?"
"Mmm .. kalau tidak salah sebelum dengan Sari Lie"
"Mereka putus karena apa?"
"Aku juga tidak tahu alasannya apa .. cuma kamlau mereka bersama banyak yang bilang mereka pasangan romantis"
"Oh ..."
Setelah kami mengobrol cukup lama, tiba – tiba Hasasi datang dengan mantannya ke dalam restoran. Mantan Hasasi sangat cantik, putih, dan elegan yang berjalan ke arah aku dan Hwansa.
“Hwansa ini wanitamu?” tanya Cindy Wu
“Lha terus siapa?”
“Temannya Hasasi” ucap Hwansa
“Oh ... aku Cindy Wu” ucap Cindy ramah
“A .. aku Fifiyan Shinju” ucapku berusaha seramah mungkin
“Salam kenal ya Fifiyan”
“Eh... i... iya”
__ADS_1
“Ayo kita berangkat ke acaranya Dennis...” ucap Cindy dan aku berjalan di belakang Cindy dan Hasasi
Tapi betapa kagetnya Cindy merangkul tangan Hasasi dan Hasasi hanya bisa berwajah dingin diam tanpa suara, ingin rasanya aku berteriak kalau aku itu calon istrinya tapi aku sadar aku kalah cantik dan seksi dari Cindy Wu jadi aku hanya bisa terdiam mengikuti langkah kaki mereka
Setelah melewati lorong restoran kami sampai juga di aula tempat pernikahannya Dennis, sangat mewah dan dipenuhi oleh orang – orang kaya dan juga bangsawan yang ada di seluruh dunia. Seperti ini ya rasanya berada di pernikahan seorang crazy rich
“Selamat datang para tamu undangan sekalian, saya ucapkan selamat atas penikahan Dennis Sin dengan Clara Han... baiklah mari kita mulai acara ini” ucap pembawa acara lalu tepukan tangan meriah dari para tamu undangan
“Cantikkan istri Dennis...” bisik Hwansa
“Iya ... sangat cantik” ucapku kagum dengan kecantikan istri dari Dennis
“Baiklah waktunya dansa silahkan para petinggi untuk mulai berdansa” ucap pembawa acara dengan senang
Musik dimulai, pengantin memulai untuk berdansa dan diikuti oleh semua pengunjung yang datang di acara tersebut.
“Kamu mau berdansa?” tanyaku kepada Hwansa
“Tidak, hanya petinggi dan bangsawan saja yang diperbolehkan berdansa” ucap Hwansa
“Oh begitu” ucapku baru tahu aturan pesta seorang crazy rich
“Bentar ya aku mau ambil minuman dulu” ucapku dan aku mengambil wine yang ada di meja belakang para tamu
Setelah menuang minuman itu di gelas yang aku genggam, betapa kagetnya aku melihat Hasasi sedang berdansa dengan Cindy Wu, sangat romantis ... benar kata Hwansa mereka sangat serasi, aku tidak kuat melihat pemandangan yang semenyebal ini. Tanpa sadar aku meneteskan air mataku dan menjatuhkan gelas wineku
Praaaankkkk
Banyak para tamu yang melihat kearahku dan Hasasi juga melihat kearahku tanpa basa basi aku langsung berlari keluar aula tersebut
“Fifiyan ... tunggu” teriak Hasasi dan aku tidak menghiraukannya
__ADS_1
“Udah kamu disini aja berdansa denganku” bentak Cindy Wu dan Hasasi melanjutnya dansanya dengan Cindy
Aku keluar dari gedung tersebut, berlari menjauh sampai aku jatuh bangun pun tak menghalangiku untuk berlari, aku berlari dan terus berlari. Tanpa diduga aku menjumpai sebuah danau yang sepi. di danau ini aku terus saja menangis aku tidak tahu kenapa hati ini rasanya sangat sakit dan sangat perih, lebih menyakitkan dari pada saat aku pacaran dengan Kwan Liang dahulu. Aku tidak tahu apakah ini dinamakan dengan cinta yang sesungguhnya.